Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 45. Menyingkap tabir gelap


__ADS_3

Bab 45. Menyingkap tabir gelap


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Ia tengah berada di sebuah taman yang berada di dekat perbatasan wilayah menuju kita lain. Lokasi yang dekat dengan kediaman seseorang yang ia duga merupakan rumah selingkuhan mas Adi. Tengah menunggu seseorang yang beberapa menit yang lalu ia hubungi melalui telepon.


Pandangannya kini nanar berutmbuk pada gerumbulan anak kecil yang sibuk bermain bersama keluarganya. Ia tersenyum ironi. Beginilah dunia dengan segala warna hidupnya.


Tak mengira jika warna hidup Galuh saat ini menjadi gelap. Tiada cahya menyinari. Tiada berdaya untuk teguh berdiri.


" Luh?" Ucap Bu Sevi dengan suara tergesa-gesa. Sebab terkaget, mengapa menantunya itu meminta dirinya untuk datang bersama suaminya.


" Mah!" Ucap Galuh yang kini memeluk mertuanya dengan sikap biasa dan kacamata hitam yang tidak terlepas. Meski hatinya tengah diliputi kegundahan yang membara.


" Ada apa nak? Kemana Adi?" Tanya Pak Hendra yang juga ingin tahu. Mengapa Galuh meminta bertemu di tempat ini.


Galuh tersenyum, " Galuh minta tolong papa sama mama buat nemenin Galuh ke suatu tempat boleh?" Ucap Galuh memegangi kedua lengan Bu Sevi .


Membuat kedua orangtuanya itu bingung dan saling menatap.


.


.

__ADS_1


" Rumah siapa ini nak?" Tanya Pak Hendra dari depan kemudi. Menatap sebuah rumah besar yang ukurannya melebihi rumahnya.


" Seseorang yang musti papa kenal. Yuk ma!" Ucap Galuh seraya tersenyum, tak mempedulikan kebingungan yang tersaji dari raut dua manusia tua itu.


Meski hati tengah diliputi banyak sekali pertanyaan, namun Bu Sevi dan Pak Hendra masih tekun menurut dan kini mengiringi langkah Galuh menuju rumah dengan cat dominasi putih gading itu. Rumah mewah dengan halaman yang luas.


" Ini rumah siapa Luh?" Bu Sevi mengajukan pertanyaan yang sama lantaran rasa penasaran yang semakin menggebu.


Galuh tersenyum. "Nanti mama juga tahu. Kita harus kenal ma, makanya mumpung Galuh libur, Galuh ngajak mama kesini!"


Dua manusia dengan uban yang mulai menghiasi kepalanya, kini menatap bingung dengan semua yang terjadi. Tak biasanya Galuh bersikap seperti ini.


TING TONG


Galuh menelan ludahnya sesaat sebelum ia mendentangkan bel rumah yang diduga milik gundik suaminya itu. Menyiapkan hati dan mental untuk bersikap teguh.


TING TONG


Ia semakin tak sabar dan dengan cepat menekan tombol itu dengan gerakan yang membuat kedua mertuanya makin heran.


CEKLEK!


Ia menyiapkan diri, perasaan juga mentalnya begitu pintu itu terayun dengan perlahan. Menampilkan seraut wajah syok dan pucat pasi dalam sekejap.


" Siapa Mas?" Suara seorang perempuan dari dalam yang kini malah membuat Bu Sevi dan Pak Hendra terkejut bukan kepalang.


.


.


Adipati

__ADS_1


Soal alasan dirinya yang selama ini, entah kemana bisa dikatakan Cincailah! Seribu satu alasan masih bisa ia utarakan.


Toh...Galuh selama ini diam-diam saja jika ia alasan ini itu. Membuatnya menyepelekan hal remeh seperti itu. Kehamilan Maya yang sudah semakin bertambah usianya, membuatya harus segera memikirkan kesehatan istri sirinya itu.


Ia sudah membeli rumah itu beberapa hari yang lalu. Mumpung libur, ia ingin mengajak serta Maya untuk pindah. Rumah yang lokasinya jauh dan tidak akan mungkin di ketahui oleh Galuh apalagi keluarganya. Begitu pikirnya.


Namun kelegaannya rupanya hanya bersifat fana.


Dentang bel yang cukup menganggu itu membuat aksi saling melu*mat dua manusia itu terlepas. Singkat kata, mereka ingin merayakan kebahagiaan. Sebab apa yang dicita-citakan telah terwujud. Sebuah hunian mewah telah mereka miliki. Bak merasa keluarga yang utuh, tanpa memikirkan yang lain.


Dentang kedua sukses membuat Adi kesal. Siapa juga yang bertamu di rumah baru mereka? Teman Maya maupun temannya juga belum ada yang tahu soal ini.


" Biar aku lihat!" Ucap Adi berjalan dengan muka sebal. Sebab kegiatan enak-enaknya terinterupsi. Meninggalkan Maya yang juga mulai merasa kesal.


CEKLEK!


DEG


Tubuhnya mendadak bagai mati dalam hitungan sepersekian detik, demi melihat wajah Papa dan mamanya yang berada di depan matanya. Di susul melihat istri sahnya yang kini melepas kacamata hitam yang bertengger di hidungnya dengan mata sembab.


Oh tidak!


" Siapa mas?" Suara Maya yang terdengar menyusulnya ke depan , kini makin membuat dunianya seolah-olah hancur.


Oh sial!


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued....


__ADS_2