
Bab 32. Aku dan segala kesedihanku
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Apartement Madania Land
Gempuran AC di sebuah unit mewah, dengan fasilitas lengkap itu seolah tiada berguna. Adipati yang kini tekun menghentakkan tubuhnya dari penyatuan tubuh dua manusia itu, merasa semakin menggila.
Maya yang geloranya dua kali lipat semenjak ia hamil itu, menjadi yang paling selalu merasa kurang.
Ya, mereka tengah bercumbu.
Dalam tempo cepat, ayunan tubuh dengan otot liat itu terasa membuat diri Maya melayang bagai tak bertulang. Nikmat dan terasa menyegarkan jiwanya.
"Mas!!!! Itu ponselmu!" Ucap Maya dengan suara parau sembari merem melek demi merasakan gesekan nikmat itu, manakala ponsel Adi bergetar beberapa kali.
Adi sempat merutuki dirinya karena lupa mematikan ponselnya. " Biarkan saja!" Ucapnya sendu yang kini beralih menyambar kuncup yang telah mengeras, milik Maya.
Getaran ponsel itu berhenti dengan sendirinya, tepat saat mereka berdua telah menggapai puncak tertinggi dari peleburan hasrat itu.
" Ahhhh!!!!!"
Keduanya mengejang bersama-sama saat sesuatu yang hangat kini meledak di dalam liang terdalam Maya. Membuat napas Adipati tersengal-sengal.
Maya seketika memeluk tubuh polos suaminya yang kini lengket akibat keringat dan juga ****** ***** mereka. Maya senang, Adipati selalu bisa memuaskan dirinya.
Ia merasakan dirinya turut bergerak manakala Adipati meraih ponsel di nakasnya. Siapa juga yang menghubunginya berkali-kali seperti itu.
__ADS_1
" Galuh May!" Ucap Adi terkejut dan langsung membuat Maya seketika bangun dari tidurnya.
" Mbak Galuh? Ada apa mas?"
" Tumben nelpon kamu?" Maya turut mengerutkan keningnya. Ada apa pikirnya, mengapa tidak seperti biasanya.
["Mas dimana? Maaf aku kerumah sakit Bhakti Husada tanpa nunggu mas, Bapak dirawat disana!"]
Mata Adipati membulat seketika demi mmebaca pesan dari Galuh. Oh tidak!
" Ada apa mas?" Tanya Maya yang kini terkejut karena tiba-tiba suaminya itu beranjak dari pembaringan mereka dengan sikap terburu-buru.
" Bapaknya Galuh masuk rumah sakit May. Aku harus nyusul dia dulu, kamu enggak apa-apa kan?" Jawab Adi sambil mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru.
Membuat Maya seketika memalingkan wajahnya kesal.
.
.
Galuh
Ya walau ini sebenarnya salah. Karena sebagi perempuan, tentu ia harus lebih memprioritaskan suaminya.
Untung dia sudah mandi di rumahnya Citra tadi. Ia membuang pandangannya ke arah luar jendela taksi yang sudah ia pesan. Entah kemana suaminya itu. Dibaca atau tidak, dibalas atau tidak, setidaknya ia sudah izin. Bagiamanapun juga, Adipati tetaplah suaminya.
" Tolong lebih cepat ya mas!" Ucap Galuh lembut kepada pemuda yang mengemudikan mobil sejuta umat itu.
" Nggeh Bu!"
Galuh menarik napasnya dalam-dalam. Seharian ini ia belum istirahat. Ia juga belum sempat makan tadi. Ia merasa semuanya benar-benar terasa berat, manakala ia tak memiliki sandaran apapun, bahkan untuk sekedar bercerita.
Koridor panjang itu, kini susuri dengan langkah terburu-buru. Ia membaca satu persatu marka jalan, agar tak tersesat.
__ADS_1
" Ruang Iman ada di lajur kiri, dekat dengan poli anak ya Bu!"
Ucap petugas resepsionis yang menjadi bekalnya untuk mencari keberadaan sang Bapak, sebab nomer Dinda tak bisa ia hubungi.
Dan benar, dari tempatnya berjalan, ia melihat Ibu dan adiknya yang duduk diluar dengan wajah lesu dan lelah.
" Buk?" Ucapnya setengah berlari dan setengah mati menahan laju air matanya agar tak tumpah.
Ia sudah lama tak mengunjungi Ibu. Terakhir ia berkunjung saat menghadiri wisuda Dinda beberapa Minggu yang lalu.
" Luh!" Ibu merentangkan tangannya lalu memeluk Galuh erat-erat. Seolah menegaskan jika ibunya itu sangat membutuhkan dirinya saat ini.
Ia memejamkan mata, seraya menghirup aroma ibunya dalam-dalam. Sosok yang sebenernya juga sangat ia butuhkan saat ini. Ia ingin sekali menumpahkan segala kesesakan yang bersarang di relung hatinya, juga tentang semua drama kebohongan yang semakin hari semakin membuatnya tak tahan lagi.
" Bapak gimana Bu?" Tanya Galuh yang sudah tak bisa lagi menahan air matanya. Pun dengan Dinda yang kini juga terlihat menyusut air matanya degan kaosnya.
" Bapakmu harus segera di operasi Nduk katanya!" Ibu berucap dengan suara tak jelas karena bercampur tangis yang pecah. Membuatnya benar-benar bagai tersusuk sembilu.
Dinda akhirnya menceritakan semuanya. Tentang kondisi bapaknya yang parah, bahkan sudah tak bisa mengeluarkan tinja dari saluran yang seharusnya.
" Dokter bilang jika di operasi, bapak nanti akan di buatkan jalur khusus di perut untuk buang air besarnya Mbak!"
Galuh tertegun, itu artinya bapaknya akan menjalani proses yang tidak senormal orang lain.
" Mbak nanti di tunggu dokter di ruangannya. Ada beberapa hal yang perlu di bicarakan. Termasuk biaya dan lain-lain!"
Galuh tercenung. Uang yang diberikan Adipati selama ini cukup besar. Tapi...jika ia menggunakan uang itu untuk membantu ibunya, apa tidak jadi masalah?
Sementara, uang dari gajinya sudah habis untuk membantu biaya ibunya sehari-hari. Bapaknya sakit dan mau tidak mau membuat Galuh harus mengirimkan uang kepada keluarganya. Dinda juga belum mendapatkan pekerjaan, membuatnya mau tak mau harus bisa mengambil sikap.
Oh Tuhan, kuatkan aku!
.
__ADS_1
.
.