
Bab 42. Mulai mengendus
.
.
.
Galuh
Empat hari berlalu, tepat di hari Minggu saat semua giat di lintas sektor pelayanan, pendidikan maupun perkantoran sebagian besar off, membuat seorang Galuh bisa leluasa mengistirahatkan diri.
Bapak sudah di perbolehkan pulang dengan jadwal kontrol yang sudah di atur sedemikian rupa. Sebuah selang kini menjadi sarana yang digunakan menjadi saluran pembuangan tinja, menggantikan fungsi usus besar.
Sangat memprihatikan, namun begitulah sebuah kenyataan.
Semalam ia pulang sudah larut sekali. Ia tak masuk ke kamarnya lantaran kelelahan dan tertidur di sofa ruang tamunya. Dan begitu bangun, sorot mentari pagi telah terlihat meninggi. Jelas menandakan jika ia bangun kesiangan.
Aroma pekat dari cabai dan bawang yang di tumis oleh Yu Sul, menjadi penambah rasa dirinya untuk bangun. Masak apa wanita itu, aromanya benar-benar menyiksa sekali.
" Masak apa Yu?" Ucapnya sembari menggelung rambut asal, saat sesosok wanita yang biasa bekerja di rumahnya itu tengah sibuk meniriskan pakcoy.
"Eh mbak, udah bangun...tadi saya enggak enak mau bangunin sampean"
Wanita paruh baya itu berucap sembari sibuk membetulkan masakan yang baru ia buat. Tumis bumbu Pakcoy pedas dengan udang dan cumi sebagi temannya. Berniat membutakan sarapan untuk Galuh.
" Mas Adi udah ada bangun?" Ia kini menuang segelas air yang baru saja ia ambil dari dalam lemari es.
" Sepertinya belum. Pulangnya enggak samaan emang?"
Galuh menggeleng. Selama ini kan ia sendiri di rumah Sakit.
" Saya kira semalam pulang sama sampean Mbak!" Sahut wanita yang kini terlihat mengecilkan api di kompor itu. Mengerutkan dahinya sebab bingung.
Galuh mengernyit, " Aku semalam pulang sendiri. Lagipula, mas Adi kan emang enggak pernah nginep di RS Yu!"
Kini Yu Sul semakin bingung dengan keterkejutan Galuh. Bukankah setiap hari majikannya itu tak berada di rumah?
" Tiap hari Mas Adi kan nyusulin sampean, lah kok pulangnya bisa enggak samaan?" Yu Sul bahkan kini menatap wajah majikannya dengan wajah double bingung.
DEG
Galuh tertegun. Kehadiran Mas Adi di rumah sakti tempat dimana bapaknya di rawat saja bisa di hitung dengan jari, jelas ada sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1
Rasa ingin tahu mendesak dirinya untuk menyeret langkahnya menemui Resti. best best shoulder rest ( sandaran bahu terbaik), yang posisinya belum terlengserkan oleh siapapun.
" Elu yakin Luh? Bisa gak beres gitu ya si Adi!"
"Nomernya enggak bisa gue hubungin Res!" Ucapnya dengan wajah resah. Membuat dua wanita itu saling tertegun.
.
.
Apartemen Madania Land
" Aku udah selesai mas, yang sebagian udah jalan tadi. Ini kita tinggal bawa baju-bajuku!"
" Mas nanti nginep di sana lagi kan?" Ucap Maya nyerocos sembari sibuk memasukkan sesuatu ke dalam tas kempitnya. Mereka akan berniat pindah ke rumah baru yang lebih lega. Rumah yang baru saja di belikan okeh Adipati.
" Mas?"
Maya menatap wajah mas Adi dengan alis mengerut, demi seraut penuh kekosongan yang di suguhkan pria dengan rambut hitam legam itu.
" Mas Adi?" Tanyanya lagi mulai kesal.
" Mas?" Maya menepuk lengan suaminya dengan sedikit sebal. Membuat pria itu tersentak dari lamunannya.
.
.
" Kita kulineran ke pasar tradisional itu yuk. Pingin makan lupis yang disiram gula merah itu Luh, kayaknya enak banget!" Ucap Resti saat sibuk menyetir, dengan liur yang sudah mengucur di dalam mulutnya, sebab ia sudah membayangkan yang indah-indah.
Tapi tidak dengan Galuh.
Wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang sebenarnya di lakukan Adipati di belakangnya. Pemikiran yang tidak-tidak, kini mulai meracuni logikanya.
" Luh! Ah elah, udah santai aja. Jangan dibuat bingung. Bisa aja si Adi nginep dirumah temannya yang cowo itu, siapa namanya? Risang?...a iya Risang!"
Ucap Resti kepada sahabatnya yang kini berwajah murung dan keruh.
Galuh masih sibuk dengan pikirannya, sedikit banyak mas Adi berarti telah tidak jujur kepadanya. Terlebih lagi, mengapa ia tidak tahu jika mas Adi tidak pernah pulang selama seminggu ini
" Selama sampan enggak pulang, saya cuma bersih- bersih aja mbak. Soalnya Mas Adi enggak pernah pulang. Enggak ada ngomong sama saya juga. Saya kira Mas Adi juga nginep sama mbak Galuh!"
Ucapan Yu Sul tadi, sukses membuat pikirannya semrawut. Ya Tuhan, ada apa sebenarnya ini?
__ADS_1
" Brengsek!" Resti tiba-tiba mengumpat dengan pekikan yang keras bersamaan dengan ia yang terhuyung, sebab mobil itu berhenti secara mendadak.
Sial!
" Duh, kenapa sih Res?" Tanyanya bingung saat ia masih deg-degan, sebab mobil itu nyaris menyerempet mobil yang berhenti mendadak di depannya.
" Tuh mobil seenaknya aja main serobat- serobot!" Tukas Resti kesal. " Edyan!!"
Maki Resti. Siapa juga sih yang bloon banget begitu?
" Eh Luh, tunggu dulu...itu kan mobilnya si Adi!" Ucap Resti menepuk lengan Galuh dengan tekun, saat sebuah mobil lain kini berjalan mendahului mereka dengan kaca yang terbuka jelas.
Membuatnya menoleh dan mengikuti arah dimana Resti menunjuk.
DEG
" Mas Adi? Sama siapa dia?"
.
.
.
.
To be continued.
.
.
.
.
Mohon maaf nggeh kalau ada yang kurang berkenan , dan merasa ceritanya mbulet atau lelet😁😁✌️✌️✌️
Ada beberapa kata yang musti Mommy kejar gaes. Sekali lagi, semua yang tertuang sesudah sesuai outline ya gaes. Malah kadang ada yang Mommy cut.
Sekali lagi, ngapunten ingkang katah jika ada beberapa yang kurang puas.
Semonten mawon, ini lagi di RS anak lagi obaname🙏
__ADS_1