Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 61. Hari pertama


__ADS_3

Bab 61. Hari pertama


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Jodhi


Ia pagi ini berniat menemui Raka pagi-pagi sekali, usai di damprat oleh Rania sebab pria itu belum juga mau serius menangani perusahaannya yang berada di naungan Delta Group.


Dan kemarahan sang mama akhirnya membuatnya mau tidak mau serius untuk menjalani peran sebagai CEO perusahaan yang memproduksi makanan dan minuman, yang biasa memenuhi deretan rak rak supermarket yang disukai anak-anak itu.


" Akhirnya elu mau juga!" Ucap Raka yang kini tengah duduk sarapan di meja yang berhadapan dengan Citra dan Jodhi.


" Mama murka, papa juga sibuk di DI...ya udah..mau enggak mau!" Jawan Jodhi pasrah.


Raka menggeleng-gelengkan kepalanya, pria liar di depannya itu selama ini memang ogah berpikir mumet sepertinya. Padahal, perusahaan yang kini di pegang oleh ibunya juga sama besarnya dengan perusahaan yang Abimanyu miliki, dan kini telah di percayakan kepada Raka sebagai Dirut di perusahaan manufacturing itu.


" Mau sampai kapan begitu terus Jo!" Cibir Raka.


" Tau lah, gue rasa...hidup terlalu singkat kalau cuma digunakan buat mumet!"


Demi memudahkan target pasar agar tidak rancu, Raka bahkan tidak memproduksi apa yang di produksi oleh perusahaan Rania, demi kesinambungan antara keduanya agar tetap bisa berjalan. Walau dalam prakteknya, mereka memiliki produk- produk unggulan yang di cintai masyarakat sesuai jenisnya masing-masing.


" Ayah, nanti aku pulang sama Pak Jan ya... Ayah jangan lupa, enggak perlu jemput!" Ucap Citra yang kini meminum susunya. Membuat ucapan Raka menguap.


Jodhi menatap bocah unyu itu. "Loh, memangnya kenapa ?"


" Paman Jodhi... Citra mulai hari ini ditemenin sama Bu Guru...!" Ucap Citra pamer dengan tersenyum memamerkan giginya yang kecil-kecil.


Jodhi mengernyit " Bener Ka?" Tanya Jodhi menatap Raka yang kini meminum susu tinggi kalsium itu. Melupakan pokok percakapan yang mendadak lenyap demi berita heboh ini.


Raka mengangguk, " Nining berhenti, susah cari ganti yang cocok. Kepaksa deh!"


Jodhi mengernyit, tapi... bagiamana bisa seorang guru menjadi pengasuh?


.

__ADS_1


.


Dan kebingungan Jodhi tadi pagi akhirnya terjawab, begitu siang hari ia mampir ke kediaman Raka kembali, saat mamanya meminta Raka untuk mengantarkan cake untuk Citra.


" Wow, ini dari nenek Rania?" Tanya Citra dengan mata berbinar, manakala sebuah cake coklat yang menjadi menu best seller Dapur Isun berada di depannya.


" Iya... gimana? Suka enggak?"


" Suka-suka, Bu Guru....!" Seru Citra memanggil Galuh yang terlihat membereskan piring bekas menyuapi bocah itu. Berniat menunjukkan kue lezat yang baru saja dibawakan pamannya.


Membuat Jodhi tersenyum. " Bu!" Sapa Jodhi mengangguk ke arah Galuh yang kini berjalan menuju ke arah meja makan.


" Ah..anda ini...adiknya Pak Raka?" Sapa Galuh yang terlihat mengingat- ingat.


" Ya benar saya...adiknya Raka!"


Jodhi menatap Galuh dengan tatapan penuh arti. " Wanita ini sangat di sukai Citra, kenapa Raka tidak memilih wanita ini saja. Wanita ini begitu baik dan juga cantik!" Batin Jodhi yang kini memikirkan sesuatu.


" Emmm Pak..." Galuh menggantungkan kalimatnya demi bingung hendak memanggil siapa.


" Saya Jodhi, panggil saja saya Jodhi...kita seumuran. Cukup Raka saja yang di panggil Pak, saya jangan!" Ucap Jodhi terkekeh.


" Ah benar namanya Jodhi, kenapa bisa lupa!"


" Kalau begitu saya pamit dulu... Citra, jangan nakal sama Bu Guru ya?" Jodhi mengacak rambut keponakannya itu dengan kasih. Jodhi merasa tenang manakala melihat Citra yang sumringah.


.


.


Raka


Raka sore itu pulang lebih cepat sebab tidak ada lagi yang perlu di kerjakan. Pria itu langsung pulang karena merasa tidak enak badan. Dan setibanya di rumah, ia tersenyum lega saat mendengar Citra yang ngobrol asyik dengan pengasuh barunya.


" Bu Guru, kenapa Bu Guru enggak jadi Bu Guru lagi? Citra manggilnya apa dong?" Bocah itu masih gencar bertanya saat Galuh kini memberikan minyak rambut dengan wangi khas yang segar itu keatas rambut Citra.


" Ya panggil Bu Galuh aja lah!" Sahut Galuh terkekeh sambil menyisir rambut lurus Citra.


" Citra kenapa kok seneng di jagain Bu Galuh?" Tanya Galuh mencobai.


Raka yang berdiri menguping di tembok luar kamar Citra justru tertarik ingin mendengar jawaban anaknya.

__ADS_1


Citra membalikkan badannya menghadap ke arah Galuh. " Enggak tahu, tapi Citra seneng aja kalau ada Bu Guru. Bu Guru cantik sih!"


Raka tersenyum demi mendengar jawaban anaknya. Ya... Galuh memang cantik. Hatinya mendadak berdesir manakala mengingat ia yang pernah memberikan napas buatan kepada wanita itu.


Oh ya ampun!


Ia kini memilih untuk mandi dan mengganti bajunya karena ia semakin merasa meriang. Sepertinya ia akan sakit, sebab tenggorokannya juga sakit dibuat menelan.


Raka mendapati Galuh sedang merebus sesuatu saat ia hendak menuju dapur dan mengambil air.


" Anda sudah datang?" Sapa Galuh yang melihat Raka kini berdiri menggunakan kaos dan terlihat baru saja mandi.


Raka mengangguk, " Barusan. Gimana Citra?" tanya Raka sembari membuka kulkas yang tingginya hampir sama dengannya itu. Berniat mencari sesuatu yang bisa ia minum.


" Baik, anda...sedang mencari apa?" Galuh mengerutkan keningnya demi melihat Raka yang memindai isi kulkas.


Raka mengernyit," Apa ya.. tenggorokanku..."


" Emmm Pak Raka, apa anda baik-baik saja?" Tanya Galuh demi melihat telinga Raka yang merah. Jelas menandakan jika suhu tubuh pria itu tengah naik.


" Apa anda sakit?" Galuh kini berjalan mendekat.


" Aku...!"


Raka mematung sesaat begitu tangan Galuh menempel di lehernya demi memeriksa suhu tubuhnya.


"Astaga, kenapa denganku?''' Jantungnya berdetak kencang manakala Galuh kini menyuguhkan raut cemas. Sial!


" Anda demam, sebentar!" Galuh kembali ke dapur dan terlihat mencari sesuatu di wadah khusus bumbu. Tidak menemukan yang ia cari, ia akhirnya membuka kulkas. Membuat Raka heran, sebenarnya apa yang di cari oleh wanita itu.


Galuh rupanya berniat membuatkan jahe hangat yang ia tambahkan dengan madu. Wanita itu terlihat lihai dan cekatan manakala mengupas dan menggeprek jahe merah itu.


" Minumlah selagi hangat, mungkin anda kecapekan. Kalau bisa segera digunakan untuk beristirahat!" Galuh menyajikan segelas jahe madu hangat untuk Raka. Membuat pria itu tertegun. Ada perasaan aneh yang menyelinap.


Raka merasa ada getaran lain manakala wanita di depannya itu kini memberikan perhatian, walau sebenarnya itu tak lebih karena Raka merupakan orang tua dari bocah yang ia asuh.


Entahlah, semakin kesini Raka semakin menemukan banyak keanehan manakala berada di dekat Galuh.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2