Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 68. Pelukan itu


__ADS_3

Bab 68. Pelukan itu


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


Hatinya diselimuti amarah yang membuncah, merasa sendiri dan tak ada seorangpun yang mau mengerti. Dengan kemarahan yang masih berkobar di kilatan matanya, Pria itu bermanuver kasar dan meninggalkan kediamannya.


Raka terperosok ke jurang titik nadir dalam hidupnya.


Ia masih gencar berpikir, kemana kini ia harus melangkahkan kakinya. Perasaannya benar-benar kacau. Terselip bayangan wajah Citra dan Galuh yang menari-nari di otaknya.


" Kumohon bertahanlah, ayah akan mencari kalian!"


Ia melesat dengan rahang yang kaku, serta gigi yang tak hentinya tergertak. Membuat Raka terlihat seperti orang lain.


Sejurus kemudian ia mencoba men-dial nomor Galuh, nomer itu bisa ia hubungi namun tidak menjawab. Itu artinya nomernya aktif. Raka dengan segera menepikan mobilnya ke bahu jalan demi mencari tahu posisi dua wanita yang menjadi sumber kekhwatirannya saat ini, pria itu gencar membuka aplikasi maps yang ada di ponsel canggihnya.


Matanya berbinar manakala ia menemukan titik lokasi Galuh. Namun, ia mengernyit demi membaca lokasi yang tertera di ponselnya.


" Jalan ini kan?"


Benarkah jika Galuh dan anaknya berada di sana?


.


.


Galuh


Ia berusaha menyakinkan Citra jika mereka akan baik-baik saja, meskipun bocah itu tak mau berhenti menangis. Membuatnya semakin dilanda kepanikan.


Mobil yang di kemudikan oleh Anom, kini berhenti di sebuah warung kecil yang berada di lajur kiri sebuah jalan yang telah dekat dengan tujuan mereka. Pria ia datar itu terlihat membawakan beberapa minuman untuk Galuh dan Citra.


" Minumlah, jangan khawatir...aku tidak mencampurnya dengan racun!" Ucap Anom kepada Galuh yang masih terlihat ketakutan. Pria itu memberinya minuman dengan wajahnya yang sangat minim ekspresi.


Galuh masih diam saat Anom kini telah kembali ke dalam mobil yang terasa tak nyaman itu. Pria itu benar-benar terlihat seperti mayat hidup. Kaku dan tak memiliki mimik wajah.


Anom terdengar menghela napas. Membuat Galuh kini meneguk ludahnya demi kecanggungan yang tiba-tiba menyeruak. Apakah pria itu bisa ia percayai?


" Kau jangan takut, aku tidak akan membunuhmu. Percayalah!" Ujar pria itu yang membuatnya mengerutkan kening. Jika tidak membunuh, lalu untuk apa dia masih membawanya hingga detik ini?


" Kenapa kau tidak bebaskan kami jika kamu tidak mau membunuh kami?" Galuh akhirnya berani angkat bicara. Mengeluarkan segenap keberanian yang ada.

__ADS_1


Anom menoleh dan menatap Galuh dengan wajah datar. " Sudah aku katakan, kau harus berjanji dulu untuk mau bekerjasama denganku. Ada hal yang harus aku bereskan. Tenang saja, lagipula aku tidak bisa membunuh wanita apalagi anak-anak!"


Galuh ketakutan manakala Anom mengajaknya bicara. Pria itu terlihat sangat mengintimidasi, bahan hanya melalui sebuah tatapan saja. "Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"


Anom menatap nanar Galuh. Wanita itu berani juga bertanya rupanya. " Sebaiknya kita pergi dulu, akan aku beritahu nanti!"


.


.


Citra yang lelah menangis terlihat ketiduran diatas pangkuan Galuh. Bocah itu terlihat bermandikan keringat. Galuh masih harap-harap cemas manakala Anom membawanya ke sebuah tempat.


" Ya Tuhan, tolong lindungi kami!" Sederet untaian kalimat permohonan tak hentinya terlantunkan dari bibir mulut Galuh.


" Tolong jalankan saja apa yang aku katakan tadi, setelah itu aku akan membebaskanmu!"


Anom berniat membuktikan jika ia menyekap Galuh sesuai permintaan Dewi agar wanita yang ia cintai dalam diam itu merasa puas, dan setelah itu, Anom akan mengembalikan Galuh.


Ia sudah membulatkan tekad, usai memuaskan hati Dewi, ia akan pergi dari kehidupan wanita itu. Ia terlalu tidak sanggup jika harus terus mencintai dalam diam. Ia melakukan hal ini sebagai bentuk balas budinya kepada wanita yang menjadi malaikat penolongnya saat ia sekarat dulu.


Galuh yang tidak mengerti akan siapa wanita yang Anom maksud, hanya berusaha menurut sambil terus berharap jika pria itu tak menipunya.


" Jika kau berani menipu kami, aku bersumpah tak akan pernah memaafkanmu bahkan di kehidupan yang akan datang!" Ucap Galuh yang kini telah turun seraya menggendong Citra, dengan menatap Anom tajam.


Anom masih bergeming saat ia menutup pintu mobilnya. " Bahkan kalau kau tidak percaya kepadaku, kau bisa membunuhku sekarang!" Anom menyerahkan sebuah pistol kepada Galuh dengan santainya, dan justru membuat Galuh ketakutan.


Anom menarik sudut bibirnya saat melihat wajah Galuh yang pias. Wanita itu aneh sekali pikirnya. "Tadi mengancam, sekarang di sodori senjata malah ketakutan."


" Harga diri pria ada pada apa yang dia ucapkan!" Tutur Anom.


Anom melesat kedalam sesaat setelah ia mengatakan hal itu. Membuat Galuh kini mengikuti langkah pria itu dengan hati mendecak kagum.


Galuh terlihat sedikit berlari demi mengajar Anom, sebab rumah tua itu terlihat amat menakutkan.


Rumah besar itu terlihat sangat terbengkalai. Rumah itu tak lain merupakan rumah orang tua angkat Dewi yang sempat menjadi rebutan gono-gini keluarga Papa angkatnya. Wanita itu memberitahu Anom terkait keberadaan rumah itu, beberapa waktu yang lalu. Rumah yang masuk dalam mitigasi perencana sebagai tempat menyandra Citra.


" Tidurkan saja disini, aku keluar sebentar!' Ucap Anom yang langsung di balas anggukan oleh Galuh. Pria itu menunjukkan sebuah sofa yang baru saja ia buka penutupnya.


Galuh menatap nanar punggung Anom yang telah perlahan menjauh dari pandangannya. Meski ia belum mempercayai seratus persen pria itu, namun melihat sikapnya saat ini , jelas menegaskan jika pria itu sepertinya bukan penipu.


Galuh mengusap lembut rambut Citra. Ia sangat kelelahan. Sungguh, siapa sebenarnya mereka, dan mengapa mereka berbuat hal ini kepadanya.


" Jangan-jangan target mereka bukanlah aku..tapi Citra!" Ia membatin seraya menatap ke arah wajah bocah yang kini terlelap itu. Sebab ia sama sekali tak mengenal mereka.


Di tengah niat Galuh yang ingin menselanjarkan kakinya, sebuah suara membuatnya kembali terjaga, manakala ia mendengar sebuah suara jendela yang di congkel. Membuat Galuh mengedarkan pandangannya.


" Pak Raka?" Ucapnya mendelik kaget saat pria itu kini sudah melompat masuk ke dalam rumah besar itu, dengan melalui jendela yang berhasil Raka congkel.


Galuh merasa senang karena Raka berhasil menemukannya.

__ADS_1


" Galuh!" Raka dengan spontan langsung menubruk dan memeluk Galuh dengan wajah penuh kekhawatiran. Membuat wanita itu seketika mematung.


" Pak Raka?"


" Galuh maafkan aku!" Ia bahkan bisa mendengar nada penuh kekhwatiran dari mulut Raka. Pria itu memeluknya sangat erat. Membuatnya terbawa perasaan karena belum pernah diperlakukan seperti itu oleh seorang pria.


Perasaan di khawatirkan, perasaan di cemaskan, jelas membuat kita sebagai wanita begitu merasa berharga.


" Maafkan aku...kamu nggak apa-apa kan? Makasih kamu udah jaga Citra sampai detik ini..." Raka yang terlihat menitikkan air mata kini membingkai wajah Galuh dengan spontan. Pria itu tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya manakala berhasil menemukan anaknya. Membuat hati Galuh terenyuh dibuatnya.


" Kalian bi..." Sebuah suara yang kalimatnya terjeda membuat Raka seketika membalikkan tubuhnya. Membuat Anom membulatkan matanya, demi melihat Raka yang berada di sana.


" Kau! Kau pasti yang menculik anakku. Kurang ajar"


Raka secepat kilat berlari dan menubruk tubuh Anom yang rupanya membawa beberapa bungkus makanan untuk Galuh dan Citra.


BUG


Raka dengan gerakan tak terbaca meninju wajah Anom dengan kemarahan yang tiada terkendali. " Bajingan lu anjing!!!" Maki Raka yang di kuasai oleh amarah yang luar biasa, terlihat memukuli Anom dengan membabi buta.


" Pak Raka!" Galuh berteriak dan sontak membuat Citra terbangun dan menangis manakala melihat serta mendengar teriakan dan kegaduhan yang terjadi.


BUG


Kali ini Anom berhasil menendang wajah Raka hingga membuat Ayah Citra itu terlempar dan menabrak beberapa perkakas yang teronggok di rumah itu.


" Ayah!!!" Citra memanggil nama ayahnya yang kini berusaha bertahan sebab Anom rupanya lihai dalam berkelahi.


" Pak Raka tolong berhenti, ini tidak seperti yang..." Usaha Galuh untuk mengingatkan Raka jika Anom merupakan pria baik terlihat sia-sia. Kini, Raka dan Anom terlihat terlibat perkelahian sengit.


Mereka terlihat saling memukul, menendang, bahkan kini keduanya sama-sama terlihat terluka dengan sudut bibir yang robek akibat terhantam tapak tebal sepatu yang mereka gunakan.


Dengan terengah-engah, Anom mencoba mengatur napasnya. Mantan anggota pasukan khusus itu terlihat melempar tatapan sengit kepada Raka. Ingatannya jelas saat Dewi menggamit mesra lengan kekar pria itu.


" Aku tidak akan pernah mengampunimu anjing!" Raka berteriak saat hendak menyerang Anom kembali.


Namun sejurus kemudian, suara tepuk tangan seorang wanita datang menjadikan aksi mereka berdua terhenti. Membuat Raka membulatkan matanya demi melihat wanita yang kini tersenyum licik ke arahnya.


.


.


.


.



To be continued...

__ADS_1


__ADS_2