
Bab 136. Kebijaksanaan para orang tua
.
.
.
..."Bukan karena melihat, tetapi karena percaya."...
...πΊπΊπΊ...
Jodhi kini mengambil alih Danuja dan menggendongnya saat Lintang dan Bu Yanti ia ajak untuk naik menuju ke kamar mereka di lantai 27. Sengaja meminta Jonathan untuk membuat reservasi bagi Lintang.
" Kamu yang reservasi ya, aku mau bawa Danuja, Bu Yanti sama Lintang ke kamar Mama dulu!"
Denok mewakili mengangguk, " Yok Jon, aku temani. Biar mereka bisa langsung naik dulu, lumayan bisa lihat orang ganteng!" Celetuk Denok sembari membetulkan kerah kemejanya.
" Semua- semua dibilang ganteng!" Sahut Jonathan lebih berani kali ini dengan wajah mendengus.
Membuat Jodhi tertawa.
" Yang rukun, bentar lagi mau pisah. Nanti pasti enggak ada lagi yang kamu bully!" Ucap Jodhi kepada Jonathan.
Lintang tertawa mendengar Denok berkata. Ia menyadari, mungkin sebentar lagi hal itu tak akan pernah lagi ia dengar. Bisa jadi, celetukan ngawur itu akan sangat ia rindukan.
Jojon juga tahu jika Jodhi pasti hanya berniat becanda. Namun entah mengapa, semua yang terdengar itu, malah mendatangkan sesuatu yang tak enak di hatinya.
" Yang di depan itu tadi mbak, yang baju hitam. Begini orangnya!" Imbuh Lintang mengacung jempolnya.
" Udah ya, kita ke kamar mama dulu. Nanti kalau udah langsung naik aja!" Pungkas Jodhi demi yang kini mengusap punggung Danuja yang menggeliat.
" Jangan asal naik pak, musti foreplay dulu lh... Kalau naik enggak ada pelumas, bisa bobrok lobang orang!" Jawab Denok tergelak kencang. Membuat beberapa tamu lain turut menoleh.
" Otakmu Nok Nok! Orang kok begitu aja yang dipikir!" Yanti terus menggeleng saat merasa semua yang diucapkan oleh orang lain, di serap ngawur oleh otak seronok Denok.
.
.
Lintang
Danuja dan Bu Yanti. Dua manusia itulah yang menjadi alasan Lintang memutuskan untuk pergi. Ia tak memiliki siapapun selain mereka. Dan untuk Jodhi? Entahlah. Ia masih belum yakin.
" Tante senang, kamu akhirnya mau dengar apa kata kita semua!" Rania yang baru saja memeluknya, kini membingkai wajah Lintang penuh cinta kasih, saat mereka baru memasuki kamar terbaik di kelasnya itu.
Lintang tersenyum canggung.
" Eh, mau kemana kamu?" Tanya Rania yang menghadang putranya saat hendak ngeloyor masuk.
" Ya masuk lah Ma, mau kemana lagi?" Jawab Jodhi muram.
"Bawa Danuja ke kamar sebelah. Itu papa kamu sama Ayah Abi udah nungguin dari tadi, kita mau mau ngobrol sebentar. Udah sana pergi!"
" Bu Yanti, Lintang yuk kita masuk dulu. Biar mereka kumpul sama kaumnya!" Rania secara posesif menarik tangan Lintang dan Bu Yanti secara bersamaan. Membuat Jodhi melongo.
BRAK!
Jodhi terbengong-bengong saat pintu itu di tutup oleh Rania secara sepihak. Menyisakan Danuja yang kini terkikik-kikik usai menampol wajah Ayahnya yang terkejut itu.
" Lihat Ja, bagiamana bisa mereka meninggalkan kita nak. Mereka ini benar-benar egois!" ucap Jodhi menatap ke arah Danuja seraya menghela napas pasrah.
" Ya sudahlah, ayo kita ke tempat para pria tua itu saja!"
Tak di sangka, Lintang yang datang malah di kudeta oleh Rania dan Dhira. Bu Yanti yang melihat hal itu kini terkekeh. Jodhi pasti menggerutu saat ini.
__ADS_1
" Biarkan para laki-laki itu momong dulu. Tante mau ngobrol banyak sama kamu, sini sini!" Rania menggeret lengan Lintang dan memintanya untuk duduk di dekat sofa.
" Lin, kita semua tahu bila Danuja itu...."
Rania tak enak hati saat hendak mengatakan soal kenyataan Danuja yang lahir di luar pernikahan.
" Saya paham Tante! Tidak apa-apa. " Sahut Lintang tersenyum. Mengerti akan arah pembicaraan yang di maksud oleh Rania.
" Untuk itu, saya dan suami saya sudah sepakat untuk memberikan cabang Dapur isun di kota lain, dan perusahaan kami disini atas nama kamu!"
Lintang terkejut. Pun dengan Bu Yanti.
" Memberikan perusahaan?"
" Tapi..."
" Hanya itu satu-satunya cara agar Danuja suatu saat bisa mendapatkan haknya sebagai bagian dari kami nak !"
" Benar. Kami harap, setelah ini kamu bisa segera merencanakan pernikahan. Biar bagaimanapun, kita semua ingin melihat Danuja di temani oleh orang tua yang lengkap. Kasihan dia nak!" Imbuh Andhira mengusap punggung Lintang penuh pengertian.
Bu Yanti terharu, tak menyangka. Kotoran yang kini zahir itu, membuat batas kejernihan taraf hidup yang berbalik seratus delapan puluh derajat.
Dan ucapan sarat ketulusan itu, berhasil membuat Lintang menangis.
" Tante percaya, jika suatu saat nanti kamu pasti tahu kalau anak Tante benar-benar sayang dan cinta sama kamu. Semua memang perlu waktu!"
Lintang tertegun. Ingatan akan Jodhi yang mengucapkan perkataan haru saat di makam tadi, mendadak menari-nari di kepalanya.
" Bu Yanti, sekarang, kita siap-siap ya. Kita belanja dulu sebelum terbang besok. Kamu juga Lin, Tante mau kasih kenang- kenangan sama Denok sebelum kita pergi!"
" Tante tabu kalau mbak Denok enggak..."
Rania mengangguk, " Jonathan tadi yang Tante telpon. Udah yuk, kita siap-siap!"
.
.
Abimanyu
Ia tersenyum senang kala melihat Bastian yang kini menggendong cucu sambungnya itu, sambil bercanda. Tiada batas maupun perbedaan bagi keduanya.
" Finally!" Ia menepuk bahu kokoh keponakannya, yang kini segagah saat ia muda dulu.
" Makasih Yah, aku bahagia banget!" Jawab Jodhi lega.
" Jo!"
" Ya?" Sahutnya dengan tatapan yang masih melihat interaksi Danuja dan Bastian yang asik main bola kecil.
" Ayah sama papamu sudah sepakat. Jika sebagian Dapur Isun dan perusahaan yang ada disini dilimpahkan atas nama Lintang!"
Jodhi mengerutkan keningnya.
" Jangan salah sangka dulu, semua itu bertujuan agar dia bisa memiliki hak waris sesuai dengan apa yang berlaku di masyarakat kita!"
Jodhi tertunduk demi menyadari jika Danuja Memang lahir diluar pernikahan. Dan sedikit banyak, ia tahu akan hal itu. Merasa senang sebab para tetua itu telah memikirkan hal yang tepat, bahkan jauh sebelum ia memikirkannya.
Benar-benar definisi dari kasih orang tua itu sepanjang masa.
" Jangan di persoalkan. Semua orang punya masa lalu. Yang paling penting, bagaimana kita mau merubah diri kita untuk hari depan!" Ujar Bastian yang masih menjagai Danuja.
Jodhi tertegun dan mendadak teringat akan sesuatu.
" Kamu mau kemana?" Tanya Abimanyu kala melihat Jodhi yang hendak pergi.
__ADS_1
" Mau menemui Lintang!"
" No need!" Abimanyu menggelengkan kepalanya.
" Kenapa?" Tanya Jodhi dengan alis bertaut.
Bastian menghela nafasnya, " Jatah kamu momong hari ini, mereka semua mau pergi berbelanja!"
" Hah? Momong? Aku?" Tunjuk Jodhi pada dirinya sendiri.
Abimanyu mengangguk, " Ya siapa lagi, orang anak kamu!"
Membuat Bastian tergelak demi melihat wajah murung Jodhi. Rasain Lo!
.
.
Jonathan
Ia hanya diam saat melihat bibir ceriwis itu tiada hentinya berkelakar, dan tanpa sungkan ngobos dengan pegawai hotel yang mulai tak tahan untuk tak tertawa itu.
" Aku nih kalau di hotel begini, paling kasihan sama cleaning service sama tukang laundry!"
" Kenapa bisa begitu Mbak?"
" Karena pasti mereka kerap nemuin barang tak lazim kan? Fla dalam gulungan sprei, atau tembok kamar mandi yang..." Denok tekrikik-kikik sendiri.
" Yang apa?"
" Ah pikir aja sendiri. Udah pernah lihat film kakek Sugiono yang dari Jepang itu kan? Nah itu sudah!" Sahutnya makin terkikik.
" Ya sudah mbak, kami permisi dulu, maaf ya. Terimakasih!" Jonathan langsung menarik tangan Denok dan menyeret wanita itu pergi, sebab makin tak tahan saja demi mendengar obrolan absurd itu.
" Jon, Jon! Kebiasaan narik terus nih orang! "
" Jon! Ah elah, orang lagi asik tebar pesona juga, siapa tahu dia mau booking ak..."
" Kalau gitu, biar aku yang booking kamu!"
" Hah?"
.
.
.
.
.
.
.
Sugeng Dalu, selamat malam, good night eperi badeh ( every body) πππ.
Semoga pada bebas pilek sama batuk di musim pancaroba ini ya. Mommy seneng banget, hari ini Raka sama Jodhi akhirnya nangkring di beranda. Makasih banyak yang selama ini doain serta kasih dukungan.
Selamat beristirahat malam.
salam hangat
mommy Eng ππππ€π
__ADS_1