
Bab 99. Berkalang tanah
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Lintang terbangun saat jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Diliriknya wajah Ibu terlelap di atas kasur tipis di sampingnya. Ia mendengar suara berisik dari sisi barat dinding rumah Yanti.
Lintang bangun dan rupanya melihat wanita dengan cukuran rambut semi pria itu berjibaku dengan botol-botol plastik di bawah temaram lampu berwatt rendah, di jam selarut ini.
Sebuah bohlam kecil dengan sorot jingga yang redup, kini menyuluh wanita yang berwajah lelah itu, diantara rongsokan yang bagi sebagian orang tiada berguna. Kemiskinan nyatanya sering membuat orang-orang terpaksa untuk tak mempedulikan tubuh mereka yang lelah.
" Buk!" Panggilnya kepada wanita berkulit legam itu. Membuatnya seketika menoleh.
" Loh mbak, kok bangun? Berisik ya soalnya? Maaf ya mbak, soalnya besok pagi ini musti saya setor ke pengepul!" Jawab Yanti yang kini meraup gunungan barang bekas yang menjadi sumber penghidupannya itu.
Lintang tertegun. Ia sebenarnya tak terganggu dengan aktivitas Yanti malam itu. Ia memang sering terjaga tiap malam sejak hamil ini. Yanti yang tak sengaja melihat perut Lintang yang membuncit, kini menjadi penasaran. Ia tadi tak melihatnya sebab Lintang mengenakan jaket yang kedodoran.
" Saya memang hamil mbak!" Ucap Lintang yang mengerti keterkejutan Yanti. Lintang berucap dengan wajah datar dan mata sembab akibat lelah menangis, ia tahu bila Yanti pasti ingin menanyakan hal itu.
Yanti terhenyak dan agak kaget dengan penuturan Lintang. Wanita itu menjawab bahkan sebelum ia menjawab. Begitu pikir Yanti.
" Apa nanti akan jadi masalah kalau disini saya hamil tanpa suami?" Ucapnya datar demi mengingat sebab musababnya ia berada di tempat itu.
Yanti seketika menghentikan kegiatannya dalam menyortir botol-botol bekas itu. Menatap Lintang yang kini berderai air mata.
" Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Alis Yanti sampai berkerut demi keheranannya.
Lintang menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. " Saya adalah korban pemerkosaan Bu!"
Yanti mendelik. Ia benar-benar terkaget . " Korban pemerkosaan?" Uang Yanti dengan wajah terkejut.
Lintang mengangguk lemah seraya menitikkan air matanya. Perempuan itu akhirnya menceritakan semua yang ia alami. Semuanya, tanpa tanggung-tanggung. Terserah Yanti nanti akan berpikir bagiamana soal dirinya. Ia hanya ingin jujur agar ia tak mendapat masalah lagi nanti.
Yanti terlihat menyusut matanya berkali-kali manakala Lintang terus dan terus membeberkan apa yang ia alami. Tak menyangka jika yang ia alami semasa muda dulu, kini menimpa orang yang ia tolong.
" Kamu benar-benar mengingatkan diri saya yang dulu !"
Mereka akhirnya saling bertukar cerita. Tentang kehidupan yang seolah tak adil, tentang mengapa pria dengan mudahnya menyakiti seorang wanita.
Lintang yang turut membantu mengupas kulit plastik gelas air mineral itu, kini juga saling mengisi malam itu dengan obrolan yang berisikan kehidupan mereka.
__ADS_1
" Lalu, dimana anak ibuk?" Tanya Lintang yang penasaran. Menahan Yanti malah sebatang kara di usianya yang sudah kepala lima itu.
" Anakku sudah meninggal karena sakit saat usia baru tiga bulan. Dia lahir prematur karena semasa hamil aku tidak pernah memeriksakan kandungan. Aku terus memulung demi bisa membeli makan tanpa mempedulikan kesehatan bayiku!"
Lintang menelan ludahnya kala melihat senyum sumbang dari wajah Bu Yanti. Ia juga tak memeriksakan kandungannya sama sekali selama ini. Ketakutan mendadak menyerangnya. Apalagi, ia pernah memukuli perutnya karena tak mau mengandung anak bajingan itu.
Wanita berusia 50 tahun itu mengaku tak mau menikah lagi sebab trauma dengan perlakuan kasar laki-laki.
" Makanya saya begini mbak, biar enggak ada yang doyan sama saya. Biar saja sampai mati begini terus. Kata orang suci, anakku bisa jadi penolongku nanti di keabadian sana. Yang penting saya bisa makan aja. Saya enggak sempet mikir yang begituan mbak!"
Terenyuh.
Sepenggal kisah pilu dari seorang wanita miskin yang bermurah hati karena menjadi malaikat penolongnya itu membuatnya sedikit bisa berpikir waras.
" Anak itu enggak tahu apa-apa mbak. Sebaiknya biarkan saja dia ngenger ( bersemayam) di dalam perut!"
" Bayi itu enggak bisa milih dia dilahirkan dari rahim yang mana!"
Lintang seolah tertampar dengan ucapan Yanti. Pemikiran wanita itu sama persis dengan pemikiran ibunya.
" Saya aja sampai dikatakan gila dulu mbak waktu anak saya meninggal. Saya tangisi sampai berhari-hari. Kadang mikir, kok kebangetan banget saya di kasih hidup kayak gini!"
Lintang turut menyusut matanya berkali-kali, saat Yanti juga melakukan hal yang sama manakala bercerita.
Dan malam itu, ia berjanji akan membalas semua kebaikan Yanti jika nasibnya berubah nanti.
Yanti mengangguk. Pertemuannya ya sengaja dengan dua manusia nelangsa itu, menjadi titik awal kehidupan baru Yanti.
Malam hangat yang baru saja ia lewati bersama wanita tangguh itu tak bertahan lama.
Jelang subuh, Lintang yang terbangun karena kemihnya penuh, berniat menuju kamar mandi. Ia menatap punggung ibunya yang membelakanginya. Lintang tersenyum. Ia masih bisa melihat napas teratur dari punggung yang bergerak lambat itu.
Namun, ia yang baru saja selesai dari buang air kecil melihat keanehan di wajah ibunya. Ibunya sangat pucat dan posisinya tak berubah sama sekali dari tadi.
" Buk!" Panggilnya mencoba membalikkan badan ibunya namun terasa aneh.
" Ibuk!" Ulangnya demi melihat ibunya yang tak bereaksi, saat ia berucap agak kerasa.
Lintang mematung manakala menyentuh tangan ibunya yang dingin dan kaku.
" Ibuk!!!" Ucapnya sekali lagi dengan suara bergetar dan jantung yang mendadak berdegup kencang.
Yanti yang baru bangun dan hendak memulai pekerjaannya kembali itu, terkejut manakala melihat tubuh Lintang yang bergetar memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa itu.
Innalilahi wa innalilahi rojiun.
__ADS_1
.
.
Menguburkan jenazah merupakan kewajiban semua umat. Usai Yanti melaporkan kejadian itu kepada pemerintah setempat dalam hal ini ketua rukun warga, dan menceritakan kepada mereka bila Lintang dan ibunya merupakan saudara jauh, akhirnya Ibu Lintang di makamkan di TPU yang berada di kawasan perumahan padat penduduk itu.
Lintang yang belum ikhlas menerima kenyataan yang ada, kini menatap nanar kerumunan orang yang menggotong keranda berisikan jenasah ibunya menuju liang lahat tanpa berucap apapun.
Tak pernah ia sangka dan tak pernah ia duga, jika ibunya akan meninggal dirumah orang yang baru mereka kenal. Sedari tadi ia hanya bisa berdiam diri dengan tatapan kosong. Air matanya bahkan tak mau keluar. Jiwanya benar-benar terguncang.
Ya, kini ia harus terima kenyataan jika Tuhan sudah memanggil ibunya kembali ke keabadian.
Ketidakmampuan untuk membeli obat, serta keadaannya yang kini hamil, membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit. Lintang membenci pria itu. Benar-benar membenci. Karenanya, ia telah kehilangan banyak hal. Pekerjaan, harga diri, kesucian, terlebih orang tua satu-satunya kini turut hilang.
Andai pria itu tak melakukan semua ini, pasti ia bisa bekerja dan mengupayakan agar ibunya bisa sehat.
Aku benar-benar membencimu!
Sore itu, saat ia sendiri di dalam rumah Yanti. Ia menangis sejadi - jadinya, demi mengingat ibunya yang kini telah mati. Ia terus menangis dan terus menangis. Membiarkan hal yang menyesakkan dadanya terlupakan.
Lintang baru bisa menangis kala kesunyian kini menyerangnya. Ya Tuhan? sanggupkah?
.
.
Dua setelah kematian sang Ibu. Ia yang sadar karena telah merepotkan Yanti, wanita miskin yang naik hatinya itu, memberanikan diri untuk berbicara.
Lintang berniat untuk mencari pekerjaan. Meski Yanti baik, tapi wanita itu tetaplah orang lain untuknya.
" Buk!" Ucapnya saat Yanti menjemur baju di pekarangan rumahnya.
" Tinggallah disini!" Jawab Yanti berbalik dengan wajah sendu yang menyiratkan kesedihan yang mendalam. Membuat Lintang terkejut.
" Jika kau percaya takdir, maka kau juga harus percaya jika Tuhan mempertemukan kita tidak lain karena aku harus menolongmu. Atau...bisa jadi nanti kau yang akan menolongku!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.