
Bab 139. Bertiga bersama kalian
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Lintang
Untuk ke sekian kali, Danuja benar-benar menjadi sumber keonaran yang hamsyong tingkat tinggi. Namun, kali ini benar-benar parah.
Lintang bahkan berada di ujung kegugupannya, tatkala ia reflek mendorong tubuh berat berbibir dingin yang baru saja mandi itu.
" Sory Lin! Tadi, aku..."
Jodhi bahkan gelagapan karena benar-benar takut jika Lintang akan salah paham lalu marah.
Tapi, siapa sangka, Lintang kini justru menunduk karena mendadak diserang rasa malu.
" Akan aku buatkan susu biar dia cepat tidur. Sebentar!" Ucap Lintang cenderung tergesa-gesa sembari tak berani menatap Jodhi, dan lebih memilih untuk mempercepat langkahnya menuju kamarnya untuk membuatkan susu.
Lintang diserang nervous.
" Huft, astaga! Kenapa Danuja nakal sekali sih kamu nak!'' Ia mendecak resah manakala telah sampai diluar kamar laki-laki itu. Bergumam seraya berjalan dengan wajah memerah.
Jodhi harum dan membuat kuduknya seketika merinding.
Setibanya dikamar, ia tersenyum demi melihat Bu Yanti yang tidur dengan nyenyaknya, diatas kasur yang dijamin kualitasnya itu.
Terenyuh beberapa detik, sebab selama ini perempuan itu lebih sering mengalah untuk dirinya dan Danuja.
" Makasih Buk. Udah mau nolongin Lintang selama ini!" Batin wanita itu tersenyum penuh rasa sayang. Berjanji dalam hati untuk membuat wanita itu bahagia, dengan menuruti semua permintaannya salah satunya.
Ia kini cepat-cepat meracik komposisi yang biasa ia seduh tiap Danuja hendak menyusu. Berharap minuman itu bisa menjadi bekal penghantar tidur Danuja.
Namun, ekspektasi selalunya tak berbanding lurus dengan kenyataan.
Setibanya ia di kamar pria itu, Ia kini menghela nafasnya demi melihat Jodhi yang meletakkan tangannya ke depan bibir yang tadi sempat piknik ke bibirnya, sebagai isyarat bagi dirinya untuk diam.
Ya, tak disangka, Danuja lekas memejamkan matanya menikmati tepukan lembut tangan kekar Jodhi, saat Lintang sudah membawa botol susu hangat itu dengan susah payah.
Anak itu benar-benar.
" Tunggulah, dia tidur sebentar lagi!" Ucap Jodhi dengan mulut komat-kamit karena takut menimbulkan suara yang bakal membuat Danuja terbangun.
Lintang mengangguk mengerti. Ia kini menuju ke kasur yang spreinya sudah agak berantakan akibat ulah Danuja, wanita itu terlihat duduk lalu membereskan beberapa mainan bayi rusuh itu.
Melihat bantal yang rapih, Lintang yang matanya sudah sangat sepat itu reflek meletakkan kepalanya barang sejenak.
" Sebentar saja lah. Toh nanti kalau Danuja sudah tidur, aku pasti di bangunkan!" Ucapnya dalam hati demi kantuk yang tiada bisa ia tepis.
Namun, kata ' sebentar saja' rupanya hanya wacana belaka. Jodhi yang beberapa menit kemudian membalikkan badannya, terkejut kala melihat Lintang yang tertidur berbantalkan lengannya, dengan bibir yang sedikit terbuka.
Pria itu tidak tega demi melihat guratan penuh rasa lelah yang terpancar di wajah teduh Lintang.
Hati pria mana yang tidak menghangat, kala melihat dua makhluk yang paling dia cintai itu, kini memejamkan mata di bawah penjagaan dan pengawasannya.
" Ayah janji setelah ini enggak akan biarkan kalian menderita lagi!" Air bening itu merembes dari netra Jodhi.
" Ayah akan buat kalian bahagia!"
__ADS_1
Kebahagiaan, kelegaan, cinta kasih, semuanya bertangkup satu membuncah memenuhi kalbunya yang kini merona.
Ditidurkannya Danuja secara perlahan agar bayi itu tak terbangun. Ia yang semula khawatir jika Lintang akan terbangun, kini kembali tersenyum demi mendengar napas teratur dari wanita ayu yang menjadi pujaan hatinya itu.
Menandakan jika Lintang benar-benar hanyut dalam buaian mimpi.
Biarlah malam ini Jodhi egois sedikit saja dengan tidak membangunkan Lintang. Urusan rajuk merajuk, biarlah menjadi tantangannya besok.
Ia hanya ingin menikmati malam indah bersama anak dan juga Lintang.
Bayi yang mengenyot jempol itu, kini tertidur pulas. Jodhi kini turut membaringkan tubuhnya diatas kasur lebar itu. menatap senang dua mahkluk tersayangnya.
" Good night baby! I love you so much!"
.
.
Lintang
Benda yang terasa berat di atas perutnya, membuat Lintang terbangun dari tidurnya sebab merasa tak nyaman. Ia tersentak demi melihat tangan Jodhi yang melingkari tubuh Danuja serta dirinya.
" Astaga, aku ketiduran!" Sesal Lintang yang mendadak resah.
" Ya ampun!" Ia mendadak meringis dan menggigit bibirnya kala melihat tangan besar berotot itu berada diatas perutnya. Tangan yang sudah pasti kuat itu benar-benar membuatnya takut.
Dilihatnya jam digital di dinding bercat monokrom itu. Pukul empat dini hari. Dengan perlahan, Lintang berniat membebaskan diri dari lingkup pria itu.
Namun sejurus kemudian.
" Jangan bergerak. Danuja bisa terbangun nanti, ini masih pagi!"
Lintang membulatkan matanya.
" Kau juga sudah bangun?" Tanya Lintang dengan alis bertaut. Ia tak berani memberontak sebab ia merasa bersalah karena ketiduran dan takut membuat anaknya terbangun.
" Hah?"
Lintang mendecah tak percaya. Bagiamana bisa pria itu justru terjaga sepanjang malam.
Jodhi mengangguk menatap Lintang yang terlihat rikuh. Ia tak mau melewatkan peristiwa langka itu begitu saja. Entah sudah berapa banyak foto yang di abadikan Jodhi, dan dikirimkannya kepada Raka.
" Gila Lo. Nunggu dulu bos! Bahaya emang lu ya!"
" Aman! Gue cuman mau pamer. Bentar lagi gue juga bisa pamer bini kayak eluπ!"
" Lanjut- lanjut! besok gue , Galuh sama anak-anak yang jemput. Mereka gak sabar pingin ketemu Danuja!"
Begitulah bunyi chat kurang ajar dua pejantan yang masih terjaga lewat jagad maya semalam.
" Kenapa memangnya? Aku hanya ingin menjaga dua orang kesayanganku!" Jawab Jodhi senyam-senyum. Membuat Lintang mendengus.
" Ini sudah pagi. Aku akan siap-siap. Kau tidurlah bersama Danuja!"
Jodhi terkekeh saat melihat Lintang yang grogi sewaktu terbirit-birit pergi.
" Sudah tidak marah. Ah Ja, sepertinya ibumu sudah hampir bisa ayah jinakkan. Hah, Ayah bahagia banget nak!" Ucap Jodhi mengusel darah dagingnya yang kini menggeliat karena gangguannya.
.
.
Di lobi hotel.
__ADS_1
Bu Yanti hanya diam meski ia tahu jika Lintang sepertinya tertidur di kamar Jodhi, sebab semalam sewaktu ia hendak ke kamar mandi, ia melihat kasur di sebelahnya kosong.
Tak ada pikiran macam-macam. Yanti yakin, mereka pasti tengah bekerjasama demi mengatasi Danuja yang ruwet.
" Udah siap semua kan? Jo, Denok jadi nganter kita kan?" Tanya Rania kepada Jonathan yang menandai team riwa-riwi para manusia sultan itu.
" Jadi Bu. Nanti dia nunggu kita di Airport!" Jawab Jonathan penuh kesopanan.
Lintang siang itu terlihat mengenakan baju yang dipilihkan oleh Rania. Sebuah blouse simple namun elegan, terlihat membalut tubuh mungil Lintang yang kini nampak lebih fresh.
" Bu Yanti jangan takut. Naik pesawat itu enggak menakutkan kok. Nanti saya pilihkan duduk di sebelah jendela ya, biar bisa tidur!" Tukas Dhira yang ingat jika Bu Yanti baru pertama akan naik pesawat.
" Bu Yanti takut? Wah harus sering-sering diajak terbang nih biar ilang takutnya!" Seru Abimanyu yang nampak ramah.
" Amanlah kalau itu kak Abi. Nanti kita sering-sering liburan aja biar neneknya Danuja cepat terbiasa!" Sahut Rania yang senang dengan kesederhanaan Bu Yanti.
Lintang senang dengan perlakuan baik keluarga Jodhi. Apa yang ia khawatirkan selama ini , nyatanya tak terbukti. Doktrin yang mengatakan jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya mungkin sudah bergeser. Buah yang jatuh itu sepertinya sudah di gondol oleh kalong, dan membuatnya berada jauh dari si pohon tersebut.
Ya, sejauh ini Lintang tak memiliki keraguan kepada Rania, seperti saat ia ragu kepada Jodhi.
" Mah, nanti Raka yang jem..."
Ucapan Jodhi yang baru muncul dari arah belakang itu menguap saat ia melihat Lintang , yang cantik dengan tampilannya yang berbeda siang itu. Terlihat berbeda dan mengingatkan Jodhi saat pertama kali ia bertemu Lintang.
Ayu dan rupawan.
" Ehem Ehem!" Bastian berdehem saat melihat anaknya yang mendadak speechless.
" Dahlah, yok kita berangkat! Kasihan Denok yang udah nunggu lama disana. Ibarat orang jemur padi, pasti tinggal giling dia!"
Abimanyu tergelak saat mendengar Bastian mengatakan Denok mirip jemuran padi yang siap di giling. Kering dan tentu saja menguning.
.
.
.
.
.
.
Halo readers terkasih, apa kabar semuanya? Semoga sehat selalu di musim pancaroba ini ya π€
Mommy seneng banget bisa menyuguhkan cerita yang sedikit banyak bisa menghibur panjenengan semua.
Walau, tidak semua pembaca suka dengan alur, teknik penulisan, serta beberapa adegan yang sengaja mommy hadirkan. Well, sekali lagi, menyenangkan hati semua orang adalah KEMUSTAHILAN.
Reader, sungguh tiada mengira dan tiada menyangka. Cieilee...ππ
Sepertinya karya mommy udah mencapai lebih dari yang mommy harapkan. Enggak nyangka, karya receh begini bisa nangkring di beranda juga bisa dikenal oleh banyak pembaca.
Semua ini berkat doa-doa serta dukungan pembaca yang luar biasa baik.
Jujur, komentar positif dari pembaca lah yang membuat mommy semangat. Mommy tepikan kritikan tajam juga berbagai kata-kata unfaedah yang menurut mommy merupakan suatu kewajaran. Manusia dengan selera yang berbeda itu juga masuk dalam satu kewajaran.
Alhasil, enggak peduli mau sepi mau tidak sepi, mommy terus berjuang menulis. Di tengah-tengah keterbatasan yang ada, mommy selalu bangun dini hari demi meneruskan kisah yang sudah mommy buat demi menghibur panjenengan sami. Walau kadang ada juga loh yang bilang, ini itu.
Sempat tersanjung dan terharu, sebab salah satu pembaca disini @Kak Rinawati dari DPS, sampai ngasih hampers buat aku. Ini beneran diluar sangakaanku. Kalian begitu mengasihi author amatir sepertiku.
Sehat-sehat semua readers ku, kiranya keberkahan serta keberuntungan senantiasa tercurah atas kalian semua.
__ADS_1
Big hug
mommy Eng π€π