
Bab 107. Menemukanmu
.
.
.
...Separuh langkahku saat ini...
...Berjalan tanpa terhenti...
...Hidupku bagaikan keringnya dunia...
...Tandus tak ada cinta...
...Hatiku mencari cinta ini...
...Sampai kutemukan yang sejati...
...Walau sampai letih 'ku 'kan mencarinya...
...Seorang yang kucinta...
...Kini 'ku menemukanmu...
...Di ujung waktu 'ku patah hati...
...Lelah hati menunggu...
...Cinta yang selamatkan hidupku...
...( Seventeen ~ Menemukanmu)...
...🌺🌺🌺...
Jodhistira
Ia semalam mabuk karena tak bisa menahan dirinya. Tapi masih bisa menjaga syahwatnya sebab Jonathan menyusulnya ke pub. Definisi dari assisten multitasking yang gercep alias gerak cepat, kala mendapati bos-nya belum kembali di jam selarut itu.
Pria tinggi yang terkadang sama mengerikannya dengan Jodhi itu , sepertinya menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Membuktikan jika rekomendasi dari Devan selalu Numero Uno.
Dan hal itu, sukses membuat Debby kesal karena fantasinya yang akan menikmati tubuh kekar Jodhi, sirna dalam sekejap. Damned!
Pagi jelang siang itu, ia sudah ada di pabrik bersama Jonathan. Ia ingin meninjau langsung mekanisme produksi dan memberikan pengarahan langsung sebelum mereka bertolak ke kota J. Ia yang merasa pusing, dan tak enak badan detik itu juga pamit kepada Jonathan untuk kembali ke hotel terlebih dahulu.
Lagipula ia tak suka jika terlihat lemah di hadapan para pegawainya.
" Saya antar atau gimana Pak?" Tawar Jonathan yang berbisik di samping telinganya.
Ia menggeleng. " No need! Kamu lanjut aja. Kalau beres, kita lusa balik ke kota J!"
Jonathan mengangguk tunduk meski khawatir dengan atasannya itu.
Jodhi merasakan kepalanya makin pusing saja. Jodhi juga merasa jika ia sepertinya mulai gila. Karena merasa melihat Lintang dimana-mana.
Seperti saat ini, ia yang dari kejauhan tanpa melihat seorang wanita yang mirip dengan Lintang namun berwajah layu tanpa riasan, dan kedapatan mengendong seorang balita yang sempat ia lihat di rumah sakit beberapa waktu lalu, tengah sibuk mengobrol dengan pria tua yang duduk diatas becak.
DEG
__ADS_1
Membuat rasa pusing di kepalanya seketika lenyap.
" Lintang?"
Ucapnya bergetar dengan mata tak lepas menatap orang yang kini semakin dengan dari pandangannya.
Tubuh Jodhi juga makin memegang kala melihat bocah yang kini di gendong Lintang, sama persis dengan bocah yang membuat dirinya dirundung keresahan beberapa waktu lalu.
" Anak itu?" Ucapnya lagi dengan wajah yang semakin pias.
Ia bahkan kini telah menurunkan kaca mobilnya, demi memperjelas pandangannya guna memastikan objek yang ia tangkap itu.
" Lint...."
BRUAAK!!!
Ia yang berniat menepikan mobilnya, sampai tak menyadari jika di depannya ada sesuatu yang teronggok disana, saking fokusnya dalam mengamati orang yang membuat hatinya berdebar kencang itu.
DEG
DEG
DEG
Dan benar saja. Ia kini mematung beberapa detik dengan rasa campur aduk yang mendadak menyerangnya tanpa ampun. Marah, sedih, tak percaya, bahagia. Semua bertangkup satu. Menyerang nuraninya.
Tanpa terasa, sesosok yang kini tubuhnya bergetar hebat itu, menitikkan air matanya dengan dada yang bergemuruh hebat kala menatap Lintang yang juga mematung beberapa detik.
" Lintang!" Ucapanya lirih seraya menatap seraut pucat yang kini terlihat syok manakala melihatnya.
" Lintang!"
Ia berteriak-teriak kala wanita itu kini berlari menjauh dari lokasi itu. Membuatnya gusar dan seketika dengan cepat mengejar Lintang, tanpa mempedulikan tatapan penuh keingintahuan dari para pengguna jalan terlebih Pak Ilmi.
"Lintang tunggu!!" Ucapnya dengan suara yang lebih keras, sembari tekun menyusut air mata yang tak mau berhenti mengalir.
Siapa anak yang di gendong Lintang itu? Mengapa Lintang berada di tempat ini?
Terlalu banyak pertanyaan yang kini memenuhi otaknya, kala ia belum bisa mencerna semua yang terjadi.
Jodhi terus berlari sekuatnya. Ia bahkan beberapa kali menabrak pejalan kaki yang membuatnya terhadang. Hingga akhirnya, ia berhasil mencekal tangan wanita itu.
" Lintang dengar aku, tolong!"
Ucap Jodhi dengan napas tersengal-sengal sebab rasa di dalam dadanya benar-benar campur aduk, manakala ia berhasil meraih tangan kiri Lintang.
" Lepas brengsek, aku akan teriak jika kamu memaksa!"
Lintang menatapnya penuh kebencian. Ia sama sekali tak menduga, selama beberapa tahun, mereka di pertemuan lagi. Lintang benar-benar takut dengan Jodhi, lebih tepatnya ia trauma.
Lintang merasa murka, marah, jijik, benci, kecewa dan benar-benar takut.
" Please tolong Lin, aku selama ini nyari kamu, tolong maafin aku!"
Ucap Jodhi yang mulai mengatur napasnya seraya menatap Lintang muram dengan posisi masih mencekal tangan Lintang yang kini berkeringat.
" Tolong!!" Lintang mulai berteriak karena ketakutan. Wanita itu seolah tak mau mendengar apapun dari bibir pria brengsek yang telah membuat hidupnya hancur itu.
" Lin, please dengar aku dulu, aku Jodhi. Jodhistira Mavendra teman sekelas kamu waktu SMP, adiknya Raka!"
__ADS_1
DUAR!!!
Petir seolah menyambar Lintang. Padahal hari itu cerah, tiada mendung apalagi hujan.
" Jodhi?" Apa maksud pria itu?
Jodhi berkata dengan tergesa-gesa dengan intonasi yang campur aduk. Ia hanya ingin membuat waktunya tidak sia-sia.
Jodhi menatap murung Lintang penuh emosional. Ia harus cepat mengakui siapa dirinya agar ia bisa meminta maaf kepada wanita itu. Namun, usaha yang ia lakukan rupanya tak semudah yang Jodhi bayangkan.
PLAK!!!
Ia tercengang kala tangan kanan Lintang kini menamparnya dengan sangat keras. Membuat pipinya seketika kebas dan pedih. Namun, rasa itu bahkan tak seberapa dengan rasa sakit yang di kecap Lintang selama ini.
Danuja kini menangis. Naluri bayi itu pasti tersambung dengan getaran jiwa Lintang yang saat ini sangat emosi dan dipenuhi kemarahan yang membuncah.
"Laki-laki brengsek!" Maki Lintang penuh kekecewaan serta hati yang sesak. Ia bahkan tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dadanya terlalu penuh dengan amarah, kalau ada kata yang lebih buruk dari itu, ingin rasanya Lintang lontarkan ke wajah Jodhi detik itu juga.
"Lintang tolong dengar aku, aku..."Jodhi berusaha meyakinkan Lintang jika ia benar-benar ingin memperbaiki kesalahan yang ia perbuat.
" Tolong!!!"
Namun kekecewaan dan kebencian Lintang yang tiada bertepi itu, membuatnya berteriak dan membuat banyak warga mulai menaruh atensi. Membuat Jodhi kini menelan ludahnya.
" Lin, kita bisa bicara baik-baik... tolong kamu jangan berteriak!" Ucap Jodhi mulai panik sebab teriakan Lintang mulai mengundang perhatian warga sekitar.
" Tolong!!"
" Tolong!"
Lintang tak mempedulikan perkataan pria itu. Ia kini benar-benar ingin bebas dari jeratan Jodhi demi membunuh rasa takutnya. Ia terus berteriak bahkan membuat Danuja makin menangis kencang.
Jodhi yang merasa ini tak baik untuknya, seketika melepaskan cekalan tangan Lintang sebelum ia kena amuk masa.
Ia mengumpat dalam hatinya, demi melihat keadaan yang sama sekali tak menguntungkannya itu. Ia masih sempat menatap Lintang yang kini berusaha menenangkan bayi itu.
Ada rasa hangat yang mendadak menelusup ke relung hatinya, kala Jodhi menatap bayi yang ia yakini sama persis dengan yang ia temui di rumah sakit tempo hari, yang detik itu juga masih menangis.
" Tapi siapa dia?"
" Woy!"
" Sial!" Ucapnya tak memiliki pilihan selain lari, karena warga mulai berduyun-duyun mendatanginya.
" Aku akan datang kembali!" Ucapnya menatap Lintang yang kini membuang pandangannya ke arah lain.
Sejurus kemudian Jodhi berlari pergi dengan menangis, sebelum ia menjadi bulan-bulanan warga.
" Jonathan, temui aku di seratus meter sebelah kananpabrik. Bawa keamanan kita!" Ucapnya terburu-buru dalam menelpon assistenya itu, sebab ia berlari.
" Terimakasih Tuhan, Engkau mempertemukan aku dengan dia!" Lirih Jodhi dalam tangis yang makin menjadi.
Pria itu sejurus kemudian terlihat berusaha menelpon seseorang lagi, saat ia masih gencar berlari.
.
.
.
__ADS_1