Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 127. Kamu cemburu?


__ADS_3

Bab 127. Kamu cemburu?


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Ruang perawatan Lintang


Belum juga ia selesai mengagumi manusia yang dikatakan oleh Jodhi sebagai kedua orang tuanya itu, perhatian Denok kini teralihkan oleh jenis manusia tidak tahu malu itu.


Benar-benar sialan sekali. Begitu pikir Denok.


" Kamu bilang apa tadi?" Ucap Debby menatap lekat Denok dengan tatapan sinis.


Membaut Rania turut menatap tajam Debby.


" Memangnya aku ngomong opo, hah? La kamu beneran belatung nangka apa nggak? Tiada cerita seseorang itu akan tersinggung, kecuali itu benar adanya!" Ucap Denok dengan santai seraya melipat kedua tangannya.


" Kau!!.." Geram Debby yang henda menyerang Denok.


" Debby" Hardik Jodhi yang kini resah sebab melihat Lintang yang langsung membuang muka.


" Kupikir Denok akan menjambak mulut wanita itu!" Bisik Raka kepada Jonathan.


" Anda ini aneh-aneh saja Pak!" Balas Jonathan yang sebenarnya ngeri.


" Jo, dia itu..." Sangkal Debby dengan wajah kesal.


" Udah cukup, ini dirumah sakit!" Ucap Jodhi dengan tegas dan membuat Lintang kaget. Jodhi mengerikan juga jika marah seperti itu.


Kesemua orang yang ada disana hanya bisa diam. Rania dan Bastian seketika terbengong-bengong, apa Jodhi masih belum. berubah? Apa wanita itu merupakan salah satu wanita yang sering di kencani oleh Jodhi?


Pikiran Rania mendadak kalut. Bagiamana kalau Lintang salah paham?


" Maaf Tante, saya pingin pindah ke kamar Danuja saja, saya...."


Ucapan Lintang menguap kala Bu Yanti tiba-tiba menyentuh lengan hangat Ibu dari Danuja itu.


" Jo! Kita semua keluar, biar Lintang istirahat dulu, kita lanjut ngobrol lagi nanti!" Ucap Rania yang musti memungkasi ketegangan itu.


" Benar, Danuja juga waktunya di seka!" Ucap Bastian menimpali.


Danuja yang di ambil alih oleh Yanti, hanya diam saja. Membuat Debby mengernyit. Siapa anak itu?


" Kita keluar!" Jodhi yang terlihat geram seketika menarik paksa tangan Debby keluar. Membuat Lintang merasakan sesuatu yang mengganjal.


" Apa?" Jawab Denok menantang saat Debby menatapnya tajam saat melewati dirinya.


" Raka, Jonathan !" Ucap Rania yang membuat kedua pria itu tersentak.


" Ya Tan!"


" Kita keluar dulu, biar Lintang istirahat!"


" Bu, kita bawa Danuja ke kamarnya saja ya, kita seka dia disana saja!" Pinta Rania halus kepada Bu Yanti.


Bu Yanti mengangguk, " Ibuk pergi dulu ya, kamu di temani Denok sebentar. Ingat, jangan banyak pikiran!"


Sepeninggal para orang tua itu, Lintang kini membaringkan tubuh miring sebab punggungnya pegal. Entah mengapa, hatinya mendadak terasa aneh.

__ADS_1


" Tenang aja Lin, Jodhi enggak suka kelihatannya sama tuh belatung nangka!" Ucap Denok seraya melempar bokongnya ke sofa yang menghadap tepat ke arah Lintang.


Lintang terdiam, ia sebenarnya tidak mau ambil pusing. Namun, kenapa mendadak dia risau kala ingatannya kembali pada adegan tangan kekar Jodhi yang di gamit oleh wanita cantik tadi.


Wanita yang jika dilihat-lihat lebih segala-galanya ketimbang dirinya.


" Dilihat dari mana-mana aja, masih cantik kamu Lin! Beneran!" Denok berkata sebab ia menangkap kegundahan salam sorot mata Lintang.


"Dia kelihatan cantik modal make up tebel doang. Itu muka apa plamir kalsibot ( Calsiboard)?" Ucap Denok seraya terkekeh-kekeh.


" Palingan tempe nya juga udah enggak segel, berani taruhan Lin, paling kalau dia kencing, bunyinya kayak orang goreng rengginang terasi yang kurang di jemur. Bunyinya Krotok- krotok!" Denok tergelak dan sukses memancing Lintang tersenyum.


Wanita itu benar-benar tidak ada duanya kalau soal membacot. Ada saja yang dijadikan bahan pergunjingan. Bagaimana bisa dia memvisualisasikan sesuatu hal secara abstrak begitu.


Membuat keduanya kini terpingkal-pingkal karena rengginang terasi. 🤣


Sementara itu di tempat lain.


" Lepas Jo, sakit!" Debby merasa Jodhi benar-benar berubah. Ia kini diseret ke tempat yang jauh dan sepi.


" Kamu ngapain sih kesini?" Jodhi melirik dan sesekali menoleh ke belakang saat ia menyeret Debby ke tempat itu. Memastikan jika dirinya aman dari keluarganya.


Jelas mamanya nanti akan semakin merajuk sebab Debby yang datang dan main mendekat. Sialan!


" Jo, ayolah! Aku ini cuma pingin dekat sama kamu, tadi siapa sih yang sakit? Saudara kamu yang mana? Kok dekil banget kayak...."


" Jaga mulut kamu ya Deb, dia anak aku!"


DUAR


Debby seketika melotot dengan tatapan tak percaya. Anak? Jodhi bahkan belum menikah.


" Ma- mana mungkin?" Debby tergagap.


" Enggak, kamu belum menikah, dan aku enggak percaya!"


" Terserah, bagiku mau kamu percaya apa enggak itu tidak penting buatku. Sory Deb, tapi aku benar-benar enggak bisa! Aku bukan Jodhi yang dulu!"


Debby mematung demi mendengar ucapan Jodhi yang mematahkan seluruh harapannya. Mengapa Jodhi begitu cepat berubah.


" Jo! Jodhi!" Teriak Debby memanggil- manggil Jodhi yang berjalan meninggalkannya.


" Sialan!" Kesal Debby sebab pria itu sama sekali tak mempedulikannya.


Debby mengumpat kala melihat punggung Jodhi yang kini jauh dari pandangannya.


" Anak? Mana mungkin!" Gumam Debby resah dan tak percaya.


" Kalau itu anaknya, jangan-jangan wanita yang tadi...." Debby mendelik seraya menutup mulutnya sendiri demi dirinya yang terperangah.


" Wanita sialan, akan aku cari tahu siapa kalian! Ucapanya menatap ke arah Jodhi yang kini menghilang dari balik dinding.


.


.


Jodhistira


Belum semua kemarahan mamanya berhasil ia redakan, kini kedatangan Debby yang tiba-tiba justru membuat semua upayanya tambah menjadi sia-sia dan runyam saja.


" Hah, semoga Lintang enggak salah paham!" Ia bergumam seraya membasuh wajahnya gusar.


Ia kembali menuju ke ruangannya Lintang dengan perasaan was-was. Takut kalau-kalau mamanya akan mendampratnya kembali.

__ADS_1


Namun, ia kaget saat melihat ruangan yang awalnya riuh itu, kini sepi mampring.


" Kemana orang-orang?"


Sedikit terkejut karena hanya mendapati Denok yang berbaring di sofa seraya memainkan ponselnya, dengan posisi kaki yang ia angkat dan tersandarkan ke dinding seraya menggaruk selangkangannyaa yang mendadak gatal.


Benar-benar posisi aneh.


" Astaga!" Jodhi saja yang notabene pemain wanita kelas kakap, masih terkejut kala melihat pemandangan absurd itu. Bar-bar tingkat dewa.


Membuat Lintang menoleh dan agak terkejut saat melihatnya kembali seorang diri.


" Napa?" Tanya Denok santai yang masih memggaruk area nylempit itu.


Jodhi menggeleng, " Enggak lanjut aja!"


Jodhi meringis demi melihat wajah kesal Denok. Terlebih lagi, ia kini melihat Lintang yang tak mempedulikan kehadirannya. Makin banyak pula PR yang menumpuk untuk di garap oleh Jodhi.


Mulut Jodhi tak jadi terbuka kala ponsel Denok kini berbunyi. Astaga, wanita itu sepertinya tak pernah sepi pelanggan.


" Haluuu!"


Jodhi dan Lintang saling melirik. Membuat suasana menjadi canggung.


" Heeeeemmmm!!! "


"Hah? Bule? Enggak-enggak, kalau kebesaran mati gua nanti...."


Jodhi menggelengkan kepalanya saat mendengar suara yang lambat laun semakin lirih itu. Membuat keduanya terlihat syok.


Keheningan menjadi hal yang terjadi, saat pintu itu telah di tutup oleh Denok. Namun sejurus kemudian.


" Kenapa balik? Pacar kamu kemana?" Ketus Lintang yang tidak bisa menahan dirinya untuk tak bertanya.


Jodhi yang awalnya terkejut, kini menarik seulas senyum demi melihat Lintang yang sepertinya mau tahu dan cenderung cemburu. Ahay!


" Memangnya kenapa kalau pacar aku enggak balik lagi?" Ucap Jodhi dengan senyum yang penuh rekahan kemenangan.


Lintang mengernyit menatap Jodhi yang justru senyam-senyum. Sialan nih orang! Mendadak merasa menyesal sebab mengajukan pertanyaan itu.


Lintang menutup wajahnya menggunakan selimut kala Jodhi terus menatapnya penuh arti. Ia ogah meladeni pria itu. Ogah!


" Kenapa, kamu cemburu?" Tanya Jodhi saat Lintang memilih menutup seluruh badannya menggunakan selimut biru itu.


Lintang seketika membuka kembali selimutnya sebab selain meras ngap , ia juga tak terima di vonis cemburu oleh pria di depannya itu.


Lintang hanya tersenyum kecut lalu membalikkan badannya ke sisi lain dan kini memunggungi Jodhi.


" Tapi aku senang kalau kamu cemburu!" Ucap Jodhi dengan hati berbunga-bunga yang begitu terasa, " Itu artinya, kamu ada rasa sama aku!"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2