Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 21. Bertemu lagi


__ADS_3

Bab 21. Bertemu lagi


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


Sejak ia terkesima dengan ucapan temannya yang mengandung kadar idealis tinggi itu, ia merasa Dewi merupakan pribadi yang baik dan luwes. Membuat Raka semakin intens berjalan berdua dengan wanita itu.


Seperti siang ini misalnya. Ia sengaja mengajak Dewi makan siang di sebuah restoran yang dekat dengan kawasan Delta Group, sebelum dia akan ada rapat penting dengan direksi dan jajarannya.


" Tumben kamu mau makan diluar begini, ada apa?" Tanya Dewi sembari menunggu pelayan datang ke meja mereka.


" Ya... mumpung sempat. Dan...." Raka bingung memilih kata yang tepat.


" Anggap aja, ini sebagai wujud terimaksihku karena kamu beberapa hari ini sering kasih saran positif ke aku Wi!"


" Terutama soal Citra!" Ucap Raka menatap Dewi seraya tersenyum senang.


Dewi terlihat membetulkan anak rambutnya yang sedikit berantakan, " Itu biasa Ka. Lagipula, menjadi seperti Citra itu merupakan hal yang sulit. Bocah itu pasti kesepian dan sedang mencari perhatian orang-orang di sekelilingnya!" Ucap Dewi degan penuh penekanan, dengan tatapan yang terlihat menerawang.


Membuat Raka sedikit mengerutkan keningnya.


" Oh ..maksud aku, kita sebagai orang tua memang sudah sepantasnya menjadi teman buat anak-anak kita!" Ucap Dewi tersenyum penuh keramahan begitu menyadari jika Raka menatapnya penuh keheranan.


Membuat Raka turut menyambut senyuman itu.


Sejurus kemudian, datang pelayan yang membawa buku menu. Ia membiarkan Dewi memilih menu santap siang untuk mereka. Dan dari mejanya duduk, tanpa sengaja ia melihat Galuh yang kini tertawa cekikikan dengan seorang wanita berambut pendek.


Entah mengapa, Raka menjadi kepo. Guru anaknya itu terlihat berjiwa bebas sekali karena di jam sibuk seperti ini, ia malah terlihat bersantai dengan seseorang.

__ADS_1


Tunggu dulu, kenapa dia mau tahu?


" Apa yang dia lakukan disini?" Batin Raka menatap lurus ke arah Galuh. Membuat Dewi turut mengikuti pandangan Raka.


Dewi menatap Galuh tak suka.


" Ehem...Ka, kamu mau makan apa?" Tawar Dwi kepada Raka yang terlihat lekat menatap ke arah lain.


" Ehh...samain aja Wi, biar cepet!" Ucap Raka yang kini masih mencuri pandang melirik Galuh yang masih terlihat tergelak dengan lepas.


.


.


Galuh


Rumah dengan ukuran lumayan itu merupakan rumah Adipati dan Galuh yang sengaja di hadiahkan kepada mereka, sebagai hadiah pernikahan oleh orang tua Adipati.


Tak banyak yang Galuh harapkan sebenarnya. Ia hanya ingin Adipati mau melihat keberadaannya. Sukur-sukur dia bisa menjalani mahligai rumah tangga yang normal, seperti para manusia lainnya.


Mas Adi jelas akan pulang malam bahkan larut. Itu sudah biasa. Meskipun ia merupakan istrinya, tapi ironisnya ia merupakan orang yang sama sekali tidak tahu menahu soal kesibukan suaminya itu.


Benar-benar menyedihkan.


Ponselnya pun hanya ia gunakan untuk berselancar di dunia maya, atau sesekali memburu bisa dengan membaca novel online saat tugas sekolahnya telah rampung.


Tidak ada kabar apapun dari suaminya itu.


" Mbak, ini santan yang warnanya hijau itu tidak ada kah?" Tanya Galuh pada pegawai supermarket berseragam merah dengan logo Chandrakanta itu.


" Oh ada Bu, sebentar saya ambilkan!" Tutur pegawai berhijab itu dengan ramah.


Sembari menunggu pegawai itu, dari kejauhan ia melihat sepasang suami istri yang juga berbelanja bersama. Pria itu mendorong troli seraya menggenggam tangan istrinya yang sudah hamil besar.


Lihatlah, betapa bahagianya orang itu. Lalu bagaimana dengan dirinya? Senyum kecut tersungging dari bibir Galuh saat melihat interaksi pasangan romantis itu. Entahlah, saat berada diluar, ia semakin sering membuat perbandingan dirinya dengan orang lain.

__ADS_1


Dan sialnya, semua itu justru membuat dirinya semakin merasa nestapa.


" Ini Bu santannya, ada lagi?" Tanya karyawan itu dengan sopan.


"Sudah mbak, itu aja!" Galuh menyerahkan satu keranjang besar belanjaan kepada pegawai manis itu.


Kini, ingatannya kembali pada Citra yang tersenyum senang setiap dia datang.


" Gadis itu selalu terlihat bahagia jika aku datang. Huft! Setidaknya aku masih bisa merasakan menjadi orang yang dibutuhkan saat bersama dengan anak-anak!"


Galuh melamun saat menunggu kasir menghitung belanjaannya. Ia merasa masih ada sedikit hal yang masih bisa membuatnya tersenyum. Citra.


Ya, setidaknya masih ada yang mengakui keberadaannya sebagai manusia.


" Fa, papa disini?" Suara bass yang terdengar familiar membuatnya turut menoleh ke belakang.


DEG


" Orang ini?"


" Ada Mas, Pak Indra sama mas Jata lagi nunggu di atas!"


Membuat Galuh membulatkan matanya


" Papa?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2