Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 129. Mempertimbangkan


__ADS_3

Bab 129. Mempertimbangkan


.


.


.


..." Rasa kehilangan, hanya akan ada.......


...Jika kau pernah, merasa memilikinya..."...


...( Letto~ Memiliki Kehilangan)...


...🌺🌺🌺...


Jodhistira


Cinta yang berkuasa di hati, membuat rasa bahagia dan takut kehilang terus bermukim, di tulang sumsum bahkan di relung-relung sanubarinya.


Mengganggu, dan terus membuatnya kepayang sepanjang detik, sepanjang menit, sepanjang jam. Berharap tiada bertepi.


" Kau boleh membunuhku jika aku ingkar!" Bisik Jodhi menggenggam tangan wanita itu dengan erat. Kali ini tak ada penolakan, apalagi hardikan.


Lintang terbawa dalam gulungan kebimbangan yang kian mensugesti dirinya.


" Beristirahatlah, aku harap setelah ini kamu bisa mempertimbangkannya untuk Danuja!"


Jodhi pergi karena berniat menemui dokter yang menangani Danuja. Mungkin Lintang tak nyaman jika berada di rumah sakit. Pria itu ingin menanyakan apa Danuja boleh dibawa pulang? Mengingat Lintang tak bisa beristirahat dengan baik jika disini.


Tentu saja, melalui Novan.


Sepeninggal Jodhi, Lintang nampak tercenung dengan sejuta pemikiran yang menggelayut. Menggerogoti keteguhannya. Kebaikan keluarga Jodhi, nyatanya membuatnya semakin bimbang.


Walau sebagian orang menyebutnya egois, namun yang ia tunjukkan sebenarnya tak lebih dari sebuah rasa lelah. Manifestasi dari ketidakterimaannya, atas kepergian sang Bunda yang begitu memilukan.


Apakah jika dia memilih menolak , akan membuat hidupnya menjadi semakin baik?


Dan, akankah jika di menerima perjanjian nyeleneh itu, juga akan membuat hidupnya kian menjadi buruk?


Jawabannya ialah samar. Peluang suatu kejadian itu tentu selalu ada bukan? Karena kita tidak pernah tahu, jika kita tidak mencobanya.


" Pikiran Danuja!"


" Pikirkan Danuja!"


Suara-suara itu terus dan terus menghujam keteguhannya. Benarkah jika ini jalannya? Walau hatinya masih beku dan belum terisi oleh cinta atau sejenisnya.


...🌺🌺🌺...


Andhira


[" Mbak, lihat siapa ini?"]


Pesan itu dikirimkan kepadanya, berikut dengan foto bayi yang di pangku oleh Rania.


[" Siapa itu Ran?"]


Mereka saling melakukan chat dengan topik yang benar-benar mencengangkan.

__ADS_1


[" Anak Jodhi mbak. Aku punya cucu"]


DEG


Demi memutus rasa penasarannya, Andhira bahkan seketika menelpon Rania, demi hal ngaco yang ia dengar itu.


" Kamu dimana Ran?


" Aku di kota S mbak, aku..." Dengan tangis yang semakin meningkat, adik iparnya itu menceritakan semua yang Rania rasakan saat ini. Bahkan, istri Bastian itu juga menceritakan soal Raka yang sudah ada di sana selama dua hari.


Membuat Dhira geram.


Pun dengan Rania.


Marah, kesal, senang, bahagia, terharu. Semua bertangkup satu. Membuncah dalam hatinya.


Obrolan selanjutnya berisikan cerita mengenai kejadian yang baru rania ketahui. Tentang kondisi Lintang, serta kesukarsulitan Lintang yang korelasinya pas dengan sikap Jodhi yang aneh selama dua tahun ini.


Semua ia ceritakan tak tanggung-tanggung, saat Bastian membawa Lintang pergi.


Membuat Andhira syok dan merasa makin kesal dengan anaknya. Sama sekali tiada mengira, jika anak-anak mereka berani melakukan keputusan sendiri soal hal penting macam ini.


" Kenapa kalian berani menyembunyikan hal sepenting ini sih?" Dhira duduk dihadapan menantunya yang tak bisa berkutik. Menatap serta menghakimi Galuh yang memang merasa bersalah.


Galuh dalam posisi serba salah. Yang satu berkata untuk begini, semetara yang lain punya kesimpulan lain dalam memaknainya.


" Pokoknya habis ini anak-anak biar disini aja, mama sama papa kamu mau nyusul mereka! "


" Baik- baik kamu dirumah !"


Sepanjang perjalanan ia resah. Terbukti dengan tak jenaknya Dhira, kala duduk di kursi pesawat kelas bisnis itu. Membuat Abimanyu terganggu.


" Rania bilang, perempuan yang jadi ibu enaknya Jodhi itu dulu sukanya sama Raka pah!"


" Hah?"


Abimanyu seketika melipat majalah itu dan kini menatap Dhira dengan wajah serius. Menatap istrinya yang terlihat gundah.


" Semoga anak-anak enggak ada masalah pah. Aku enggak mau keluarga kita jadi..."


" Mama tenang aja. Papah tahu gimana Raka dan gimana Jodhi, " Pria yang masih tampan di usianya yang senja itu, kini mengusap lembut lengan istrinya.


" Anak bandel itu berani-beraninya menyembunyikan hal seperti ini!" Heran Abimanyu demi merasai sikap Jodhi.


Dhira lantas menceritakan alasan yang menjadi dasar Jodhi berbuat brutal kepada Lintang malam itu. Dia tak sempat menceritakan kepada Abimanyu secara detail, sebab suaminya baru saja datang dari suatu tempat bersama Wisang dan Danan.


Dhira hanya meminta suaminya untuk membantu masalah Jodhi, tanpa menceritakan detailnya. Namun, saat berada di dalam pesawat, ia justru tak tahan untuk tidak membagi hal sarat kegundahan itu kepada suaminya.


" Perempuan itu namanya Lintang, dan dia benci sama Jodhi hingga sekarang!" Ucap Dhira yang iba kepada keponakannya itu.


" Jadi karena itu Jodhi selama ini murung? Astaga! Aku paham bagiamana rasanya menjadi Jodhi!"


Abimanyu berkata seperti itu sebab teringat akan perjuangannya dulu saat mendekatkan Andhira.


Kini, dalam hati pria itu terselip suatu hal.


"Mungkin bisa berguna untukmu nak!"


.

__ADS_1


.


Kota S


***


Denok


Danuja yang awalnya minta di gendong, kini ngelunjak dan minta disuapi oleh wanita itu. Membuat wanita itu menjadi sedikit kerempongan.


" Udah lahap makannya, pulang habis ini ya?" Tanya Denok kepada Danuja yang sibuk memamahbiak.


Jonathan dan Raka sudah enyah sejak mereka mendapat kabar, jika Abimanyu dan Andhira akan bertolak menuju kota itu. Sepertinya mereka akan menyusun seribu satu alasan guna meringankan jeratan hukum.


Entahlah. Denok tak tahu pasti. Yang jelas, dari raut wajah Raka, ia bisa melihat kegelisahan yang nampak.


" Dia lengket banget sama kamu Denok!" Ujar Rania di dekat wanita itu. Terlihat tak mau berjauhan dari Danuja.


" Berojolnya memang bukan dari saya Tante Oma, tapi enggak tahu juga ya. Kok bisa lengket begini. Padahal dulu tak susoni ( di ASI-hi) enggak pernah doyan!" Denim terkikik-kikik.


" Gemblung! Ya iya lah enggak mau, wong udah terkontaminasi tembakau punya wong gerang ( orang dewasa)" Jawab Denok mengomentari dirinya sendiri.


Denok kembali tekrikik-kikik. Membuat Bastien tergelak.


Rania sangat suka dengan kebocoran Denok dalam berucap.


" Ngomong-ngomong, Tante sama Om jangan kaget ya, saya memang begini. Maklum, saya ini cuma...."


" Kamu enggak cocok masang muka sedih! Jangan sok-sokan sedih lah!" Sahut Rania cepat, yang tahu bahwa Denok akan mengatakan suatu hal yang akan membuat julangan kasta itu makin kentara.


Tidak, Rania tidak akan membiarkan hal itu. Baginya, seburuk apapun Denok, toh wanita itulah yang selama ini berkontribusi dalam kehidupan cucunya.


TOK TOK TOK


" Permisi!"


Dokter wanita itu kembali lagi. Sepertinya akan mengecek kembali kondisi Danuja.


Membuat Kesemuanya kini terdiam.


Yanti merasa heran, kenapa sekarang perawatannya begitu intensif sekali? Sangat berbeda saat ia pertama kali membawa Danuja.


" Sudah tidak muntah? Diare?" Tanya dokter itu yang kini memasang termometer ke ketiak Danuja yang masih melahap sisa suapan segede bagong dari Denok. Suaranya sangat bersahabat, ramah dan lembut.


" Sudah tidak dok, bagaimana? Apa hari ini Danuja boleh pulang? Enggak usah nunggu nanti malam?" Ucap Yanti mewakili dengan wajah gak sabar.


" Benar Ini, sudah boleh pulang. Ini suhunya juga sudah normal. Pulang ya? Habis ini infusnya di lepas!" Jawab dokter itu dengan ramah seraya menoel wajah Danuja yang cemot.


Rupanya Jodhi berhasil melakukan tugasnya dengan baik, tanpa sepengetahuan orang - orang.


Yanti merasa lega sekaligus senang. Namun, sejenak Rania muram karena itu artinya...


" Tenang! kita ikut kerumah mereka, hm!"


" Kita sekalian bisa membicarakan hal yang serius jika Danuja dibawa pulang. " Bastian yang tahu jika istrinya resah, kini berbisik pelan di telinga Rania.


Membuat Rania tersenyum lega.


.

__ADS_1


.


__ADS_2