
Bab 69. Siapa dia sebenarnya?
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Anom
Ia sudah menghubungi seseorang dan memesan makanan sejak mereka berada di jalan tadi. Pria itu rupanya memperhatikan Citra yang pasti belum makan apapun sejak pulang sekolah tadi. Pun dengan Galuh.
Hati pria itu sepertinya lebih ramah daripada wajahnya.
Ia sengaja membiarkan ponsel Oemar bergetar sekalipun ia tahu jika itu merupakan panggilan dari wanita yang ia damba selama ini.
" Maafkan aku, tapi percayalah dendam tidak akan pernah membuatmu tenang!" Gumam Anom yang kini membanting ponsel Oemar hingga hancur berkeping-keping.
Sejurus kemudian, ia terlihat mengetik sebuah pesan kepada Dewi. Ia ingin menunjukkan jika Galuh dan Citra sudah berada di bawah pengawasannya. Anom ingin membuat Dewi lega hatinya.
[" Cepat putar balik, Aku sudah bersama mereka di jalan xx..."]
Ia menghembuskan napasnya pasrah. "Jika dengan membuatmu lega, setimpal dengan kebaikanmu dulu, maka akan aku lakukan. Tapi maaf, setelah ini aku tidak akan bisa lagi berada di sisimu!" Anom menyusut air matanya menggunakan ibu jarinya. Pria itu benar-benar mencintai Dewi, tapi tidak dengan sifatnya.
Ia tahu, andai ia berada di posisi wanita itu, tentu ia juga akan melakukan hal yang sama. Namun, bukankah setiap manusia pasti memiliki rasa iba, entah seberapapun besarnya.
" Kalian bi..." Ia hendak mengucapkan "kalian bisa makan dulu'. Namun ucapannya menguap demi melihat seorang pria yang menjadi titik cemburunya kepada Dewi, tengah berada di sana.
Pria itu!
.
.
Dewi
Ia yang tadi meninggalkan kediaman Raka terlihat mencari keberadaan Oemar dan Anom. Ia sempat mengumpat berkali-kali manakala nomor Oemar tak menjawab panggilan darinya.
[" Cepat putar balik, Aku sudah bersama mereka di jalan xx..."]
Pesan dari Anom sukses membuatnya mengumpat. Apa maksud pria itu. Padahal saat mereka rapat kemaren, Anom menolak untuk membawa mereka ke tempat kotor itu.
" Yang benar saja!" Ia melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak sabar ingin melihat bagiamana reaksi Abimanyu jika mengetahui cucu kesayangannya kini ia sandra.
Sejurus kemudian ia menghubungi semua anaknya buahnya. Bagiamanapun juga pengawalan itu penting.
__ADS_1
Dan sesampainya ia di rumahnya yang lama, ia terkejut demi melihat pintu yang terjeblak.
BRUAK!!
KROMPYANG!!!
Dewi membulatkan matanya demi mendengar suara gaduh. Jelas telah terjadi perkelahian di dalam sana. Dewi berpikir, mungkin wanita itu kini memberontak.
Namun tak di sangka, Anom yang sendirian ternyata melawan Raka dengan wajah yang sudah sama-sama terluka.
" Dia disini rupanya. Baguslah kalau begitu, aku tidak susah-susah untuk menangkapnya. Persetan bagiamana reaksinya setelah ini!"
Ia yang sudah tidak mempedulikan Raka lagi, kini bertepuk tangan demi keberhasilan Anom yang berhasil membawa Citra beserta bapaknya.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
PLOK PLOK PLOK!
Suara tepuk tangan Dewi membuat Raka menghentikan niatnya untuk menyerang Anom" Kau sangat pandai membuatku senang Anom!" Ucap Dewi yang kini memeluk erat Anom dari belakang.
Membuat Anom kini melirik Dewi yang telah meny enderkan kepalanya ke punggung lebar pria itu. Hati Anom seketika menghangat meski dalam situasi yang tegang. Jujur, ia senang jika mendapat sentuhan dari wanita yang sebenarnya sangat ia kasihani itu.
Tapi tidak dengan Raka, pria itu mematung selama beberapa detik demi mencerna apa yang terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi?
Belum sempat Raka mencerna apa yang tersaji di depan matanya, sejurus kemudian datang para anak buah Dewi yang telah membawa persenjataan lengkap. Membuat Citra menangis.
" Apa maksud semua ini?" Raka dengan wajah bingung, dan terkejut kini menatap Dewi yang tersenyum puas. Wanita yang selama ini ia kenal baik, wanita yang beberapa waktu terakhir dekat dengannya, menghabiskan waktu bersamanya, bahkan wanita yang ia bela di hadapan keluarganya, kenapa membawa sebongkah tanda tanya yang kini menuntut untuk segera dimintai jawaban.
" Kaget?" Tanya Dewi dengan senyum penuh kemenangan. Menatap wajah terkejut Raka dengan senyum sumbang " Sory Raka, tapi kau benar-benar pria yang bodoh..." Ucap Dewi menatap geram Raka yang kini mengeraskan rahangnya.
Raka tak bisa berkutik sebab pria itu berada di bawah ancaman senjata api yang di todongkan oleh tiga angka buah Dewi.
Kilasan ingatannya kembali kepada perkataan Jodhi yang mengatakan jika mereka di jebak." Jadi benar kata Jodhi, kau yang menjebak Jodhi, hah?" Raka berteriak menatap Dewi geram.
Membuat Galuh mengerutkan keningnya, " Menjebak Jodhi? Apa semua itu berkaitan dengan Pak Raka yang tadi pagi buru-buru? Astaga, apa yang telah terjadi?"
Anom diam dan membrikan isyarat mata kepada Galuh untuk diam dan percaya, meski wajah Galuh kini bagai bulan kesiangan. Pucat pasi tak berona.
" Aku rasa aku tidak perlu menjawab. Sebab saat ini kau pasti tahu siapa orang yang harusnya kau percayai!" Ucap Dewi tersenyum sinis.
" Kemari kau!" Dewi menarik paksa tubuh Citra dari gendongan Galuh.
" Jangan sentuh anakku!" Teriak Raka.
KLAK KLEK
Sejauh kokangan senjata membuat langkah Raka terhenti secara paksa. " Brengsek!" Raka memaki dengan kekecewaan yang tiada terukur saat ia kini tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
" Bu Galuh!" Citra menangis saat tubuhnya di tarik paksa oleh Dewi. " Sakit Bu!"
" Jangan kasar, ini anak kecil!" Galuh berteriak mempertahankan Citra dengan tangan yang saling berebut.
PLAK!!!
Dewi menampar Galuh yang berusaha melindungi serta mempertahankan Citra dengan sekuat tenaga. Membuat Anom memejamkan matanya manakala merasakan hal yang tak bisa membuatnya melakukan apapun, saat Dewi menampar Galuh.
" Dewi jaga sikapmu!" Raka berteriak manakala melihat Galuh di sakiti oleh Dewi.
" Wow!! Sepertinya kau begitu mengkhawatirkan wanita ini ya?" Ucap Dewi melempar tatapan ke arah Raka.
" Jangan sakiti Citra!" Sergah Galuh sejurus kemudian.
" Diam kau wanita sialan, apa kau pikir kau bisa merebut posisi Visya dengan menjadi pengasuh Citra, hah?"
" Kau hanya wanita hina yang bodoh karena di tinggal selingkuh boleh suamimu!" Dewi tertawa menggelegar dengan wajah penuh kepuasan saat ia melontarkan kata-kata itu. Membuat Galuh seketika terdiam saat Dewi berhasil membuat mentalnya down.
Raka menatap muram Galuh yang kini tertunduk layu. Entah mengapa ingin sekali pria itu merengkuh Galuh dalam dekapannya.
"Kalian urus mereka, aku akan melakukan tugasku!"
Kini Citra ia bawa duduk meskipun meronta-ronta, bahkan Dewi tak sungkan membentak anak itu hingga membuat Citra diam dalam ketakutan.
Raka dan Galuh kini sama-sama dalam kondisi terikat. Anom masih terdiam, dan membiarkan wanita itu merasa senang dengan apa yang mau. Sebelum ia harus melakukan semua tugasnya setelah ini.
" Aku akan membuat, apa yang menjadi milikku harus kembali kepadaku, bukan begitu sayang?" Tanya Dewi yang mengusap janggut Citra dengan wajah licik. Membuat Citra semakin menangis.
Ia terlihat menelpon seseorang. Seseorang yang menjadi target utamanya. Membuat Raka dan Galuh yang kini telah diikat oleh para anak buah Dewi, menatap geram ke arah Dewi.
" Halo siapa ini?" Suara familiar dari ujung telepon terdengar membuat Dewi menarik senyuman liciknya.
" Siapkan kepemilikan seluruh perusahaan Delta Group jika kau ingin anak dan cucumu selamat... Ayah!"
Mata Raka membulat sempurna sesaat setelah ia mendengar Dewi mengatakan hal itu.
" Ayah? Siapa yang dia maksud sebagai ayah?" Batin Raka yang kini tubuhnya mendadak menegang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.