Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 44. Titik terendah dalam hidup


__ADS_3

Bab 44. Titik terendah dalam hidup


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Ia tak mempedulikan ocehan Resti yang terus saja tak terima akan sikapnya yang dinilai bodoh. Tapi maaf, ia bukan wanita bodoh yang musti menyelesaikan masalah dengan mengendepankan emosi.


Galuh memiliki caranya sendiri.


" Luh! Elu gila ya? Itu si Adi udah bener- bener ada di depan mata Luh!" Ucap Resti masih tidak terima. Cenderung geram dan gemas.


Galuh tetap diam dengan tatapan kosong. Nanar menatap hamparan rerumputan dari samping jendela, yang menyuguhkan gerak semu. Hatinya seolah mati.


Hancur, remuk redam, sakit, perih, pedih entahlah. Ia tak tahu ada berapa kata lagi yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Galuh benar-benar berada di titik rendah dalam hidupnya saat ini.


" Berarti adik sepupu gue kapan hari enggak salah lagi Luh!" Bahkan Resti berucap seraya menggeleng tak percaya dengan suara bergetar, demi mengingat kepingan kejadian yang dinilai relevan dengan apa yang terjadi saat ini.


Pria brengsek!


Galuh masih diam. Terlihat memikirkan sesuatu. Bagiamanapun juga ia benar-benar sakti hati, dan sebagai manusia wajar, ia tentu merasa tidak terima.


" Gue temenin ya?" Ucap Resti yang menatapnya muram saat mereka sudah tiba di rumah Galuh.


" It's Ok. Elu balik aja Res. Gue enggak apa-apa kok" Ucap Galuh dengan tersenyum kecut." Oh ya... thanks, udah mau jadi sahabat terbaik gue hingga detik ini!" Galuh mengusap lembut pipi Resti dengan dada yang sesak.


Karena ia menyadari, setiap ia memiliki permasalahan soal dirinya, ia senantiasa melibatkan Resti di dalamnya.

__ADS_1


Galuh menyadari, dunia saat ini pasti tengah menertawakan kebodohannya bukan?


Resti yang turut merasakan sakit itu, terlihat menangis seorang diri dan menumpukan wajahnya di atas setor bundar saat Galuh sudah memasuki rumahnya. Resti seolah-olah merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan.


Ia tahu, Galuh pasti ingin sendiri saat ini. Akan sangat berbeda lagi ceritain, jika ia yang tertimpa kejadian ini. Sungguh, Galuh benar-benar wanita elegan yang masih bisa bertahan walau ia tahu, hatinya pasti terhujam rasa remuk redam.


PRAAANG!!!!


Galuh memecahkan kaca meja riasnya menggunakan sebuah botol parfum, membanting semua perkakas yang ada, dan menghancurkan seluruh isi kamarnya hingga porak poranda. Ia ingin meluapkan amarah yang bersarang di hatinya, hingga ia lega..


" Kenapa kamu tega melakukan semua ini mas?" Ucapnya di sela-sela Isak tangis yang kini pecah. Galuh menatap wajahnya yang merana di hadapan kaca yang sudah tak berbentuk itu.


Meratapi nasib busuk yang menimpanya saat ini.


ARGGGGGGHHH!!!!


Ia melempar semua make up, parfum dan semua benda yang awalnya tertata rapi di meja riasnya itu. Galuh benar-benar merasa hancur.


" Mbak! Mbak Galuh! Ada apa mbak?" Gedoran membabi- buta dari Yu Sul ia abaikan.


Galuh beringsut ke lantai dingin kamarnya dengan menangis sejadi-jadinya. Kenapa hidup berlaku tidak adil untuknya yang selama ini tulus dan mencoba berpikir positif.


Galuh berteriak sekencang-kencangnya hingga suara serak dan semua luapan emosi itu habis. Dalam kesunyian dan kesendirian, ia menumpahkan kesedihan itu dengan caranya.


" Mbak, ya Allah buka pintunya mbak. Ada apa mbak?" Yu Sul masih belum jera juga menggedor-gedor pintu kamarnya.


" Tiap hari Mas Adi kan nyusulin sampean, lah kok pulangnya bisa enggak samaan?"


Ucapan Yu Sul tadi pagi juga semakin membuat dirinya hancur. Menghujam relung hatinya terdalam. Selama ini Mas Adi benar-benar telah bermain api di belakangnya, di belakang keluarganya. Menodai kesucian pernikahan yang pria itu ucapkan sendiri.


Di sudut hatinya yang kini gelap, Galuh menyadari. Bukan dirinya yang terlalu bodoh, tapi memang hati pria itu yang keji.


.

__ADS_1


.


Yu Sul


Ia terus saja menggedor- gedor pintu kamar Galuh yang terdengar mengeluarkan suara barang-barang pecah dan teriakan. Wanita itu baru saja hendak pulang karena semua tugasnya telah rampung. Namun, sebuah suara teriakan di sertai suara barang-barang yang terbanting, terang membuat dia panik bukan kepalang.


Wanita paruh baya itu terlihat bingung dan khawatir. Ada apa sebenernya?


" Mbak! Mbak Galuh ! Ada apa to mbak?" Ia masih terus saja gencar mengetuk pintu itu hingga tangannya memerah.


" Ya Allah, apa Mas Adi sama mbak Galuh berantem?" Ia bahkan kini bergumam dengan wajah panik yang begitu kentara.


Ia masih diam seraya menempelkan cuping telinganya. Berharap bisa sedikit menguping apa yang tengah terjadi.


Suara mendadak senyap. Tidak ada teriakan ataupun suara barang yang di banting. Membuat ia semakin berpikiran yang tidak-tidak.


Namun, saat baru saja ia hendak mengetuk pintu itu kembali, pintu dengan cat putih itu terlihat mengayun dan menampilkan Galuh yang berwajah kacau. Membuatnya terkejut.


" Tolong beresin Yu. Saya mau pergi sebentar!" Ucap Galuh ngeloyor dengan membawa sebuah tas dan terlihat mengenakan kacamata hitam.


Wanita itu tak sempat bertanya hanya mengangguk bingung, dan sejurus kemudian matanya mendelik demi melihat kondisi kamar yang kacau balau.


Astaga!!!


.


.


.


.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2