
Bab 103. Sometimes love doesn't need a reason
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Reyhan
Ia merupakan pemilik swalayan tempat dimana Lintang tempo hari bekerja. Pemuda yang saat ini genap berusia 30 tahun itu, sebenarnya menaruh rasa terhadap Lintang sejak perempuan itu bekerja di tempatnya.
Namun sayang, ia yang waktu itu masih sibuk riwa-riwi demi melebarkan sayap usahanya , menjadi kehilangan jejak sebab Lintang mendadak keluar pekerjaan tanpa kabar.
Lintang tak mau menerima pria manapun. Pengalaman hidup Yanti, nyatanya sedikit banyak membuat pikiran ibu muda itu turut terkontaminasi doktrin soal pria itu sama saja.
Reyhan merupakan pria lajang yang sikapnya baik. Usut punya usut, ia tahu jika Lintang resign sebab dia hamil tanpa suami. Ia tahu, tak mudah bagi dirinya untuk meyakinkan Lintang jika ia mau menerima wanita itu apa adanya.
Reyhan tak sengaja menemukan Lintang saat wanita itu sibuk berjualan di tepi trotoar saat matahari terik membakar para manusia yang membanting tulang.
Lintang tak memiliki perasaan apapun pada dirinya. Lagipula, Lintang benar-benar merasa bila hatinya sudah terasa mati akibat terlalu lama mengecap penderitaan yang seolah tak mau pergi bahkan hingga saat ini.
Lintang bahkan kerap menolak pemberian dari Reyhan sebab tak mau menambah beban sungkan di hatinya. Ia sudah bahagia bersama buah hatinya dan Bu Yanti yang tulus mau menerimanya , hatinya telah mati bersama dengan kepergian ibunya yang begitu memilukan.
" Baru aja pergi sama si Denok mas. Anaknya di bawa ke rumah sakit!" Ucap tetangga Yanti yang sore itu baru pulang dari bekerja sebagai tukang parkir di sebuah mall besar. Beliau juga tahu kabar menggemparkan itu dari anaknya istrinya yang mengatakan jika anaknya Yanto, tengah pergi mengantar Yanti.
Membuat Reyhan buru-buru menuju ke mobilnya dan melesatkan dirinya menuju rumah sakit tanpa menunda waktu lagi.
Sesampainya ia disana, ia menemui petugas rumah sakit dan bertanya dengan nada buru-buru. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu.
" Sus, mau tanya anak yang baru aja dibawa kemari sore ini di ruangan mana ya?"
Suster itu mengerutkan kening demi melihat pria keren yang terlihat buru-buru. " Atas nama siapa Pak, karena banyak yang anak kecil yang masuk sore ini!"
" Ibunya namanya Lintang!"
Suster itu seketika mengetik nama pada layar komputernya, dan tidak menemui nama tersebut.
" Maaf Pak, tapi tidak ada reservasi atas nama Lintang. Anda bisa di sebutkan nama anaknya?"
Reyhan terlihat berpikir seraya mengingat-ingat. " Danuja! Atas nama Danuja coba!"
Wanita itu terlihat kembali menatap ke layar lebar komputernya. " Danuja ya? Atas nama Danuja ada di ruang iman C6 ya pak!"
Setelah mengucapkan terimakasih kepada petugas itu, pria yang kini mengenakan kemeja denim favoritnya itu berjalan setengah berlari menuju ruangan yang di sebutkan.
__ADS_1
Tak sulit rupanya menemukan ruang itu. Ruangan kelas murah yang dihuni banyak sekali pasien lain, dengan satu tempat kamar mandi yang digunakan bersama dengan bau pesing yang tak jarang membuat mual.
" Loh, mas Reyhan!" Denok yang barusaja masuk keruangan dengan kapasitas enam pasien itu terkejut demi melihat pria manis yang kini berada di sana.
Membuat Lintang dan Yanti turut mengalihkan pandangannya.
" Aku dengar dari tetangga kalian tadi, terus aku langsung kesini. Gimana keadaan Danu?" Lintang masih diam dengan tatapan kosong mengusap punggung Danu yang kini tertidur.
" Baik, dia tidak apa-apa. Kejang karena saking tingginya tensi demamnya tadi. Setelah ini boleh pulang kok!" Jawab Yanti mewakili demi melihat Lintang yang masih diam dengan guratan lelah di wajahnya.
Denok menyenggol lengan Yanti perlahan. Dua wanita itu tahu jika Reyhan datang ke sana karena berempati kepada Lintang.
" Keluar dulu yuk yu, cari alasan apa gitu!" Denok paham. Meski Lintang selama ini bersikeras menolak pria yang mendekatinya, namun Denok merasa kasihan dengan Reyhan. Pria itu jauh-jauh datang kemari untuk menemui Lintang bukan?
.
.
Yanti
Ia kini bersama Denok beralasan untuk membereskan administrasi selama Lintang di dalam. Dua wanita itu memberikan waktu dan tempat bagi pemilik swalayan revolusi itu.
" Kalau aku jadi Lintang, tak sikat aja itu si Rey Yu. Udah cakep, banyak duit, bokongnya bulet lagi. Pasti anunya gede itu!" Ucap Denok terkikik-kikik.
" Ndiasmu sempal! Orang kok isinya begituan mulu!" Omel Yanti kepada Denok yang kini terkekeh-kekeh.
" Kita enggak tahu apa yang ada didalam hatinya Lintang Nok. Aku sendiri sedikit banyak paham perasaan dia, beda ya kamu yang mungkin enggak pakai hati walau crat cr*ot sama orang!"
Denok mendengus seraya masih berjalan saat Yanti membombardir dirinya dengan ucapan telak. Sialan!
" Orang itu beda-beda nok. Kalau menurut aku, Lintang itu sedang dalam fase bodo amat, ngurus anak itu enggak gampang, apalagi jadi orang tua tunggal, miskin lagi. Aku aja tiap malem sering nangis sendiri Nok. Kasihan lihat mereka. Apa enggak ada keluarga lain yang nyariin!"
" Mungkin bagi Lintang, ia lebih baik sendiri ngerawat Danuja. Makanya aku enggak rela kalau dia pergi. Semenjak ada dia, aku ngerasa jadi orang normal lagi Nok!"
Denok yang melihat kursi kosong kini mendaratkan bokongnya di sana. Berniat memakan kerupuk pemberian pasien tetangga kamar mereka tadi, sebagai saku mereka dalam bergunjing.
" Emangnya kamu enggak pernah nanya bapak si Danuja itu siapa Yu? Danuja itu ngganteng lo yu, wajahnya kayak bule-bule gitu. Pasti bibit unggul tuh yang cro*t di dalam perutnya si Lintang!"
" Mulut mu Nok! Yanti mendengus sebal sebab Denok benar-benar tak memiliki saringan saat berucap.
Crat cr0t crat cr0t!
Denok hanya tekrikik-kikik. Mau gimana lagi.
" Dia enggak ada pernah cerita soal laki-laki yang memperkosanya secara detail. Yang dia pernah bilang cuma, pria itu adalah pria kasar dan pria otoriter paling kejam yang pernah ia temui. Itulah sebabnya ia kabur ke kota ini. Dia takut jika laki-laki itu berbuat lebih buruk lagi jika ia masih ada disana!"
" Apalagi waktu itu, ibunya sakit keras Nok. Aku bisa memahami perasaan dia. Kalau aku jadi dia, aku pasti juga kabur! Orang jahat itu macem-macem Nok jaman sekarang!"
__ADS_1
Denok tekun menyimak Yanti yang bercerita dengan tatapan menerawang, seraya mulutnya tiada henti mengunyah makanan dengan bunyi kroak - kroak itu.
" Ngunyah aja lambemu Nok. Sini gantian!" Yanti menyahut kerupuk yang tinggal separuh itu.
" Eh yu, ngomong-ngomong biayanya habis berapa ya kira-kira? Kalau kurang, aku mau jual tempe ku dulu kayaknya malam ini. " Tanya Denok seraya menggaruk janggutnya.
Membuat Yanti tersedak kerupuk.
.
.
Lintang
Ia mendecak sebal kala dua wanita yang berkontribusi banyak dalam hidupnya itu kini melesat pergi. Menyisakan dirinya yang berteman kecanggungan bersama Reyhan.
" Nanti pulangnya sama aku aja, enggak usah nyewa mobil!" Ucap Reyhan yang terdengar seperti sebuah perintah.
Lintang kali ini mengangguk. Ia tak menolak sebab ia kasihan kepada Bu Yanti dan juga mbak Denok apabila harus menyewa kendaraan. Tak apalah sekali ini menerima bantuan dari Reyhan. Lagipula, ia memang membutuhkan.
" Makasih mas!" Ucapnya yang tak berani menatap Reyhan. Lebih tepatnya enggan.
" Mau sampai kapan kamu nolak aku Lin?!"
Ucap Reyhan lirih dan melirik ke kanan dan kirinya, memastikan pasien lain ta terganggu dengan suaranya. Reyhan sangat mengharapkan Lintang. Wanita baik yang pernah menolongnya saat nyaris tertabrak mobil.
" Aku mau terima kamu sama Danu unt.. "
" Maaf, tapi kalau mas Reyhan masih membahas hal itu disini lebih baik mas Reyhan pergi !" Ucap Lintang dengan tatapan kosong ke arah matras yang seprei nya tersibak akibat gerakan kaki Danuja.
Benar-benar merasa lelah.
Reyhan menelan ludahnya. " Oke - oke, emang enggak seharusnya kita bahas hal ini disini! Maafkan aku!"
Reyhan menarik napas lalu menghelanya sejurus kemudian.Lintang benar-benar sulit untuk di dekati.
Jangan tanya mengapa Reyhan sangat menyukai Lintang. Karena cinta terkadang tak butuh sebuah alasan
.
.
.
.
.
__ADS_1
Readers terkasih, sudah sampai di part 103 nih. Semoga kebosanan tidak menyerang para readersku.