
Bab 76. Akhir dari kepanikan
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Ada perasaan lega yang hadir manakala ia dengan lancarnya mengatakan hal yang memang sudah ada di hatinya sedari beberapa waktu terkahir.
Ia tak mau lagi bertele-tele.
Ia kini berjalan berdua bersama Galuh yang juga terlihat sama kikuknya usai mengalami hal yang membahagiakan. Yeah!
" Mana yang lain?" Tanya raka polos kepada Dananjaya yang kini duduk menghisap rokoknya.
" Udah pergi lah. Gila aja nungguin orang ******* di dalam.Haish! Anak sama bapak kok ya sama aja!" Menggerutu dalam hati.
" Udah pada ngacir duluan. Udah ayok, biar Om yang bawa mobilnya. Kalian di belakang aja biar bisa istirahat!"
Danan terkikik dalam hati demi mengingat perkataan yang dia ucapkan kepada Abimanyu tadi, sesaat sebelum papa dari Kalyna itu melesat pergi.
.
.
Andhira
Ia yang menangis tersedu-sedu karena bingung, terlihat benar-benar kehilangan harap manakala di jam jelang sore itu, tak juga mendapat kabar tentang progres keberadaan cucu dan anaknya.
Namun, rupanya Tuhan benar-benar masih bersama orang-orang yang sabar. Kalyna yang baru saja keluar dan hendak menghubungi Om Devan atas permintaan mamanya itu, kini berteriak-teriak demi menyebut nama keponakannya.
__ADS_1
" Mah! Citra di depan!"
Sontak membuat semua yang disana beranjak dari duduknya. Bahkan Shinta kini berlari demi membuktikan ucapan Kalyna yang membuat semua yang mendengar menjadi kaget
Ya, Anom sengaja menyuruh anak buahnya yang setia itu untuk mengantar Citra. Pria datar itu sangat kasihan dengan Citra, terlebih dia sudah berjanji kepada Galuh.
Setiap orang pasti memiliki sisi baik meski itu hanya sebesar biji sesawi.
" Astaga, Citra!' Sekar dan yang lainnya kini berteriak, demi melihat Citra yang seorang diri di depan gerbang dengan keadaan kucel seperti orang habis berlari. Berisimbah keringat.
" Astaga Dhir, itu satpammu kenapa kok pingsan?" Shinta yang rupanya sempat mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Raka itu, nampak syok manakala melihat satpam Raka tergeletak.
Membuat Dhira berteriak demi memanggil Sulas untuk menolong satpam itu.
" Oma...!" Rengek bocah itu yang lemas sebab belum makan apapun.
" Astaga Dhir, dia lemes ini. Ayo cepat kita bawa kedalam!" Shinta langsung menggendong tubuh mungil Citra. Menepikan keberadaan satpam yang entah pingsan karena apa.
" Kay, panggil dokter. Mama takut jika terjadi sesuatu" Titah Dhira yang panik demi melihat cucunya yang lemas .
Dan dari kesemua hal itu, membuat Dhira seketika menghubungi suaminya dan menerangkan jika cucunya telah berada dirumah.
Ia heran,mengapa bocah ini berada di sini sementara mereka belum kembali. Apa yang sebenarnya telah terjadi.
.
.
Beberapa saat kemudian para ibu dan wanita yang terjaga dirumah Raka itu, mendengar deru mobil yang rupanya merupakan mobil milik Jodhi, yang di dalamnya terdapat Wisang, Bastian dan Jodhi.
Mereka kini terlihat melesat kedalam dan sibuk menenangkan Jodhi yang masih kalap.
" Brengsek!" Maki Jodhi yang masih berang dan tak terima.
Kesemua orang disana ,bahkan anak-anak terlihat melongo saat Jodhi membanting pintu mobil seraya kini terlihat marah dan langsung masuk ke dalam rumah Raka, lalu menuju ke arah kolam renang yang berada di belakang rumah.
__ADS_1
Membuat Rania kini buru-buru menyongsong suaminya yang sudah menginjakkan kaki di depan ruang tamu Raka" Apa yang terjadi? Kenapa Jodhi....?"
" Tenang dulu. Biarkan dia tenang!" Jawab Bastian yang ingin menenangkan istrinya. Sejurus kemudian Bastian menceritakan apa yang telah terjadi. Membuat Rania benar-benar terkejut.
" Niko, bagaimana?" Tanya Wisang kepada anak dari Devan yang mereka tugaskan untuk menyelamatkan perusahaan, melalui telepon.
" Aman Om. Semua sudah stabil!" Terang Niko yang membuat mereka bernapas lega.
" Dimana Mas Abi?" Tanya Rania yang kini berada di luar. Meninggal Sekar, Dhira dan juga Shinta yang sibuk mengurus Citra.
" Kak Abi...!" Ucapan Bastian menguap demi mendengar deru mobil yang khas di telinga mereka.
Pucuk dicinta ulam tiba. Abimanyu yang di tanyakan Rania kini tiba dan hanya berselang beberapa menit dari kedatangan ketiga pria itu.
Abimanyu kini terlihat membawa mobilnya sendirian sebab tersugesti ucapan Danan.
" Elu pulang bawa balik itu satu mobil. Aku biar bareng Raka ama calon mantu elu!" Membuat Abimanyu mau tak mau harus mengemudi sendirian.
" Memangnya mereka kenapa?"
Danan maju mendekat. " Pernah muda kan? Pernah lah masa enggak. Jadi ..gak usah tanya jawaban selanjutnya karena yang tahu hanya rumput yang bergoyang!" Danan tergelak sembari memukul bahu Abimanyu.
Sialan mulut si Danan!
" Mas Abi, yang lainnya mana? Kenapa enggak bareng-bareng begini?" Tanya Rania bingung sewaktu tak mendapati manusia selain kakaknya dari dalam mobil besar itu.
" Mereka lagi di belakang. Tau tu si Danan. Habis menggerutu gak jelas malah nyuruh aku balik duluan. Dah kamu tunggu dia dulu Ran. Terutama pengasuhnya Citra tuh, kata si Danan habis kena sengat tawon. Kamu siapin minyak deh. Kasihan. Tadi aku enggak sempet ngelihat mereka. Kepalaku pusing banget!" Ucap Abimanyu ngawur.
Membuat Rania bingung.
" Di sengat tawon?"
.
.
__ADS_1
.