
Bab 67. Angin sakal sebuah keluarga
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Ia mengikuti saran papa Abimanyu yang kini tengah menyusul dirinya ke kediamannya, untuk mencari Citra dengan bantuan orang-orangnya.
Tak berselang lama, mobil Bastian juga terlihat tiba dengan seraut wajah penuh kepanikan.
" Kak Abi, bagiamana ini bisa terjadi? Dan Rania tadi mengatakan jika...." Bastian menatap Raka yang kini memalingkan wajahnya saat ia bermaksud menanyakan soal saham yang mendadak di tarik. Mendadak canggih.
Abimanyu dan Devan saling menatap, ia yang melihat raut wajah Raka yang begitu keruh, kini memilih untuk membicarakan hal lain terlebih dahulu.
" Sebaiknya kita telpon polisi!" Ucap Devan yang merasa hal ini sudah masuk dalam ranah tindakan kriminal berencana.
Bastian mengangguk " Devan benar, selain itu kita harus mencoba mengejar mereka setelah ini, kita bisa melacak ponsel pengasuh Citra kan?"
Raka seketika menoleh ke arah Om Bastian. Ya ..itu benar sekali, kenapa ia tak memikirkan hal itu sedari tadi. Hah, Emosi yang meluap benar-benar menutupi pikiran rasionalnya.
" Niko kamu standby disini, aku sama..."
" Aku ikut!" Ucapan Raka menguap saat Jodhi tiba-tiba menyahut dari arah depan, yang di ikuti Rania.
Ya... Rania mengikuti Jodhi yang melesat pergi sesaat setelah mengetahui berita jika keponakannya di culik. Dan Jodhi menduga, semua ini merupakan ulah Dewi. Mereka tak membawa masuk mobilnya karena Jodhi terburu-buru.
" Mama kok ikut, anak-anak bagaimana?" Tanya Bastian yang khawatir dengan Rafa dan Gita.
Raka menatap tajam Jodhi yang datang dengan wajah sembab, dan terlihat datar.
" Tunggu dulu..ada apa sebenarnya?" Abimanyu yang melihat dua anaknya saling menatap sengit benar-benar merasa sakit kepala. Hal yang selama ini ia jaga, kerukunan, nyatanya kini dengan mudahnya berubah.
" Kak Abi dengar dul..."
" Tante Rania pasti udah diberitahu oleh Jodhi kan?" Raka menatap tajam istri dari Om-nya itu." Dan Tante jelas akan percaya sama anak Tante yang bajingan itu kan!" Ucap Raka tersenyum sumbang, kepalanya terasa sudah mau pecah dan melihat Jodhi ada di hadapannya saat ini makin membuat kiamat menjemputnya lebih cepat.
" Raka jaga bicara kamu!" Bastian naik pitam saat melihat dua saudara itu bertengkar. Hal yang sangat mengejutkan, Raka merupakan orang yang santun dan menjunjung tinggi nilai-nilai kerukunan, nyatanya kini bersikap bertolakbelakang.
" Om pun sama, oh ..tentu saja... Om sangat mencintai Tante Rania , dan secara otomatis Om juga akan percaya sama anak Om yang brengsek itu kan?" Ucap Raka menarik sudut bibirnya sebelah.
" Jaga bicara kamu Raka!"
BUG
__ADS_1
" Mas!!!"
" Bastian!"
Rania dan Abimanyu kini terlihat berteriak saat Bastian meninju wajah keponakannya. Membuat Niko dan Devan kini tercenung dengan hati yang berdebar. Bastian kecewa dengan Raka yang mendadak menjadi kurang ajar.
" Papa! Berhenti Pa!" Jodhi menarik baju Bastian yang kini wajahnya telah memerah. Suasana menjadi tegang dan begitu mencekam.
" Dari kecil Om ngajarin kamu untuk hidup rukun dan menghargai siapapun Ka, terlebih keluarga..." Bastian menatap Raka yang kini memegangi wajahnya yang terasa pedih akibat hantaman keras Bastian. " Tapi kamu...."
" See?" Ucap Raka sumbang seraya menatap wajah Abimanyu yang benar-benar kehilangan taringnya manakala menyaksikan perkelahian keluarga seperti ini. Tak pernah sekalipun ia membayangkan keluarganya akan menjadi seperti ini.
" Sekarang aku melihat dan tahu, siapa yang memiliki pendukung disini!" Ucap Raka dengan senyum kecut. Merasa semua orang menyudutkan dirinya yang padahal tengah terluka.
" Kalau kalian semua protes kenapa aku menarik saham, karena aku ingin lihat. Apa yang pria brengsek itu bisa lakukan?"
"Kalian tahu, selama ini apa yang bisa dia kerjakan, hah?" Menunjuk Jodhi penuh kemarahan. " Memacari para wanita? Tidur bebas dengan siapapun? Aku menutup mata, silahkan..." Raka semakin menggertakkan giginya." Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia mencoba memperkosa Dewi, wanita yang saat ini dekat denganku, lantas apa masalahmu Jodhi!!!" Raka berteriak tepat di depan wajah pria itu.
Suara Raka bahkan menggaung di kediaman Raka yang kini beraura tegang itu. Membuat kesemuanya menahan sesak di dadanya.
" Aku selama ini menurut apa yang papa Abimanyu katakan, aku meninggalkan semua passion dan keinginanku demi apa..demi menjadi pria baik!" Raka berteriak mengeluarkan semua hal yang menyayat hatinya. " Aku tahu diri aku cuma anak sambung yang.."
" Raka!!" Mereka semua terkejut manakala mendengar suara Andhira yang saat ini bersama Kalyna berdiri di ambang pintu rumah Raka. Membuat Abimanyu mendelik.
Astaga!
Andhira berjalan maju dengan dada sesak karena kecewa demi mendengar ucapan anaknya barusan. Bagiamana bisa anaknya yang selama ini santun berbicara seperti itu di hadapan suaminya.
Semua manusia yang ada disana mendelik manakala Andhira menampar wajah Raka. Dhira kecewa demi mendengar kata-kata 'anak sambung' yang di lontarkan oleh pria bertubuh tegap itu.
" Ma!!!" Kalyna langsung menarik tangan mamanya sesaat setelah Andhira menampar wajah kakaknya. Gadis itu menangis manakala melihat wajah terkejut Raka yang tak percaya jika mamanya turut tak berada di pihaknya.
Raka tergugu dengan perasaan kecewa, bibirnya bergetar tak mampu mengucapkan apapun. Lihatlah, semua orang percaya kepada Jodhi bukan kepada dirinya.
" Mama enggak pernah nyangka kamu berpikir seperti itu sama papa kamu, apa kamu mau jadi anak yang tidak tahu diri?" Dhira menangis, ia yang selama ini melihat sendiri bagaimana Abimanyu memperlakukan Raka melebihi siapapun, terang merasa terluka dengan ucapan anaknya.
Raka semakin mengeraskan rahangnya manakala tak satupun keluarganya membelanya. Semua membela Jodhi.
" Ambil semua yang kamu mau Jo!" Ucap Raka lirih dengan wajah menahan emosi. Terdengar begitu menyedihkan. Merobek hati siapapun yang melihatnya. Termasuk Niko.
" Ka? Tolong dengerin gue, kita ini dijebak, wanita licik itu sengaja bikin kita begini, kita bisa tanya resep..." Jodhi benar-benar tak tahu harus bagiamana, semuanya mendadak menjadi runyam karena hal ia yakini merupakan sebuah kesalahpahaman.
" Bagaimana kau bisa menyebutkannya 'dijebak' jika nama pemesan kamar itu merupakan Jodhistira Mavendra yang terhormat??!" Raka kini berteriak, cukup Jo...jangan menyangkal lagi
Jodhi menatap Raka tak percaya. Apakah wanita itu benar-benar telah merencanakan dengan sedemikian rupa hingga semua hal benar-benar terlihat natural? Batin Jodhi seraya berpikir keras.
Abimanyu memejamkan matanya, menghirup napasnya perlahan demi mengurangi sesak di hatinya. Sungguh, semua ini membuat dirinya tak bisa berpikir taktis.
" Jangan khawatir, semua saham akan aku kembalikan dengan normal. Karena saat ini aku bukan lagi Direktur Delta Group!" Ucapnya lirih, Raka kecewa karena sedari dulu Jodhi yang sama sekali tak mau mengelola perusahaan dengan serius, nyatanya selalu lebih mendapat dukungan daripada dirinya.
__ADS_1
Raka merasa kerdil saat itu, ia memang hanya anak sambung. Dan ia cukup tahu diri akan hal itu kali ini.
" Aku pergi!" Ucapnya seraya melesat tanpa menoleh, dengan hati yang benar-benar bergemuruh karena kemarahan.
" Raka!!! Raka!!!" Andhira berteriak namun pria itu bergeming dan terlihat berjalan keluar menuju ke arah mobilnya.
Rania dan Kalyna yang menangis kini memegangi Dhira yang menjerit. Bastian mengacak rambutnya frustasi, sementara Jodhi yang mendengar ucapan Raka bagai tertampar.
Ya...dia memang brengsek ,dan semua yang di katakan Raka perihal dirinya yang tak mau serius mengelola perusahaan adalah benar adanya, tapi mengapa Raka sama sekali tak mau mempercayai jika wanita itu merupakan wanita licik.
Abimanyu berusaha menenangkan diri sendiri dengan melempar tubuhnya ke sofa. Tidak ada gunanya mengejar anak banteng yang kini telah dewasa itu.
" Biarkan dia pergi, semau orang butuh berpikir saat di kuasai emosi. Biarkan dia!" Ucap Abimanyu kepada Devan dan Niko yang hendak mengejar Raka.
Dari kejauhan, Dewi yang sengaja memantau kediaman Raka saat ini mendengar pertengkaran yang membuatnya senang, sebab pintu pagar rumah besar Raka itu terbuka, membuatnya kini tersenyum puas.
Ini yang dia mau, ia ingin keluarga Aryasatya tercerai-berai.
" Jadi ...bagiamana perasaamu saat ini, Ayah?" Ucapnya bermonolog seraya mengenakan kaca mata hitamnya.
Wanita itu sejurus kemudian melajukan mobilnya manakala melihat Raka yang sudah terlihat keluar.
Dendam ada dimana-mana, di jantungmu...di jantung hari-hari.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( *Tipsnya begini, saat engkau membaca salah satu tokoh/ sudut pandang yang ada ,cobalah kamu bayangkan untuk menjadi tokohnya. Maka kamu akan semakin mendapat feel dari bacaan yang kamu nikmati.
Karena sejatinya, kita semua akan selalu merasa diri kita benar. Akan tetapi, manakala kita mau mencoba mengerti bagiamana rasanya menjadi 'orang itu' maka niscaya permakluman itu selalu ada*)
.
.
__ADS_1
.To be continued...