Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 128. Membuat sebuah kesepakatan


__ADS_3

Bab 128. Membuat sebuah kesepakatan


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Lintang


Ini aneh, benar-benar aneh. Kenapa ia tak seberani seperti beberapa waktu yang lalu saat berhadapan dengan Jodhi?


Kenapa ia sekarang tak berani menatap mata Jodhi?


Ia lebih memilih membalikkan badannya sebab entah mengapa, wajahnya mendadak terasa panas. Lintang tidak cemburu, itu yang logikanya katakan. Namun, reaksi yang terlihat, sudah barang tentu membuat orang lain bisa menyimpulkan hal yang begitu kantara itu.


"Tapi aku senang kalau kamu cemburu!"


" Itu artinya, kamu ada rasa sama aku!"


Ia masih tercenung saat mendengar dua kalimat itu. Mendecak dalam hati. " Yang benar saja!"


Pria yang tak mau menyerah itu entah mengapa membuatnya resah. Teringat akan Danuja yang seolah tiada mau terpisahkan dengan pria berhidung bangir itu.


" Untuk apa aku cemburu!" Jawab Lintang ketus, seraya membalikkan tubuhnya lagi lalu menatap Jodhi sengit, " Lagipula, bukannya kamu memang sering gonta-gan..."


CUP


Jodhi langsung menundukkan wajahnya, lalu dengan gerakan cepat menyambar bibir gurih Lintang.


Jodhi melakukan semua itu bukan tanpa alasan, Ayah biologis Danuja itu terpaksa melakukannya, sebab ia tak mau mendengar ucapan yang ia rasa akan membuatnya makin merasa bersalah lagi.


Tidak! Ia memang brengsek. Tapi itu dulu, dan ia mau berubah demi anak dan ibu dari anaknya.


" Mmmm!!!" Lintang memukul-mukul Jodhi saat ia merasa bibirnya kini di sesap semakin dalam oleh pria itu.


" Mmmmm!!"


Sambil menyelam minum air, sambil membungkam mulut Lintang, sambil melepaskan kerinduannya kepada wanita yang susah sekali diyakinkan itu


Sedikit licik memang. Tapi mau bagaimana lagi?


CEKLEK!


Ciuman yang sebenarnya makin terasa syahdu meski punggung Jodhi makin sakit karena pukulan dari Lintang itu, akhirnya terlepas juga saat Denok kini mendelik di ambang pintu, demi memergoki aksi menggiurkan di depannya itu.


Oh Gosh!!


Membuat keduanya kini terengah-engah.


" Mbak!" Ucap Lintang resah dengan napas memburu, kala melihat Denok yang terkejut, " Mbak jangan salah pah..."


" Lanjut- lanjut, mumpung si Danuja lagi merepotkan para embahnya di sebelah! Lumayan pagi- pagi sarapan lambe!"


" Ah, jadi pingin! Udah ya, aman pokoknya, anggep aja aku enggak lihat . Byeee!!"

__ADS_1


BRAK!


Denok terkikik-kikik saat menutup pintu dengan wajah sumringah. Membuat Lintang kini diserang rasa tak enak hati, juga perasaan resah. Takut dikira munafik oleh Denok.


" Tanggung jawab kamu!" Ucap Lintang kesal dan terlihat marah. Benar-benar tak terima karena dicium paksa oleh Jodhi.


Pria itu bahkan sudah melakukannya sebanyak dua kali. Astaga!


Jodhistira bersidekap seraya tersenyum penuh kemenangan. Kembang api sedang meledak - ledak di hatinya saat ini. Bibir gurih yang candi baginya itu membuatnya melayang.


" Oke, kalau kamu minta aku tanggung jawab, aku bakal dengan senang hati nikahin kamu!" Jawab Jodhi tersenyum penuh kemenangan. Membuat Lintang mengerutkan keningnya. Bukan itu yang dia maksud!


Lintang marah dan hendak turun, namun berhasil di cegah oleh Jodhi.


" Aku serius Lin!" Ucap Jodhi yang kini menghadang langkah Lintang.


DEG


DEG


DEG


Degup jantung Lintang mendadak tremor saat Jodhi menatapnya dari dekat. Benar-benar dekat, hingga harum nafas pria itu bisa ia hirup dengan leluasa.


Jodhi ganteng.


Tak ada cela yang bisa ia temui dari wajah teman sekelasnya dulu itu.


" Pikirkan Danuja!"


Lintang menelan ludahnya kala melihat wajah serius Jodhi yang begitu jantan. Terlihat benar-benar serius saat ini.


Suasana kini hening. Nurani keduanya kini saling beradu. Sorot mata penuh ketulusan, bisa Lintang lihat dari kedua netra tajam Jodhi.


Keduanya larut dalam tatapan sendu. Hanyut dalam peperangan hati, perasaan serta logika yang berkecamuk. Hati Lintang masih ragu. Bagaimana jika Jodhi hanya memanfaatkan dirinya dan hanya ingin mengambil Danuja?


Tapi, entah mengapa sesuatu dari dalam relung hati terdalamnya kini seolah tergugah. Perasaan yang tak bisa ia definisikan.


" Tidakkah kau lihat sebegitu marahnya kedua orangtuaku saat mengetahui hal ini?"


Jodhi terlihat dua kali lipat lebih jantan dan tampan jika dalam mode serius seperti saat ini.


" Begini saja, jika kau ragu mari kita coba menikah siri dulu. Jika kau merasa aku tidak menepati janjiku, kau boleh pergi dan aku tidak akan mengerjar kamu lagi!"


Jodhi menatap muram wajah Lintang demi rasa khawatirnya.


" Pernikahan bukan untuk dijadikan lelucon!" Sahut Lintang serius.


" Lalu bagaimana caranya agar aku bisa menunjukkan kalau kalian benar-benar sangat berharga untukku. Tolong Lin, biarkan aku membuktikan kalau aku ini layak untuk menjadi Ayah bagi Danuja!"


Lintang tertegun. Ada Bu Yanti yang ia pikirkan. Bagaimanapun juga, wanita itulah yang selama ini berjasa dalam kehidupannya.


Semua orang memintanya untuk menerima Jodhi agar Danuja memiliki status yang jelas. Walau rasa takut dan kecewa itu masih ada, terselip dalam ruang-ruang hatinya. Tapi...


" Satu tahun! Dan kau bebas untuk pergi jika aku gagal membuatmu cinta kepadaku!"


.

__ADS_1


.


Diruangan Danuja


" Kenapa Nok, dapat jackpot apa kamu kok senyam-senyum sendiri?" Raka yang melihat Denok masuk dengan wajah sumringah itu sangat penasaran.


" Aduh coy, berita bagus nih!" Denok cekikikan dan membuat Rania, Bu Yanti dan Bastian yang kini bergotong royong dalam memakaikan pakaian untuk Danuja itu seketika menoleh kepo.


" Tadi di dalam aku ngelihat Ayah sama Ibunya Danuja...." Denok menggerakkan kedua ujung jari jemarinya, sebagai isyarat dan tanda orang yang tengah saling mengecup.


Rania membulatkan matanya tak percaya sementara Jonathan menutup wajahnya karena malu.


" Yang bener?" Tanya Rania dengan raut senang.


Denok mengangguk mantap, " Bener Tante Oma! Enggak sia-sia juga itu belatung nangka datang kesini!" Jawab Denok terkekeh-kekeh.


" Lintang cembukur tuh!" Jawab Denok terkikik-kikik geli.


Membuat Raka dan Bastian tergelak. Hanya Bu Yanti yang tersenyum. Dalam hati wanita tua itu berharap, semoga ini pertanda baik agar Lintang mau berdamai dengan masa lalunya.


" Da- de!" Danuja merentangkan tangannya ke arah Denok saat ia melihat kemunculan makhluk absurd itu.


" Kenapa? Mau gendong Dade ya? Sini!" Denok kini mendekatkan dirinya ke arah Danuja yang wajahnya sudah seperti donat nyes, sebab Bastian terlalu banyak menyapukan bedak putih itu ke wajah Danuja.


Astaga!


" Om Opa, lain kali kalau kasih bedak ke wajah cucunya tipis aja ya, ini udah kayak gula nyes yang dijual di mlijoan ! " Denok memberengut saat mengucapkan hal itu.


" Selain itu , kalau rontok di bajuku jadi kayak ketombe!" Ucap Denok yang sebal sebab Danuja kini sudah seperti kue moci.


Bastian ngakak dibuat oleh mahluk satu itu. Benar-benar langka.


Dan saat asyik dalam balutan obrolan renyah, ponsel Raka yang berbunyi menginterupsi tawa mereka. Membuat kesemuanya terdiam.


" Ya sayang?" Jawab Raka usai menggulir ponselnya. Membuat Denok mencibir.


" Mas, ini Kalyna, Dafa sama Gita ada dirumah. Mama sama papa berangkat kesitu sekarang, tadi aku kena omel mereka!"


Wajah sumringah Raka kini mendadak menjadi kalut demi mendengar suara resah Galuh baru saja.


" Kenapa tuh? Mendadak monyong begitu?" Gumam Denok kala melirik ekspresi Raka yang mendadak berubah.


Jelas Tante Rania dan Om Bastian sudah mengatakan hal ini kepada kedua orangtuanya. Mati dia! Begitu batin Raka.


" Kenapa Pak, apa semua baik-baik saja?" Tanya Jonathan usai sambungan telepon itu terputus, demi melihat wajah pias Raka yang begitu kentara.


" Tante ngasih tahu papa sama mama?"


Tanya Raka yang kini menatap muram Rania.


" Iya lah, memangnya mereka aja yang bisa punya cucu. Tante juga pamer dong ke kak Abi sama mbak Dhira. Kenapa memangnya?" Ucap Rania sambil membereskan beberapa minyak telon, juga handuk bekas pakai.


" Mereka mau kesini!" Jawab Raka yang ketar-ketir sebab ia jelas akan mendapatkan omelan yang lebih parah.


Oh sial!


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2