Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 47. Mendung di hati


__ADS_3

Bab 47. Mendung di hati


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Ia berlari dan terus berjalan tanpa tahu tujuannya saat ini. Hatinya sesak, ia bahkan tak mempedulikan tatapan penuh selidik dari orang-orang yang berpapasan maupun pengemudi kendaraan yang juga menatapnya penuh rasa ingin tahu.


Ia tahu, tak selayaknya ia menyakiti wanita yang tengah mengandung. Tapi ia bukanlah wanita yang memiliki hati bak superhero, yang kuat dan mampu menahan hujaman rasa sakit yang menghujam hatinya tanpa ampun.


Tidak, ia tidak sekuat itu.


Galuh merasa hancur. Lihatlah, bahkan Mas Adi lebih memilih wanita itu ketimbang dirinya. Lantas apa lagi yang membuatnya kuat untuk bertahan?


Ia terus menyeret langkahnya dengan terhuyung-huyung, bahkan beberapa kali menabrak pejalan kaki lainnya, yang sepertinya siang itu hendak mencari tempat berteduh lantaran gerimis mulai turun.


Mendung yang terjadi seolah mewakili perasaannya yang sama gelapnya saat ini. Di kesunyian hatinya ia merasa menjadi orang bodoh. Sangat bodoh.


" Hey! Yang bener kalau jalan!" Maki seorang pria yang tengah repot menepikan dagangannya sebab gerimis yang turun semakin kerap.


Kepalanya mendadak pusing, kakinya juga kini tengah bergetar, pandangannya mulai kabur. Perutnya kosong dan belum terisi oleh apapun sejak pagi. Tumis pakcoy buatan Yu Sul pasti saat ini juga telah menganggur dirumahnya, atau rencananya bersama Resti untuk bersafari lidah, juga telah menguap dalam sekejap.


" Mbak hujan! Nepi dulu!" Ucap seorang pemotor yang menepi sebab hujan yang turun kini bagai di tumpahkan dari langit.


Ia sama sekali tak mempedulikan ucapan orang. Ia bahkan tak mempedulikan diri sendiri, maupun ponsel dan seluruh isi dalam tasnya yang kini pasti telah basah kuyup.


Hatinya panas dan guyuran hujan sama sekali tak bisa mendinginkan dirinya yang saat ini terbakar oleh api kemarahan, sakit hati serta kekecewaan yang tiada berujung.


Galuh benar-benar kehilangan kendali.


" Kenapa kau begitu menyakitiku mas?"


Masih dengan sikap yang mirip orang linglung, ia terus berjalan menyusuri jalan. Teriakan para orang bahkan tak ia hiraukan.


Hantaman air dari langit itu lambat laun membuat kepalanya pusing, langkahnya pun kini berubah gontai tak terarah.


TIN!!!


TIN!!!


Klakson mobil makin membuatnya bingung, dalam pandangannya yang berangsur-angsur mengabur, disertai jalaran kepala yang sakit. Wanita itu ambruk di jalanan detik itu juga.


CIIT!!!


Bersamaan dengan bunyi decitan mobil seseorang, yang menginjak rem secara mendadak akibat nyaris saja menabrak dirinya.


Pria dalam mobil itu terlihat panik dan membuka pintu mobil dengan segera. Pria bertubuh tegap dan bermasa otot liat itu terlihat mengguncang tubuh Galuh dengan seksama.


" Mbak!"


Pria itu panik, apa dia sempat menabraknya tadi? Astaga, bagaimana ini?

__ADS_1


"Mbak!"


Sejurus kemudian pria itu terlihat membalikkan tubuh wanita dengan perlahan, di bawah guyuran hujan demi memastikan apakah wajah wanita itu terluka atau baik-baik saja.


"Astaga!"


Dan betapa terkejutnya pria itu, saat melihat seraut wajah terpejam dengan bibir yang sudah membiru , merupakan orang yang ia kenali.


" Bu Galuh!"


.


.


Raka


Ia barusaja menghadiri acara khitanan anak ke empat om Wisang siang itu. Citra rupanya tergiur untuk ikut Omanya pulang bersama Oma-nya karena rayuan Kalyna yang tiada habis.


Hujan sudah mengguyur kawasan itu bahkan saat ia baru keluar dari kediaman om Wisang. Mendung memang diawali dari arah timur saat itu.


Ia tengah asik mendengarkan lagu dari milik band Indonesia yang karyanya cukup melekat di hati manusia lintas generasi. Sheila on 7.


Duda beranak satu itu terlihat bersenandung, menganggukkan kepalanya bahkan sesekali memainkan tangannya guna mengekspresikan diri.


Namun, kesialan mendadak menghampirinya. Tanpa ia duga, seorang wanita mendadak muncul dan membuat suara Duta yang meraung di dalam kabin mobilnya, seketika terasa jauh dari pendengarannya.


Sial!


Dengan degup jantung yang kian berpacu cepat, lantaran di hantui pemikiran yang tidak-tidak, ia kini memanjangkan lehernya demi melihat apakah wanita itu tertabrak olehnya atau tidak.


Jelas ia telah menabrak wanita itu. Begitu pikirnya.


Ia melihat seorang wanita menelungkup diatas aspal, dengan baju serta tas yang sudah kuyup. Pun dengan dirinya saat ini.


" Mbak!"


Ia masih berusaha menggoyangkan tubuh wanita itu.


" Mbak!"


Debet air semakin memperparah kondisi, hujan yang turun lebat juga membuat kulitnya bagai tertusuk jarum.


Merasa tak mendapatkan jawaban dari sang wanita , membuat Raka kini menggulingkan tubuh wanita itu guna memastikan jika wajah wanita itu tidak tergerus aspal.


DEG


Jantungnya berdegup kencang manakala melihat orang yang tak sengaja ia tabrak ini merupakan orang yang ia kenal.


" Bu Galuh!" Matanya mendelik seketika demi melihat wanita yang kini bibirnya telah membiru itu, merupakan Guru dari anaknya.


Oh sial!


.


.


Apartment Grand city

__ADS_1


Sempat dibuat bingung , lantaran kemana ia harus membawa wanita itu dengan kondisinya yang memprihatinkan saat ini, Raka akhirnya memilih membawanya menuju apartement pribadinya.


" Harus punya, setidaknya kita ini sebagai pria pasti punya privasi!"


Ia ingat dengan ucapan Om Danan sewaktu mereka berkunjung ke acara ulang tahun anak kembar pria kocak itu. Haish, ternyata betul juga. Sangat berguna jika ada keadaan urgent seperti saat ini.


Dan kini, agaknya ia harus berterima kasih akan saran Danan yang rupanya berguna itu. Ia tak membawa Galuh kerumahnya karena takut terjadi kesalahpahaman.


Raka tak mengetahui rumah Bu Galuh, dan jika harus membawanya pulang ke rumah atau kerumah sakit, tentu akan memakan waktu yang sangat lama.


Ia meletakkan sebujur tubuh yang sudah basah kuyup itu ke ranjang kamar apartemennya. Ia memanggil layanan house keeping yang berada di sana, untuk naik ke unit miliknya.


" Tolong woman house keeping satu orang aja keatas, segera ya!"


Ia sangat jarang mengunjungi apartemennya itu. Apalagi semenjak menduda. Kadangkala ia berkunjung kesana jika dia terlalu banyak minum saat diajak Jodhi. Pria dewasa dan rasa pusing sari minuman sulingan beralkohol itu jelas merupakan hal biasa. Yeah!


[" Lama amat, elu dimana?" ]


Ucapnya kesal kepada Teuku, temannya yang berprofesi sebagai dokter. Mengumpat berkali-kali karena Raka memaksanya untuk datang ke apartemennya.


[" CK, macet ini ada pohon tumbang sialan!"]


Ia menatap nanar wajah Galuh. Wajahnya semakin pucat.


[" Halo..Ka! Coba elu periksa denyut nadinya!"] Titah Teuku dari ujung telepon.


Raka menekan tombol loudspeaker terlebih dahulu, dan sejurus kemudian ia menuruti perintah Teuku.


[" Lemah banget Ku, gimana ini?"]


Raka semakin panik demi merasakan denyut yang nyaris tak terasa. Oh sial.


[" CPR!"] Ucapan Teuku dengan nada tegas. membuat Raka bingung.


CPR atau Cardiopulmonary Resuscitation merupakan prosedur pertolongan pertama yang sangat penting, untuk menyelamatkan pasien henti jantung. Prosedurnya terdiri dari kompresi dada, membuka jalur napas, dan memberi napas buatan


[" CPR apa gue enggak ngerti sialan!"]


Raka mengumpat kesal karena mengapa temannya itu masih saja menggunakan bahasa medis yang tidak ia ketahui, saat ia tengah berhadapan dengan ketegangan.


Resusitasi jantung paru-paru atau CPR adalah tindakan pertolongan pertama Bantuan Hidup Dasar pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali dengan melakukan beberapa teknik pemijatan atau penekanan pada dada.


[" CK! Kasih dia napas buatan Ka!" ]


Seru Teuku dengan nada kesal. Membuat Raka mendelik.


" Napas buatan?"


.


.


.


.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2