Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 108. Naluri anak


__ADS_3

Bab 108. Naluri anak


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


Ia tengah membantu menggendong baby Angga, kala ponselnya bergetar berulang kali. Semenjak memiliki bayi dan Galuh tengah hamil kembali, Raka selalu menyesuaikan jam masuk kantornya. Untung saja dia bosnya. Jika tidak, ia pasti sudah terkena SP3.


" Jodhi?" Gumamnya saat melihat nama yang tertera di ponselnya, dan sejurus kemudian pria ganteng itu meletakkan kembali baby Angga ke dalam baby box di kamarnya.


" Hal..."


"Halo Ka!! Raka!! Gue ketemu sama Lintang! Gue nemuin dia Ka!"


Suara penuh antusiasme dari sepupunya itu membuat Raka turut tersenyum dengan rasa yang beraneka.


Hati Raka turut lega demi mendengar suara riang yang penuh emosional dari ujung teleponnya. Ini sudah lewat dua tahun sejak perubahan sikap pria itu, dan mendengar Jodhi sebahagia itu ,ingin rasanya Raka memeluknya detik itu juga.


" Oke, gue turut senang. Tapi dimana elu lihat, gimana reaksinya?"


" Gue gagal fokus sama bayi yang di gendong Lintang Ka, asli enggak tau kenapa, tiap gue lihat anak itu, gue berasa ingat duit gue waktu bayi Ka!


" Gue gak bisa cerita banyak . Tapi...Gue bisa minta tolong satu hal enggak?"


Kening Raka mengerut saat mendengar kata ' bayi' serta intonasi Jodhi yang berubah murung.


" Apa?"


" Lo ijin ke Galuh buat terbang kesini bisa nggak?"


.


.


Jodhistira


Usai menghubungi kakak sepupunya itu, ia sedikit lega. Meskipun jawaban dari Raka masih fifty firty, tapi ia yakin jika Galuh pasti akan mengijinkannya.


Ya, Jodhi sepertinya memerlukan campur tangan Raka dalam urusannya kali ini. Sebab yang tahu menahu soal skandal yang ia hadapi, hanyalah Raka seorang. Akan sangat tidak baik jika keluarganya tahu.


Saat hendak kembali ke mobilnya, ia mendapat suguhan tatapan sengit dari pria tua yang kulitnya legam sebab terbakar terik matahari, bersama orang-orang yang sudah banyak.


Membuat Jodhi terkejut.


" Nah tuh dia tuh orangnya!" Ucap Pak Ilmi yang kini sudah melaporkan hal itu kepada Bli Komang serta beberapa warga pinggiran jalan besar itu.

__ADS_1


" Mana Lintang? Kamu apain dia? Dia tadi habis nabrak gerobak milik Lintang terus lari ngejar Lintang sama Danuja!" Ucap pak Ilmi berapi-api dengan wajah yang penuh kemarahan.


" Danuja?" Batin Jodhi mengulang nama asing itu.


Bli Komang menatap tajam pria berjas rapih di hadapannya itu. " Siapa anda? Anda harus bertanggungjawab, kemana Lintang?"


Jodhi sebenarnya tidak takut dengan orang-orang disana, ia bisa saja mematahkan leher dan tulang orang-orang di depannya itu, tapi agaknya mereka yang ada di sana mengenal Lintang, dan itu tak baik jika ia salah mengambil sikap.


" Maaf Pak, tadi saya sebenernya berniat mau ganti rugi, tapi Lintangnya kabur!" Ucap Jodhi tak pandai beralibi.


" Bohong!" Sergah Pak Ilmi cepat yang memang menjadi saksi mata. " Saya lihat dan dengar kamu manggil-manggil Lintang sampai anak itu takut! Bli, kita laporkan ke polisi saja Bli!"


Pak Ilmi bahkan sampai menunjuk-nunjuk wajah Jodhi. " Jangan mentang-mentang kamu kaya bisa seenaknya sama wong cilik kamu!"


" Ada apa ini?"


Terdengar suara bariton yang berasal dari salah satu rombongan pria gagah yang kini berjalan ke arah mereka.


Membuat Pak Ilmi dan yang lainnya membulatkan mata.


" Ada apa bos?" Ucap seorang pria yang mengenakan baju safari berwarna biru navy, dengan mengenakan sepatu hitam bersih. Mengangguk sopan terhadap Jodhi.


Pak Ilmi, Bli Komang dan tiga orang lainnya seketika mendelik saat mendengar Pak Yogi, pria yang mereka ketahui sebagai kepala keamanan di pabrik itu, pria berduit yang kerap mau dan sudi ngopi di warung-warung kecil di wilayah mereka itu, memanggil Jodhi dengan sebutan ' bos '.


" Ada apa Bli?" Tanya Yogi dengan wajah santai. Membuat pria bertato itu kini berwajah pias.


" Emm...ini Pak, tadi..." Bli Komang menjadi gelagapan. Apakah pria itu memang bukan tandingannya?


Pak Ilmi hanya berpikir, kenapa pria itu membuat Lintang takut.


Jodhi diam sewaktu mereka mengeluarkan ucapan-ucapan yang sebenarnya merupakan sebuah kebenaran.


Pak Ilmi memang ada disana saat Jodhi tadi mengejar Lintang. Tapi fokusnya kali ini ialah, siapa bayi yang dibawa oleh wanita yang selama ini membuatnya resah itu.


" Jadi ini dagangan biasa di ambil Lintang dari anda?" Tanya Yogi yang agak terkejut.


Membuat hati Jodhi sakit. " Hidup seperti apa yang kamu jalani selama ini Lin?" Jodhi merasa ia perlu menggali cerita lagi dari orang-orang bersahaja itu.


" Bapak bisa tanya sendiri ke orangnya. Udah lah, jadi ini gimana? Udah ancur begitu tolong di ganti, tapi... sekarang ini masalahnya Lintang kemana?"


Yogi diam dan terlihat melirik Jodhi yang nampak berpikir.


" Jo, kamu ikut saya. Yog, bereskan ini. Ganti semua yang rusak, tolong ganti saja semuanya! Nanti temui saya di hotel kalau sudah beres!"


" Siap Pak!"


Jodhi kini melenggang pergi meninggalkan orang-orang yang mematung disana. Ia kini gencar berpikir bagiamana cara menemukan Lintang. Ia yakin, Lintang pasti tinggal tak jauh dari daerah sini.


Jonathan yang belum mengetahui apapun itu kini hanya diam. Pria itu menangkap kilatan hari dari dua netra Jodhi.


" Apa yang sebenarnya terjadi?"

__ADS_1


.


.


Lintang


" Siapa tadi itu Lin? Kenapa kamu dikejar-kejar?" Tanya salah seorang warga yang sudah mengenal Lintang, sesaat setelah Jodhi enyah.


" Aku enggak tahu pak, sepertinya orang enggak waras. Tiba-tiba nabrak daganganku terus ngejar aku. Makanya aku teriak-teriak!" Jawab Lintang bohong dengan napas ngos-ngosan.


Membuat beberapa orang disana saling menatap. Mana ada orang waras berpakaian rapih dan mahal serta bersepatu mengkilat.


" Udah bubar semua! Terimakasih udah pada bantu" Ucap pria beruban yang ada di samping Lintang, dan sukses membuat kerumunan itu buyar.


Pria itu nampak memperhatikan Lintang yang kini tekun menyusut air matanya, sambil tekun menenangkan anaknya yang masih menangis kencang. Terlihat ada sesuatu yang terselubung.


" Kenapa anak elu enggak mau diem Lin? Kasihan banget, apa dia sakit?" Tanya pria itu lagi sambil menempelkan tangannya ke kening Danuja yang kini menangis meronta.


Lintang juga merasa resah dan kalut, ia juga bingung mengapa Danuja seperti memberontak ingin turun. " Enggak tahu Pak, biasanya juga enggak gini. Mana dagangan saya masih di sana, aduh gimana ini..." Lintang panik sebab tangis Danuja makin menjadi.


Membuat bapak-bapak tua itu merasa bingung dan kasihan di waktu bersamaan. Ia tidak tahu dan tidak berani bertanya soal pria tadi. Lintang wanita tak bersuami yang memiliki anak. Ia takut menyinggung perasaan Lintang. Wanita muda ramah yang memiliki nasib busuk.


" Gini aja deh, kamu pulang aja bawa anak kamu Lin. Nanti aku tak ngasih tau ke Komang kalau anak kamu rewel, kasihan dia!"


" Tapi pak!"


" Udah! Aku tahu kok rumah kamu, itu kasihan anak kamu begitu. Saya enggak tega, udah sana cepat kamu bawa pulang. Komang pasti juga ngerti kok!"


Ucap pria itu murung dengan sorot mata tulus, demi melihat Danuja yang menangis hingga sekujur tubuhnya memerah karena meronta-ronta tanpa sebab.


Lintang merasa beruntung. Sebab saat ia di timpa persoalan, nyatanya selalu ada orang baik yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi dewa penolongnya.


" Tolong diamlah nak, tolong! Ibu mohon, kamu jangan buat Ibu sedih dan bingung begini. Orang tua kamu cuma satu, cuma Ibuk. Orang itu tadi bukan siapa-siapa kita nak, bukan siapa-siapa. Jadi tolong kamu jangan nangis terus, biarkan dia pergi!"


Batin Lintang menjerit. Ia tahu, secara batiniah, Danuja pasti mengenali siapa pria yang datang tadi. Bagiamanapun juga, darah yang mengalir dalam tubuh Danuja, merupakan darah yang sama yang berada dalam tubuh pria , yang terlanjur ia cap sebagai pria brengsek tadi.


.


.


.


.


Mas Jo



.


.

__ADS_1


.


__ADS_2