
Bab 36. Bertemu rival sebenarnya
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Niko
Ia sebenarnya hendak mengambil sesuatu di meja keduanya, yang berada di satu ruangan bersama Raka. Namun apesnya, ia justru melihat pemandangan mengejutkan yang cukup membuatnya syok.
"Astaga, Pak Raka kenapa begitu ya?"
Ia kembali ke ruangannya dengan bergidik ngeri. Pria itu terlihat menarik napasnya panjang, demi menetralisir kegugupan. Sial!
Niko masih muda sekali, dan ia belum terlalu berkompeten untuk hal syur macam itu. Kini, ia lebih memilih menganalisa nama-nama orang yang telah berbuat curang di perusahaan itu, dari pada memikirkan yang tidak-tidak.
Ia musti bergerak cepat, sebab hari ini ia ada mata kuliah yang wajib ia hadiri. Namun, di menit ke sepuluh saat ia tengah mengentry data nama para cecunguk perusahaan yang bengal itu, Suara Adam Levine dalam sebuah lagu 'Just A Feeling' meraung- raung di ponselnya.
Pak Raka memanggil...
Niko meneguk ludahnya. Ah sial. Apa beliau marah karena ia memergoki bosnya yang lagi asik indehoy tadi. Oh ya ampun, bagaimana ini?
" Ya pak?" Sahutnya usai berhasil menggulir tombol hijau itu dengan hati dag dig dug.
.
.
Raka
Meski tak selamanya ia taat akan jalan kebenaran dan panutan hidup lurus, namun ia memiliki sikap yang jauh lebih baik dari Jodhi. Andai wanita itu datang kepada Jodhi, tidak usah di bayangkan lagi, pasti anak dari Rania itu akan melahap Dewi habis hingga ke jurang terdalam.
Tapi tidak dengan dirinya. Raka masih memiliki tingkat kewarasan yang tebal. Meski pada kenyataannya, beberapa hari ini ia memang memaksakan diri untuk dekat dengan wanita yang sudah ia kenal jauh sebelum ia mengenal Visya itu.
" Cepat ke ruanganku, dan bawa office girls satu orang, jangan banyak tanya!" Ucapnya kepada Niko melalui sambungan telepon.
Ia kini tertegun saat menatap Dewi yang masih terlihat menggeliat dengan posisi tangan dan kaki terikat dasi, di dalam bak besar, yang berisikan air dingin yang penuh.
" Siapa yang tega berbuat hal ini kepadamu Wi?" Gumamnya dengan pandangan yang tak lekang. Tekun menatap wajah wanita yang terus saya ngomyeng ( menggerutu) tidak jelas.
CEKLEK
Suara handle pintu yang terbuka menandakan jika anak dari Devan itu pasti sudah masuk. Meski terlihat ragu, namun Niko terlihat berjalan dengan di ikuti oleh satu office girls.
__ADS_1
" Saya di belakang, Masuklah!" Teriak Raka menginstruksi Niko.
Niko sedikit deg-degan, ke belakang artinya ke tempat istirahat bosnya itu. Haish !!!yang benar saja! Pikiran Niko mulai kontemporer, untuk apa bosnya meminta dirinya menuju belakang, dan dimana wanita tadi?
" Bos ada ap...."
Ucapan Niko musnah dalam sekejap demi melihat Dewi yang benar-benar berpenampilan kacau, dengan posisi yang tak wajar.
" Bos? Anda??" Mata Niko mendelik, apa bosnya baru saja melakukan kejahatan? Bukankah tadi..?
" CK, mikir apa kamu?" Raka mendengus, ia juga sempat melirik seorang office girls di belakang Niko yang nampak terkejut dengan apa yang dia lihat. Wajahnya bahkan mendadak pucat pasi.
Jelas dua manusia itu telah menuduh dirinya melalui tatapan.
" Kamu!" Tunjuk Raka kepada Office girls itu." Tolong kamu gantikan baju teman saya setelah ini. Dan ingat! Jangan mengatakan apapun soal apa yang kamu lihat saat ini, ke orang lain. Mengerti?" Raka menatap wanita itu dengan tatapan yang mengintimidasi.
Wanita itu mengangguk dengan menyiratkan ketakutan yang begitu kentara, " Mengerti Pak!"
Raka masih menyimpan beberapa potong baju Visya di kantornya. Ia persis dengan Abimanyu yang jika dulu kangen dengan Dhira, mereka akan melebur hasrat bersama di ruangan itu.
.
.
" Maaf Pak, saya kira tadi...!" Niko menundukkan kepalanya saat Raka kini menceritakan apa yang ia alami. Integritas itu penting. Yeah!!
Membuat Niko mendengus. Apa-apaan bosnya itu, mengapa malah mengajukan pertanyaan absurd macam itu? Meremehkan!
" Jadi bagaimana setelah ini Pak?"
Raka terlihat menimbang pemikiran, " Biarkan dia sadar. Kita bisa tanya nanti!"
Sejurus kemudian obrolan mereka terinterupsi oleh kemunculan Office girls tadi. Wajahnya terlihat bersimbah keringat bahkan di bawah gempuran AC. Jelas jika tugas yang bebankan Raka kepadanya itu cukup sulit.
" Gimana?" Tanya Raka sembari berdiri menyongsong wanita muda itu.
" Sudah Pak, pakaiannya yang basah ini saya bawa. Mau saya laundry di belakang!" Ucap wanita itu.
Raka menggeleng-gelengkan kepalanya tak setuju, " Jangan. Taruh sini saja!" Pria itu sejurus kemudian membuka dompet dan menarik lima lembar pecahan bergambar proklamator. " Ini buat kamu. Ingat, kalau sampai hal ini bocor. Saya bakal cari kamu!"
Wanita itu terlihat meneguk ludahnya dengan hati berdebar, seraya meraih rejeki nomplok di jam jelang siang itu dengan hati penuh syukur.
Raka bukan tanpa alasan meminta wanita itu untuk menjaga rahasia. Selain ingin melindungi Dewi, ia juga tak ingin berita buruk macam ini sampai tersiar ke telinga mamanya. Lagipula, Raka bukan pria yang seperti itu. Raka merupakan pria yang sedari dulu teramat menghormati wanita secara perlakuan.
" Baik Pak, terimakasih!"
Raka mengangguk. Kini ia melemparkan dirinya kembali kursi singgasananya dengan menghembuskan napas panjang.
__ADS_1
" Bilang sama cecunguk itu untuk di tunda dulu pertemuannya Ko. Kita tunggu Dewi sadar dulu!"
.
.
Galuh
Ia memaksakan diri untuk fokus mengajar. Meski yang ada di dalam hatinya, hanya berisikan soal kondisi Bapak. Ia berjanji akan segera kembali ke rumah sakit begitu jam pelajaran usai. Ia tak mau Leni yang merupakan rekan sejawatnya yang biasa nyinyir itu, kembali menghina dirinya karena sering izin.
Ia juga tak fokus dengan Citra. Sebab pikirannya benar-benar penuh. Di akhir pelajaran, ia bahkan langsung pamit tanpa berbasa-basi seperti biasanya.
Membuat Citra murung dengan seribu pertanyaan yang menari-nari di kepalanya. Apa Bu Guru marah?
Ia langsung masuk kedalam taksi yang sudah dia pesan. Ia sudah pamit kepada mas Adi untuk tidak pulang dan langsung menuju ke rumah sakit selepas mengajar. Ia pikir, ada Yu Sul yang bakal masa untuk mas Adi.
" Mas berhenti sebentar di toko depan ya?" Ucapnya yang merasa haus dan berniat ingin membeli minuman barang sejenak saja.
Dengan langkah cepat, ia menuju water show case yang berisikan jajaran minuman dingin yang makin membuat tenggorokannya yang kering itu, meronta-ronta.
Namun, saat ia masih sibuk mengambil beberapa botol minuman ion dan vitamin C, ia melihat seorang wanita yang kesulitan mengambil sebuah barang.
" Ada yang bisa di bantu mbak?" Tawarnya saat melihat wanita yang berjinjit dan tak sampai- sampai manakala akan mengambil sekotak susu hamil, dengan merk paling mahal itu, susu yang berada di jajaran rak yang paling tinggi.
Galuh memprediksi, tinggi wanita itu mungkin hanya sekitar seratus lima puluh sentimeter saja. Atau mungkin kurang. Terlihat manis dan berambut lurus dengan kulit bersih.
Namun...wanita itu justru terlihat pias saat Galuh menyapanya.
" Mbak?" Ucap Galuh kembali dan membuat wanita itu tersentak.
" Ah...ini saya mau ngambil itu!" Tunjuk wanita itu ke arah sekotak susu dengan box gold yang di taksir harganya tiga kali lipat dengan harga susu Bumil biasa. Terlihat gelagapan.
Galuh tersenyum dan membantu wanita itu mengambil sekotak susu ukuran besar , lalu menyerahkannya kepada wanita itu.
" Silahkan!" Ucap Galuh tersenyum. Meski dalam hati ia bertanya, kemana suaminya? Kenapa tidak menemaninya berbelanja?
Kasihan sekali, sedang hamil tapi berbelanja sendiri
.
.
.
To be continued
.
__ADS_1
.