Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 134. Akhir dari penantian


__ADS_3

Bab 134. Akhir dari penantian


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Keluarga Jodhi pamit undur diri terlebih dahulu jelang sore, saat Danuja telah tidur lelap. Bayi itu tak mau lepas dari gendongan Jodhi, bahkan sewaktu Lintang susah payah merayunya. Membuat semuanya mengalah dengan rasa senang yang menguasai.


Senja yang hangat berganti dengan gelita malam yang dingin. Membawa serta keheningan yang membuat isi rumah itu tertelan kesenyapan.


Kini, Yanti menatap nanar tumpukan sembako, popok, dan juga susu untuk Danuja. Ada banyak sekali.


" Ibuk belum tidur?" Tanya Lintang yang malam itu juga tak bisa memejamkan matanya sama sekali, demi serentetan kejadian yang terjadi seharian ini.


Mulai dari saat ia dirumah sakit, kejadian sewaktu Emi mempermalukan mereka, hingga niat luhur keluarga Jodhi untuk Danuja dan Lintang.


Yanti menggeleng. Ia duduk dibawah temaram lampu berwatt rendah yang berada di ruang sempit dekat tv berbentuk tabung itu. Menatap gunungan barang-barang yang biasanya hanya bisa ia jangkau dengan cara mengecer, kini bejejelan membuat sesak rumahnya yang sempit.


" Kamu kenapa belum tidur?" Tanya Bu Yanti seraya menatap Lintang yang kini mendudukkan tubuhnya tepat di samping Bu Yanti yang duduk memeluk lututnya.


Bu Yanti heran karena melihat Lintang kini turut menekuk lututnya, lalu menopangkan dagunya ke lutut seraya tersenyum menatap dirinya.


Tersenyum konyol.


" Kami kenapa sih?" Tanya Bu Yanti canggung, sebab belum pernah di perhatikan se dekat ini oleh anak asuhnya itu.


Membuat Lintang tersenyum.


" Apa aku harus melakukannya Buk?"


" Apa aku harus menikah dengan pria yang tidak aku cintai?"


Bu Yanti menatap Lintang tulus, " Bukan tidak mencintai, tapi 'belum' mencintai!" Ucap wanita itu mantap.


Lintang menatap lekat dua manik mata wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya dan Danuja itu.


Yanti tersenyum lalu membelai surai hitam Lintang, " Apa yang kamu alami di masa lalu, tidak lain karena ada sesuatu yang indah yang bakal menantimu!"


" Ibuk lihat cinta di mata nak Jodhi!"


Lintang masih diam. Baginya, ia cukup tabu akan hal yang bernama cinta, selain cinta kasih seorang ibu kepada anak, pun sebaliknya.


"Bayi itu merupakan simbol kejujuran. Batin mereka kuat, dan insting mereka tajam. Danuja bahkan tidak bisa lepas dari Ayahnya!"


" Lagipula, sepeti Emi tidak akan terima atas apa yang di lakukan oleh Jodhi kepadanya!"


Kini, keduanya sama-sama hening, senyap, membisu. Berdetik- detik sudah.


" Lin! " Ucap Bu Yanti membelai pipi Lintang dengan lembut.


" Menikahlah nak. Jika dalam hatimu belum muncul cinta atau perasaan sejenisnya, maka setidaknya Danuja akan hidup dengan kucuran cinta yang melimpah dari orang-orang terdekat mereka!"

__ADS_1


" Maafkan nak Jodhi, biar perjalanan ibumu disana juga lancar. Ibu ikhlas kalau kamu dan Danuja...."


" Buk!" Lintang menarik cepat tubuh ibu angkatnya itu dengan luapan haru. Membuat Yanti menitikkan air matanya.


.


.


Jodhistira


Ia pagi ini dengan semangat 45 mendatangi tempat Lintang seorang diri. Ia melarang semua anggota keluarganya yang kini berada di hotel untuk ikut. Singkat kata, ia ingin berbincang serius empat mata dengan Lintang.


Raka bertolak dulu ke kota J, karena merasa lampu hijau soal nasib Jodhi sudah terlihat, dan ayah dari Citra itu merasa jika, kehadiran Abimanyu dan Andhira pasti sudah lebih dari cukup.


Raka berdalih jika Galuh rewel. Padahal, dialah yang sudah rindu mencumbu istrinya yang beberapa hari ini ia tinggal. Benar-benar licik.


Yes, pejantan kan selalu seperti itu. Harus gercep alias gerak cepat.


" Woy! Masih subuh udah kinclong aja lu?" Denok yang pagi itu berada dirumah, terkejut saat melihat Jodhi berjalan.


Jodhi menoleh demi suara cempreng yang sudah tak asing di telinganya. Suara makhluk kasat mata yang hobi bikin rusuh.


" Ini udah jam delapan mbak Den, bukan subuh!πŸ˜’" Sahut Jodhi malas. Wanita dengan daster cekak itu terlihat mencibir kala ia menjawab.


" Gua mau pindah!" Ucap Denok yang sibuk angkat-angkat banyak sekali karton. Sengaja berakting keberatan agar di bantu.


Namun,


" Enggak nanyak!" Sahut Jodhi bercanda yang sebenarnya kaget juga, kala melihat banyak sekali barang-barang yang telah teronggok di depan rumah wanita berdada montok itu.


" Katanya dulu malaikat, sekarang kenapa jadi setan? Yang mana yang betul ini?" Ucap Jodhi mendengus palsu. Terpaksa menunda langkahnya yang tinggal beberapa jengkal lagi , demi meladeni manusia limited edition itu.


" Kau lah! Memangnya kau tak tahu, kalau si gembrot Emi itu udah ngusir kita? Elu minta si Jojon buat ngapain dia sih? Niatnya mau minggat malah di usir duluan, asu - asu! " Ucap Denok yang sibuk mengepak barang-barangnya dengan wajah bersungut-sungut.


" Hah, sejak kapan?" Jodhi terkaget, kurang ajar sekali perempuan tambun itu pikirnya.


" Sejak Ultraman jadi Ultaflu!" Sahut Denok mendengus sebal. Membuat Jodhi melebarkan matanya.


" Ya sejak kamu ancam kemarin itu lah, sakit hati itu orang, akhirnya meradang dia!" Imbuh Denok makin sebal.


Jodhi tertegun. Bukan seperti ini niatnya. Astaga!


.


.


CEKLEK!


Yanti terkejut kala melihat Jodhi yang kini berdiri di ambang pintu rumahnya. Sama sekali tak mengira jika ketukan tersebut, berasal dari jari Ayah dari cucu angkatnya.


" Nak Jodhi?" Ucap Yanti terkaget.


"Lintang mana Buk? Kalian enggak apa-apa kan?" Jodhi menatap resah, khawatir seraya cemas kearah Yanti.


" Pasti Denok yang kasih tahu kamu?" Tebak Yanti yang auto paham.

__ADS_1


Jodhi mengangguk. Jujur, ia sangat kesal dan marah mendengar hal itu.


" Enggak apa-apa nak, ibuk bisa ikut Denok nanti. Yang penting, kamu bawa Danuja sama Lintang pergi. Jaga mereka, buat mereka bahagia nak, selama ini mereka sudah lama sekali menderita!" Ucap Yanti yang suaranya mulai bergetar.


Mata Jodhi mendadak berkaca-kaca saat mendengar hal itu. Pria itu sejurus kemudian merengkuh tubuh kurus Yanti lalu memeluknya tanpa komando dari siapapun, selain hati nuraninya.


Ya, Jodhi merasa berhutang budi kepada Yanti.


Membuat wanita tua itu kini menangis dengan bibir bergetar. Andai anaknya hidup, mungkin seusia Jodhi. Pelukan seorang anak yang tiada pernah ia dapatkan, kini bisa ia cicipi, lewat perlakuan tulus Jodhi.


" Ibuk enggak boleh ngomong begitu Buk, enggak boleh! Kemanapun Lintang sama Danuja pergi, kalian berdua harus ikut. Ibuk sama mbak Denok harus ikut!" Ucap Jodhi yang masih memeluk wanita tua itu.


" Aku enggak bisa!"


Jodhi seketika menoleh bersama dengan rasa keterkejutannya yang kian menguasai, kala mendengar suara yang menginterupsinya.


Rupanya Denok melihat hal itu. Membuatnya mematung. " Mbak Denok?"


Denok maju beberapa langkah seraya menatap Jodhi yang nampak murung.


" Aku adalah aku!"


"Aku akan hidup dimana aku terbiasa! Duniaku, duniamu, dunia kalian sangat berbeda. Akan lebih baik jika kita seperti ini saja!" Jawab Denok tersenyum sumbang. Mati-matian menahan laju air matanya yang mulai berjejalan di pelupuk matanya.


" Apa maksud mbak Denok?" Tanya Jodhi tercengang. Benar-benar tak setuju dengan ide dari wanita kocak itu.


Denok terlihat maju. Sejurus kemudian wanita itu menepuk pundak kokoh Jodhi seraya menatapnya lekat.


" Hiduplah dengan bahagia bersama mereka Jo, Dan kau Yu, ikutlah bersama Lintang dan Danuja. Dia akan lebih nyaman jika kau sertai. Jangan pikirkan aku. Aku sudah punya tempat lain!"


Mata Yanti mengkristal. Wanita itu kini menubruk Denok yang masih berdiri seraya berusaha keras menahan air matanya agar tak jatuh. Namun sia-sia saja, carian kristal bening itu meluncur begitu saja dari dua mata Denok.


Membawa serta keharuan yang membuncah.


Membuat Jonathan yang berdiri agak jauh dari kediaman Bu Yanti, seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik.


" Duniamu?"


.


.


.


.


.


.


.


Readers, jangan lupa mampir di kisah Deo dalam novel mommy yang berjudul " My Boss My enemy My Husband" ya. Genre Romansa komedi 21+


Apakah ada yang kocak? Ada dong. Baca itu dulu yuk,. insyaallah habis kisah Deo tamat, nanti akan ada karya baru lagi.

__ADS_1


see you there 😘


__ADS_2