
Bab 46. Lentera kehidupan yang meredup
.
.
...Segala jalan manusia pasti mereka sangka lurus....
...Dalihnya masih sama, karena masih menjadi insan biasa. Begitu katanya....
...Coba tiliklah sengsaraku, dan segala kesukaranku, agar engkau tahu betapa berdosanya kamu terhadap diriku....
...~Wanita nestapa...
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Galuh
Apakah ada bedanya, hanya diam menunggu? Dengan mengikuti jejak bayang-bayang? Bukankah hasilnya sama-sama kosong?
Ia mati-matian menahan amarah yang semakin membuncah , tatkala ia dengan segala keterkejutannya melihat wanita yang pernah ia jumpai di minimarket tempo hari.
Kebetulan macam apa ini?
" Galuh?"
Ia menatap tajam ke arah mas Adi dengan tatapan yang menyiratkan kilatan kemarahan, kekecewaan, kebencian. Semuanya.
" Apa-apaan ini sebenarnya?" Bu Sevi menatap putranya dengan tatapan tajam saat seorang wanita dengan tanpa sungkannya, terlihat menggamit lengan mas Adi.
" Mama! Ini...!" Adi tercekat dan tak bisa berkata-kata lagi, pun dengan Maya yang detik ini juga kini terperanjat demi melihat Istri pertama suaminya, juga kedua orangtua Adipati.
Dari tempatnya berdiri, ia juga bisa melihat reaksi wajah mama dan papa mertuanya yang terkejut bukan main. Bagaimana bisa anaknya, suami dari Galuh bisa berada di dalam rumah dengan seorang wanita yang tengah berbadan dua.
" Adi!" Mama Sevi kembali berteriak saat ia masih belum bisa menjabarkan apa yang terjadi. Wanita itu menatap putranya seribu tanya. Sama sekali belum bisa mencerna apa yang terjadi.
__ADS_1
" Sini kamu!" Secepat kilat Galuh menarik lengan Maya dengan kasar, bahkan Mas Adi tidak sempat menahan lengan Maya. Sudah cukup, ia tidak bisa lagi menahan amarah dalam dirinya. Hatinya telah diliputi oleh kesesakan, juga kilasan ingatan yang kembali saat bibir suaminya, mencium pipi merona wanita dengan dress tosca itu.
Kurang ajar!
" Mas!!!" Maya berteriak saat dengan kerasnya Galuh menarik lengannya, serta menyeretnya menuju luar. Astaga, kasar sekali wanita ini. Begitu pikir Maya.
" Galuh!" Hardik Adi dengan suara keras. Pria itu kini benar-benar bingung dan otaknya mendadak buntu. Langkahnya di cegat oleh Pak Hendra yang yang kini sudah mulai menyadari yang terjadi.
" Adi!! Apa yang sebenarnya terjadi!" Pak Hendra membentak Adipati dengan mata yang sudah memerah. Sama sekali bingung dengan apa yang terjadi di depan matanya.
Galuh benar-benar tak tahan, ia menarik rambut Maya hingga membuat wanita itu mendongak.
" Galuh, jangan gila kamu!" Bentak Adipati demi melihat Maya yang kini kesakitan lantaran rambutnya di tarik Galuh.
" Mas tolongin aku mas, auwhhh sakit!" Ucap Maya dengan kepala yang masih mendongak dan kulit kepala yang terasa mengelupas.
Membuat Bu Sevi dan Pak Hendra saling bertukar tatapan.
" Kamu bilang aku gila mas?" Galuh kini sudah berderai air mata sembari menatap Adi yang kini hendak berjalan ke arahnya. Mengangkat suaranya dengan keras.
" Iya!! Aku emang gila karena dengan bodohnya mau menikah dengan pria bajingan kayak kamu!" Galuh berteriak histeris, membuat Bu Sevi kini menangis. Oh ya Tuhan, suasananya mendadak menjadi mencekam.
" Ma! Pa! Mama sama papa lihat sendiri kan!" Ucap Galuh masih menyiksa Maya, meski ia tahu, rasa sakit yang kini dirasakan Maya, sangat tidak berbanding dengan sakit yang ia rasakan.
" Tujuan Galuh kesini ngajak Mama sama Papa agar kalian tahu, biar kalian melihat sendiri jika selama ini mas Adi mengkhianati Galuh!"
Ucapnya dengan suara yang bergetar bercampur isak." Selama ini Galuh benar-benar telah di bodohi ma!" Galuh menangis meratapi dirinya yang benar-benar menyedihkan.
Dengan mulut yang ternganga dan mata mendelik, Bu Sevi menggeleng lemah seakan tak percaya akan apa yang ia dengar. Wanita itu kini merasa marah sekali dengan anaknya.
" Wanita ini hamil ma! Kenapa dia bisa hamil? Karena mas Adi lebih sering menghabiskan waktu dengannya ketimbang bareng Galuh ma! Itu kenyataannya!"
Galuh berteriak histeris saat meluapkan segala kesesakan yang bersarang di hatinya. Ia sudah tak bisa lagi menahan hal menyakitkan itu. Ia tak cukup kuat untuk bersikap sabar.
Bu Sevi seketika menangis semakin dalam, bahkan rongga dadanya berisikan kemarahan yang juga meluap.
Wanita tua itu mendadak merasa kepalanya bak di hantam oleh sesuatu yang besar. Pun dengan Pak Hendra yang mendadak mematung demi mendengar kenyataan buruk yang tersaji di depan mata kepalanya.
Adipati menjambak rambutnya frustasi, pria itu kini terlihat berwajah pias dan bingung. Tamat sudah riwayatnya saat ini. Bom yang ia bawa kemana-mana selama ini telah meledak. Meluluhlantakkan semua yang ada, hancur berkeping-keping dan tiada tersisa. Bahkan harga dirinya juga telah runtuh.
" Kurang ajar kamu wanita brengsek!" Galuh yang berada di batas kesabarannya, kini terlihat menampar wajah Maya dengan begitu keras.
__ADS_1
PLAK!!!
" Galuh!"
PLAK!!!
Persetan dengan semua teori kesabaran dan jangan main hakim sendiri. Yang jelas, ia harus memuaskan dirinya dulu sebelum wanita itu terbebas.
Galuh!!!
BUG
Galuh bahkan menjegug punggung Maya demi melupakan amarah yang ada di dadanya.
" Galuh, wanita gila kamu!" Adi seketika berlari dan langsung melepaskan kasar tangan Galuh dan langsung mendorong Galuh hingga membuat wanita itu terjengkang ke paving.
Maya yang sudah menangis kini menatap tajam ke arah Galuh penuh kemenangan.
Adi dengan napas yang memburu kini menatap muram Galuh dengan sejumput rasa sesal.
" Adi!!! Kurang ajar kamu!" Pak Hendra langsung membentak anak-nya manakala ia melihat Galuh yang saat ini jatuh ke paving kasar itu.
Galuh seketika menahan kegeraman yang bersarang di hatinya dengan mengeraskan rahangnya. Sudah cukup mas, kau bahkan lebih memilih wanita itu ketimbang aku istrimu?
Sejurus kemudian, Galuh yang sudah bercucuran air mata itu bangkit dan seketika berlari dengan kencany. Wanita itu benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk berada di tanah yang ia rasa bagaikan neraka.
Enough already, perlakuan Adi barusan sudah menjadi bekal yang cukup untuk dirinya menempuh jalan perpisahan.
" Galuh!!"
" Luh, tunggu nak!" Pak Hendra memanggil menantunya yang kini sudah berjalan keluar dengan dada yang penuh kesedihan.
" Pah!!!" Suara lemah dari Bu Sevi membuat langkah Pak Hendra terhenti.
" Mama!! Ma!!" Pak Hendra dengan sigap menangkap tubuh yang mendadak lemas dengan pandangan yang mulai mengabur itu.
Bu Sevi jatuh pingsan.
.
.
__ADS_1