
Bab 94. Two-line fighter
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Galuh
Tubuhnya mengejang dan lututnya bergetar saat benda besar milik suaminya itu memuntahkan sesuatu yang kental dan hangat ke dalam rahimnya. Dua anak manusia itu saling memeluk erat usai melebur kerinduan satu sama lain.
" Kayaknya aku harus sering-sering ikut Jodhi fitnes ini, ngos-ngosan nih!" Ucap Raka yang kini menarik selimut seraya merebahkan tubuhnya ke samping Galuh dengan napas tersengal-sengal. Membuat Galuh terkekeh.
Biasanya Raka meminta paket combo saat ambil jatah, namun kali ini tidak. Selain belum sempat beristirahat, stamina pria itu juga belum optimal karena belum makan.
" Makanya jangan suka nerobos!" Ucap Galuh yang merasa geli manakala Raka memainkan ujung kuncup dadanya.
" Nerobos istri sendiri kan enggak apa-apa sayang. Aku kesiksa banget kalau jauh-jauhan begini Luh. Besok-besok aku harus bawa kamu!" Ucap Raka yang kini mengecup kening basah istrinya.
" Ngawur aja, Citra gimana terus?!"
Galuh mencubit lengan berotot Raka saat menjawab ucapan konyol itu dengan wajah mendengus. Membuat Raka terkekeh.
Dan sejurus kemudian.
" Ibu!!! Ibu!!!"
Gedoran membabi buta dari Citra membuat Raka dan Galuh terkejut. Mereka berdua masing sama-sama telanjang dan sepertinya Citra menangis karena mungkin tidurnya kagok.
" Astaga mas, aku lupa kalau Citra tidur sore pasti begini. Aku mandi dulu ya!" Galuh dengan gerakan terburu-buru kini meraup pakaiannya dan mengambil selimut tipis yang ada di lemari bawah dipannya, guna menutupi tubuhnya yang loncos.
Astaga!
Membuat Raka kini pasrah dan membiarkan Citra yang terus-menerus menggedor- gedor pintunya, dan memilih merentangkan tangannya ke kasur king size miliknya, karena lelah yang benar-benar menderanya.
...🌺🌺🌺...
Sebulan berlalu.
Menjadi istri seorang direktur rupanya membuat Galuh kini mengerti jika emosi suaminya kerap berubah-ubah. Seperti malam ini misalnya, suaminya itu terlihat berucap di sambungan telepon dengan seseorang, lalu memaki, mengumpat dan berbicara kasar.
Galuh tidak tahu secara detail, persoalan apa yang tengah menimpa Raka. Suaminya itu seringkali tak mau membawa urusan kantor ke dalam rumahnya, agar Galuh tidak turut cemas. Yang jelas, Niko pernah mengatakan kepadanya jika ada orang yang di duga menggelapkan uang di perusahaannya.
__ADS_1
Hari yang terlalui rupanya tak selalu sempurna. Sudah dua Minggu ini Galuh merasa mudah lelah, dan merasa mudah tersinggung. Namun dalam dua hari terakhir ini, ia benar-benar lemas dan badannya demam.
Mama Dhira yang pagi ini datang bahkan turut cemas. Ia tahu, mungkin Galuh kelelahan karena riwa-riwi mengurus cucunya. Namun, sebagai sesama wanita yang notabene juga pernah muda, Dhira seketika teringat akan sesuatu.
" Kamu telat haid enggak?" Tanya Mama Dhira yang saat ini mengajaknya berbicara empat mata ke dalam kamar.
Citra sekolah diantar oleh supirnya hari ini, sebab Galuh benar-benar sedang tidak sehat.
Galuh tersentak, manakala Mama Dhira mengajukan pertanyaan itu. Astaga, kenapa ia sampai bisa melupakan hal penting ini?
" Saya..." Galuh ragu. Ia bahkan lupa hari terakhir menstruasi. Ia terlalu bahagia bersama Raka, hingga tak sempat teringat dengan hal pribadi macam itu.
" Semoga ini bener ya Luh, kita test mandiri aja dulu ya. Mama tungguin nanti disini, sebentar...."
Galuh yang nampak tak percaya, kini bingung dengan Mama Dhira yang mendadak keluar usai mengatakan hal mengharukan itu. Ia melihat kalender dan melihat jika ia memang sudah agak lama tak mendapat periode.
Galuh yang kesehariannya bahagia, sampai tak terfikir jika ia terlambat haid. Dalam hati ia senang kala mendengar soal kehamilan. Namun, jika tidak bagaimana?
Beberapa saat kemudian, Mama Dhira kembali dan membawa sebuah benda yang baru pertama ia jumpai secara nyata, walau ia kerap melihatnya di jejaring sosial.
Alat penguji kehamilan.
Ya, rupanya Dhira meminta Mbak Las untuk membelikan alat itu ke apotek yang berada di dekat jalan raya, yang dekat dengan kawasan perumahan mereka.
" Coba aja ya, semoga ini bener nak. Citra pasti senang kalau kamu beneran isi. Kalau tak lihat-lihat, kamu akhir-akhir ini sakit, mungkin saja kamu hamil!" Mama Dhira mengusap lembut punggung menantunya. Membuat Galuh merasa beruntung sebab memiliki mertua yang sudah seperti ibu kandungnya.
" Dah sana! Mama tunggu disini!" Ucap Dhira senang.
Galuh yang merasa seluruh persendiannya nyeri itu, kini berjalan perlahan menuju kamar mandi, ia lantas melakukan semua hal sesuai petunjuk teknis.
Hatinya berdebar manakala menunggu detik demi detik yang wajib ia habiskan, guna mengetahui hasil dari alat steril itu.
Dan sejurus kemudian, ia membuka pintu kamar mandinya yang menampilkan mama Dhira yang kaget lantaran melihat Galuh yang menangis.
" Gimana nak?"
.
.
Raka
Ia berjalan dengan wajah letih malam itu. Seminggu belakangan ini istrinya kurang sehat, dan dia malah di gempur oleh urusan rumit soal manager sisi alat berat produksi, yang menggelapkan dana yang sangat besar.
Ia bersama Niko bahkan musti bolak balik untuk membereskan kasus ini ke kepolisian. Ia hanya ingin memberikan efek jera, agar para karyawan lain berpikir dua kali jika ingin melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Pembelian alat-alat baru guna menunjang produksi memang riskan pada tindak penggelapan dana. Semua ini berkat Dinda. Gadis pecicilan itu tak sengaja menguping pembicaraan oknum manager biadab itu, lalu merekamnya.
Praktis, kejadian itu membuat Raka berang dan langsung melaporkannya ke pihak berwajib .
" Mama masih disini mbak?" Tanya Raka kepada pembantunya, tadi pagi Kalyna telpon jika mamanya akan menjenguk Galuh, agar dirinya bisa fokus ke pengadilan.
Dengan langkah cepat, ia membuka pintu kamar istrinya. Merasa bersalah karena telah meninggalkan Galuh saat istrinya tengah sakit.
Namun, keresahannya mendadak memudar kala ia mendapati Citra yang ada di kasur Galuh, seraya membantu mengambilkan susu hangat untuk Galuh.
Membuat hati Raka menghangat melihat kedekatan anak dan Ibu itu.
" Tapi, sejak kapan Galuh minum susu? Biasanya enggak mau?" Batinnya penasaran.
" Ayah?" Ucap Citra yang senang dengan kedatangannya.
Ia tersenyum dan melihat wajah istrinya yang agak pucat. Pria itu sejurus kemudian berjalan mendekati istri dan anaknya.
" Kita ke dokter setelah ini ya?" Ucap Raka cemas demi melihat keadaan Galuh yang lemah.
" Kenapa ke dokter yah? Kan... Oma udah kasih susu buat adek bayi . Adek bayi biar enggak nakal katanya, hihihi!" Ucap Citra polos dengan wajah gembira.
Membuat Raka tercenung beberapa detik. " Adik bayi?"
Galuh meraih sebuah kota kecil dari dalam nakasnya, lalu menyerahkannya kepada Raka. Galuh menatap wajah suaminya seraya menahan haru.
" Apa ini?" Tanya Raka ragu dengan perasaan yang bingung.
" Buka aja mas!" Ucap Galuh dengan suara bergetar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raka seketika membuka kotak dengan warna merah maroon itu.
Dengan air mata yang sudah berjejalan di pelupuk matanya, Raka meraih tubuh Galuh lalu memeluknya erat demi mengetahui isi yang ada dalam kotak itu.
" Terimakasih sayang!" Ucap Raka menangis sembari mengeratkan pelukannya.
Membuat Citra kini kebingungan karena kedua orangtuanya saling menangis dengan posisi saling memeluk.
.
.
.
.
__ADS_1