
Bab 140. See you again
.
.
.
...๐บ๐บ๐บ...
Jodhistira
Terpesona! Itulah satu kata mutlak yang kini mewakili perasaan pria , yang saat ini tengah berusaha dan belajar menjadi lebih baik dari hari ke hari itu. Tak peduli seburuk apapun masalalu, seseorang masih bisa memiliki kesempatan tuk benahi diri bukan?
" Mah, ini hasil aku susah-susah momong kemarin?" Bisik Jodhi yang nampak suka dengan tampilan Lintang yang membuatnya adem panas ke telinga mamanya.
Rania mengangguk. " Iya lah. Gimana, bagus enggak?"
" Cantik banget ma. Tapi sayang...." Balas Jodhi yang masih berbisik.
" Apa?" Rania mengernyit sembari mendekat ke telinga anaknya!
" Enggak bisa aku sun pipinya!" Jawab Jodhi terkekeh.
PLETAK!
"Aduh!"
Kesemua orang yang disana mengalihkan fokus mereka kepada Jodhi dan Rania yang terlihat ribut.
What happened?
" Ini anak sama emak ribut terus perasaan. Malu Ma ada calon menantu!" Ucap Bastian yang sudah hapal sifat istrinya yang memang luar biasa itu.
Jodhi melirik Lintang saat papanya mengucapkan ' calon menantu '. Wanita itu diam saja, membuat Jodhi senyam-senyum sendiri.
Sepertinya Lintang memang tidak keberatan.
CLETAK
" Aduh mama, KDRT mulu deh perasaan!" Jodhi mendengus kala Rania menyelentik telinganya dengan sangat keras. Membuat cuping telinganya terasa ngilu.
" Senyam-senyum senyam-senyum, tuh bawa tasnya Danuja. Kamu pikir dengan kamu senyaman senyum bisa bikin kita cepat sampai ke bandara?"
Semua orang disana tergelak demi melihat wajah Jodhi yang memberengut. Namun, Jodhi merasa senang kala ekor matanya menangkap seulas senyum yang juga terbit dari bibir tipis Lintang.
Tunggu dulu, apa dia tersenyum karena melihat Jodhi? Ihiiiir!
.
.
" Kampret! Gini nih kalau berurusan sama keluarga cemara. Tradisi mbulet ( ribet) enggak kira ketinggalan! CK!" Denok mendecak manakala ia kini nyangar ( berdiri) sendirian di antara riuh rendah calon penumpang di bandara internasional kota S.
" Hah, lebih baik numpang duduk sini aja lah. Ini mana juga tukang taksinya, makan gaji buta bener!" ucap Denok demi melihat kursi stand taksi yang kosong.
" Permisi, maaf mbak, kalau booking taksi biasa bisa sama mbak?"
Denok memindai tampilan anak muda berkacamata yang kini mengajaknya berbicara itu dengan tatapan kaget.
" Sialan ni bocah ingusan, dia kira gua tekong taksi apa?"
" Enggak tau, saya bukan pegawai pertaksian!" Jawab Denok dengan cuping hidung yang sudah melebar. Merasa kesal karena sudah berdandan ala-ala kekinian dengan mengenakan tas selempang depan yang baru dibelikan oleh Andhira, dia malah di kira bakul taksi.
" Oh maaf, saya kira.." Ucap anak muda itu karena melihat Denok duduk manja di stand meja salah satu taksi Argo disana.
๐ถEntah siapa yang salah, ku tak tahu...
Denok seketika bangkit dari aksi tebeng menebangnya, lalu seketika enyah dari hadapan anak muda itu. Benar-benar dibuat sebal dua kali.
" Dade Denok!" Seru seseorang yang jelas ia ketahui sebagai induk dari Danuja. Orang yang menjadi sumber kekesalannya karena kelamaan menunggu.
__ADS_1
Denok menoleh dan seketika tersenyum saat melihat Lintang menarik sebuah koper bersama rombongan keluarga cemara.
" Akhirnya keluarga cemara datang! Baru aja mau pinjam karpetnya Aladin buat jemput kalian" Jawab Denok terkikik-kikik.
" Keluarga cemara, ada-ada aja ni orang!" Ucap Jodhi menyahuti celetukan Denok, yang kini menggendong Danuja sembari berjalan berduyun-duyun bersama para keluarganya.
" Pak, saya kedalam dulu. Mau ambil boarding pass!" Jonathan pamit kepada Abimanyu dan Bastian untuk menemui seseorang yang sudah menjadi orang kepercayaannya dalam mengurus akomodasi, termasuk tiket dan bagasi.
Dan benar saja, tak berselang lama dari kepergian Jonathan, datang beberapa porter dalam untuk mengambil bagasi para pasukan keluarga cemara.
" Saya bawa kedalam Pak bagasinya, di dalam ada pak Jonathan yang sudah menunggu!" Ucap porter tersebut dengan sopan.
Dhira mengangguk, " Yang ini tolong di kasih stiker fragile ( barang muda pecah) ya, isinya oleh-oleh soalnya!" Ucap Dhira tersenyum demi teringat isi yang akan di tagih oleh anak dan cucunya nanti.
Lintang tertegun, keluarga Jodhi benar-benar sangat dihormati. Ia tak menyangka, bisa berada di lingkungan orang berada yang memiliki hati bersahaja.
"Boardingnya masih satu jam lagi. Bisa lah kita makan dulu. Nok, kamu yang pilih. Salah kamu enggak mau di ajak ke kota!" Ucap Bastian usai porter itu berlalu dari hadapan mereka
" Walah Pak, jangan saya. Saya enggak tau makanan disini. Makanannya aja namanya susah di eja, salah-salah yang datang malah bukan makanan nanti! Ngikut wae lah. Ja, sini kamu sama Dade aja. Perasaan baru kemarin kamu Dade anter berojol, sekarang kamu udah mau ninggalin Dade nak!"
Denok berucap sambil merampas Danuja dari gendongan bapaknya yang kini mendengus. Ada rasa haru, manakala Lintang mendengar ucapan ceplas-ceplos dari bibir Denok.
Bagiamanapun juga, setelah ini mereka akan terpisah jarak dan waktu. Membuat Lintang dan Bu Yanti menitikkan air matanya kembali.
" Lah, malah pada nangis. Kalian ini perjalanan ke barat karena mau nyusun kebahagiaan, bukan mau mencari kitab suci bersama kawan-kawan!" Ucap Denok tekrikik-kikik sambil menciumi pipi Danuja yang kini nampak senang.
.
.
Tepat pukul 11. 20, panggilan untuk naik ke pesawat terdengar ke seluruh penjuru bandara itu. Membuat beberapa orang tua yang baru selesai makan itu kini saling menatap.
Suasana hening selama beberapa detik.
" Udah sana, udah di panggil tuh!" Ucap Denok menguatkan hati untuk mencoba biasa saja.
" Mbak!" Lintang merengkuh tubuh Denok lalu memeluknya erat seraya menangis.
" Wes hop!! ( sudah stop) jangan nangis. Kamu hanya boleh nangis jika kamu bahagia saja Lin. Aku , seneng bisa ketemu sama kamu!" Jawab Denok dengan suara yang mulai tercekat, sembari tekun mengusap punggung Lintang yang bergetar.
Membuat beberapa anggota keluarga cemara itu seketika mengharu biru.
" Aku pergi Nok. Baik-baik kamu disini. Jaga diri kamu!" Yanti kini gantian memeluk tubuh Denok, dan membuat pertahanan wanita itu seketika runtuh.
Denok menangis. Ia ingat, bagaimanapun juga Yanti merupakan orang yang selama ini mau menerima Denok apa adanya. Mereka susah seperti saudara sepenanggungan.
" Kepada pelanggan Antasena Airlines dengan nomor penerbangan, AN 212 tujuan...."
" Udah, cepat berangkat sana. Sampaikan salamku kepada Raka dan istrinya ya!" Jawab Denok dengan suara terisak, sembari melepaskan pelukannya.
Manusia yang ia sebut sebagai keluarga cemara itu kini saling berpamitan. Abimanyu, Andhira, Bastian, Rania, juga Jodhi.
Membuat Denok seketika mulai merasakan kehilangan kala mereka semua mengusap punggungnya satu persatu penuh kasih persaudaraan.
" Jonathan mana?" Tanya Rania yang terlihat menghitung jumlah pasukannya yang kurang usai menyeka air matanya.
" Nanti dia nyusul, lagi urus protokoler yang baru kita check in tadi!" Sahut Jodhi yang kini mulai bersiap-siap.
Dan, sampailah mereka kepada perpisahan yang kini telah nampak di pelupuk mata.
" Semoga beruntung Lin! See you again!"
Denok melambaikan tangannya saat gerombolan manusia itu lekas memasuki pintu lebar mesin X-ray.
" Bahagialah Lin, songsong kebahagiaan yang memang pantas kamu dapatkan!" Batin Denok seraya mengusap air matanya.
" Jangan sok kuat!"
Denok membalikkan badannya kala mendengar suara seseorang yang cukup familiar.
" Jangan merasa selalu bisa dan kuat! Semua manusia memiliki titik sendunya masing-masing!"
__ADS_1
Jonathan berdiri dengan wajah datar dan tak terbaca. Membuat Denok speechless manakala mendengar perkataan laki-laki yang mendadak bijak itu.
" Make upmu luntur itu. Kau jelek sekali jika begini! Nah, Pakai ini!" Jonathan mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu memberikannya kepada Denok.
" Kau ini bisa tidak sekali saja tidak membuliku!" Ucap Denok memberengut namun menyambar sapu tangan berwarna putih itu dengan wajah basah.
Jonathan menghembuskan napasnya demi melihat Denok yang sebenarnya lucu.
" Aku tadi membelikan ini untuk ibuku. Tapi setelah aku tunjukkan lewat foto sepertinya ukurannya tidak pas dan ibuku tidak suka modelnya!"
Denok mengernyit saat pria yang ia sebut Jojon itu menunjukkan sebuah gelang dengan bentuk yang cantik.
" Ibumu umur berapa, emak emak mana suka sama yang model begini. Ada-ada saja!" Ketus Denok dengan wajah bersungut-sungut.
" Benarkah. Kalau begitu untukmu saja!" Ucap Jonathan cepat.
Denok mendongak, " Kenapa untukku?"
" Ya..karena...ibuku tidak mau. Lagipula, daripada mubazir kan lebih ba..."
" Yasudah sini, kau masih hapal sloganku kan?"
" Kalau di kasih enggak pernah nolak!"
"Kalau di kasih enggak pernah nolak!"
Kini, baik Denok maupun Jonathan terdiam selama beberapa detik, lalu sejurus kemudian mereka tergelak bersama-sama saat sadar barusaja berkata secara bersamaan.
" Nih!" Jonathan meraih tangan Denok, lalu menyerahkan bernada itu ke tangan wanita anti-mainstream itu.
Denok tertegun beberapa saat dan membuat pandangan mereka beradu.
" Aku pergi!"
Denok mengangguk. Kecanggungan mendadak menyeruak. Sejurus kemudian ia berdiam saat Jonathan lekas melajukan kakinya beberapa langkah.
" Jon!" Ucap Denok agak ragu, namun sukses membuat langkah pria beralis tebal itu terhenti.
" Ya?"
" Kesuwun, terimakasih!" Denok tersenyum.
Jonathan mengangguk, " Pakailah! Semoga suka!" Jawab Jonathan tersenyum normal untuk pertama kalinya.
Dan untuk pertama kalinya juga, mereka berdua berbicara dengan nada serta intonasi normal. Wanita itu terlihat mengiringi langkah Jonathan yang kini punggungnya semakin menjauh dari pandangannya itu.
Denok tidak tahu, bila gelang itu sebenarnya memang di peruntukan untuk dirinya. Jonathan saja yang gengsi dan bingung mau berucap bagaimana. Membuatnya mencari-cari alasan, yang tidak mungkin bisa di sangkal oleh wanita bernama asli Deni Novita itu.
" Aneh banget si Jojon, masa emak-emak di beliin gelang beginian, ya jelas kagak mau lah. Eh, tunggu dulu, ini emas? Hah, ada suratnya juga? Eh Jon tunggu dul..."
Denok yang kaget berniat memanggil pria yang kerap berdebat dengannya itu, karena merasa ini terlalu berlebihan.
Terlambat, Jonathan sudah masuk dan sosoknya bahkan kini tak terlihat lagi. Kini, wanita itu tertegun demi melihat harga yang tertulis dalam nota pembelian itu.
" Buset!!!"
.
.
.
.
.
.
.
Kisah Denok nunggu kisah Arimbi sama Deodoran selesai ya. Biar enggak bosen bueboku semuanya ๐๐
__ADS_1