Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 60. Seraut wajah yang tak asing


__ADS_3

Bab 60. Seraut wajah yang tak asing


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Terkejut, terkaget, tersentak, Apalagi?


Pernyataan Raka barusan sukses membuatnya menatap wajah pria di depannya itu dengan dahi mengerut. Bekerja denganmu?


" Aku menawarimu bukan tanpa alasan. Harus aku akui, anakku lebih bisa kau kendalikan. Aku juga tidak tahu mantra apa yang kau gunakan. Tapi terus terang , aku benar-benar kesulitan untuk menenangkan anakku sendiri!"


Ucap Raka dengan raut menyerah. Membuat Galuh tertegun. Mantra apa? memangnya dia penyihir. Dasar!


" Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkan ini baik-baik. Mungkin tak lama, hanya sampai Citra lulus TK!" Imbuh pria itu lagi demi melihat kebisuan Galuh.


Dan ucapan Raka beberapa waktu lalu yang sempat membuatnya dirundung kebimbangan itu, membuat adiknya kali ini curiga.


" Napa monyong aja?" Tanya Dinda yang kini menjahit rok hitamnya untuk training Minggu depan sebab ia di terima menjadi karyawan di perusahaan advertising yang cukup terkenal di kota itu.


" Berkas pengajuan cerai mbak udah di pengadilan kan?" Lirik Dinda yang mencurigai kakaknya masih belum move on dari keparat sialan itu. Ia terus mengajukan pertanyaan sembari asik menarik benang yang kini telah menyatukan kain yang semula kebesaran itu.


Ya... Rok milik Galuh tentu sangatlah kebesaran jika dikenakan oleh Dinda yang berperangai mungil.


" Enggak lagi mikir itu Din!" Sahutnya, langsung membuat Dinda menoleh. Lah, terus apa?


" Kemarin Pak Raka nawarin aku jadi pengasuhnya Citra!" Ucapnya lesu. Bagai berasa di ujung persimpangan. Bingung akan pilihan.


" Terus?" Tanya Dinda dengan alis berkerut sambil gencar menusuk kain itu dengan jarum kembali.


" Aku resign karena buat menghindari pertanyaan orang- orang sebelum mereka tahu apa yang terjadi sama hidup aku Din...Tapi kalau aku ngasuh citra, sama aja aku bohong...karena bakal ketemu Bu Leni lagi!" Jawab Galuh dengan wajah resah.


Galuh merasa sebaiknya ia menghindari dunia, karena ia tahu, dirinya tak akan sanggup menerima cemooh ataupun sindiran pedas atas nasib malang yang ia alami. Galuh tidak sekebal Dinda yang sikapnya selalu Egepe ( emang gue pikirin).


Orang yang tidak tahu, pasti akan menyalahkan dirinya. Sebab suami yang berselingkuh, adalah karena ketidakbecusan istri dalam mengurus. Begitu kata orang picik. Dan Galuh paham jika Leni merupakan orang picik. Bagi Galuh, kesehatan mental jauh lebih penting.


" Ya..bilang aja part time, gak bisa full ngantar. Citra palingan pulang jam 10 kan? Kalau setuju ambil aja. Lagian, tuh bocah kalau dari cerita Mbak kan nurut banget sama mbak, atau kalau enggak minta aja pindah sekolah?" Ucap Dinda terkekeh. Sungguh ide yang ngawur. " Lagian, enggak punya duit itu enggak enak mbak!"


"Jangan ngaco' kamu Din. Mindahin anak sekolah itu enggak gampang, masalahnya pindah sekolah itu juga bikin anak musti beradaptasi dari awal lagi!"

__ADS_1


Dan kebimbangan Galuh sampai juga ke telinga Ibunya. Bagiamanapun juga, semua orang harus memiliki pekerjaan agar mendapatkan predikat hidup yang berjalan wajar.


Harus ada yang di kerjakan agar hidup berjalan wajar. Begitu kata orang pintar.


" Adikmu bener, tanya saja dulu. Kesibukan bisa membuat kita sejenak melupakan masalah Luh!"


" Bapak juga setuju, anak itu lucu Luh. Kalau dengar ceritamu bapak jadi kasihan sama Citra. Bapak sekarang juga udah bisa jalan, lagipula ibukmu kalau siang kan pulang!"


Dari kesemuanya itu, membuat Galuh berani menghubungi Raka. Coba saja dulu, namanya juga usaha.


" Niko akan menjemputmu, kita harus bicara langsung. Kita ketemu di Patrick Star setelah ini!"


Dan demi apapun yang terjadi, Galuh mendecak kesal sebab sepeninggal Niko, ia disana menunggu Raka terlalu lama. Niko sudah kembali ke kantor usai merampungkan tugasnya. Anak Devan itu terpaksa meninggalkan Galuh sebab Raka memintanya untuk menemui tamu ke perusahaannya.


" Sory tadi macet banget di jalan, kamu udah pesan makanan?" Tanya Raka yang tergopoh-gopoh sebab ia juga membenci keterlambatan.


Galuh menggeleng, " Enggak usah, langsung aja!"


" Jangan dong, aku lapar...ini juga udah jam makan siang. Kita makan disini nggak apa-apa kan, aku sama Jodhi biasa nongkrong disini!"


Galuh diam. Sejak kapan pria itu kini menganggapnya manusia? Galuh tekun menatap wajah tampan Raka yang kini sibuk berbicara dengan waiters dan memesan makanan untuk mereka berdua.


Pria itu terlihat susah di tebak memang. Kadang baik, kadang ketus, dan kadang angkuh. Haishh, kenapa dia malah membatin Raka dengan kompleksnya.


" Saya mau. Tapi...."


Raka memicingkan matanya demi melihat Galuh yang hendak mengucapkan sebuah keberatan lain.


" Saya enggak bisa full time, maksudnya saya...Saya bisanya nemani Citra dari siang sampai malam saja. Artinya saja tidak bisa pagi nganter Citra kesekolah! Tapi, saya bisa bekerja hingga malam dan pulang setelah Citra tidur!" Ucap Galuh yang akhirnya lega karena bisa mengutarakan ganjalan dihatinya dengan los.


Raka terlihat menimbang ucapan Galuh. " Ok, enggak ada masalah. Jadi gimana, Deal?" Raka mengantungkan tangannya ke arah Galuh , dengan wajah penuh wibawa.


Dengan tersenyum sungkan, wanita itu menjabat tangan Raka yang kini menjabatnya erat.


" Deal!"


.


.


" Beneran Yah?" Citra yang malam itu mendapatkan kabar jika mulai besok teman baiknya akan menggantikan posisi Mbak Nining untuk mengasuhnya, terlihat sangat bahagia.


" Tapi Bu Galuh datangnya siang. Soalnya kalau pagi, Bu Galuh jaga sama ngerawat Akung dulu!" Ucap Raka memberikan pengertian Citra.

__ADS_1


" Enggak papa, aku biar di jemput Pak Jan aja tiap hari, Ayah enggak usah bolak balik deh. hihihi!" Citra bahkan tak mempedulikan hal itu. Baginya yang terpenting, saat Ayahnya sibuk di kantor seharian, ia nanti akan memiliki teman yang asyik.


Raka tersenyum senang, andai Citra bersikap sebaik ini kepada Dewi, pasti semuanya akan semakin mudah.


.


.


Di sebuah tempat lain namun di waktu yang sama, seorang pria kembali berada di kamar bersama seorang wanita yang kini telah mengenakan lingerie tipis yang begitu menggoda.


Jodhi mengikuti permainan Dewi, anak Rania itu merasa jika Dewi memiliki maksud lain terhadap kakak sepupunya itu. Ia ingin menyelidiki latar belakang wanita itu, dengan caranya yang elegan.


" Jika kakakku tahu kau seperti ini, dia tidak akan pernah memaafkan diriku!" Ucap Jodhi sembari meraih cawan berisikan minuman memabukkan itu.


" Dia terlalu baik sayang, kau dan aku hanya saling memerlukan. Jangan libatkan hati terlalu dalam disini!" Ucap Dewi menatap tajam Jodhi.


" Sial, bagiamana bisa dia bersikap sebiasa itu!" Batin Jodhi bergumam.


Jodhi merasa perlu mengorek rubah betina, yang beberapa hari ini mendatanginya secara diam-diam itu. Ia memang pria brengsek, tapi memiliki radar yang lebih tajam saat mengendus wanita licik macam Dewi.


Dewi merayap diatas tubuh Jodhi yang duduk bertelanjang dada di sebuah sofa khusus peraduan itu. Jika berbicara soal kerugian, harusnya wanita itu yang merasa rugi. Tapi Jodhi juga tidak tahu, jika sebenarnya Dewi telah mulai memainkan jebakannya.


" Kau tahu!" Dewi menelusuri dada bidang Jodhi menggunakan jarinya yang bercat kuku merah menyala. " Aku sudah menyukai Raka sangat lama!" Dewi mulai menggesekkan pangkal pahanya, keatas benda penting Jodhi yang kini sudah mengeras.


Jodhi terlihat menatap lekat wajah yang mendadak berubah tak asing itu. Wajah yang sepertinya pernah ia lihat. " Siapa sebenarnya wanita ini?"


" Tapi.... sepertinya kau lebih bisa memuaskanku!" Ucap Dewi yang kini hendak meraup bibir Jodhi namun pria itu memalingkan wajahnya. Mendadak teringat akan Raka.


Ia tahu, Raka tengah berupaya membuat Citra mau menerima Dewi.


Dewi tersenyum saat mendapat penolakan dari Jodhi. Sejurus kemudian ia menangkup wajah Jodhi lalu ******* bibir pria itu dengan penuh gelora.


Jodhi tak menikmati namun juga tak menolak, ia masih tekun menganalisa wajah Dewi yang sepertinya pernah ia jumpai di masa lalu.


Tapi siapa?


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2