Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 104. Is that you? My star?


__ADS_3

Bab 104. Is that you? My star?


.


.


.


Jodhistira


Ia melempar tubuhnya lesu ke ranjang pegas kamar hotel eksekutif suite yang ia pesan. Nyalang menatap langit-langit hotel dengan tatapan nanar.


Apa tujuan hidupnya?


Mengapa rasanya hampa?


Kenapa semua yang ia miliki justru tak membawa dampak serta pengaruh apapun dalam keberlangsungan kehidupannya?


Relung-relung hatinya kosong, gelap dan tak tersuluh cahaya apapun.


" Ya ?" Sahutnya kala ponselnya bergetar. Menginterupsi kegiatan melamunnya malam itu.


" Maaf bos mengganggu, tapi orang yang kena gilingan mesin tadi infonya sakit parah bos!" Jonathan mengabari info penting terkait kesehatan anak buahnya yang kena musibah tadi.


Jodhi memijat keningnya.


" Semua udah terdaftarkan asuransi kan Jo?"


" Sudah bos, tapi kasihan. Orang itu anaknya banyak ternyata!"


Jodhi memijat keningnya lebih kuat. Merasa tidak fokus setelah melihat wajah bayi yang membuatnya gelisah. " Ya sudah pantau terus, besok kita kunjungi lagi kalau belum ada perubahan!"


Jodhi melempar ponselnya. Entah mengapa, hatinya resah sekali malam ini. Belum pernah sebelumnya ia gundah kala melihat keadaan menyedihkan seseorang. Tapi bayi tadi, entah mengapa sukses membuatnya terus kepikiran.


Tak mau membuang waktunya, ia seketika menuju kamar mandi dan merendam tubuhnya kedalam air hangat. Mungkin ia butuh penyegaran, begitu pikir Jodhi.


Kurang lebih satu jam kemudian, ia terlihat lebih segar dan rileks. Pria itu membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya, saat tubuhnya masih terlilit handuk sebatas pinggang.


[" Jahat banget di kota S tapi enggak mampir ke tempatku!"]


Pesan dari salah satu teman wanita Jodhi yang juga merupakan pembisnis di bidang lain. Jodhi sebenarnya lelah. Tapi kok rasanya enggak etis jika beralasan tak menemui Debby.


[" Aku lagi di pub paradise nih, kesini ya. Ada teman kuliah kita dulu juga nih!" ]


Jodhi terlihat menimbang permintaan temannya itu. Tak apalah pikirnya malam ini kesana. Toh ia selama ini kan jarang memiliki hubungan komunikasi yang baik terhadap teman-temannya.

__ADS_1


Usai mengganti pakaiannya, ia menuju baseemant tempat dimana mobilnya berada. Jodhi ganteng sekali malam itu. Pria fakir kebahagiaan itu kini melesatkan kendaraan, membelah jalanan yang tiada pernah lengang itu seorang diri.


Kota itu seperti kita J hanya saja lebih banyak anak-anak muda yang kini berjualan waralaba di tepian jalan. Membuat kawasan street food itu ramai di kunjungi kawula muda.


Dan saat Jodhi tengah asik menikmati lantunan lagu Just A feeling milik Adam Levine, yang meraung-raung di dalam mobilnya, matanya dibuat terkejut manakala melihat sesosok yang mendadak lewat di hadapannya.


CIIIT!!!


Jodhi nyaris saja menabrak wanita itu, kurang beberapa detik saja.


" Lintang?"


Gumamnya dengan bibir bergetar dan jantung yang mendadak tak beres, demi melihat wanita yang nyaris ia tabrak.


" Benarkah itu Lintang?"


.


.


Lintang


Ia kini telah berada di dalam mobil Reyhan dengan menggendong erat Danuja yang kembali tertidur saat mobil Reyhan berjalan dengan kecepatan sedang.


" Kebenaran wes yu, aku enggak jadi jual tempe malam ini. Tadinya aku mikir lek sampai habis banyak, aku wes siap-siap tadi!" Bisik Denok terkikik-kikik di telinga Yanti yang kini menatapnya tajam.


" Lambemu Nok? Tuh lihat!" Balas Yanti menunjuk Reyhan menggunakan dagunya.


" Aman! Enggak akan denger!"


" Kita makan dulu atau gimana?" Tanya Reyhan yang menduga pasti mereka semua belum makan.


" Langsung pulang saja!" Sahut Lintang yang membuat dua wanita di belakang itu saling menoleh.


" Tapi kalian kan belum makan?" Usai Reyhan dengan wajah muram. Melirik Lintang yang masih menatap ke arah depan dengan tatapan layu.


" Nganu saja mas. Berhenti di depan situ ya, biar aku tak beli makanan buat di bungkus, kita makan dirumah aja, kasihan Danuja nanti kalau kelamaan!" Ucap Denok demi membunuh kecanggungan yang menyeruak.


Reyhan melirik ekspresi Lintang yang masih diam. Menandakan jika Lintang tak keberatan dengan saran wanita koclok ( kurang waras) itu.


Pria manis itu menepikan mobilnya ke bahu jalan yang strategis.


" Nitip apa yu?" Tanya Denok yang sudah membuka handle pintu mobil Reyhan.


" Nitip jaga harga dirimu aja!" Ketua Yanti kesal dengan Denok yang bermulut licin.

__ADS_1


" Harga diriku berubah-ubah tiap malam yu, tergantung ukuran suatu batang benda lunak yang mau masuk!"


Denok terkikik-kikik saat menutup pintu mobil Reyhan. Membuat Reyhan geleng-geleng.


Reyhan tahu, komplek kontrakan yang di huni Lintang berisikan manusia dengan segala warna hidupnya. Tapi Reyhan sama sekali tidak mempermasalahkan. Lagipula kenapa? Manusia hidup memiliki garis dan track kehidupan masing-masing.


" Kalau capek aku gantiin Lin!" Tawar Yanti yang kini menatap Lintang resah.


Sebenarnya bukan capek, tapi Lintang ingin pergi membeli obat manakala melihat apotek yang berada di sini kanan jalan.


" Lintang mau ke apotek itu dulu ya Buk sebentar. Ibuk pegang Danuja dulu ya?"


" Ke apotek? Beli apa? Biar aku aja ya?" Usai Reyhan resah menatap Lintang yang masih diam dengan wajah lemas.


Seperti biasa, Lintang menolak tawaran pria di sampingnya itu. " Enggak usah mas. Aku aja!"


Ia sebenarnya merasa tubuhnya juga kurang sehat sejak dirumah tadi. Namun, Lintang memilih untuk diam. Ia berniat membeli obat pereda nyeri semacam Paracetamol atau sejenisnya, ia tak boleh sakit, sebab anaknya memerlukan dirinya.


" Buk, saya temani Lintang dulu!" Ucap Reyhan yang kini membuka pintu mobilnya dan tak membiarkan Lintang menyebrang jalan sendiri.


Yanti menatap Reyhan yang kini lekas berjalan menyusul Lintang yang sudah menoleh ke kanan-kiri, guna memastikan laju kendaraan dari sisi barat.


Dan benar saja, saat dirinya hendak menyeberang. Ia nyaris saja terserempet sebuah mobil.


" Lintang awas!" Dengan cepat Reyhan menarik tangan Lintang, dan membuat tubuh wanita itu seketika membentur dada bidang Rey.


Mobil itu berhenti mendadak dengan stempel ban yang tercetak tebal di jalan aspal itu. Membuat laju kendaraan barisan belakangnya turut terhenti secara mendadak.


Reyhan mengatupkan kedua tangannya sembari membungkuk kepada mobil itu, sebagai bentuk permintaan maaf kepada pengendara yang nampak berwajah pias itu. Sejurus kemudian, Reyhan merangkul tubuh Lintang lalu berjalan menuju ke seberang jalan, tempat dimana tujuan Lintang berada.


Membuat seorang pria yang berada di balik kemudi itu, menghentikan niatnya untuk keluar, sebab klakson mobil yang berada di belakangnya memaksa orang itu untuk melajukan kendaraannya.


TIN!


TIN!


" Woy jalan woy!" Teriak salah satu pengguna jalan lain, dan membuat pria itu membatalkan niatnya untuk keluar.


" Brengsek!" Maki pria itu kencang saat ia terpaksa menjalankan mobilnya kembali, demi mengurai ekor kepadatan yang mulai mengular.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2