Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 77. Rasaku rasamu


__ADS_3

Bab 77. Rasaku rasamu


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Dananjaya


Ia tak hentinya memantau pergerakan dua mahkluk hidup yang terlihat canggung di jok belakang mobil yang ia kemudikan. Meskipun ia kerap lancang mulut, namun Danan kali ini terlihat bisa menjaga mulut kurang ajarnya, dan berucap sedikit sopan.


" Beraninya mereka membisu disini setelah membuatku ngiler!"


" Jadi...kalian sudah berapa lama pacaran?" Tanya Danan yang mendadak menjadi supir duasejoli di belakang itu. Benar-benar tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


" Enggak pacaran!" Jawab Galuh.


" Baru aja!'' Jawab Raka.


Mereka menjawab secara bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda. Membuat Bapak dari Banyu dan Agni itu kini memutar bola matanya malas. " Yang bener dong!"


" Sumpah!"


" Sumpah!"


Kali Raka dan Galuh saling menatap. Danan makin menghembuskan nafasnya pasrah. " Anak dua ini benar-benar ya!"


Raka tersenyum penuh arti sementara Galuh tentu saja malu. Pria dengan uban yang bertaburan bak bunga jambu yang gugur diatas rambut itu, jelas tadi melihat saat dirinya dicium oleh Raka.


Membuat Galuh benar-benar tak enak hati.


Mereka akhirnya membisu sepanjang perjalanan. Mau gimana lagi, sudah kepalang canggung.


" Sayang? Kenapa datang paling akhir?" Sapa Shinta manakala ia telah sampai menghentarkan anak dari sahabatnya yang terlihat tengah kasmaran itu. Menyongsong Danan yang berwajah monyong.


" Emang udah jalan hidupku kayaknya yang...!" Ucap Danan kepada Shinta." Sering ngelihat soang merajalela dimana-mana. Gak di masa lalu, masa sekarang entah di masa depan!" Ujar Danan ngeremon seraya berjalan.


Pria itu ngeloyor masuk meninggalkan Raka dan Galuh yang saat ini tersenyum ramah kepada Shinta. Membuat Shinta bingung.


" Soang? Siapa yang soang?"


.

__ADS_1


.


Abimanyu menceritakan semua yang terjadi kepada istrinya itu. Tentang siapa wanita yang mengancamnya tadi, juga soal kondisi Gwen yang sangat menyedihkan. Abimanyu bahkan masih syok hingga saat ini dan memilih untuk menyendiri.


Semua sahabatnya telah bertolak usai melihat Citra yang tidur usai meminum obat dari dokter. Satpam Raka juga sudah terlihat siuman. Pria itu rupanya terkena bius ringan. Agaknya anak buah Anom sengaja membuat satpam itu tak sadarkan diri, guna membuat semuanya berjalan lancar.


Dhira meminta Kalyna untuk menemani cucunya, ia juga memerintahkan Raka untuk mandi agar semua kesialan dan mala tak mengikuti mereka lebih jauh lagi. Sejurus kemudian ia memilih untuk menemui Galuh yang saat ini tengah berada di kamar tamu, lantaran membersihkan dirinya.


" Terimakasih kamu telah jaga cucu saya dengan baik Galuh!" Ucap Dhira saat Galuh baru saja mandi sore itu.


Galuh terkejut, tak mengetahui jika Dhira menungguinya di kamar tamu. Sejak kapan?


" Bu Dhira sejak kapan disini?" Tanya Galuh sungkan. " Maaf, saya... terpaksa pakai baju punya..." Galuh sungkan karena ini adalah kali keduanya, ia mengenakan pakaian milik Visya.


" Sssst, pakai saja. Saya malah senang!" Sahut Dhira yang kini duduk mendekatkan dirinya ke samping Galuh. Mencoba membangun kedekatan yang lebih karib.


Dua wanita itu kini saling berbincang. Galuh terlihat tidak percaya diri karena Dhira benar-benar terlampau baik dan ramah.


Galuh diam karena tak tahu harus berbicara apa. Hanya sesekali menjawab dan mengajukan pertanyaan seperlunya. Berbicara dengan orang kaya takut bila tidak nyambung.


Namun hal yang tak pernah ia duga,kini membuatnya terkejut. Dhira meraih tangan Galuh lalu mengusapnya perlahan.


" Nyaris saja anak saya terjerumus! Untung ada kamu Luh!"


Galuh tertegun. Menatap nanar lantai granit yang mengkilat bersih. Apa Bu Dhira tahu bila ia dan Raka..."


DEG


" Tuh kan benar dugaanku!"


Membuat Galuh mendelik dan mendadak lidahnya terasa kelu. "Astaga, jadi pria yang bernama Danan tadi telah mengatakan semuanya? Bagaimana ini?"


" Sa- saya...."


" Saya senang kalau kamu mau nerima anak saya yang bodoh itu Luh. Terlebih, Citra sangat menyukai kamu!"


Ia merasa ingin menangis manakala punggungnya di usap oleh tangan lembut wanita bersuara teduh itu. Benar-benar membuatnya teringat dengan ibunya.


" Tidak perlu jawab sekarang. Tapi...tolong kamu pikir-pikir lagi ucapan saya ya?"


.


.


Dinda

__ADS_1


" Apa? Kok mbak Galuh enggak ada bilang?" Dinda yang membawa sepiring nasi dengan sambal jengkol ke kamar kakaknya terlihat terkejut demi mendengar cerita kakaknya soal kejadian mengerikan tadi siang.


Astaga, hal mengerikan telah terjadi dan is baru mengerti dari korbannya langsung. Benar-benar gak beres.


" Hus! Mulutmu! Nanti Ibu sama bapak tahu jadi khawatir!" Galuh kesal kepada adiknya yang selalu saja bersuara gaduh itu. Terlihat melirik arah pintu yang bisa saja ibunya mendadak muncul dari sana.


" Si rambut jabrik kok enggak ada bilang ke aku juga sih, awas aja dia!" Ucap Dinda yang kesal kepada Niko sebab pria itu tahu namun tiada mau memberi tahu.


" Semua-muanya mau kamu salahin din!" Ucap Galuh mendengus ke arah adiknya yang menunda kegiatan santap jengkolnya.


" Kasian banget keluarga pak...siapa tadi?" Tanya Dinda dengan wajah berpikir.


" Abimanyu!" Sahut Galuh.


" Ya, pak Abimanyu!"


" Kesalahan orang tua, membuat anaknya gelap mata karena dendam yang enggak bener!"


Kini keduanya sama-sama membisu. Suasana senyap dan keduanya sama-sama mirip dengan orang bloon, karena menatap ke arah langit-langit, dengan tatapan kosong.


" Din!" Tanya Galuh yang hendak meminta pendapat kepada adiknya. Membuat keheningan terpecahkan.


" Apa?" Sahut Dinda dengan suara lantangnya.


" Kasih tahu enggak ya, tapi lagi pingin cerita!"


" Ada apa sih? Bikin penasaran aja!" Dinda menggerutu demi melihat kakaknya yang lemot bin lelet.


" Tapi janji jaga rahasia terus jangan teriak!"


" CK, iya bawel amat sih. Udah buruan!" Dinda terlihat tak sabar.


" Kalau mbak menikah lagi, gimana?'


Dinda menatap kakaknya terkejut. " Apa? Mbak Galuh mau nikah lagi?"


Galuh dengan gerakan cepat kini menubruk dan membekap mulut sialan Dinda, sebab suaranya yang menggelegar.


Anak ini benar-benar!


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued..


__ADS_2