Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 78. Puncak rasa legowo


__ADS_3

Bab 78. Puncak rasa legowo


.


.


.


Galuh


Ia meraup bibir adiknya menggunakan tangan kanannya, dengan sedikit gerakan meremas. Bibir yang tak memiliki rem itu, seringkali menimbulkan kekacauan. " Lambemu Din, udah mbak bilang jangan berisik!" Galuh kesal bukan main. Adiknya itu mungkin datang duluan dulu sewaktu ada pembagian oktaf suara.


" Ya habis..mbak bilang begitu. Ya aku kan kan seneng!" Dinda terkekeh-kekeh. " Itu berarti, mbak Galuh udah bisa move on dari jancok satu itu!" Dinda kini meraih sepiring nasi hangat, dengan taburan sambal jengkol yang terlihat menggugah selera.


" Kamu ini malam-malam makan segitu banyaknya Din?" Galuh terheran-heran melihat kerakusan adiknya.


" Biarin, makan banyak juga gak gemuk-gemuk!" Sahut Dinda yang menjejalkan suapan besar kedalam mulutnya. Benar-benar bar-bar.


Galuh diam dan kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding kamarnya. Entahlah, sedari tadi ia tak bisa menepiskan bayang-bayang Raka. Pria yang menciumnya dalam dan penuh cinta tadi benar-benar mengusik hatinya.


" Jangan dipikir teros. Besok juga ketemu!" Dinda terkikik- kikik. Sepertinya mbakyu nya itu merasakan jatuh cinta yang terlambat.


.


.


Raka


Dia terdiam dan teraniaya rasa sepi, duduk berteman angin malam, yang genit menusuk pori-porinya. Satu hal yang terselip dalam hatinya. Rasa syukur.


Ia yang melihat wajah teduh Citra yang tidur dalam pelukan Kalyna seketika merasa tenang. Ia bersyukur, sebab mara bahaya dan petaka masih terhindar dari hidupnya.


" Terimakasih karena sudah menjaga putri kita Visya!" Gumam Raka yang dengan wajah menengadah ke langit. Berdiri di ujung balkon kamarnya. Tempat favorit sedari dulu manakala kegundahan melandanya.


" Ternyata kamu masih anak papa yang sama seperti dulu!"


Ucapan Abimanyu mengejutkan Raka. Ayah Citra itu terlihat menyusut sudut matanya dengan cepat, manakala Abimanyu masuk dan menyusulnya ke balkon.


" Astaga, papa kesini!"


Abimanyu langsung merengkuh tubuh tegap anaknya lalu memeluknya erat. Membuat Raka bingung dengan sikap papa yang tak ia duga itu.


" Maafkan papa nak!"


Abimanyu menangis. Suaranya tercekat. Jelas kesedihan nampak di sorot matanya. Membuat hati Raka turut mengharu biru.

__ADS_1


Pria itu sejurus kemudian melepaskan pelukannya lalu memegang kedua lengan anak-nya seraya menatapnya dengan lekat.


" Semua ini adalah salah papa!"


Raka tertegun seraya menelan ludahnya.


" Andai papa dulu membereskan apa yang terjadi di masa lalu, mungkin kamu saat ini bisa tenang!"


" Pa!" Sergah Raka yang tak setuju bila Abimanyu menyalahkan dirinya.


" Tolong maafkan papa nak!"


" Pa! Apapun yang terjadi dalam kehidupan seseorang, tidak lain hanya untuk membawa kebaikan bagi orang itu sendiri!" Raka tersenyum. " Papa lihat sekarang, jika tidak begini , kita juga tidak akan tahu bila ibu Gwen masih hidup dan sedang sakit, dengan begini juga, kita jadi tahu arti kepercayaan sebuah keluarga, terlebih...Raka jadi tahu bahwa insting Citra itu baik adanya!"


Abimanyu tersenyum seraya menepuk bangga pundak putranya. " Papa sangat setuju jika kamu menyudahi masa duda kamu bersama Galuh!"


Membuat Raka menunduk malu.


.


.


Pikiran Raka seketika melayang kepada Jodhi. Pria itu sedari sampai tadi masih belum juga ia temui. Mama bilang Jodhi telah pergi sesaat setelah Raka masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Dan ngomong-ngomong soal Jodhi, pria itu kini tengah berada di rumahnya. Kejadian ini menampar kesadarannya akan kepeduliannya mengelola perusahaan. Ia tak marah kepada Raka, lagipula jika tidak ada kejadian ini, mungkin matanya juga masih buta dengan tanggung jawab yang sebenarnya seabrek itu.


Bastian menyadari, makin tinggi pohon makin kencang pula angin yang menerpanya. Begitu juga dengan usahanya.


Jodhi terlihat membuka laptop, wajahnya tersuluh cahaya dari monitor dan terlihat tegang.


" Papa belum tidur?" Ucapnya sambil terlihat mengetik sesuatu.


" Tadi mama kamu bilang kalau kamu besok mau terbang ke kota M?" Bastian agaknya cukup terkejut. Pasalnya Jodhi biasanya tidak mau ikut campur tangan dalam urusan Dapur Isun, meski beberapa kali Bastian sudah memproklamirkan anak-nya itu sebagai pengganti dirinya, kepada beberapa client yang Bastian temui.


" Aku tahu Dapur Isun disana lagi ada persoalan!" Jodhi menghentikan kegiatannya lalu menarik napasnya panjang." Maafkan aku Pa selama ini..." Jodhi merasa selama ini dia kurang berkontribusi penuh dalam usaha mereka.


Bastian menepuk bocah yang dulu sering membuatnya geleng-geleng kepala itu. " Jangan minta maaf. Kita beruntung masih bisa merasakan indahnya mendapat teguran!"


Jodhi mengangguk. Ya, papanya benar.


" Kasih kesempatan Jodhi buat buktiin ke papa kalau Jodhi mampu ya pah?" Jodhi menatap Bastian dari posisi duduknya. Membuat adik dari Andhira itu tersenyum dengan hati yang melimpah syukur.


Bastian menepuk lengan atas anaknya dengan rasa haru yang membuncah. " Semoga keberuntungan menyertaimu nak!"


.

__ADS_1


.


Kebisuan masih mengalun sombong di sana, saat Raka dan Jodhi kini bertemu. Ya, Raka sengaja datang untuk meminta maaf pagi ini. Membuat Bastian meminta Rania untuk meninggalkan dua orang itu.


" Biarkan mereka!"


Jodhi tak marah apalagi benci kepada sepupunya itu. Nasi sudah menjadi bubur. Mau bagiamana lagi. Yang penting semua selamat dan Citra juga aman.


" Maafin gue Jo!"


Jodhi terdiam. Ini yang tidak ia suka. Pria itu sebenarnya mudah menangis jika tengah berada dalam pembahasan yang serius.


" Enggak ada yang salah disini Ka. Udahlah, kita lupaian aja yang enggak enak-enak. Dengan begini, kita jadi tahu arti mawas diri!"


Raka dan Jodhi kini menatap hamparan riak air kolam yang nampak ngelayung - layung. Pikirannya sebenarnya masing-masing tercurah kepada para wanita yang kini bersemayam di hati mereka.


Jodhi yang terus teringat dengan Lintang, begitu juga dengan Raka yang makin menggila dengan rasa yang tercipta di hatinya, manakala ia tahu jika Dewi tak lain hanyalah wanita jahat yang ingin berlaku tak baik kepada dirinya dan Citra.


" Jaga Galuh! Dia wanita baik-baik!"


Raka tersentak, kenapa Jodhi bisa tahu isi kepalanya?


" Mmmm!" Raka mengangguk. " Gue ngerasa beruntung karena di pertemukan dengan wanita kayak dia Jo. Padahal...."


Raka akhirnya menceritakan apa yang Galuh alami, pun dengan ia yang dulu pernah menolong wanita itu tanpa sengaja. Juga kejadian tertembaknya Galuh demi melindungi dirinya.


Dan dari kesemuanya itu, menjadi penegas bila semesta memang menginginkan mereka untuk bersama.


" What???"


Jodhi terkejut manakala mengetahui bila Galuh merupakan seorang wanita bersuami yang baru saja di selingkuhi. Ia pria brengsek, namun untuk berlaku kasar kepada wanita yang ia cintai, no way. Never ever!


" Suaminya buta atau gimana?" Jodhi malah menjadi kesal. " Kok enggak ketemu aku orang itu!"


" Gue ingetin elu Ka. Selama manusia hidup, yang namanya pencobaan itu pasti datang silih berganti. Kayak yang barusan kita alami. Saran gue, begitu masa tunggu Galuh abis, buruan elu nikahin. Nah, jangan sampai aja itu mantan suami Galuh ngerecokin kamu nanti!"


Raka tertegun demi mendengar ucapan Jodhi. Membicarakan soal Galuh, rupanya membuatnya menjadi kangen dengan wanita berbibir lezat itu. Uhuy!


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2