Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 86. Bertemu mantan rival


__ADS_3

Bab 86. Bertemu mantan rival


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Anom


Hari yang berjalan membawa serta pemulihan kesehatan bagi pria itu. Baik secara emosional maupun fisiknya.


Secara psikis, ibu Gwen juga semakin membaik. Hubungan antara anak dan ibu itu juga lebih baik dari sebelumnya. Dewi alias Calista juga semakin memahami, jika papa kandungannya yang bernama Senopati telah meninggal dan tak ada satupun keluarga dari mendiang papanya yang mau menerima ibunya, dulu.


Waktu memang sebaik-baiknya penyembuh segala persolaan.


Pria itu barusaja menikahi Dewi di hadapan ibu Gwen beberapa pekan lalu. Tak mau sampai kehilangan wanita itu lagi. Basmi sifatnya bukan orangnya. Begitu kata hati yang selalu mensugesti dirinya untuk berpikir positif.


Ia tahu, ada hati seputih salju dalam diri Dewi. Jika tidak, tentu ia tidak akan ditolong dan dirawat penuh kasih manakala corpsnya dulu mengkhianatinya.


Bagi Anom, semua orang merupakan pendosa, pun dengan dirinya. Dan bersama Dewi, ia tahu akan bisa melengkapi satu sama lain. Sebab di dunia ini, tiada hal yang sempurna.


Ia bersama Dewi akan bertolak menuju Kualanamu untuk meninjau perusahaan yang tengah Dewi rintis. Sebuah resort yang akan menjadi tambahan pundi-pundi uang untuk kehidupan mereka.


Anom kini juga tekun mendalami ilmu baru soal penangan dan bisnis pariwisata yang mulai bangkit dari keterpurukan.


Namun, langkahnya mendadak berhenti dan tubuhnya mematung manakala melihat Galuh yang kini berjalan bersama pria yang sempat ia hajar dulu. Pria baik yang selama ini, ia salah pahami.


" Galuh?"


Ia melirik Dewi yang langsung membuang muka, saat mereka beradu pandang satu sama lain. Ia tahu ini tak mudah bagi istrinya itu. But, life must go on kan?


" Anom?" Galuh yang riang lebih dulu menyapa, ia sempat melirik ekspresi wajah Raka yang sama sekali tak bisa di tebak. Bisa ia simpulkan jika baik istrinya maupun Galuh sama-sama dilanda kecanggungan.


" Apa kabar?"


" Kalian mau kemana?" Tanya Galuh mencoba membunuh situasi mencekam.


" Kami baik Dan ....Oh, kami akan ke Kualanamu pagi ini!" Jawab Anom memaksakan senyum sebab benar-benar canggung. Mencoba menguasai situasi.


Galuh tersenyum tulus. " Wah kebarat ya, kalau aku sama suamiku ketimur!"


Dewi langsung menoleh manakala Galuh mengucapkan kata suami. Membuat Anom melirik Dewi dan Raka secara bergantian.


" Kalian sudah menikah? Selamat untuk itu!" Anom kini juga terlihat lebih rileks manakala Galuh tak mencampuradukkan masa lalu mereka, pada perjumpaan kali ini.


Galuh tersenyum lebar manakala melihat Anom yang kini lebih komunikatif. Tak sekaku tempo hari.

__ADS_1


" Dewi, kamu apa kabar? Kamu kelihatan lebih segar!" Sapa Galuh, membuat Dewi tersentak. Tak menyangka jika wanita itu bersikap baik kepadanya, setelah apa yang dilakukan oleh dirinya beberapa waktu lalu.


" A- aku baik!" Ucap Dewi malu-malu. Benar-benar tak mengira jika Galuh akan menegurnya.


Raka menelan ludahnya susah payah. Ia teramat bingung dalam bersikap. Bagaimana bisa istrinya bisa serileks itu kala bertemu dengan mantan rival mereka.


Suasana senyap beberapa detik, hingga akhirnya,


" Maaf untuk semua hal yang telah terjadi, Raka!"


Anom tiba-tiba mengulurkan tangannya menatap Raka. Karena dia tahu, dengan meminta maaf bahkan memaafkan, akan membuat jalan hidup kita menjadi lebih ringan.


Raka menatap nanar tangan kekar yang sama dengan dirinya itu. Ia merasa sudah tak perlu lagi membebani hati dan jiwanya dengan permusuhan.


" Aku juga, maaf atas semua kesilapan!"


Jawab Raka sejurus kemudian dengan menjabat erat tangan Anom. Membuat Galuh tersenyum haru.


Dewi merasa malu namun ia berusaha menguatkan hati. " Dewi!" Panggil Raka yang membuat wanita itu tersentak. Tak mengira jika Raka sudi menyebut namanya setelah apa yang terjadi.


" Bisa kita memaafkan satu sama lain?"


Ucap Raka diantara Anom dan Galuh yang sama-sama mematung. Membuat wanita itu diliputi kesedihan.


Mata Dewi mengkristal karena cairan itu telah berjejalan hendak meluncur. Dewi menatap ke arah Anom seolah meminta persetujuan.


Pria berwajah khas Asia timur itu mengangguk seraya tersenyum. Membuat Dewi seketika merengkuh tubuh Raka dalam.


Raka mematung, ia melirik reaksi istrinya kala Dewi memeluknya tulus manakala mengungkapkan kalimat penyesalan.


Galuh mengangguk, menjadi penegas sebuah jawaban jika ia sama sekali tak keberatan. Membuat Raka kini mengusap punggung bergetar Dewi. Ia tahu, segala sesuatu terjadi pasti membawa kebaikan bagi insan yang menjalani. Tinggal bagaimana, kita menghayati. Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan.


" Semua sudah berlalu. Mari kita mulai semua dari awal!"


Hati Raka lega manakala sanggup mengucap kalimat itu dengan lugasnya.


Dewi melepas pelukannya saat ia merasa hatinya diliputi kelegaan, manakala mendengar balasan Raka.


" Semoga rumah tangga kalian selalu dipenuhi kebahagiaan!"


Kini Dewi memegang dua tangan Galuh. Membuat Anom menyusut sudut matanya sebab ia benar-benar terharu.


" Kamu dan Anom?"


Dewi tersenyum. " Kamu juga baru menikah beberapa pekan lalu!" Ucap Dewi malu-malu.


" Wah selamat juga ya, Anom aku sangat bahagia mendengarnya!" Jawab Galuh penuh sukacita.


Raka menghela napas panjang. Ternyata benar kata mama, jika kita bisa memaafkan orang lain. Kita ini sudah lebih dari pemenang kehidupan.

__ADS_1


.


.


Tadi mereka terpaksa menyudahi pertemuan tak sengaja namun sangat mengharukan itu, sebab last call atau panggilan terakhir membuat mereka buru-buru memasuki pesawat.


Kini, dengan perasaan senang Galuh duduk di window seat, sambil berselfie ria dan berniat mengirimkan foto mereka kepada Dinda.


" Pamer teros, awas enggak borong oleh-oleh buat aku!" Rajuk Dinda sebelum mereka mematikan ponselnya di dalam pesawat.


" Mas, agak kesini dong!" Galuh terlihat norak, namun itu justru membuat Raka senang.


Pramugari yang berniat mengingatkan penghuni bisnis class itu terpaksa menunda niatnya, demi melihat pasangan bahagia di depannya.


" Maaf mbak, istri saya lagi narsis nih!" Ucap Raka yang malu-malu sebab tak enak hati kepada cabin crewe di depannya.


Wanuta itu mengangguk penuh sopan. " Silahkan di pasang seat belt nya dengan benar ya pak, karena sebentar lagi pesawat akan taxyway. Terimakasih!"


.


.


Galuh


Ia terkena jetlag dan merasa pusing serta mual selama penerbangan. Membuatnya lesu manakala ia kini telah berada di dalam mobil penjemput, yang sudah Niko booking sebelumnya.


Raka tergelak melihat istrinya yang tadi on fire, sekarang loyo tak bertenaga.


" Kamu jahat deh mas, masa ada orang teler malah di ketawain!" Gerutu Galuh. Ia sebal sebab Raka justru memfoto dirinya dan mengirimkan hal itu kepada Dinda. Jelas adiknya itu akan menjadikan dirinya bulan-bulanan kasus pembulian.


Dari bandara yang berada di sisi selatan, mereka menggunakan mobil menuju tempat yang sudah mereka booking dan memakan waktu perjalanan hingga dua jam.


Raka membiarkan istrinya lelap, sebelum ia akan mencabik-cabik Galuh malam ini. Yeah!


" Istirahatlah sayang, sebab malam nanti aku tidak akan membiarkanmu beristirahat!"


.


.


.


.


To be continued..


.


.

__ADS_1


.


Mommy tinggal Pertemuan dulu sama ibu-ibu kader ya gaes. Ketemu sore nanti.😘


__ADS_2