Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 149. Resah di tengah sukacita


__ADS_3

Bab 149. Resah di tengah sukacita


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Denok


Jangan panggil dia Denok jika tidak mudah membuat huru- hara di segala penjuru wilayah jagad raya ini.


Usai menandaskan sepiring nasi dengan lauk menjulang bagai gunung Galunggung itu, dalam keadaan gerilya wanita itu melesat pergi demi menyadari jika kedua pengantin baru itu pasti pergi sebab berganti baju.


Dari tempat makan yang kini mulai di datangi para tamu, ia menyelinap diantara riuh rendah undangan yang datang dari berbagai elemen masyarakat itu.


" Woy, ruang ganti manten di sebelah mana?"


Gayanya yang ceplas-ceplos itu, tak ayal membuat seorang petugas enginer hotel yang kedapatan melintas tersebut, menatap bingung ke arah wanita yang kini lipstik nya tergerus separuh, akibat aksi memamahbiak.


" Anda siapa?" Tanya pria dengan name tag Surya Bagas itu dengan wajah terkejut.


" Aku?" Jawab Denok seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Pria itu menautkan kedua alisnya lalu mengangguk.


" Aku adalah insan yang tak punya, cuma punya rasa cinta di dada, lalu tercipta rinduku padanya, kerana cinta baha..."


" Ruang ganti ada di lantai dua!" Sahut pria itu cepat demi melihat manusia aneh, yang malah menyebutkan lirik panjang lagu band ternama asal negeri Jiran , yang jaya di masanya.


Benar-benar gemblung!


Membuat Denok tergelak kencang manakala melihat pria itu terbirit-birit dengan ekspresi bergidik ngeri.


Pria itu pergi seraya menggelengkan kepalanya heran. " Kok bisa aku ketemu mahluk kek gitu!"


Membuat Denok kembali tekrikik-kikik.


Senang sekali rasanya bisa menyapa para khalayak kaku di muka bumi ini. Bagi Denok, hidup ini lebih terasa ringan jika kita slow manakala menjalani.


Berbekal info dari manusia menggelitik tadi, Denok kini meluncur ke lantai yang telah di sebutkan oleh Surya. Namun, rupanya di lantai dua itu ada banyak sekali ruangan tertutup, yang juga membuatnya kembali bingung.


" Brengkek emang si Surya tadi. Ngerjain orang tua !" Gumamnya berkacak pinggang.


" Eh mbak, ruang ganti buat Lintang sama Jodhi mana? Saya keluarganya!" Ucap Denok yang kali ini lebih normal, kepada CS bertubuh mungil, yang tengah kerepotan membawa peralatan bekerjanya.


" Oh, sebelah sini Bu!"


Usai bertanya pada cleaning service perempuan yang lebih ia manusiakan itu. Ia kembali menyeret langkahnya menuju ke tempat yang di sebutkan tadi.


Namun, ia agak terkejut manakala dari jarak yang cukup jauh, ia melihat orang yang keluar dari ruangan yang disinyalir menjadi tempat dimana Lintang berada.


" Semoga aja Lintang masih disana. Akan susah banget aku nemuin kalau dia udah balik ke pelaminan!" Gumamnya sembari berjalan menyongsong wanita itu.


" Mbak, Lintang masih di dalam kan?" Tanyanya kepada seorang wanita yang wajahnya nampak pucat. Entah baru bertemu dengan setan belang mana dia. Begitu pikir Denok.


" Ada mbak, masih di dalam!" Jawab wanita itu yang terlihat tak nyaman. Membuat Denok terbengong-bengong.


" Aneh banget, mukanya kayak orang lagi nahan beol. Ah bodo amat lah, yang penting sekarang aku mau ngasih supres ke Lintang!" Gumamnya terkekeh.

__ADS_1


Ia lantas menapaki lantai bersih dan mengkilat itu dengan riang gembira. Terlalu senang sebab ia bisa menunaikan janjinya kepada Lintang.


Dan seperti biasa.


"BRAK!!!"


Wanita yang gemar membuka pintu tanpa mengetuk itu, kini menjeblak pintu yang memang tak tertutup rapat itu dengan hati tak sabar bertemu.


"Lintang, aem Koming!!!!" Teriaknya keras.


Namun, alih-alih membuat kejutan kepada temannya itu, Denok kini justru dibuat terkejut dengan pemandangan absurd yang mencolok matanya.


Oh sial!


" Wadiaww!!!! Woy, enggak gini juga kaleee!" Ia justru tergelak manakala Lintang seketika terlihat malu, saat dirinya telah menangkap basah Lintang yang tengah berciuman mesra dengan suaminya.


Kurang asam!


Membuat Jodhi memijat keningnya seketika.


.


.


Lintang


Ia menepikan rasa malunya, dan menggantinya dengan rasa senang sebab teman baiknya di kota S ternyata datang. Memeluk Denok dengan hati rindu, serta keharuan yang membuncah.


" Jahat banget sih pakai bohong segala!" Rajuk Lintang mengusap sudut matanya sebab terharu, sesaat setelah pelukan mereka saling terlepas.


"Kalau aku enggak bohong, nggak kira aku bisa lihat siaran langsung kayak tadi!" Ucap Denok sambil terkekeh - kekeh dan membuat Jodhi mendengus.


" Eksklusif!" Timpal Denok mengedipkan matanya ke arah Jodhi. Membuat pria itu makin menghela nafasnya pasrah.


" Santai dikit lah Jo! Aman pokoknya kalau sama aku. Yang lebih ekstrem aja udah pernah aku sikat juga, apalagi yang kek begitu. Aman!!!" Ucap Denok demi menatap Jodhi yang masih sebal.


Membuat Lintang tertawa kecil.


"Mbak Denok tadi kesini naik apa? Tahu gitu kan aku bisa minta tolong Jonathan buat jemput Mbak Denok!"


" Naik odong-odong aku Lin. Makanya sakit tukang ekor aku ini. Kamu mau minta tolong si Jojon? Dia aja bokongnya sampai enggak kelihatan gara-gara sibuk banget tadi di bawah!"


" Mbak udah ketemu Jonathan, sama Ibuk juga?"


Denok menggeleng, " Belum, cuma lihat aja. Tapi aku udah ketemu sama sate lilit sama rendang tadi di bawah!"


Membuat Lintang ganti mendengus.


" Yok lah kita kebawah, kangen sama Danuja aku. Awas aja dia enggak mau di gendong Dadenya mentang-mentang udah jadi orang metropolitan!"


" Eh Lin, tunggu dulu. Minta lipstik nya dong. Lipstik ku abis nih. Dong kayak valak aku nanti kalau enggak touch up lagi!" Ucap Denok ngeloyor menuju meja rias dan mengaduk benda berbentuk persegi itu demi menemukan lipstik yang ia cari.


Lintang mengusap lengan suaminya seraya tersenyum demi melihat kesebalan di wajah Jodhi, yang melihat tingkah konyol Denok.


.


.


Kini, bukan hanya Bu yanti yang terkejut manakala melihat Denok yang berjalan membantu Lintang kala gaun besar itu memerlukan bantuannya.


Tapi semua garis keturunan keluarga Aryasatya itu terlihat kaget dengan kemunculan Denok yang tiga.

__ADS_1


Ya, Denok meminta petugas MUA yang bertanggung jawab soal gaun Lintang itu, untuk menyerahkan tugas kepada dirinya.


" Kamu makan saja dulu, ini biar aku. Kecil lah kalau cuma ngangkat- ngangkat begini!" Ucapnya meyakinkan crew MUA itu.


Membuat mereka semua mengalah, kala Jodhi turut meyakinkan mereka.


" Astaga Nok, kamu nge prank kita ya? Tante udah sedih banget denger kabar kalau kamu gak bisa datang. Awas kamu ya!" Ucap Rania yang kini menyongsong kedatangan wanita licin itu .


Denok tekrikik-kikik saat Rania pura-pura mencubit perutnya. Merasa senang karena di sambut hangat.


" Tau nih, padahal niatnya jadiin kamu tim sukses, malah datangnya belakangan!" Seru Bastian menimpali.


" Tenang aja om. Masih banyak acara kan. Oh iya, Danuja mana?" Tanya Denok celingak-celinguk.


" Itu lagi diajak Raka sama istrinya. Nah tuh dia!" Tunjuk Rania ke arah belakang.


Denok membalikkan badannya dan kaget melihat Raka yang menggendong Danuja, seraya berjalan tegap bersama seorang wanita cantik.


" Pantes susah di goda. Bininya aja kayak mis yunipres ( Miss universe)!" Gumamnya yang bisa di dengar oleh kesemuanya. Membuat Abimanyu dan Andhira tergelak.


" Eh Nok, kenalin ini Ibu aku. Bu, ini Denok, yang dulu bantu Lintang disana!" Ucap Rania memperkenalkan satu sama lain.


" Sudah kawin nak?" Tanya Bu Kartika yang duduk diatas kursi roda. Mengusap lengan Denok yg mencium tangannya takzim.


Denok mendelik. Bagiamana menjawabnya. Orang tua kalau di pikir - pikir sama dengan keterangan di KTP, dimana yang di pertanyakan bukanlah menikah, tapi kawin. Membuat Denok ingin jumpalitan.


" Kerjaanku emang tukang kawin buk. Kenapa enggak tanya kalau udah nikah aja sih, biar aku enggak bohong!" Terkikik dalam hati.


" Saya..."


" Halo Nyonya Rania, apa kabar?"


Sebuah suara ramah milik wanita paruh baya yang rania dan Bastian kenali itu, membuat segerumbul manusia itu menoleh. Bahkan, membuat ucapan Denok menguap sebelum download waktunya.


" Bu Weni, Pak Iqbal!" Sambut Rania dengan wajah senang.


Ya, rupanya itu adalah kedua orang tua Jonathan, datang memenuhi undangan sekaligus berniat mengucapkan selamat kepada keluarga Jodhi disana.


Namun, kesemuanya menjadi terkejut pun dengan Denok, demi melihat lengan Jonathan yang kini di gamit oleh tangan mulus seorang wanita cantik yang nampak begitu dekat dengan Jonathan.


Membuat Jonathan yang sama sekali tak mengetahui soal kedatangan Denok, kini menelan ludahnya dengan susah payah.


"Astaga! Kenapa aku tidak tahu kalau dia datang?" Batin Jonathan yang entah mengapa seketika menjadi resah kala beradu pandang dengan Denok.


.


.


.


.


.


.


*Mommy emang sengaja Spill dikit awal kisah Denok . Soal siapa wanita tadi....


🀣🀣🀣 mommy sengaja bikin kalian penasaran. Biar Denok ada yang menantikan.


Tapi harap sabar, soalnya kisahnya deodoran baru masuk konflik. Jadi, biar semua sesuai dengan deadline masing-masing*.

__ADS_1


Love you rek 😘😘😘


__ADS_2