Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 118. Keresahan seorang Ibu


__ADS_3

Bab 118. Keresahan seorang Ibu


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Jodhistira


Ia tertegun saat Bu Yanti mengucapkan sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan bagi dirinya.


" Lebih baik kamu yang masuk nak. Siapa tahu Danuja mengenali nak Jodhi dan mau diam!"


Membuat Denok agar terkejut namun sejurus kemudian terlihat mengangguk.


" Tapi..." Jawab Jodhi resah. Ia takut jika Lintang akan menolaknya mentah-mentah.


" Malaikatku!" Ucap Denok yang sejurus kemudian menapuk mulutnya sendiri karena salah berucap. Membuat Jonathan menatapnya sebal.


" Emm nganu, maksudku Jodhi!" Denok meringis usai meralat ucapannya. " Apa yang dibilang Yu Yanti itu bener. Mending kamu yang masuk . Lintang enggak mungkin tereak- tereak di rumah sakit, aku jamin. Kecuali kalau kamu ***** dia secara paksa!" Jawab Denok terkekeh-kekeh.


Yanti melebarkan matanya menatap Denok yang malah ngawur. Anak itu!


Raka tergelak, sedang Jodhi nampak terperanjat. Sepertinya Raka menyukai tingkah manusia jenaka langka satu itu. " Bener. Lebih baik kita makan dulu, sekalian nanti bawain Lintang, dia pasti juga belum makan kan?" Ucap Raka menyetujui ide Yanti.


Wajah Denok berbinar demi mendengar kata ' kita makan dulu'.


" Wah, kalau gitu malam ini mending aku libur dulu jualan tempe. Kayaknya, selain kaya mereka juga enggak pelit. Lumayan, libur sehari! Kimpetku biar bisa ngaso ( istirahat) !" Batin Denok terkikik-kikik sendiri , membuat Yanti curiga.


PLETAK


" Auwh, sakit tau Yu! Nyiksa mulu ni orang!" Denok memberengut seraya menggosok jidatnya yang linu akibat di sentil oleh Yanti.


Sialan!


" Mikir apa kamu?!" Yanti mendengus sebal. Wanita itu pasti sudah mikir hal-hal ngawur.


Raka semakin tergelak. Sepertinya tak ada Dinda, Denok pun jadi.


" Ya mikir senang lah, malam ini aku enggak usah susah-susah melonte. Kan ada mereka yang pasti mikir biayanya di Danu, iya enggak malaikatku?" Tanya Denok kepada Raka yang dinilai paling pro terhadapnya.


Membuat Jodhi dan Jonathan mendelik.


Raka mengacungkan jempol seraya mengangguk mantap. " Aman! Pokonya kalau sama mbak Denok main aman aja aku!" Sahut Raka terkekeh.


Sementara itu, Jonathan yang sedari tadi berdiri membisu, pasti sudah berastaga seribu kali dalam hatinya. " Melonte?"


" Ya sudah Jo, kami pergi dulu. Good luck!" Raka menepuk pundak adiknya yang kini tercenung itu dengan tersenyum.


.


.

__ADS_1


Sepeninggal empat orang itu. Kini Jodhi menarik napasnya dalam-dalam lalu menghelanya kasar, guna menetralisir rasa gugup.


Ya, Jodhi memang takut jika Lintang akan histeris kembali. Mengingat beberapa saat yang lalu, wanita itu telah mengutarakan isi hatinya kepada Raka . Isi hati yang menerangkan jika Jodhi tak lagi memiliki tempat apapun di hati Lintang.


Namun, bayangan wajah Danuja membuat dirinya menepikan segala bentuk keraguannya itu.


" Baiklah Jo, ini demi Danuja!" Batinnya menyemangati diri sendiri.


Ia juga sudah meminta Novan untuk melakukan tes DNA secepatnya, namun sayangnya tes tersebut paling cepat keluar selama dua Minggu.


Membuatnya mau tak mau harus bisa lebih bersabar. Paling tidak, saat ini ia sudah melakukan yang terbaik untuk putranya yang malang itu, terutama soal pembiayaan.


CEKLEK!


Ia memberanikan diri untuk langsung membuka pintu , saat ia telah mendapat pesan dari Novan, untuk langsung masuk ke ruang itu tanpa sungkan.


" Dokter Laili yang saat ini menangani anakmu! Aku sudah aku beritahu soal masalahmu. Kau langsung masuk saja, tidak perlu khawatir!"


Relasi dan sedikit keberuntungan, membuat orang yang memiliki keduanya selalu merasa mudah mendapatkan apapun yang mereka mau.


Ia sebenarnya sangat terkejut saat melihat Lintang yang matanya kian bengkak. Jelas menegaskan jika wanita itu tak henti menangis sedari tadi.


" Kau pasti terus menangis!" Batin Jodhi saat melirik Lintang yang menatapnya tak suka.


Ia terlihat mengangguk saat dokter Laili pamit undur diri kepadanya. Pria itu terlihat begitu membuat dokter Laili sungkan.


Namun, ia tak bisa lagi menahan laju air matanya kala menatap Danuja yang kini lelap dengan punggung tangan kecil yang kini tertancapi oleh kaum infus.


" Danuja!"


Jodhi terlihat berjalan dengan dada bergetar. Sama sekali tak menghiraukan Lintang yang kini menatapnya taja.


" Ini Ayah nak!" Ucap Jodhi mengusap lembut kepala bayi dengan rambut tipis itu.


Jodhi seketika merasakan tubuhnya menghangat. Hatinya mendadak diliputi sebuah getaran yang tak bisa ia definisikan. Jodhi melihat dirinya saat kecil dalam wajah Danuja.


" Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh dia!" Ucap Lintang ketus seraya menahan tangisnya.


Membuat Jodhi mendongak dengan lelehan air mata yang tak bisa lagi ia sembunyikan.


" Tolong Lin, ini bukan waktunya kita bertengkar. Tolong jangan egois!" Ucap Jodhi dengan suara putus asa.


" Egois?'' Lintang menatap Jodhi tak percaya. " Kamu tahu apa itu egois, hah?"


Jodhi menghela nafasnya pasrah. Jelas dia telah salah berbicara. " Oke sory Lin, sory. Aku salah. Aku salah ngomong sama kamu!"


Jodhistira, seorang pria cassannova yang memiliki segala kehormatan dan gelimangan harta, kini terlihat tak berdaya di hadapan seroang wanita kuyu.


"Gimanapun juga Danuja ini anak aku juga Lin! Tolong sekali ini saja!" Ucap Jodhi resah.


" Anak kamu? Aku yang ngebesarin dia sendirian selama ini, aku yang ngandung dia, aku yang ngelahirin dia, dia cuma punya satu orang tua , cuma aku, ibunya!" Lintang tak bisa menahan emosi yang selama ini menumpuk di dadanya.


Jodhi menatap muram Lintang. Ia tahu ini tak kan mudah. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Ia memang pantas mendapatkan hal itu. Ia terima jika Lintang marah terhadap dirinya. Yes, that's my bad!


" Keluar kamu!" Ucap Lintang dengan rahang mengeras namun masih bisa mengatur intonasi suaranya.

__ADS_1


Jodhi menggeleng. " Enggak, aku enggak akan keluar. Bu Yanti sama mbak Denok udah ngijinin aku buat disini!"


DEG


" Apa?" Lintang benar-benar terkejut, apa-apaan ini? Mengapa dua orang yang selama ini menjadi benteng pertahanan hidupnya justru tak memihaknya?


Namun, belum sempat Lintang menyahut ucapan Jodhi yang membuatnya terkejut itu, Danuja mendadak batuk lalu menangis.


Membuat keduanya panik.


" Danuja!"


" Danuja!"


Ucap keduanya kompak dengan kepanikan yang sama.


Jodhi yang berada di jarak terdekat itu kini meraih tubuh mungil Danuja yang tubuhnya masih demam itu. Membuat Lintang geram.


" Turunkan dia!" Hardik Lintang yang tak setuju saat Jodhi telah menggendong anaknya.


Jodhi diam seraya berusaha menenangkan anaknya itu. Sama sekali tak menghiraukan teriakan Lintang. Jodhi bisa mencium bau bayi yang begitu khas itu. Hati Jodhi menghangat. Ia bahagia luar biasa, meski keadaan yang ada masih sama kacaunya dengan beberapa hari yang lalu.


" Lepaskan di..."


" Lintang!"


Jodhi mengangkat suaranya spontan kala merasakan tangan Lintang yang mulai menarik paksa Danuja. Pria itu dirundung kegundahan sehingga tanpa sengaja membentak Lintang. Membuat wanita itu kini menatapnya tak percaya.


" Kau membentakku?" Ucap Lintang dengan tatapan lurus dengan air mata yang meluncur begitu saja.


"Maaf Lin, aku..." Lintang menampik tangan Jodhi yang berusaha untuk meminta maaf. Wanita itu terlihat menatap Jodhi dengan tatapan penuh kebencian.


Namun, saat Lintang hendak merebut tubuh Danuja kembali dengan impulsif, Jodhi kini menghindar dengan hati yang serba salah.


" Tolong Lin, demi Danuja! Tidak lihatkah kamu jika dia langsung diam saat aku gendong?" Ucap Jodhi menatap Lintang dengan tatapan murung.


Membuat Lintang mematung.


Jodhi menatap lekat Lintang yang kini langkahnya tercekat. Keduanya kini terdiam. Lintang yang akhirnya melempar tubuhnya ke sofa sebab merasa heran dengan situasi yang tercipta. Sementaranya Jodhi yang merasa Lintang kalah telak, kini memilih untuk menimang Danuja yang perlahan mulai mereda tangisnya.


" Kenapa Dan, kenapa kau harus diam saat di gendong pria itu nak? Apa kau mengenali pria itu bahkan saat ibu belum bisa memaafkannya? " Lintang menutup matanya seraya menangis. Tubuh Lintang kini bergetar. Kenapa rasa hatinya sakit sekali melihat hal itu?


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa, coba kita memposisikan diri kita pada tiap tokoh yang ada. Niscaya kita bisa lebih memahami, jika menjadi Lintang itu tidak mudah.

__ADS_1


Kisah Jonathan mau di langsungkan di ceritakan disini. Apa dibuat spin off?? 😁😁😁


#Just asking


__ADS_2