
Bab 91. Selapis kebersamaan
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Ia bangun terlebih dulu dan membiarkan istrinya untuk beristirahat. Raka tersenyum manakala melihat wajah teduh Galuh yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka siang itu. Ia menyadari, istrinya pasti kelelahan demi meladeni geloranya yang seolah tiada habis saat si pulau L.
Ia memilih untuk mandi agar rasa letih dan lesu dalam tubuhnya sirna. Lagipula, sebentar lagi Dinda dan Niko akan datang. Ia juga berniat akan memisahkan beberapa oleh-oleh agar Niko dan Dinda bisa membawanya pulang nanti.
Seusai mandi, Raka masih lekat menatap Galuh yang masih terlihat nyenyak itu. Pria bertubuh tinggi itu, kini meraih kaos navy berkerah yang ada dalam lemarinya, yang ia padukan dengan celana berbahan lembut berwarna krem. Terlihat tampan.
" Mbak udah di siapkan makannya? Habis ini Niko sama adik saya datang!"
" Udah Deh, udah saya siapakan, ini tinggal mindahin nasinya aja!"
Raka mengangguk. Namun sejurus kemudian, ia yang hendak duduk di meja makan kaget lantaran melihat Jodhi yang datang dengan wajah lesu. Jelas mengindikasikan jika pria itu berbeban berat.
" Jo? Kok gak nelpon dulu tadi, untung aku udah dirumah. Kalau belum?" Sapa Raka yang tahu sepupunya itu berjalan menuju ke tempatnya berada.
" Mau numpang makan gue, laper. Gue tahu elu udah balik dari Niko, tadi gue sempat mampir ke kantor elu!"
Raka mengangguk paham. " Kalau gitu, kenapa enggak bareng sekalian?" Tanya Raka yang menarik kursi meja makan. Mendudukkan dirinya persis di hadapan Jodhi.
" Tau tuh, masih ribut sama adik ipar elu. Pusing aku lihatnya!" Ucap Jodhi asal. Ia memang geleng-geleng kepala saat melihat Niko dan Dinda yang tak akur.
" Tapi adik istri elu kayaknya cukup pintar, Niko sampai enggak bisa jawab tiap anak itu ngajuin pertanyaan!"
Raka terkekeh, benar dugaannya. Niko pasti tak akur dengan Dinda.
" Terus...elu ada masalah apa? Kok kusam gitu?"
Jodhi menghela napas panjang. " Ngelihat elu sama Galuh bahagia gue juga pingin Ka Hidup normal, punya anak!" Ucap Jodhi dengan wajah nelangsa .
Raka mengangsurkan segelas air putih ke hadapan Jodhi. Ia tahu, adiknya itu pasti tengah dirundung keresahan. " Masih kepikiran Lintang?"
Jodhi meneguk air pemberian Raka hanya dalam beberapa tegukan saja. Kini, gelas itu licin tandas tak bersisa.
__ADS_1
Anak Rania itu mengangguk. Sepertinya Jodhi belum bisa menepis bayangan tubuh Lintang yang pernah ia gagahi beberapa bukan yang lalu itu. " Gue bahkan udah sewa orang buat nyari tau tapi belom ada hasil. Kalau gini terus, gue nyerah lama-lama! " Ucap Jodhi menatap nanar gelas kosong yang masih ia pegang diatas meja itu. Membuat Raka turut memasang waja serius.
" Gue pusing Ka, mana awal tahun ini papa mau buka cabang DI baru, b'rasa gak fokus kerja aku kalau kayak gini!" Ucap Jodhi semakin lesu. Pria itu akan berusia 28 tahun tahun depan. Raka saja sudah menikah lagi, sedang dia?
" Elu masih ingat pepatah kuno?" Raka menepuk bahu adik sepupunya mantap. Berusaha memberikan kekuatan.
" Kalau jodoh enggak kemana!"
" Kalau jodoh enggak kemana!"
Ucap keduanya bersamaan. Beberapa detik kemudian mereka berdua tergelak, demi teringat akan ucapan kuno yang banyak betulnya ketimbang salahnya itu.
.
.
Dinda
" CK, buruan!" Dinda mengomel kepada supir berwajah kaku di sampingnya. Semua itu terjadi dikarenakan Raka mengirimkan foto ayam Taliwang dengan caption,
" Jangan menyesal kalau tinggal tulangnya aja, ada bang Jo disini!"
Foto yang memperlihatkan Jodhi menggerogoti ayam kampung dengan bumbu khas Sasak yang melumuri tiap bagian daging lembut itu.
" Elu tuh ya, udah seenaknya sendiri cerewet lagi!" Niko sebal, lagi-lagi ia tak bisa melawan Dinda karena wanita itu berdalih jika ia adalah adik Raka. Benar-benar perempuan licik bermulut licin.
" CK, iya-iya!" Niko kesal, kalau Dinda turun ia pasti akan kena pasal sebab tak menuruti titah Raka.
Dan tepat jam setengah empat sore, mereka tiba di kediaman Raka.
" Ayam Taliwang!!! Aemm Koming ( am coming / aku datang)!!" Ucap Dinda sesaat setelah turun dan kini meninggalkan Niko yang masih berkutat dengan parkir memarkir.
" CK, sebenarnya yang bocah siapa sih disini?" Gumam Niko seraya menggeleng sebal.
.
.
Galuh
Ia terkejut saat melihat kasur di sampingnya telah kosong, dan saat ia melihat jam di nakas sudah menunjukkan pukul setengah empat. Membuatnya buru-buru untuk mandi.
" Astaga, aku benar-benar tertidur lama sekali. Kenapa mas Raka enggak ada bangunin aku sih!" Ucapnya bergumam seraya menguncir rambutnya cepat-cepat dan asal.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Galuh sudah segar dengan balutan dress yang berwarna biru navy, dress longgar yang ingin ia kenakan. Terasa nyaman. Wanita itu menuruni anak tangga demi mencari keberadaan suaminya.
Dan betapa terkejutnya ia manakala melihat adiknya bersama Jodhi, Niko dan suaminya yang kini terbahak-bahak. Entah apa yang di omongkan para manusia kelaparan itu.
" Mas, kok aku enggak di bangunin?" Ucap Galuh seraya berjalan mendekati meja makan. Membuat kesemua orang yang disana menoleh.
" Ah, sayang kamu udah bangun? Baru mau aku bangunin!" Sapa Raka yang sebenarnya terpesona akan penampilan Galuh sore itu.
" Cie yang manten baru, bajunya kopelan ( Couople) cie cie!!!" Ledek Dinda dengan wajah kurang ajar, serta gerakan tangan yang menunjuk.
Membuat Galuh malu.
Raka dan Galuh saling tatap, mereka sebenarnya tidak janjian. Tapi entah mengapa Raka suka melihat Galuh mengenakan pakaian warna itu. Terlihat cocok dengan kulit Galuh yang bersih.
" Cocoklah, satu cantik satu ganteng. Emang kamu wanita jadi-jadian jadi enggak punya pacar. Maaf ya Bu Galuh, tapi adik anda ini benar-benar!" Ucap Niko geram dengan wajah sebal. Membuat Galuh tergelak.
" Yee!! Enak aja lu, kayak elu udah laku aja!" Balas Dinda tak terima.
" Udah- udah ribut terus, tak nikahkan lama-lama nanti kalian!" Putus Jodhi demi merasakan kepalanya yang mendadak pusing karena perdebatan tikus dan kucing di depannya itu.
" Halo Jodhi, udah dari tadi?" Galuh menyapa pria yang kini juga menjadi adik sepupunya itu.
" Halo Mbak!" Jodhi tersenyum kaku sebab baru kali ini menyebut nama Galuh dengan sebutan ' Mbak'. Melirik Niko dan Dinda yang kini masih saling tampel menampel tangan, sebab peraduan sengit itu rupanya belum berakhir.
" Udah- udah stop! Ko, Din! Makan!" Ucap Raka yang akhirnya membuat keduanya berhenti bertarung. Membuat Jodhi geleng-geleng kepala.
Mereka akhirnya makan dalam suasana riuh, Raka senang dengan kehadiran Dinda yang makin membuat ceria suasana. Jodhi pun sama, kegalauannya akan Lintang teralihkan sejenak kala mendengar mulut licin Dinda yang terus berkelakar.
" Nanti yang dua box kamu bawa pulang Din, dua box itu buat Om Devan sama Tante Alexa, yang itu kamu bawa buat Tante Rania sama om Bastian Jo!"
Rupanya Raka sudah memisahkan oleh-oleh untuk keluarga mereka masing-masing selama Galuh tidur tadi. Kebetulan sekali masing-masing mereka sudah datang, membuat Raka hanya fokus untuk kerumah mama Dhira dan papa Indra nanti malam.
Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu.
Kemesraan ini, inginku kenang selalu.
Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu.
Hatimu damai, jiwaku tenang bersamamu.
( Iwan fals ~ Kemesraan)
.
__ADS_1
.
.