
Bab 51. Akar pahit masa lalu
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Galuh
Perlahan-lahan, ia mulai membuka mata dengan sendirinya. Ia melihat ke arah jarum jam, yg berada di nakas ruangan itu telah menunjukkan pukul 05. 02 pagi.
Ia memutuskan untuk mandi saja, karena merasa tubuhnya begitu lesu. Mungkin dengan mengguyur badannya menggunakan air dingin, bisa membuat rasa lunglainya sirna.
Semoga saja.
Ia tidak tahu harus kemana setelah ini. Ia tidak mau kembali kerumah Adipati. Rasa sakit yang di torehkan oleh pria itu teramat dalam. Terlebih, saat ingatannya kembali kepada perut besar Maya, jantungnya seolah terhujam kembali oleh benda tajam.
Sakit, nyeri tak terperi.
" Astaga, aku pakai baju apa setelah ini?" Ia menatap sesal pakaian yang sudah ia rendam kedalam bak. Benar-benar bodoh.
Tiada pilih, akhirnya ia membebat tubuhnya menggunakan handuk putih yang ukurannya juga tidak terlalu besar. Astaga!
Haishh, biar sudah! Toh tidak ada siapapun juga disini kecuali dirinya. Jadi... Yo wes lah. Begitu pikirnya.
Ia akan mencoba mencari baju seadanya di lemari yang berada di sebelah kasur tadi. Toh Raka juga masih berada dirumahnya.
Namun saat ia mulai mengayunkan pintu kamar mandi itu, sesuatu yang sangat tidak ia duga terjadi. Membuatnya kalang kabut detik itu juga.
" Aaaaaa!!!" Ia berteriak demi melihat Raka yang juga tengah membuka pintu kamar itu. Mereka berdua sama-sama terkejutnya satu sama lain.
"Astaga?!" Raka dengan cepat segera menutup pintu kamar, begitu melihat Galuh yang hanya mengenakan handuk yang sangat pendek.
Sialan! Jantungnya kini dag dig dug tak karuan, demi melihat kembali dua benda berwarna bersih dan terlihat membusung itu.
" Ya ampun...kenapa pria itu ada disini? Bukakan ia semalam sudah pulang?"
.
.
Raka
Rasa khawatir rupanya menyeret langkahnya untuk kembali ke apartment. Ia takut jika wanita itu akan berbuat hal diluar nalar.
Bunuh diri misalnya. Oh no!
Pemikiran yang tidak-tidak mendadak mencuat. Jangan sampai ia muncul di headline news pagi hari, lantaran kasus bunuh diri di apartemennya.
Tidak itu tidak boleh terjadi.
Namun kekhawatirannya sirna demi melihat wajah teduh Galuh yang lelap memeluk guling putih miliknya. Mungkin wanita itu lelah. Matanya yang bengkak, menjadi penegas jika Galuh pasti sudah mengalami tsunami air mata.
Tanpa tersadar, ia menarik senyuman demi melihat Galuh yang terlihat begitu menikmati tidurnya.
Ia akhirnya menutup kembali pintu kamar bercat putih bersih itu dengan perlahan, sejurus kemudian ia memilih menyalakan TV yang malam itu menyiarkan acara pertandingan bola voli favoritnya.
__ADS_1
Perutnya yang keroncongan malam itu, memaksanya untuk menggeledah isi lemari di dapur. Daebak! Raka menemukan dua bungkus mie dengan rasa pedas yang terlihat menggugah selera.
Sepertinya ini cocok.
Ia bersidekap sambil menekuni pria-pria berotot yang mencetak poin melalui spike- spike keras. Pemain-pemain muda INA nan handal yang beberapa waktu terkahir direkrut oleh team Jepang, sembari menunggu mie yang ia rebus matang.
" Pemirsa di manapun anda berada...lagi-lagi, Sigit ,pemain yang pernah bergabung di tim BNI46 bernomor punggung tiga, dengan posisi opposite , kali ini berhasil mencetak poin di angka-angka krusial. Torehan skor yang jelas akan membawa mereka kepada klasemen atas, pertandingan semi fina kali ini....."
Suara didihan air yang sedari tadi memaksanya meninggalkan pertandingan di set kedua, yang semakin seru itu. Ia kini terlihat membawa sepiring mie dengan topping telur dan sosis. Terlihat menggiurkan.
Habis kenyang terbitlah ngantuk, pepatah aneh ini agaknya turut menyerang dirinya. Pria itu mematikan tv-nya di menit ke enam lepas dari jam sebelas, karena benar-benar tak kuasa menahan serangan kantuk.
Pagi menjelang,
Raka bangun dan melihat jam yang melingkar di tangannya telah menunjukkan pukul setengah enam, ia harus pergi ke kantor pagi ini. Pria itu berniat menemui Galuh sebab hari Senin merupakan hari sibuk untuk seluruh lapisan masyarakat.
" Aaaaaa!!!
Matanya mendelik dengan keterkejutan yang tiada banding, saat matanya melihat sosok dengan tubuh yang bisa membuatnya gila detik itu juga, manakala dengan ngawurnya ia membuka pintu tanpa mengetuk.
" Astaga!" Dengan tangan gemetar ia segera menutup pintu kamar itu. " Aku pikir dia masih tidur!"
" Kenapa tidak di kunci kalau sedang mandi?" Raka menggerutu dengan kepala yang mendadak nyut-nyutan.
Sialan!
.
.
Galuh
" Aku bisa meminta Niko untuk memakanmu pakaian ganti!" Ucap Raka canggung akibat kejadian tadi. Astaga, tubuh Galuh bahkan membuatnya resah saat ini.
"Tidak usah, ini saja. Dan....bisa anda pesankan saya taksi?"
Raka mengerutkan keningnya, " Mau pergi kemana? Aku bisa mengantarmu pulang!"
" Diantar seorang pria pulang sesaat setelah memergoki suami selingkuh bukan jalan yang cocok. Mereka bisa bersilat lidah dan menuduh aku yang berbelok!" Galuh tersenyum kecut.
Betul juga!
" Baiklah kalau begitu!"
" Terimakasih Pak Raka. Saya sangat berhutang budi kepada anda!" Galuh tersenyum menatap Raka dengan senyuman paling tulus. Senyum yang baru pertama Raka jumpai.
Oh manisnya.
...🌺🌺🌺...
Jodhi
Ia memang womanizer kelas kakap di jajaran cassannova liar yang pernah ada. Saat pria mabuk, andrenalin berpacu lebih cepat, dan dorongan hasrat panas kian menjalari tubuhnya.
Ia biasanya akan menghubungi wanita yang biasa menemani dirinya, tapi ikan asin yang datang saat kucing kelaparan agaknya membuat dirinya merasa bagai mendapat rezeki.
Ayolah kawan, love is Bullshiiit!!
Ia ingat jika Raka pernah mengatakan bila dia dan Dewi just friend, tapi terlepas dari itu, Jodhi sudah bisa mengira jika Dewi bukanlah wanita baik-baik. Apalagi setelah ia dengan setengah sadar menikmati tubuh yang sudah tidak perawan itu.
__ADS_1
Sejak pertama bertemu, Jodhi sudah bisa merasakan pandangan genit dari Dewi kepadanya. Wanita licik!
Dewi menatap penuh arti punggung bertato lebar milik Jodhi. " Buru-buru sekali!' Ucapnya masih diatas pembaringan dengan tubuh yang masih polos. Hanya tertutup selimut dan kini tekun menatap Jodhi yang mengancingkan kemeja denimnya.
" Aku tidak menyangka jika kamu...!" Jodhi menatap Dewi datar, baginya hal seperti ini terlalu biasa, tidak ada hati disini, apalagi perasaan lebih.
Just to satisfy myself.
" Dalam hidup banyak hal yang tidak bisa kita tebak tuan Jodhi, sama dengan nasib!" Ucap Dewi menatap tajam pria yang semalam bercumbu dengannya itu.
" Wanita ini cukup berbahaya!" Ucap Jodhi dalam hati, seraya menangkap sorot mata penuh arti dari Dewi.
Sejurus kemudian ia pergi meninggalkan Dewi tanpa sepatah katapun, Jodhi meraih kunci mobil yang rupanya di letakkan di sebuah meja lebar di kamar luas itu.
Mabuk benar-benar membuat dirinya kehilangan kendali. Sial!
Ia berpapasan dengan pria berwajah datar saat sudah tiba di ambang pintu rumah besar itu. Mereka saling melempar tatapan sengit.
Jodhi hanya menarik sudut bibirnya saat pria itu terlihat sangat tak suka kepadanya. "Tunggu dulu, aku pernah melihat pria ini bersama Dewi waktu itu!"
.
.
Dewi
Ia meminta Anom untuk membawanya ke sebuah tempat besar yang menjadi rumah utamanya. Anom tak banyak bicara sejak tadi, meski ia masih saja tunduk pada permintaan Dewi.
Entahlah, sepertinya Anom menyimpan sesuatu hal untuk Dewi.
" Bagiamana?" Tanya Anom kepada salah satu penjaga ruangan berdinding kaca itu. Menepikan ego diri yang sebenarnya merasa marah dengan majikannya itu.
" Baru saja selesai makan tuan!" Ucap pria berseragam hitam itu.
Dewi melepas kacamatanya, ia terlihat membuka pintu kaca dan memperlihatkan sesosok wanita tua dengan wajah layu yang berbaring diatas ranjang.
Anom berdiri seperti biasanya, berwajah datar dan terlihat menunggui Dewi.
" Tinggalkan kami!" Ucap Dewi kepada Anom dan para punggawanya. Membuat Anom menarik napas panjang.
Anom membungkuk hormat dan sejurus kemudian meninggalkan dua wanita berbeda usia itu.
Wanita tua itu berambut pendek dengan uban yang terlihat. Wanita bermata sayu, dan terlihat pucat.
" Setelah ini kita bisa hidup tenang Bu! Tita pasti bisa membalas mereka yang dulu membuang kita!" Ucap Dewi dengan suara bergetar oleh tangis. Membuat wanita tua itu menoleh dengan wajah layu dan tatapan kosong.
Dewi terisak, membelai wajah ibunya dengan hati bagai teriris. Hanya dendam yang membara, yang tengah ia ikuti saat ini.
" Tita akan mengajarkan mereka, bagaimana rasa sakit akibat tidak di akui, Tita akan buat mereka semua berseteru satu sama lain!" Ucap Dewi seraya meremas tangan Ibunya.
" Tita bersumpah!"
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.....