
Bab 35. Ujian seorang pria
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Ia sedikit terkejut sebenarnya ,saat melihat wanita yang beberapa waktu ini dekat dengan dirinya, telah berdiri di ambang pintu yang terbuka itu dengan wajah tak biasa dan langkah yang tidak setegas biasanya.
Yudi seketika membungkuk hormat, lalu pamit undur diri saat menyadari kehadiran wanita cantik dengan rambut berwarna pirang yang di kuncir satu dengan rapih. Terlihat elegan.
Yudi sempat menundukkan kepalanya kembali, sebelum menutup pintu itu dengan sangat pelan.
Raka tersenyum saat melihat Dewi berjalan ke arahnya dengan tatapan nanar, " Kamu kesini tumben enggak nelpon aku du...."
Namun ucapan Raka seketika terjeda, saat bibir hangat Dewi tiba-tiba membungkamnya dengan penuh gairah. Membuat Raka mendelik dan berusaha menghindar.
" Wi?" Ia terkejut dengan perlakuan Dewi yang tiba-tiba itu!
Astaga!
Ia memegang dua lengan atas Dewi, menatap wajah wanita yang terlihat sendu." Tolongin gue Ka..."
Dewi kembali menyambar bibir Raka saat itu juga. Raka dibuat bingung dalam waktu singkat. Suara handle pintu yang tiba-tiba terbuka makin membuatnya terkejut.
" Astaga..maaf Pak!" Ucap Niko sungkan dan gelagapan saat melihat Raka dan Dewi masih saling menempelkan bibirnya. Pria itu langsung berpaling dan menutup pintu itu dengan cepat.
__ADS_1
Oh Shiit!!
Raka mendecak tak percaya, jelas Niko kini telah salah paham dengannya. Ia merasa ada yang tak beres dalam diri Dewi.
" Wi!!! Tolong jangan begini!" Susah payah ia mencoba melepaskan Dewi yang terus saja berusaha menciumnya. Semakin beringas dan tak terkendali.
Ia menatap wajah Dewi yang seolah tak sadar dan dalam pengaruh suatu obat. Tubuh wanita itu bahkan sudah sangat panas dan memerah.
Sial! Jelas wanita itu dalam pengaruh obat perang*sang.
Raka tak menyambut maupun tidak merasakan apa-apa saat Dewi terus menciuminya. Kini, yang berada di otaknya adalah, bagaimana caranya agar ia bisa menolong wanita itu.
Ia menggiring Dewi menuju tempat istirahat khusus, yang berada di samping ruangannya meski wanita itu masih tekun melayangkan ciuman ke pipi, rahang, leher dan ke bibir Raka sesekali. Namun Raka sama sekali tak menghiraukan. Ia tahu, Dewi merupakan wanita berkelas dan tidak akan melakukan hal seperti ini.
Dewi pasti dijebak. Begitu pikirnya yang terus mensugesti diri.
Ia berniat membaringkan Dewi yang kini sudah sangat semakin beringas. Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Dewi bisa mendapatkan pengaruh obat itu.
Oh tidak!
" Panas Ka!" Rintih Dewi dengan menggeliatkan tubuhnya yang benar-benar molek.
Raka benar-benar dibuat bingung dengan semua ini. Ia bahkan sudah tak fokus demi melihat Dewi yang sudah setengah tela*njang.
Pria mana yang tak meneguk ludah, saat pemandangan indah tersaji nyata di depan mata seperti itu.
Oh sial!!!
Dalam waktu singkat, otaknya memaksa dirinya untuk berpikir taktis, walau ia benar-benar seolah merasa seperti di uji.
Dewi terus berusaha menggerayangi tubuhnya saat ia tengah tekun mencari sebuah tali atau benda serupa. Membuatnya benar-benar tak bisa berkonsentrasi.
__ADS_1
" Astaga, Wi!!" Ia sempat terkejut saat Dewi berhasil menarik tangannya dan membuat dirinya turut terjerembab ke kasur besar itu.
Dewi seketika merayap naik ke atas tubuhnya, dan berusaha menciumnya kembali. Tapi tentu saja, Raka tetaplah pria yang tenaganya pasti jauh lebih besar dari Dewi.
Sial, ia tak akan bisa menahan dirinya lebih lama lagi jika begini. Dengan gerakan cepat ia berusaha mengaduk- aduk isi laci di samping kasur itu.
Pria itu sejurus kemudian menggulingkan tubuh Dewi. Tubuh yang hanya mengenakan bra saja itu benar- benar menjadi sebuah ujian terberatnya saat ini.
Ia mengunci pergerakan Dewi menggunakan kakinya, lalu beralih kembali menarik tali. Tiada rotan akar pun jadi, tiada tali dasi pun jadi. Sejurus kemudian pria itu terlihat membuat simpul di tangan dan kaki Dewi.
Huft, ada rasa tak tega saat memperlakukan Dewi seperti itu. Tapi dia tak punya pilihan.
" Sory Wi, tapi cuma ini cara agar bisa buat kamu sembuh!"
Raka menatap murung wajah Dewi yang begitu tak karuan. Meronta dan menggeliat. Sejurus kemudian pria itu terlihat membopong tubuh Dewi dan langsung meletakkannya ke bathtub yang berada di ruangannya itu.
Raka mengisi bak besar itu dengan air dingin. Sejurus kemudian pria itu memasukkan tubuh Dewi dan membiarkannya beberapa saat.
Dengan napas terengah-engah, ia kini berusaha meraih ponsel di saku celananya, dan berniat menghubungi Niko.
Jangan sampai pria itu salah paham terlebih dahulu.
.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1