
Bab 114. Long time no see
.
.
.
...🌺🌺🌺...
( Biar makin lancar ngehalunya 😁✌️)
.
.
Jodhistira
Ia menjemput Raka terlebih dahulu yang sudah datang kemarin malam, dan berniat mengajak sepupunya itu untuk membersamai dirinya menemui Danuja dan Lintang.
" Jonathan mana?" Tanya Raka yang kini telah rapi dengan baju santainya. Sebuah kemeja yang ia biarkan terbuka dengan kaos hitam yang fit melekat pada tubuhnya, jelas mengindikasikan jika bapak dua anak itu akan total menolong Jodhi.
" Udah di lobi!" Sahut Jodhi yang kini sibuk membalas pesan koleganya.
Raka mengangguk. Sejurus kemudian dua pria tampan itu berjalan keluar untuk menemui Jonathan yang sudah siap menjadi juru mudi. Ya mau bagaimana lagi, nasib seorang asisten kan musti jadi joki.
Mobil hitam bertuliskan Range Rover sports itu, kini terlihat membelah jalanan kota S dengan kecepatan tinggi. Raka melirik Jodhi yang sepertinya tegang.
" Santai aja!" Ucap Raka sambil menepuk paha Jodhi yang sedari tadi bergetar seperti gerakan orang menjahit.
" Hm, aku takut gak bis nahan diri Ka. Lagipula, aku ingin melakukan tes DNA sekalian nanti!"
" Elu enggak percaya kalau itu anak elu?" Tanya Raka yang kini membetulkan posisi duduknya.
" Bukan enggak percaya, justru gue pingin menunjukkan kepada Lintang jika Danuja itu juga anakku, dan aku berhak buat bantu mereka!"
" Legalitas itu penting man!"
Raka mengangguk. Benar juga apa yang di katakan oleh Jodhi. Jika ada hitam diatas putih, maka sekeras apapun Lintang menyangkal, Jodhi masih memiliki kekuatan hukum.
Jonathan masih diam. Pria dengan alis tebal itu menyetujui niat bos-nya dalam hatinya.
Setibanya mereka di rumah sakit yang sudah di informasikan oleh Bremi, Jodhi meminta Jonathan untuk menanyakan kamar dimana Danuja dirawat terlebih dahulu.
Mereka berdua menunggu seraya berdiri dari jarak beberapa meter sambil berbalas pesan dengan seseorang. Namun, saat mereka tengah sibuk mengetik pesan, sebuah suara yang tersuguh dari pemandangan lain sukses membuat Jodhi membelalakkan matanya.
Jonathan terlihat beradu tatapan tajam dengan seorang wanita berdaster, dengan rambut mentereng, saat keduanya kompak mengucapkan pertanyaan yang sama.
" Wih, bisa samaan gitu Jo?" Ucap Raka yang kini menjadi pribadi yang lebih santai usai memiliki istri.
Jodhi diam. Ia terlihat menajamkan penglihatannya saat netranya menangkap objek yang tak asing itu.
" Mau kemana Jo?" Raka yang melihat saudaranya itu melesat pergi tanpa mengucapkan kata, kini turut menyusul langkah jenjang pria itu.
" Maaf Pak, Buk... anda siapanya?"
Raka bahkan bisa mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh petugas itu. Sementara Jodhi, pria itu kini menyipitkan matanya demi mendengar suara bernada bingung dari pegawai rumah sakit itu.
" Saya Budenya!"
" Saya Ayahnya!" Sahut Jodhi yang merasa perlu menjawab hal itu.
.
.
Jodhi kini tertegun seusai mengatakan hal itu. Namun, ia lebih terkejut lagi demi melihat sosok wanita yang pernah ia jumpai itu, kini menatapnya dengan mulut menganga.
__ADS_1
" Malaikat pencabut hatiku! A em...mak- maksud saya, anda ingat saya?"
Jodhi makin mengerutkan kedua alisnya, pun dengan Raka yang kini saling bertukar pandang dengan Jonathan, saat wanita itu mengucapkan pernyataan yang menggelitik.
" Malaikat pencabut hati?" Raka kini mencium kepalan tangannya sendiri demi menahan tawa. Pun dengan Jonathan yang mendadak merasa mual.
" Wanita ini kan, yang..." Batin Jodhi menatap Denok lekat-lekat.
" Maaf, Bapak Ibu, bisa tolong di jawab dulu, sebab pendaftaran bayi atas nama Danuja belum selesai ini, bisa di lengkapi dulu?" Petugas itu sampai kesulitan melihat hal aneh yang terjadi di depan mejanya.
Keempat manusia itu sebenarnya saling bingung. Mereka justru kini fokus kepada wajah-wajah aneh yang mendebatkan Danuja.
" Wanita ini adalah wanita yang pernah berkata croot saat kita habis jenguk Zul bos!" Bisik Jonathan yang sepertinya juga baru teringat akan sosok bermulut licin itu.
" Hah?" Raka kini kebingungan sementara Jodhi terlihat mengangguk-angguk sebab rasa keingintahuannya terlampiaskan sudah.
" Astaga, benar. Wanita itu!"
" Dia juga wanita yang di foto Bremi saat mengantar nona Lintang tadi!" Bisik Jonathan kembali makin membuat Jodhi mengangguk mantap.
Merasa di abaikan, kini Denok turut merasa resah akan tatapan penuh selidik dari tiga pria macho di depannya itu. " Asem, tanya enggak di jawab lagi. Sundel ubek!"
Denok seketika merasa tubuhnya kaku saat para pria itu menatapnya lekat-lekat. " Apa? Kenapa mereka menatapku begitu?"
Merasa di hujani tatapan penuh selidik dari trio jantan ganteng itu, Denok kini mengalihkan pandangannya dan memilih menatap bagian bawah ketiga pria itu secara bergantian. " Gila! Orangnya tinggi-tinggi begitu, pasti isinya kayak pisang raja, whuuu!" Denok seketika merinding saat otak seronoknya bertraveling.
" Mbak!"
" Mbak!" Sapaan petugas itu berhasil membuyarkan lamunan kotor Denok.
" CK, brengsek nih orang. Ganggu orang lagi halu aja!"
" Ya udah mana mbak, saya kesini memang mau ngisi itu. Tadi gupuh enggak sempet jawab, mana mana formulirnya?" Denok meringis meski sebenarnya dirinya sangat tegang saat ini. Grogi lah coy. Di serang tiga pria sekaligus coy! Batin Denok yang belingsatan sendiri.
Raka terkekeh demi melihat tampilan wanita yang ia nilai cukup berani itu. Wanita itu juga bermulut licin. Sejenak membuat Raka teringat akan adiknya, Dinda.
" Pakai jaminan sosial atau..." Tanya petugas itu.
" Hah? Sampean sopo ( kamu siapa), kok mau..."
" Sudah saya bilang, saya Ayahnya Danuja!"
Suasana mendadak sunyi. Semua orang terdiam saat Jodhi usai mengatakan hal itu.
" Pffffttttt!"
" Hahahaha!" Denok malah tergelak saat Jodhi memproklamirkan diri sebagai Ayah dari Danuja.
" Kenapa kau tertawa?" Tanya Jodhi dengan alis mengerut.
" Anda ini lucu. Kita baru dua kali ketemu dan anda sudah mau menolongnya saya untuk membayarkan biaya rumah sakit keponakan saya?" Denok terkikik-kikik. "Jangan-jangan Anda mengikuti saya ya?"
Membuat Jodhi mendelik dan Raka makin tergelak. Wanita itu percaya diri sekali!
" Sini kamu!" Jonathan mencengkeram lengan Denok karena telah berani membuat Jodhi naik pitam. Pria itu lama-lama gemas juga dengan Denok yang bermulut licin.
" Katakan dimana nona Lintang dan Danuja berada sekarang, kami ingin bertemu! Beliau adalah tuan Jodhistira Mavendra, Ayah biologis dari Danuja!"
DEG
Denok seketika terdiam dan susah payah saat menelan ludahnya. " Ayah Danuja?" Denok kini menatap Jodhi yang memang sangat mirip dengan Danuja.
" Lepas asu!" Ucap Denok mengumpan ke arah Jonathan saat kesadarannya mulai kembali. Wanita itu kini sangat ketakutan.
" Lepas Cok! Sakit tau!" Ucap Denok lagi kala Jonathan belum juga melepaskan cekalannya.
Membuat Jonathan seketika melebarkan matanya demi mendengar Denok yang memaki dirinya.
Denok kini menatap ketiga pria ganteng itu secara bergantian. Dia menatap Jodhi yang memang mirip dengan Danuja. " Ya ampun, aku ingat sekarang, dia kan malam itu sempat aku lihat di jalan dekat apotek, dan sekarang....."
__ADS_1
Wajah Denok mulai pucat pasi. Apakah pria itu benar-benar bapaknya Danuja? Ah sial, ia pikir selama ini rupa orang yang menyetubuhi Lintang itu sekelas Yanto. Tidak taunya...
" Jawab, jangan bengong!" Ucap Jonathan yang geram karena Denok malah terdiam.
" Mbak, nanti saya kesini lagi ya, Saya...."
Kaboor!!
Denok seketika lari terbirit-birit karena ia harus mengatakan hal ini kepada Lintang. Ia tahu jika Lintang pasti tidak akan suka jika pria itu datang.
Membuat Jonathan menggelengkan kepalanya demi melihat tingkah aneh Denok.
.
.
Denok
Ia kini berlari sekencang - kencangnya dan meninggalkan ketiga pria yang pasti terbengong-bengong demi melihat kelakuannya.
Yang Denok pikir saat ini hanya satu. Lintang.
" Sialan elu Lin. Kenapa bapaknya Danuja malah malaikat ku sih. Aduh, bikin urusan runyam aja!" Gumamnya di sela-sela kegiatannya berlari diatas lantai mengkilat itu.
" Nah itu dia!" Ucap Denok dengan napas kembang kempis saat melihat Lintang yang tengah menelpon seseorang.
" Pstt, Lin! Lintang!"
Lintang yang melihat Denok bermandikan keringat, seketika menyudahi percakapannya.
" Gawat Lin! Aduh!! " Ucap Denok seraya memegang kedua lengan Lintang dengan wajah acak adul.
" Ada apa mbak?" Tanya Lintang resah.
" Gawat Lin, Gawat! itu anu! Bapaknya Danuja ada di sini!"
DEG
Lintang seketika mematung.
" Bapaknya? Mbak tahu darimana kalau itu bapaknya Danuja?" Ucap Lintang sedikit panik.
" Aduh Lin, elu sih enggak ngasih tahu aku kalau bapaknya Danuja ganteng banget begitu. Aku sampai lari tadi!"
" Mbak Denok yang bener mbak, enggak ada yang tahu soal kita disini selain mas Reyhan yang baru aku telpon mbak!"
" Heh, ini beneran. Mana dia bawa dua orang ganteng-ganteng lagi. Aku sekarang selain malu, aku juga takut Lin. Pria itu namanya Jodhistira Mavendra kan?"
Lintang seketika lemas.
"Masalahnya kamu gimana ini, pasti setelah ini mereka kesini! Duh Lin, saranku kalian jangan bertengkar disini ya. Kasian Danuja.
Dan sejurus kemudian.
" Jadi bener kalau dia budenya Danuja?"
Lintang membulatkan matanya kala melihat Raka yang kini berucap seraya tersenyum kepadanya.
" Apa kabar Lin, long time no see?"
" Tidak mungkin!" Batin Lintang lemas saat ia melihat ketiga pria itu menemukan dirinya dirumah sakit itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Mommy mau tugas di posyandu dulu😘