Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 38. Macam warna hidup manusia


__ADS_3

Bab 38. Macam warna hidup manusia


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Sore hari usai menyeka tubuh Bapak, ia kini tengah duduk di luar dan membiarkan Ibu menyuapi suaminya seorang diri . Ya, mereka bahu membahu dalam merawat Pak Noer, meski ia sendiri sebenarnya tengah berperang melawan ujiannya seorang diri.


Entahlah, akan sampai kapan ia kuat menanggung beban itu.


Dari tempatnya duduk karena ingin mengistirahatkan kakinya barang sejenak, ia melihat dua orang yang berjalan dengan langkah yang cenderung panik. Pak Hendra dan Bu Sevi yang merupakan mertua Galuh, rupanya baru berkunjung sore itu.


" Galuh!" Ucap Mama mertuanya dengan wajah cemas. Berjalan cepat menuju ke tempatnya berada.


" Mama!" Ia berdiri menyongsong kedatangan wanita dengan style yang selalu terlihat modis di usianya yang sudah senja itu.


Bu Sevi memeluk Galuh seperti biasanya. Baginya, Galuh merupakan sosok menantu idaman. " Gimana Bapakmu nduk? Maaf ya Mama baru bisa datang sekarang" Ucap wanita itu penuh sesal, sembari mengusap punggung Galuh dengan kepanikan yang tak jua menyusut.


" Baru Galuh seka Ma... Lagi di siapin sama Ibuk di dalam!" Ucap Galuh dengan wajah yang letih, namun berusaha menampilkan senyum terbaik.


Bu Sevi nampak murung. Kasihan dengan keluarga besannya itu. " Papa sama Mama masuk dulu ya. Kita ngobrol lagi nanti!" Ucap Pak Hendra mengusap lengan atas menantunya.


Galuh mengangguk.


Sejurus kemudian, Dinda yang baru saja memenuhi panggilan interview dari sebuah perusahaan besar, terlihat datang sambil membawa makanan untuk kakak.


" Mbak!" Panggilnya dengan suara cempreng yang khas. " Udah makan? Nih aku tadi beli nasi buat kita. Makan dulu yuk, aku kalaparan banget nih... Ibu lagi di dalam kan?" Dinda yang perangainya lebih mungil namun lebih gesit dan lincah itu, terlihat begitu memperhatikan Galuh.


Mereka kini makan di sebuah selasar bersih, dengan alas sebuah koran. Tidak ada ceritanya bisa bermewah-mewah di rumah sakit, kecuali jika kau dari golongan ningrat. Dan sialnya, mereka bukan dari golongan ningrat.

__ADS_1


Mereka hanya segelintir manusia hoki, yang beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Hendra Prasetya.


Galuh makan dalam diam. Suaminya hingga detik ini bahkan tidak menanyakan kabar apapun soal Bapaknya. HP-nya sunyi sepi. Tak ada lalu lintas pesan yang ramai, layaknya pasangan lainnya.


" Suamimu beres kan?" Tanya Dinda tanpa basa-basi saat ia menggigit sepotong dendeng belut besar. Menyuapkan makanan itu menggunakan tangannya. Terasa gurih sebab dia meminta taburan serundeng yang lebih banyak.


Galuh seketika mengernyit, " Beres gimana maksudnya? Ada-ada aja kamu!" Galuh terkekeh demi menjawab pertanyaan aneh dari adiknya.


Dinda kadang suka sro'ol.


" Ya...kalau tak lihat-lihat, Mas Adi itu kok dari awal nikah sampai sekarang, kesannya ke Mbak itu kayak gimana gitu...!" Dinda mengucapkan hal itu dengan mulut penuh. Membuat suaranya menjadi menye-menye. Dasar rakus!


Galuh tertegun. Ia menyuapkan satu sendok kecil nasi ke dalam mulutnya. Terasa hambar sebab suasana hatinya benar-benar tak seimbang.


" Kami baik-baik aja Din!" Sahut Galuh. Mereka semua tengah bersusah hati. Tentu ini sangat tidak cocok apabila ia malah membahas hal lain, yang justru akan semakin menambah beban di keluarganya.


" Kalau baik-baik, harusnya dia ikut nginep disini dong!" Ucap Dinda sembari meneguk sebotol air dengan terburu-buru. Sebab tenggorokannya seret akibat terlalu besar saat memasukkan suapan.


Galuh menelan ludahnya dengan susah payah. Apa adiknya mulai curiga?


.


.


Raka


Ia tercenung seorang diri dan berteman sepi malam itu. Citra sudah lelap di buai mimpi dan di temani boneka beruang besar yang selalu menjadi sekutunya sewaktu tidur.


Pria itu kini terlihat tekun mengepulkan asap yang memenuhi atmosfer balkon kamarnya. Menatap nyalang kebisuan langit yang gulita. Kebisuan yang sama persis dengan isi hatinya yang hampa.


" Aku baru saja akan melakukan pertemuan dengan clientku Ka... tiba-tiba aku merasa sekujur tubuhku panas sehabis meminum secangkir teh yang di berikan pria tadi!"


" Aku pamit ke toilet dan langsung kabur kesini. Kamu tahu kan... aku dirumah seorang diri. Maaf...kalau aku....!"


Ia bahkan bisa mengingat dengan jelas wajah Dewi yang murung saat mengatakan hal itu. Wanita yang malang pikirnya.

__ADS_1


" Persaingan bisnis ternyata sekejam ini Ka. Aku tidak menyangka!"


Ucapan demi ucapan yang seolah terputar kembali dalam memori ingatan Raka semakin membuat pria itu iba. Dewi menolak untuk ia bantu mencari pelaku yang di sinyalir telah memasukkan obat perangsang itu.


Oh astaga! Jiwa kelelakiannya memang kerontang. Dan sudah lama sekali ia tidak tidur dengan wanita manapun semenjak kepergian istrinya. Ia termasuk golongan pria yang memegang keteguhan kekudusan pernikahan.


Tapi ia tak bisa menjadi pria pecundang dengan memanfaatkan tubuh wanita yang bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


.


.


Dewi


PRYANGG!!!!


Ia meluluhlantakkan beberapa guci yang tertata rapih di nakas mewah yang berada di ruang kerjanya. Wanita itu naik pitam demi merasa dirinya yang gagal untuk membuat Raka bersetubuh dengannya.


Dengan napas terengah-engah, sebab mati-matian menekan laju kemarahan yang membuat kepalanya makin nyut-nyutan, ia kini menjambak rambutnya karena frustasi.


" Ambilkan aku wine!" Ucap Dewi kepada Anom yang sedari tadi menatapnya datar. Pria itu bergeming demi melihat Dewi yang jika melampiaskan kemarahannya, pasti akan merusak barang-barang yang berada di rumahnya itu.


" Apa kau tuli? Cepat ambilkan aku wine!!!" Dewi menatap tajam ke arah Anom yang masih diam sembari melipat kedua tangannya ke dada.


Brengsek!


" Tolong jangan seperti ini. Saya sudah peringatkan anda di awal tadi. Jangan menyakiti diri anda sendiri nyonya!" Ucap Anom dengan sorot mata yang sebenarnya tidak rela jika Dewi seperti itu. Walau wajahnya masih sama datarnya dengan hari-hari yang lalu.


Dewi yang hanya mengenakan tangtop ketat dengan bagian dada menyembul, lalu sebuah leging ketat yang membungkus tubuhnya yang ramping itu terlihat berjalan maju ke arah Anom. Menatap tajam abdinya yang berani membantahnya.


Dewi menarik jas hitam yang di kenakan Anom, membuat tubuh pria itu tersentak " Lakukan saja perintahku dan jaga batasanmu!" Ucap Dewi mendongak karena tinggi Anom yang jauh di atasnya. Pria itu masih nampak datar tanpa ekspresi seperti biasanya, meski Dewi benar-benar tengah memarahinya.


Pria itu tak terpengaruh, justru kini menatap Dewi dengan sorot mata penuh makna. Sorot mata yang sama sekali tiada Dewi sadari.


.

__ADS_1


.


__ADS_2