Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 28. Tak sengaja


__ADS_3

Bab 28. Tak sengaja


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Ia telah menyelesaikan tugasnya hari ini dengan penuh senyum yang merekah. Citra sudah lebih baik dan ia juga sudah berhasil mendamaikan Alfian dengan bocah cantik itu.


" Kita harus jadi anak baik, dan kalau kita mau minta maaf, itu artinya kita mau belajar anak baik!" Tuturnya yang sukses mensugesti Citra untuk mengulurkan tangan kepada bocah laki-laki gembul itu.


Ya...meski ia juga tak bisa menjamin hal itu akan bertahan lama. Mengingat anak-anak merupakan mahluk yang susah ditebak.


" Bu Galuh lebih kurusan sekarang!" Ucap Bu Debi, salah seorang guru senior yang mengajar kelas B.


" Masa sih Bu? Kebetulan kalau begitu, enggak usah diet!" Ia terkekeh demi mendengar celotehan guru yang usianya agak jauh di atasnya.


" Harusnya gemuk dong, sering izin dan sempat dapat promosi ngajar privat di rumah anak orang kaya. Bisa kebayang tambahan yang di dapat buat proses penggemukan dirumah , bukan begitu Bu guru?" Ucap seorang wanita yang menatap tajam Galuh. Menghujani Galuh dengan kedengkian sejak pertama wanita itu bergabung.


Leni, guru yang usianya sama dengan Galuh namun masih melajang itu terlihat menatap iri kepada Galuh.


Bu Debi yang melihat aura ketegangan di meja kantor itu seketika ambil sikap. " Emm Bu, Bu Galuh mau pulang sekarang atau nanti?"


Galuh yang masih saling melempar tatapan sengit dengan Leni itu, kini terlihat lekas menurunkan emosinya saat mendengar ucapan Bu Debi. Ia tak mau merugikan dirinya sendiri dengan meladeni lambe turah macam Leni.


" Pulang saja Bu. Mari, kita kedepan bareng!" Ucapnya seraya menatap Leni tak lekang. Menyambar tasnya lalu bangkit berdiri.


Bu Debi seketika menjadi kikuk dan bingung dalam bersikap. Dua-duanya merupakan rekan seprofesi, ia tentu tak mau terlalu ikut campur.


Diluar ruangan,


" Jangan di ambil hati nggeh Bu. Mungkin Bu Leni sedang PMS!" Bu Debi terkekeh saat mengatakan hal itu.


Galuh tersenyum. Sejujurnya ia hanya terkejut saja. Mengapa sampai ada yang berpikir seperti itu terhadap dirinya. Padahal upah mengajar juga sama saja.


" Bu Guru!!" Teriak Citra dari kejauhan. Membuat Galuh seketika membelalakkan matanya.


" Kok belum pulang?" Tanya Galuh yang terkejut melihat Citra masih ada di sekolahnya hingga jam se siang ini.


" Nungguin Bu Guru!" Jawab Citra tersenyum.


Sejurus kemudian ia melihat ke arah belakang, dimana Mbak Nining menatapnya sungkan, " Non Citra Keukeh mau nunggu Bu Galuh. Maaf Bu, saya jadi...!" Nining serba salah. Bagiamanapun juga Citra anak majikannya yang selalu menjadi prioritasnya, sementara ia juga sungkan kepada Bu Galuh karena kerap merepotkan.

__ADS_1


" Bu... mau main kerumah Citra enggak? Citra jam tiga ada undangan ulang tahun ke rumah Rio. Citra enggak tahu pakai baju apa. Ayah Citra telpon enggak di jawab. Semua teman-teman pasti datang sama orang tua mereka. Citra....!" Bocah itu seketika tertunduk murung sewaktu mengucapkan kalimat terakhir.


Citra muram lantaran ia tak mau sendirian tanpa di temani orang-orang terdekatnya. Ia akhirnya meminta Nining untuk menunggu Bu Galuh, dan memohon kepada wanita yang sudah berjanji menjadi temannya itu, untuk menemaninya.


Ia menatap mbak Nining yang kini meringis sungkan, " Non Citra enggak mau sama saya Bu!"


Galuh terlihat menimbang- nimbang. Ia sebenarnya free. Lagipula, Mas Adi pasti akan pulang malam lagi. Tapi...apa tidak akan jadi masalah saat ia kerumah Citra lagi. Mengingat Raka sangat dingin kepadanya.


" Nanti saya tunggu di mobil Bu. Bu Galuh bisa langsung pulang saat acaranya sudah selesai nanti!" Nining menatapnya penuh harap saat memberikan sebuah solusi.


" Pergi saja Bu. Kasihan Citra!" Bisik Bu Debi yang turut menatap iba bocah piatu itu. Mengoyak paksa nuraninya yang sebenarnya kasihan dengan Citra


.


.


" Ko masih banyak enggak sih?" Tanya Raka yang menatap Niko serius saat mengecek satu persatu laporan fiktif dari salah satu divisi.


Ya, mereka mengendus tindak korupsi yang di lakukan beberapa petinggi di Delta Group itu.


" Pak Raka mau pergi?" Tanya Niko lebih serius.


" Si Citra tadi nelpon kalau ada acara ulang tahun kerumah temennya. Aku males Ko, pasti yang datang emak-emak. Ya kali..aku ikut!"


Niko yang notabene masih muda sekali itu terlihat menggelengkan kepalanya. Gengsi sekali bosnya itu.


" Terus, Citra gimana dong?" Tanya Niko menatap ke arah Raka dengan tatapan tak mengerti.


Namun rupanya Niko merupakan orang yang bijak. Ia memaksa Raka untuk pulang dengan dalih perbuatannya itu jelas akan melukai Citra.


" Biar saya saja yang menyelesaikan ini Pak. Citra lebih penting! Lagipula, kita tidak ada rapat dengan siapapun sore ini!"


Dan benar saja, saat ia sampai dirumahnya, ia sudah melihat Nining yang telah bersiap dengan pakaian seragamnya. Hanya saja, kilatan mata baby sitter anaknya itu menyuguhkan keterkejutan yang kentara.


" Ada apa?" Tanya Raka curiga yang membuat Nining makin gelagapan.


" Anu Pak...!"


.


.


Raka


Usai mendengar penuturan jika Bu Galuh ikut pulang bersama Citra, pria itu seketika berlari menuju kamar Citra. Entah mengapa, ia merasa jangan-jangan wanita itu memanfaatkan Citra untuk kepentingannya semata.


CEKLEK!

__ADS_1


Mata Raka membulat seketika ,demi melihat Galuh yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di kamar Citra, dengan hanya mengenakan tangtop yang menyuguhkan dua buah dadanya yang menyembul ranum.


Oh sial!


Kulit seputih susu yang membuat jantung Raka seketika berdegup kencang. Rambut wanita itu juga tergelung ke atas, menampilkan lehernya yang bersih dengan sebuah kalung liontin hati yang ia kenakan. Fix Galuh baru saja selesai mandi.


BRAK!


Dengan spontan Raka menutup kembali pintu kamar anaknya , yang berisikan pemandangan mengejutkan itu. Oh, ****!!!


Ia tak mau sampai Galuh salah paham. Salahnya juga , tiap masuk kamar Citra, selalu saja tak pernah mau mengetuk pintunya.


Tubuhnya seketika menegang demi mengingat ukuran benda milik guru anaknya itu. Tubuh Galuh yang jelas saat ini mulai meracuni otaknya. Oh ya ampun!


Saat ia masih berusaha menetralisir rasa gila yang menyerang dirinya itu, sebentuk raut kesal milik bocah cilik menyambutnya. Tiada keramahan maupun sorot persahabatan.


Menatapnya sinis bak musuh bebuyutan. Citra kesal.


" Aku mau pergi sama Bu Guru kerumah Rio. Ayah ngapain pulang? Katanya tadi sibuk?" Bocah itu kini mendakwanya sinis. Oh astaga, that's my bad!


Niko benar. Jelas Citra telah salah paham.


CEKLEK


Belum sempat ia menjawab ucapan anaknya yang jelas telah kecewa itu, kini sepasang mata dengan kilatan kemarahan turut mendakwanya.


Huft!


Apa pria itu tidak bisa mengetuk pintu saat masuk? Apa mentang-mentang rumahnya? Begitu pikir Galuh sebal.


" Wah Bu guru cantik banget, kata Mbak Nining itu baju Ibuku Bu!" Lihatlah, bahkan raut wajah Citra mendadak bahagia saat melihat Galuh yang sudah rapi dengan sebuah dress biru navy milik mendiang ibunya.


Nining kini terlihat datang dengan tergopoh-gopoh . Takut jika Raka akan marah karena ia telah lancang mencarikan pakaian milik Visya atas permintaan Citra, karena pakaian Galuh tadi terkena noda es krim saat membantu Citra membeli kado.


" Maaf Pak, tadi Bu Galuh bajunya kotor sewaktu ngantar non Citra beli kado. Jadi....!"


Raka meneguk ludahnya demi melihat Galuh yang terlihat berbeda saat memakai pakaian Visya.


" Tunggu sebentar, aku akan ganti baju dulu. Ayah yang akan mengantar kalian!" Ucap Raka mengusap puncak kepala Citra sembari berjalan dan terlihat terburu-buru.


Membuat Galuh terkejut. Apakah itu artinya, mereka akan pergi bersama?


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2