Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 84. Love you


__ADS_3

Bab 84. Love you


.


.


.


...🌺🌺🌺...


...Kicau burung bernyanyi...


...Tanda buana membuka hari...


...Dan embun pun memudar...


...Menyongsong fajar...


...Sejenak kuterlena...


...Akan kehidupan yang fana...


...Nikmat alam semesta...


...Nusa indah nirmala...


...Serasa pagi tersenyum mesra...


...Bertiup bayu, membangkit sukma...


...Adakah esok kau senyum jua...


...Memberi hangatnya sejuta rasa...


...(Sabda alam)...


.


Galuh


Sinar mentari yang menerpa wajahnya pagi itu membuatnya terbangun. Saat ia hendak menggeliat, ia tersadar jika ia kini telah menjadi istri dari seorang tampan yang penuh kharisma. Raka.


" Diamlah! Jangan membuat yang lain turut bangun!" Ucap Raka yang masih memejamkan matanya. Bersuara parau sebab ia juga ingin lebih lama memejamkan matanya.


Citra semalam sudah di amankan oleh Kalyna dan Andhira, sementara dirinya bersama suami kini masih menginap di kediaman orang tuanya.


Kamar Galuh tentu tak seluas kamar milik Raka, kasurnya pun hanya kasur berukuran sedang. Namun, kerapihan serta kebersihan kamar seorang wanita jangan diragukan lagi. Membuat Raka nyaman.

__ADS_1


" Mas! udah siang loh, gak enak sama yang lain, ih!" Ucap Galuh yang ingin membebaskan diri dari jeratan suaminya yang manja pagi itu. Memaksa Galuh untuk terus berada dalam dekapan pria yang kini bertelanjang dada itu.


CUP


Raka mencium pipi kenyal Galuh penuh cinta, lalu mendekapnya kembali erat-erat, seolah tak cukup seolah tak puas.


Mereka semalam tidak melakukan hubungan intim, mereka sangat lelah lantaran hingga malam hari banyak tamu dan saudara yang mengobrol, untuk kenal satu sama lain. Raka senang akan hal itu, pengalamannya sejak kecil memang sudah supel.


Ia tak ingin membuat Galuh lebih lelah dengan meladeni geloranya yang semakin menggila, lagipula kasur di dalam rumah Galuh tak cukup lebar untuk menahan tingkah keduanya. Begitu pikirnya.


" Biarkan seperti ini sejenak sayang. Aku jarang sekali berleha-leha seperti ini, terlebih sekarang ada kamu!" Ucap Raka yang masih memeluk tubuh sintal itu.


Hati perempuan mana yang tak senang manakala mendapatkan perlakuan hangat macam itu, Galuh akhirnya pasrah. Ia menikmati pelukan mesra nan hangat, dari tubuh kekar yang kini melingkupinya.


.


.


Dinda


" Wah bener- benar nih orang. Tancap terosss!" Cibirnya saat melewati pintu kamar mbakyu nya yang masih tertutup di jam tujuh lewat itu.


Terkikik geli sendiri manakala otaknya melanglang buana.


" Hus! Ngapain kamu disitu din?" Tukas Bu Halimah yang memergoki anak bungsunya itu mengendap-endap di depan kamar Galuh. Terlihat mencurigakan.


" Astaga, badan mas Raka segede gambreng gitu, pasti itunya besar buanget!!!Wihh pantas aja mbak Galuh enggak bangun-bangun. Gempor- gempor dah!" Ucapnya dalam hati sebab takut akan di santlap oleh Ibu.


" Bocah gemblong! Malah cekikikan sendiri, udah bantu ibu siapin sarapan. Mbakmu capek, semalam ngobrol sama Pakdemu sama anak-anaknya sampai malem, biarin mereka sekarang tidur!"


Dinda menyipitkan matanya. " Iya kah?" Seolah tiada percaya.


" Mikir apa kamu, udah sini cepetan bantuin Ibuk! Ibuk mau gantiin kantong Bapakmu Din!" Ucap Ibuk kembali manakala tak melihat pergerakan dari Dinda.


" Eh tunggu dulu, udah cuci muka belum kamu, itu belek segede biji kelapa di pelupuk matamu itu, bocah wedok jorok amat!"


" Hah? Iya kah ? Ibu!!!" Jawab Dinda panik.


Bu Halimah terkikik seraya berlalu, ia tergelak demi melihat wajah Dinda yang malu sebab baru saja berhasil ia kerjai.


.


.


" Titip Galuh yang nak Raka, tegur dia jika salah! " Bu Halimah mengusap lengan Raka manakala menantunya itu mencium tangannya takzim.


" Luh! Pesan ibuk masih sama, hormati suami kamu, perlakukan suami kamu dengan sebaik-baiknya!"

__ADS_1


Galuh menitikkan air matanya, ucapan ibu masih sama saat ia dulu hendak tinggal serumah bersama Adipati.


" Yang lalu biar berlalu, sekarang kamu sudah jadi istri nak Raka. Semoga apa yang sudah terjadi, makin membuat kalian saling menerima satu sama lain. Ibu berharap pernikahan kalian yang sekarang menjadi pernikahan yang langgeng, ya nak!"


Tangis Galuh pecah manakala ibu menariknya dalam pelukan. Dinda juga menyusut air matanya manakala menyaksikan hal itu. Pun dengan pak Noer yang juga menangis haru, sebab Galuh setelah ini akan meninggalkan rumah mereka.


Raka yang berada disana turut menghela napas berat. Benar-benar terasa mengharukan.


" Saya pamit Pak!" Ucap Raka sejurus kemudian yang menyalami pak Noer yang berada di atas kursi roda. Mati-matian menahan air matanya agar tak jatuh.


" Pesan saya cuma satu ke, tolong perlakuan Galuh dengan baik ya nak. Jangan sakiti dia, kembalikan kepada Bapak jika mungkin kamu sudah tidak mencintai dia lagi. Bapak berharap, kalian bisa terus saling mencintai, seperti ibumu yang terus mencintai bapak walau keadaan Bapak seperti ini!"


Raka yang tak tahan, kini merengkuh tubuh pak Noer kedalam pelukannya. Membuat Kesemuanya laut dalam tangis.


" Raka janji Pak, ini janji Raka ke bapak. Enggak akan biarin Galuh sedih lagi!"


"Raka berjanji akan terus mencintai Galuh!"


Dinda sudah berkali-kali menghapus air matanya menggunakan lengannya, wanita itu benar-benar sedih sekaligus senang dalam waktu bersamaan.


Sedih karena akan berpisah dengan kakaknya, dan senang karena ia merasa Raka merupakan pria yang ia percayai untuk membahagiakan kakaknya.


" Din, mas Raka pamit ya!" Raka mengusap lembut kepala Dinda, membuat perempuan bar-bar itu kini mengangguk seraya mewek. Oh andai Niko melihatnya, pasti pria itu akan terkikik.


.


.


Sepanjang perjalanan Galuh diam. Adalah suatu kewajaran jika ia sedih, mengingat saat ini ia sudah tak lagi tinggal bersama bapak ibunya. Dua orang yang selalu ada manakala ia diterpa badai bencana. Dua manusia, tempatnya kembali manakala dunia mengecewakannya.


" Mas, kita jemput Citra?" Ucap Galuh saat menyusut air matanya yang tak mau berhenti mengalir.


" Siapa bilang kita mau jemput, kita malam ini tidur di apartment. Besok kita udah harus terbang, aku mau ajak kamu ke suatu tempat!" Ucap Raka seraya tersenyum penuh arti.


Galuh membulatkan matanya, kenapa ia tidak tahu jika Raka akan mengajaknya ke suatu tempat.


.


.


.


.


.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2