Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 71. Menyelamatkan Citra part1


__ADS_3

Bab 71. Menyelamatkan Citra part1


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Jodhistira


" Wanita licik itu benar-benar menyusun semuanya dengan rapih Pah!" Ucap Jodhi yang geram seraya fokus diruang kemudinya.


Ingatan Jodhi juga sempat kembali saat ia menggenjot tubuh wanita itu. Harusnya ia bisa paham sejak awal. Sialan, ia mengutuk dirinya sendiri demi sikapnya yang memang brengsek. Raka benar, dia memang brengsek.


"Sabar. Kak Abi telah bersama Mas Wisang dan Mas Danan, mereka pasti bantu kita. Niko bersama papanya pasti juga saat ini tengah sibuk mengurus segala sesuatunya. Semoga mereka masih bisa bertahan!" Jawab Bastian yang sebenarnya berada di ujung keresahannya.


Jodhi mengangguk sembari mengaminkannya dalam hati semua harapan baik yang terucap dari bibir papanya.


" Jodhi...sepertinya kita sudah berada di jalur yang benar! Siapkan dirimu!!! " Bastian mencari mereka berdasarkan letak ponsel yang saat ini menjadi satu-satunya navigator mereka.


" Aku tidak akan pernah mengampuni wanita itu jika sesuatu terjadi kepada Citra, tidak akan pernah!" Ucap Jodhi geram. Sama sekali tak peduli jika Dewi itu merupakan perempuan.


.


.


Wisang


Ia menjadi teringat dengan dirinya yang bersama kedua sahabatnya dulu, saat memburu Wisnu dan mantan kekasihnya yang memporak-porandakan pabrik pengalengan ikan miliknya.


Namun begitulah hidup, roda yang terus berputar bak pedati itu, jelas sesekali membuat kita berpijak pada keadaan yang berasal di kehidupan paling dasar.


" Tapi...setahuku, kalian selama ini tak memiliki musuh Bim. Lalu..siapa orang yang berani berbuat hal seperti ini kepada keluarga kalian?" Danan yang berada di Jok belakang kini terlihat berwajah serius. Sama sekali nggak mengira jika mereka kembali menemui aral melintang dalam kehidupannya di usianya yang sudah sangat dewasa.


Ketiga pria itu kini memiliki kumis yang membuat tampilan mereka makin terlihat membara. Di usianya yang saat ini menginjak 59 tahun, jelas membuat kedewasaan secara mental dan fisik, makin membuat mereka bijak dalam bersikap.


" Benar, atau... jangan - jangan ada orang di masa lalu kamu yang masih belum terima dengan semua ini?" Ucap Wisang yang berpengalaman dengan dirinya dulu yang sempat menghadapi Wisnu. Pria dari masalalu Sekar.


Ya, prediksi itu bisa saja benar kan?


Abimanyu tertegun. " Orang di masa lalu?" Tapi mana mungkin. Gwen sudah lama menghilang, bahkan selama hampir 20 tahun ini, ia sama sekali tak mendengar kabar perihal mantan istrinya itu.


" Semoga saja tidak seperti apa yang aku sangkakan!"


.


.


Dewi


Ia menutup mulut Citra agar bocah itu berhenti menangis. " Maafkan aku Citra, tapi aku benar-benar tidak tahan jika mendengarmu menangis. Itu sama seperti mengingatkanku dengan diriku yang dulu!" Ucapnya dengan hati yang sebenarnya ngilu, sesaat setelah mengikat dan menyumpal mulut Citra menggunakan kain.


" Kemana Oemar, kenapa dia belum datang kemari?" Ucap Dewi setelah membuat Citra kini bungkam. Berjalan mendekati Anom yang berdiri tanpa ekspresi.


Anom tak menjawab, ia hanya diam sembari menatap Dewi lekat. Namun sejurus kemudian, pria itu tak tahan dan akhirnya angkat bicara. " Semua yang kau inginkan sudah ada di depan matamu, lalu apa?" Ucap Anom yang terlihat lelah.


" Kenapa kau tanya begitu, apa kau menyesal telah membantuku?" Dewi menatap Anom tajam. Wanita itu merasa Anom benar-benar berbeda sikapnya.

__ADS_1


Anom menatap Dewi dengan bibir bergetar. " Tidak kasihankah kau kepada bocah itu?" Tunjuk Anom kepada Citra yang menangis dengan gumaman sebab mulut bocah itu telah Dewi sumpal.


" Kasihan?" Dewi dengan napas memburu menatap Anom tak percaya. " Apa dulu mereka kasihan kepadaku, hah?" Dewi meluapkan isi hatinya kembali.


" Aku hidup bagai anjing jalanan karena di usir oleh mereka! Mereka makan enak dan tidur dengan nyaman sementara aku?" Tunjuk Dewi kepada dirinya sendiri. " Aku bahkan makan dari sisa orang dan tidur berselimut debu. Apa mereka juga kasihan? No!!! Tidak Anom. Kau harus tahu siapa yang jahat disini!" Dewi meluapkan semua kekesalannya. Membuat Anom menatap muram Dewi.


Oh astaga, Anom benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana.


" Setelah ini kau akan mengirim lokasi kepada si brengsek Abimanyu. Aku ingin membuat mereka melarat dan merasakan apa itu penderitaan!" Ucap Dewi yang kini meraih ponselnya dan hendak mengetik sesuatu.


Namun, belum sempat ia menyelesaikan perdebatan dengan Anom, sebuah mobil terdengar datang dan menabrak pagar rumah kosong itu secara paksa.


BRAK!!!


Membuat Anom dan Dewi saling menatap.


" Siapa itu?"


" Bos, sepertinya mereka tahu tempat kita!" Ucap salah satu anak buah Dewi yang kini berlari memberi laporan.


" Apa? Tapi... bagaimana bisa, aku bahkan belum memberitahukan lokasinya!"


Anom terlihat bersiap. " Kau jaga bocah ini?" Titah Dewi kepada pria brewok yang menjadi anak buahnya.


Kini Dewi dan Anom berpencar. Anom melesat ke arah depan, sementara Dewi menuju ke tempat dimana Raka dan Galuh di sekap.


.


.


Jodhi


Ia langsung menabrakkan mobil besarnya ke pagar yang menutup rumah terbengkalai itu. Kemarahan terang menguasai dirinya , hingga ia sama sekali tak memperhitungkan kerugian yang mungkin akan ia alami.


" Minggir kau brengsek!" Jodhi langsung melayangkan tendangan ke arah dada, wajah bahkan kepala siapa saja yang berniat menghalanginya. Benar-benar tak bisa menahan diri lagi.


Bastian juga terlihat sama, pria itu terlihat mengangkat sebuah balok kayu, demi mengimbangi anak buah Dewi yang kini menggunakan sebuah parang.


BUG


Bastian yang tak mawas diri, kini terkena sebuah tendangan yang membuat dirinya terlempar ke atas tumpukan barang tak berguna itu.


BRUAK!!


" Papa!" Teriak Jodhi yang melihat Bastian ambruk dan menimpa kayu-kayu tak berguna itu. Membuat Jodhi mengeraskan rahangnya demi melihat apa yang terjadi.


" Anjing kalian!" Jodhi yang geram kini mendatangi pria berkaos hitam yang tadi melawan papanya.


BUG


Jodhi menghajar habis-habisan orang yang telah membuat papanya terluka. Meninju, bahkan membanting tubuh pria itu.


BUG


" ARGH!" Jodhi meringis saat Anom datang menendang punggungnya, tanpa ia sadari. Membuat Jodhi menoleh.


" Anjing!"


DOR

__ADS_1


DOR


DOR


Suara letusan sebanyak tiga kali membuat kesemua yang ada disana kini saling menatap.


.


.


Dewi


Ia langsung menyambar pistol yang berada di meja penuh debu itu, dan langsung menuju ke arah pintu tempat dimana Galuh dan Raka di sekap , sesaat setelah mendengar laporan anak buahnya tadi.


Dewi lupa mengantisipaasi kehebatan teknologi saat ini. Ia terlalu senang dan melupakan hal sepele, yang kini bisa saja menjadi boomerang untuknya.


Dewi menatap dua orang yang masih terikat itu dengan tatapan kemarahan.


" Apa yang kau lakukan?" Ucap Raka demi melihat Dewi yang kini merogoh saku celananya dengan kasar.


Sejurus kemudian wanita itu terlihat mencari ponsel yang berada di dalam tas yang masih di kenakan oleh Galu. Mengambilnya secara paksa lebih tepatnya.


" Brengsek, mereka pasti menemukan lokasi kita karena ini!" Gumamnya sesaat setelah berhasil meraih ponsel Raka.


PLAK!


" Argggggghhh!" Ringis Galuh yang merasa kesakitan.


Dewi menampar wajah Galuh karena kesal. Rencananya jelas akan berantakan.


" Biadab kamu Dewi, akan kulenyapkan kau wanita sialan!" Raka berteriak manakala melihat wanita ita itu menampar Galuh untuk kesekian kalinya.


Sial!


" Lakukan saja jika kau bisa. Atau aku yang akan membunuhmu lebih dulu setelah ini pria bodoh!" Ucap Dewi menatap tajam Raka.


" Aku menyesal pernah mengenalmu wanita sialan!" Ucap Raka diujung kemarahanny. " Akan ku bunuh kau!"


Raka terlihat memberontak dan membuat kursi kayu yang ia duduki kini bergerak abstrak. Pria itu meronta-ronta demi kegeramannya yang membuncah kepada Dewi.


Dan sejurus kemudian,


DOR


DOR


DOR


Galuh mendelik dengan dada yang hampir copot manakala melihat Dewi yang dengan marahnya menembak ponsel milik Raka dan juga miliknya hingga hancur berkeping-keping.


Oh tidak!!!


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2