
Bab 39. Ucapan menohok
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Rumah Sakit Bhakti Husada
Pukul 19.16
Pak Noer sudah di pindahkan ke ruang operasi oleh beberapa petugas. Rupanya Bu Sevi dan Pak Hendra masih berasa di sana hingga malam itu. Membuatnya merasa nyaman dan senang. Perlakuan mertuanya yang hangat itu, seolah menjadi booster tersendiri bagi Galuh.
" Kenapa Adi belum datang juga Pa?" Tanya Bu Sevi resah. Menatap suaminya dengan tatapan jengkel demi merasai anaknya yang malah tidak nongol.
" Tadi mas Adi ngabari Galuh kalau lembur Ma...ini akhir bulan, infonya perusahaannya akan ada audit. Jadi...!" Galuh terpaksa memberitahukan pesan dari Adi beberapa menit yang lalu, demi menjawab keresahan sang Mama mertua.
Ia tentu tak boleh diam saja. Walau setiap hari, Adi sering pulang telat. Ia tahu, Adi memang memiliki posisi yang cukup krusial di perusahaan tempatnya bekerja.
Membuat Dinda yang tekun memijit punggung ibunya, kini menoleh. Saling melempar tatapan dengan Galuh. Seolah menyiratkan makna lain.
" Astaga anak itu...apa tidak bisa izin sebentar. Papanya sedang di operasi loh ini ..!" Gumam Bu Sevi tak habis pikir. Pak Hendra hanya diam, ia malu sebenarnya. Kenapa anaknya malah lebih memilih pekerjaan dari pada keluarganya.
" Tidak apa-apa Vi. Lagipula kemarin dia sudah kesini nengok bapaknya kok. Udah...yang penting kita doakan saja Bapaknya Galuh, mudah-mudahan operasinya lancar!" Tukas Bu Halimah yang selalunya berpikir positif.
Membuat kesemuanya diam. Meski Galuh juga merasakan hal yang sama, seperti yang di ucapkan Bu Sevi. "Apa keluarga benar-benar tak memiliki makna dalam hatimu mas?"
Beberapa jam kemudian, usai menerima kabar jika oeprasi telah berjalan lancar. Ibu dan adiknya sudah lebih dulu masuk ke ruangan bapaknya. Mereka berdua jelas sama letihnya saat ini.
Ya .. bapak kini sudah di pindahkan ke ruangan perawatan dengan kelas yang lebih baik, atas permintaan Papa Hendra.
Kedua mertuanya juga sudah berpamitan pulang dan berjanji esok akan kembali lagi. Inilah yang membuat Galuh tak enak hati, kalau harus menyampaikan keresahan yang ia rasakan.
Entahlah, ia juga heran. Mengapa selalunya dia mudah merasa tidak enak kepada yang lebih tua. Apalagi jika sudah mengenai perasaan.
Waktu nyaris melahap sepertiga malam. Tapi kantuk tak jua menyerangnya. Ia terus terjaga sembari nanar menatap bapaknya yang terbaring di ranjang dengan wajah yang masih pucat.
__ADS_1
" Semoga terus sehat ya Pak..maafin Galuh belum bisa kasih cucu ke bapak! Galuh enggak tahu sampai kapan hidup Galuh begini Pak!" Batinnya yang rapuh kini berbicara, buliran bening itu terlihat menetes dengan sendirinya.
Sejurus kemudian , pandangan beralih ke adik dan Ibunya yang tidur dengan wajah tentram beralaskan permadani yang lumayan tebal. Keresahannya semakin bertambah begitu menyadari jika adiknya bahkan sudah menaruh kecurigaan, akan rumah tangganya yang tidak sehat itu.
Ibu dan Dinda sebenarnya tadi meminta dirinya untuk tidur di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Mereka berkata jika punggungnya akan sakit kalau tidur di bawah. Mengingat hari beberapa jam lagi ia masih harus ke TK untuk kembali mengajar.
Tapi, ah sudahlah. Setidaknya ia saat ini masih bisa melihat adik dan kedua orangtuanya ada di depan mata.
.
.
Galuh
Dan benar saja, pagi itu ia terlihat tergopoh-gopoh karena bangun kesiangan. Astaga!
Ya...meski tidak terlambat juga sih saat tiba di TK. Tapi harusnya ia datang lebih awal dari para muridnya bukan?
" Bu Guru!" Sebuah suara membuat langkahnya terhenti. Suara yang begitu ia kenali.
" Citra?" Tanyanya kini tersenyum menyambut Citra yang mendatangi dirinya. Namun yang membuatnya terkejut, adalah sosok pria yang turut berdiri di belakang bocah itu.
Gadis itu sepertinya akan tumbuh jadi anak yang ceplas-ceplos.
Membuat Galuh mengernyit " Marah? kenapa Bu guru marah?" Galuh tersenyum. Mengusap puncak kepala Citra dengan tersenyum.
" Bu guru kemarin buru-buru nak!" Tukas wanita itu masih ramah dengan membelai rambut lurus Citra. Mencoba menjelaskan.
" Kemana?" Tanya Citra masih tak terima.
" Citra!" Sahut Raka pelan seraya menggeleng, karena anaknya yang sudah terlalu kepo.
" Bu guru ada urusan penting kemarin. Jadi .. gimana?" Tanya Galuh menatap ceria ke arah Citra. Sepertinya Citra merupakan anak yang baper.
" Bu guru kapan bisa nemenin Citra main ke playzone? Citra pingin beli baju yang kayak di hape..baju princess elsa. Soalnya kalau sama Ayah, selain jarang pulang siang, Ayah...enggak tahu modelnya!"
" Bu guru kan temannya Citra!" Ucap bocah itu dengan wajah muram.
Galuh menelan ludahnya demi mendengar permintaan Citra. Tak mengira jika janjinya yang menerima pertemanan dengan bocah itu tempo hari, akan membuatnya terikat seperti ini.
__ADS_1
Galuh menatap wajah Raka yang kini kikuk karena menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu memang tidak tahu menahu soal aksen apapun terkait anaknya.
" Nanti ya, sekarang Bu guru masih sibuk. Nanti kalau udah enggak sibuk. Kita pergi bareng, setuju?" Galuh memberi pengertian kepada Citra lewat caranya. Ia kasihan sebenarnya, tapi ia masih benar-benar belum bisa meninggalkan Bapak.
" Oke Bu guru. Citra tunggu ya!"
" Ayah aku masuk dulu ya, bye bye!" Bocah itu kini menjadi sumringah kembali saat mendengar nota pembelaan dari Galuh.
Astaga, semudah itu?
Galuh yang juga hendak masuk seketika menunda niatnya demi merasakan tangan yang menarik lengannya dengan pelan.
" Tunggu sebentar!" Ucap Raka tiba-tiba, membuat Galuh menatap tangan besar pria itu yang kini menempel di pergelangan tangannya.
" Oh maaf!" Tukas Raka demi menyadari tatapan rikuh Galuh, manakala pandangannya bertumbuk pada tangan yang masih memegang lengannya.
" Ada apa Pak?" Tanya Galuh dengan wajah biasa. Karena biasanya pria itu melontarkan kata-kata yang kerap menyakiti hatinya.
" Maaf kalau anak saya beberapa waktu terkahir suka merepotkan anda dan..."
" Jangan khawatir!" Potong Galuh tersenyum.
" Saya hanya melakukan tugas saya sebagai guru . Yang anak anda perlukan hanya waktu dan kasih sayang. Bukan kelimpahan materi"
" Permisi!" Galuh tersenyum kosong, sesaat sebelum ia membalikkan tubuhnya. Ia hanya ingin membuat Raka mengerti. Apalagi, ia juga ingat beberapa waktu yang lalu saat Raka makan siang bersama Dewi, di restoran yang sama saat ia dan Rasti rumpi.
Raka tertegun demi mendengar ucapan Galuh yang menampar dirinya. Ia menyadari, ia memang tak memiliki waktu lebih untuk Citra.
Oh God!
Tanpa mereka sadari, sepasang mata dari kejauhan melihat dengan jelas interaksi dua manusia tersebut. Membuat dada di pemilik netra tersebut, menjadi bergemuruh.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1