
Bab 25. Persimpangan ambigu
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
" Tunggu Wi!" Ia menarik tangan Dewi yang sudah memegang handle gagang pintu mobilnya, saat dengan spontan ia ingin mengatakan sesuatu.
" Ya?" Tanya Dewi menatap Raka dengan tatapan penuh tanya, namun tak terlalu ia tunjukkan.
" Emmm!" Raka mendadak menjadi kikuk. Sekian lama terbenam dalam friendzone bersama Dewi, membuatnya bingung untuk bersikap lebih.
" Terimakasih!"
Raka merutuki dirinya sendiri yang mengapa malah mengucapkan hal itu. Astaga, tidak gentle sekali dia.
" Sama-sama, take care ya!" Dewi mengusap lembut pipi Raka. Membuat pria itu seketika tegang.
Ia masih mengiringi Dewi yang kini telah keluar dari dalam mobilnya. Lambaian tangan manis itu serasa membuat Raka nyaman. Meski jauh di relung hatinya, ia belum merasakan apapun.
Ia sempat melirik ke arah belakang, dimana Citra telah pulas dalam lelapnya. Entah dengan cara apa agar anaknya itu mau menerima Dewi.
Raka merasa memilih Dewi merupakan pilihan yang tepat. Selain ia sudah kenal dalam waktu yang lama, wanita itu terlihat mau sabar meskipun Citra bersikap ketua.
.
.
Dewi
__ADS_1
Ia menatap nanar mobil Raka yang sudah menghilang dari balik pagar rumah dengan desain kolonial modern itu.
" Jemput aku!" Ucapnya pada seseorang melalui sambungan telepon.
Ya, Dewi telah menghubungi seseorang untuk membawanya pulang ke kediamannya yang sebenarnya, dan sejurus kemudian ia mematikan sambungan teleponnya itu secara sepihak.
" Makin cepat, makin baik!" Ia bermonolog dengan wajah datar. Pandangannya menembus kegelapan malam yang terlihat ia resapi.
Entah apa yang direncanakan oleh wanita itu. Wajahnya tak bisa di tebak sama sekali.
Beberapa saat kemudian muncul sedan mewah yang telah di kemudikan oleh Anom. Pria tampan itu kini turun dan terlihat membukakan pintu untuk Dewi.
" Sebaiknya anda pikir dua kali jika akan melakukan sesuatu yang menyangkut dengan seorang pria!" Ucap Anom saat bosnya itu hendak memasuki kabin depan mobil hitam itu. Berusaha memperingatkan bosnya itu.
Dewi memejamkan matanya sejenak, demi meresapi ucapan Anom yang menurutnya lancang itu.
" Sebaiknya kau lakukan saja tugasmu. Dan jangan terlalu banyak bicara!"
BRAK!!
Anom menarik napas lalu menghembuskannya pasrah. Pria dengan wajah datar itu sama sekali tak bereaksi apapun meskipun Dewi selalu saja mengabaikan segala peringatannya.
" Aku hanya ingin melindungumu!" Gumam Anom dalam hati, sembari menatap bos-nya yang kini telah duduk menatap lurus ke arah jalan.
Dewi melesat menuju rumahnya menggunakan mobil jemputan itu. Raka tidak tahu jika rumah itu bukanlah rumah yang di tinggali Dewi selama ini.
Wanita misterius itu benar-benar terlihat mengerikan.
...🌺🌺🌺...
" Sory telat, tadi nyari alasan dulu. Mertua lagi dirumah soalnya!" Tukas Galuh yang datang secara buru-buru di jam tanggung seperti itu.
" Tega banget sih lu bikin gue kering. Janjian jam berapa datang jam berapa!" Resti merajuk. Pasalnya wanita itu telah hampir satu jam menunggu Galuh.
" Sory!!! Sebagai gantinya, gue yang traktir deh... gimana?" Galuh menaik-turunkan alisnya saat menatap Resti. Mencoba merayu dengan memberikan tawaran.
__ADS_1
" CK, dasar!" Resti mana bisa marah terhadap Galuh. Bestie yang sudah bertahun-tahun menjalin persahabatan dengannya itu selalu saja membuatnya tak tega.
" Jadi...ada apakah gerangan yang membawa Baginda Resti memanggil hamba?" Galuh terkekeh seraya menarik kursi kayu itu dan mendekatkannya ke arah Rasti. Bersiap untuk bergunjing.
" Tapi elu musti janji untuk jangan gegabah. Soalnya, ini masih spekulasi. Aku takut Luh...tapi...jujur gue gak bisa nahan buat enggak cerita!"
Resti menatap murung wajah Galuh yang kini penuh dengan sejuta pertanyaan.
.
.
Galuh
Kucuran air mancur itu ia tatap dengan masygul. Rona wajahnya terlihat murung nyaris tak memiliki semangat. Ruang terbuka hijau yang berada di jantung kota itu ia pilih untuk menepikan diri.
Semua perkataan Resti terus terngiang-ngiang dalam hati dan juga otaknya.
" Luh, emang elu lagi hamil sekarang? Adik sepupu gue yang punya apotek di ujung jalan itu kapan hari lihat suami kamu beli tambah darah yang biasanya diminum sama ibu hamil Luh!"
" Kok elu enggak ada cerita ke aku sih kalau elu udah isi?"
Galuh tengah berada di kesunyian hatinya. Mungkinkah jika ia terlalu mencemaskan apa yang tidak perlu. Lagipula, hanya sebuah tambah darah. Dan bisa saja suaminya itu dimintai tolong atau tengah di titipi oleh rekan kantornya yang sedang hamil.
Gresya misalnya. Rekan satu kantor suaminya itu kan sedang hamil trimester kedua. Jelas tengah teler- telernya itu.
" Tapi ini aku cuma tanya aja Luh. Kalau kamu memang belum hamil, ya..mungkin aja bener kata kamu kalau Adi mungkin cuma di titipin sama rekannya."
Ucapan dari Resti membuat dirinya kembali berada di persimpangan ambigu. Entahlah, yang jelas, usai diberitahu oleh Resti, ia merasa menjadi pribadi yang kini mulai mencemaskan sesuatu.
Statusnya sebagai istri jelas perlu ia pertanyaan lagi.
.
.
__ADS_1
.
.