
Bab 52. Sebuah peringatan
.
.
..." Tuhan bimbinglah batin ini, agar tak gelap mata....!"...
...( Ebiet G Ade)...
.
.
.
...๐บ๐บ๐บ...
Galuh
Ia mantap nanar ke arah luar jendela taksi itu. Ia benar-benar telah berhutang budi kepada Raka. Pria yang sempat bersikap tak baik dengannya itu, nyatanya memiliki perilaku diluar dugaannya. Pria dewasa yang memiliki kepedulian yang tinggi.
Galuh tidak tahu lagi, jika Raka tak menemukannya kemarin siang, entah bagiamana nasibnya saat ini.
Hanya saja, mendadak ia mendengus kesal demi mengingat kebiasaan buruk pria itu. Yakni masuk tanpa mengetuk pintu. Dasar! Bagiamana tidak, ia sudah dua kali mengalami kejadian serupa. Kejadian yang membuatnya ingin marah. Oh astaga!
Lamunan yang berdurasi lama rupanya membuat perjalanannya terasa lebih cepat. Ia tiba di rumah ibunya di jam delapan lebih sedikit.
" Berapa Pak?" Tanya Galuh sembari membuka isi dompetnya yang berisikan uang yang mamel ( setengah kering).
" Sudah di bayar sama Mas ganteng tadi Mbak!" Jawab Pak tua pengemudi taksi dengan mengangguk sopan.
" Hah?" Astaga, Raka bahkan sudah membayarkan ongkos taksinya. Membuat Galuh makin menurunkan penilaian buruknya.
" Kalau begitu terimakasih banyak Pak!"
Sekuat hati ia menyiapkan diri saat sudah sampai depan dirumah kedua orangtuanya. Rumah yang masih sama, rumah sederhana namun memiliki banyak makna.
Dan lagi-lagi, rumah itu menjadi tempatnya pulang saat dunia menginjaknya.
Ia terhenyak saat pintu itu mendadak terayun bahkan sebelum ia mengetuk pintunya. Menampilkan Dinda yang hendak membuang sampah, kini menyambutnya dengan sorot mata terkejut.
" Mbak Galuh?"
.
.
Ia kink duduk terpekur menatap taplak meja dengan aksen renda di sampingnya. Baru saja menceritakan apa yang ia alami. Tak bisa lagi menyimpannya lebih lama.
Ibu hanya diam dengan sorot mata kosong namun menyiratkan keterkejutan serta kesedihan yang dalam atas apa yang ia alami.
" Jangan mengatakan apapun kepada Bapakmu. Din, telpon Pakdemu kemari!''
Dinda mengangguk seraya memasang wajah murung, sama sekali tiada menyangka bila apa yang ia curigai selama ini benar adanya.
" Sebaiknya kakak ganti baju dulu, setelah ini kita bicara lagi.''
Dinda kembali menuju kamarnya, dan menyiapkan baju untuk kakaknya. Gemuruh dalam hatinya kian membara, sama sekali tidak terima akan apa yang kakaknya alami.
Saat hendak menuju kamar Dinda, Galuh melihat ibu tengah sibuk mengganti kantong tinja milik Bapak, yang terpasang di perut sebelah kanan.
Membuatnya semakin larut dalam rasa bersalah seakan membunuhnya secara perlahan. Bagaimana jika Bapak tahu nanti? Ya Tuhan...
__ADS_1
Sejurus kemudian wanita itu terlihat memasuki kamar Dinda. Kamar yang masih sama seperti saat ia belum mengenal keluarga Hendra.
" Kamu mau kemana Din?'' Tanya Galuh yang kini hendak mengganti pakaiannya.
'' Aku mau keluar sebentar. Jika Bapak bertanya, bilang saja kakak mampir. Kita pikirkan lagi nanti alasannya!"
Dinda seketika pergi usai mengatakan hal itu, Galuh tak tahu kemana tujuan adiknya, tapi yang jelas ia melihat wajah adiknya yang sangat keruh.
.
.
Raka
Apa yang di alami Galuh tadi rupanya membuat dirinya penasaran. Apa yang semalam mereka lalui, jelas membuat Raka kasihan dengan nasib wanita itu. Tunggu dulu, mengapa mendadak ia peduli?
Haish, tapi tekad untuk mengetahui sudah bulat. Raka kepalang penasaran.
''Ada apa pak?'' Niko menyembul dari balik pintu ruangannya. Memenuhi panggilan Raka yang di layangkan beberapa menit yang lalu.
''Saya ada tugas buat kamu Ko!'' Ucap Raka melipat kedua tangannya. Membuat Niko memicingkan matanya. " Tugas ringan kok!"
Niko terlihat menyimak dan menunggu titah yang mulia Raka dengan wajah tenang. Semoga tidak aneh-aneh saja.
''Cari tahu siapa suami Bu Galuh. Selidiki apa saja tentangnya!"
Niko tertegun dengan perasaan yang sebenarnya terkaget-kaget. Untuk apa bosnya itu memintanya menyelidiki suami gurunya Citra? Bukankah selama ini mereka bagai minyak dan air?
''Lakukan saja dan jangan banyak bertanya!''
Membuat Riko mendelik. Bagaimana bosnya itu bisa tahu?
Sepeninggal Niko, Jodhi siang itu datang seorang diri ke ruangan Raka. Pria itu terlihat sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih formal.
Jodhi melempar punggungnya ke sandaran sofa didepan singgasana Raka. Memejamkan matanya sebab baru saja kena omel Rania.
" Napa lagi?" Tanya Raka yang terlihat memulai membuka laptopnya. Solah paham jika adiknya itu kemari, pertanda jika suasana hatinya tengah tidak beres.
" Cariin apartemen baru dong. Perlu privasi nih aku, Mama ngomel mulu tiap aku balik!" Ucap Jodhi dengan mata yang masih terpejam. Membuat Raka terkekeh.
" Di sebelah unit gue ada yang kosong, mau?" Tawar Raka.
" Serius? Kini Jodhi duduk dengan wajah antusias. " Tapi ogah lah, entar gue elu grebek lagi!" Jodhi kembali melempar tubuhnya saat merasa lebih baik mencari di unit lain.
Haish dasar!
" Elu enggak ada asisten emang? Minta mereka kenapa buat ngurus, ribet amat!" Cibir Raka masih dengan kesibukannya.
" Udah pada mengundurkan diri, enggak ada yang tahan katanya!" Sahut Jodhi putus asa.
Raka tergelak, tentu saja mereka tidak tahan. Jodhi malas ke kantor dan sama sekali tak menunjukkan keseriusannya dalam mengelola perusahaan. Untuk itulah, Rania hingga saat ini masih memegang kendali di perusahaan yang harusnya Jodhi pimpin.
" Elu sama Dewi gimana?" Jodhi kini terlihat mengeluarkan sebungkus cigaret bermerek miliknya, saat mengajukan pertanyaan y.
" Buka jendela itu dulu, matiin AC-nya!" Ucap Raka mengingatkan Jodhi. Raka merupakan pria yang sangat peduli akan kesehatan.
'' Yaelah, kalah-kalah rumah sakit aja sih lu!" Jodhi mendengus. Merasa jika Raka selalu saja prosedural.
Raka terkekeh " Citra kadang kesini, kontaminasi nikotin enggak bagus!" Kilah Raka yang masih tekun dengan beberapa email yang kini ia periksa.
" Jadi gimana?" Tanya Jodhi mengulang pertanyaannya.
" Elu tanya apa tadi?" Ucap Raka yang memang lupa.
__ADS_1
Oh kampret!
" CK!" Raka mendecak kesal karena Raka rupanya tidak mendengarkan ucapannya secara saksama. " Elu sama Dewi itu gimana?"
" Maksud gue, udah sedekat apa?" Timpal Jodhi lagi seraya menikmati nikotin yang ia sesap.
" Gak tau Jo, gue sama dia udah temenan lama. Mungkin karena gue terlalu kemakan sugesti Mama, jadi... kesannya buru-buru banget gitu pingin dekat sama dia!"
Membuat Jodhi tertegun.
" Dewi cantik, baik, wanita karir. Perfect lah. Tapi enggak tahu kenapa, sampai gue maksa sekalipun. Kok rasanya masih hambar ya Jo?"
Jodhi sibuk dengan pikirannya sendiri usai mendengar penuturan Raka kini terlihat termenung.
" Kalau dia bukan wanita baik-baik gimana?" Ucapnya sejurus kemudian demi mengingat apa yang ia lakukan semalam.
Raka mengernyit, " Enggak baik bagiamana?"
" Ya...mungkin aja..dia wanita bebas dan...!"
Raka terkekeh, " Enggak semua orang di dunia ini kayak elu Jo!" Raka pikir, adiknya itu hanya memiliki kekhawatiran yang tak beralasan. "Tapi...kenapa mendadak elu ngajak ngebahas Dewi?"
Jodhi menelan ludahnya, ia tak mungkin menceritakan jika semalam telah kebablasan dengan wanita itu saat dia mabuk. Jika dilihat dari segi kebutuhan, wanita itu sepertinya juga sangat menikmati. Meski Jodhi merasa, rasanya sama saja saat ia mengge*njot wanita lain. Tidak ada yang spesial.
"Enggak... selama ini elu kan jarang mau dekat sama perempuan setelah mbak Visya meninggal. Tapi...kalau bisa aku sarankan, jangan sama Dewi!"
Jodhi menatap mata Raka dengan lekat. Ia memang brengsek.
Namun , ia merasa seorang wanita mau tidur dengan pria yang notabene merupakan sepupu dari pria yang tengah dekat dengan Dewi, jelas menegaskan jika wanita itu pasti memiliki maksud lain.
" Apa maksudmu!"
.
.
.
.
.
.
To be continued...
.
.
.
Gaes....Mommy kebanyakan makan di pestanya Pandu sama Fina tadi jadi ngantuk pol sekarang gaes. Satu bab dulu yak...ketemu besok pagi
Jangan lupa yang waktunya longgar temenin si Sakti dulu itu, kasihan ...tadi gk keburu nyapa soalnya Mommy keburu di cegat sama Jodhi diajak ke kantornya si Rakaโ๏ธโ๏ธโ๏ธ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
.
.
.
Good night my readersku yang warna warni๐๐๐
__ADS_1