
Bab 66. Cikal bakal kejahatan
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Otaknya mendadak buntu, pikirannya serasa tak bisa diajak untuk mengelola ide apapun saat ini. Semuanya seolah mati dan bagai tak memiliki arah.
" Bagaimana bisa?" Teriak Raka yang saat ini benar-benar berada dalam kondisi kebakaran jenggot.
" P- pak Jan ada di dalam Den!" Jawab Mbak Las dengan wajah panik dan kebingungan
Raka berlari dan berniat ingin menemui supirnya itu. Sama sekali tak memperdulikan apa yang baru saja ia alami antara dirinya dan Jodhi.
" Pak Jan, kenapa bisa seperti ini?" Tanya Raka yang terkejut demi melihat wajah Pria paruh baya itu, kini babak belur dengan napas yang kembang kempis karena kesakitan.
" Sa- saya tadi..."
Pak Jan menceritakan awal mula mobil mereka yang di hadang oleh empat pria yang berboncengan dengan dua motor. " Saya berusaha ngelawan Den, karena ngelihat Bu Galuh dan non Citra di teriaki dan di todong senjata api!"
DEG
Tubuh Raka mendadak lemas, ia teringat tadi pagi ia bahkan tak menyapa dan mengabaikan Galuh karena kepanikannya terhadap Dewi.
" Galuh!!" Lirihnya yang entah mengapa benar-benar merasa bersalah.
Raka mendudukkan tubuhnya seraya mengacak rambutnya frustasi. " Citra!" Ia menjambak rambutnya dengan keras, berusaha mengurangi sakit yang mendadak menyerang kepalanya dalam waktu sepersekian detik.
Anak dan wanita yang sebenarnya beberapa hari ini membuat hatinya sedikit merasakan keanehan itu tengah dalam bahaya. Di saat pikirannya masih semrawut seperti saat ini, kenapa masalah lain yang lebih berat justru menghantamnya tak kenal kasihan.
" Minum dulu Den!" Yanto yang merupakan satpam dirumah itu , kini terlihat memberikan minum untuk majikannya yang terlihat berwajah apatis.
" Makasih Pak!" Raka meneguk sebotol minuman itu hingga licin tandas. Napasnya tengah-tengah demi rasa khawatir yang menelusup ke relung hatinya.
Saat mereka masih larut dalam kebingungan, Om Devan bersama Niko datang ke kediamannya.
" Raka!!" Ucap Devan yang kini berlari menghampiri dirinya yang nampak kacau.
" Om!" Ia bangkit seraya memeluk Devan yang sudah sangat berwajah cemas. Menumpahkan kegundahan yang kini menyerang dirinya tanpa ampun.
" Papamu barusan telpon om, ada apa? Kenapa kamu meminta Niko untuk menarik saham ke perusahaannya Jodhi?" Tanya Devan dengan raut cemas. Pun dengan Niko yang kini juga berwajah muram.
Raka mengeraskan rahangnya demi mengingat hal itu. " Om saya minta tolong jangan bahas itu dulu, Citra diculik oleh seseorang dan saya tidak mengetahui dimana sekarang!"
DEG!
Niko dan Devan kini membulatkan matanya. Astaga, Raka benar-benar tengah menghadapi persolaan sulit yang datang tanpa rasa kasihan.
.
.
__ADS_1
Jodhi
PRYANGG!!!!
Ia menghancurkan seluruh isi kamarnya demi meluapkan emosi yang membuncah di dalam dirinya, sesaat setelah ia tiba ke kediamannya. Kebiasaannya jika marah selalu membanting apapun yang ada di dekatnya dan harus seperti itu agar emosinya terlampiaskan.
Membuat Rania yang sedari tadi panik karena sahamnya yang anjlok, kini membuka pintu kamar putranya dengan gusar lantaran suara gaduh.
Betapa terkejutnya Rania saat melihat kamar Jodhi yang kacau balau dengan pecahan kristal dan guci yang telah tak berbentuk.
" Jodhi! Apa yang kau lakukan?" Teriak Rania siang itu dengan wajah memerah. Terlihat panik karena jelas anaknya itu tengah emosi.
" Argggggghhh!!" Jodhi memecahkan kaca di dalam kamarnya. Pria itu kesal dengan dirinya sendiri. Kesal dengan dirinya yang tak bisa menguasai keadaan.
" Jodhi, kamu kenapa?" Rania menggoyang- goyangkan tubuh anaknya yang kini terlihat kacau. Benar-benar menegangkan.
" Wanita itu menjebakku ma! Dia berniat ingin membuatku dan Raka bertengkar!" Teriak Jodhi dengan kemarahan yang masih membelenggunya.
Rania menatap bingung wajah anaknya, wanita? Wanita siapa?
Jodhi dengan suara yang menggebu menjelaskan kepada Rania terkait apa yang ia alami, tentang niatnya yang sebetulnya hari itu ingin membongkar kelicikan Dewi.
Membuat Rania menggeleng tak percaya. "Jadi ini yang membuat Raka menarik semua sahamnya?"
" Apa?" Jodhi membulatkan matanya demi mengetahui fakta mengejutkan itu.
" Sekarang harus bagiamana Jo?" Rania memijat keningnya yang terasa pusing dalam waktu yang singkat itu.
" Mama percaya sama aku kan?" Jodhi menangis menatap mamanya. Sungguh, tak pernah ia ingin merusak kebahagiaan Raka, pria itu sangat menyayangi Raka bagai kakak kandungnya sendiri.
Sejak mengenal Raka beberapa puluh tahun yang lalu, Jodhi bagai menemukan kembali jati dirinya yang telah sirna.
" Papamu telepon Jo!" Gumam Rania saat membaca nama Bastian yang muncul di layar ponselnya.
" Hal..."
" Citra bersama pengasuhnya di culik, aku sedang menuju kerumah Raka, kamu tolong tunggu anak-anak dan bawa ke rumah kak Dhira!"
DUAR!!
Rania seketika beringsut lemas demi mendengar berita mengejutkan itu." Citra!" Lirihnya dengan tatapan kosong.
" Kenapa Ma?" Tanya Jodhi yang terkejut manakala mamanya tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya.
" Citra di culik Jo!" Rania menangis. Astaga, persolaan satu belum juga usai, kini muncul masalah baru.
Mata basah Jodhi melebar detik itu juga. " Pasti perempuan itu yang melakukannya!" Ucap Jodhi menahan geram dan terlihat melesat dengan wajah penuh emosi.
" Jodhi mau kemana kamu Jo.. Jodhi!!"
.
.
Dewi
Ia menuju ke sebuah rumah yang telah di infokan Oemar sebelumnya dengan senyum merekah penuh kemenangan. Ia bahagia, sebab apa yang menjadi tujuannya tertunaikan sudah. Hanya tinggal satu urusan lagi, anak dari Raka itu hendak ia jadikan sandra.
__ADS_1
" Kalian semua pasti saat ini merasa sakit dan menderita kan?" Dewi tertawa mengerikan. " Sama dengan yang aku dan ibuku rasakan beberapa tahun yang lalu!" Gumamnya seraya mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
" Kalian harus merasakan sakit yang kami rasakan dulu brengsek!" Dewi berteriak seorang diri dan sejurus kemudian ia menangis dalam tawanya. Wanita itu terlihat benar-benar berbeban berat.
...Flashback...
Ia yang baru saja bertemu dengan Andhira di sebuah pasar dengan keadaan lusuh itu merasa sangat bingung akan sikap ibunya.
Kenapa Ibu menariknya pergi. Padahal ia bisa meminta bantuan wanita cantik tadi kan? Hingga terdengar suara berat seorang pria yang ia ketahui merupakan papanya.
" Itu kan..?"
Namun sorot mata Ibu jelas menerangkan jika ia yang saat itu bahkan tak memiliki tempat tinggal, sudah tak memiliki harapan dengan pria gagah dan tampan itu.
Ia juga masih ingat betul saat ibu meninggalkan dirinya di depan sebuah panti saat hujan deras. Ia yang saat itu sangat ketakutan hanya bisa diam saat mengetahui jika ibunya sengaja meninggalkan dirinya selepas membelikannya bakpao dengan harga yang sangat murah.
Setelah itu Calista tidak lagi mengetahui dimana keberadaan ibunya. Hingga dalam waktu beberapa hari berikutnya, sepasang orang muda mengadopsinya dan membawanya keluar kota.
Ia tumbuh menjadi gadis yang cerdas berkat didikan dan tentu saja uang yang dimiliki orang tua angkatnya. Tanpa di duga, saat kuliah ia bertemu dengan seorang pria yang ia ketahui merupakan anak dari pemilik Delta Group.
Raka Chandrakanta.
Ia masih ingat betul, Delta Group merupakan perusahaan milik papa yang tega membuangnya. Ia yang dulu sempat tinggal beberapa hari dirumah besar itu nyatanya masih menjadi gembel yang nyaris mati karena menahan lapar.
Hari demi hari berlalu, sosok ini masih lekat dalam ingatannya. Dan dengan uang yang ia miliki, Calista bertekad mencari ibunya selama bertahun-tahun tidak ia ketahui dimana rimbanya.
Dan setelah berbulan-bulan lamanya pencarian, akhirnya dengan susah payah ia menemukan ibunya kembali dengan keadaan mengenaskan. Ibunya lumpuh dan kini berada di panti sosial dengan keadaan memprihatinkan.
Membuat Calista menahan sesak dan kepedihan. Andai keluarganya tak membuangnya, tentu semua ini tak akan pernah terjadi.
Dan detik itulah, menjadi titik awal cikal bakal dirinya yang menaruh dendam kepada keluarga Aryasatya.
Callista sengaja menggunakan nama yang diberikan oleh orang tua angkatnya guna memuluskan niat balas dendamnya kepada Raka yang notabene merupakan anak sambung dari pria yang tega menelantarkannya.
Ia yang belakangan ini tahu jika Raka telah menikah, menjadi geram. Ia sebenarnya ingin mendekati pria itu dan berusaha membuat hidupnya hancur.
Namun gagal dengan cara satu, ia akhirnya memilih bersabar dan menunggu kesempatan lain. Tak di sangka, Raka kehilangan istrinya di tahun kedua mereka menikah.
Dan saat Dewi hendak melancarkan serangan keduanya, tak di nyana kedua orang tua angkat Dewi justru meninggal lebih dulu dalam kecelakaan pesawat saat mereka bertolak keluar negeri.
Praktis, dari kesemuanya itu, membuatnya harus menunda kembali niat busuknya itu. Sembari memberikan perawatan intensif kepada ibunya.
Dua tahun bahkan hampir tiga tahun ini ia mati-matian memimpin perusahaan ayah angkatnya yang memang telah melimpahkan harta warisan itu kepada dirinya. Dan mulai dari itulah, ia akhirnya memutuskan untuk membeli rumah lain agar bisa tinggal dengan ibunya.
Hingga akhirnya, ia yang baru bisa memiliki kesempatan mendekati Raka, akhirnya membuatnya memantapkan niat untuk membuat keluarga Aryasatya tercerai-berai, dan mengalami kehancuran.
...Flashback end...
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...