
Bab 63. A Feud
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Galuh
" Pak Raka?" Ia tentu saja membulatkan matanya manakala bibir pria itu bersilaturahmi ke pipinya dengan ngawurnya.
Jantung Galuh seakan melompat dari tempatnya. Untung saja Citra sudah tidur, jika tidak? Astaga, bagaimana ini?
" Maaf, saya pikir kamu..."
Galuh seketika beranjak demi wajahnya yang sudah memerah. Sungguh, entah mengapa sekujur tubuhnya kini menjadi bergetar. Pria itu benar-benar membuatnya adem panas saat ini.
Galuh memilih melesat dan meninggalkan Raka yang kini malah senyam-senyum sendiri. Benar-benar pria gila!
Ia mendecak kesal saat nomer Made yang notabene merupakan supir taksi online langganannya tidak bisa ia hubungi. Benar-benar kampret!
Galuh berniat pulang saja malam itu sebab ia benar-benar malu. Bagiamanapun juga, hak tersebut merupakan hal tabu untuknya.
Namun saat ia masih sibuk dengan keresahannya, suara pria yang familiar itu membuatnya mendelik.
" Kenapa? Enggak bisa dihubungi?" Raka yang sudah mengenakan kaosnya itu terlihat menyenderkan tubuhnya miring, sembari melipat kedua tangannya.
Menatap Galuh dengan tersenyum penuh arti.
" Wajahmu kenapa merah? Asal kau tahu...aku tadi tidak sengaja menciummu. Lagipula, saat kau pingsan dulu, aku juga pernah mencium bibirmu juga!" Ucap Raka menaikturunkan kedua alisnya. " Tanpa sengaja juga tapi!" Raka menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
" Wong gendeng!" Ucap Galuh dengan wajah kesal. Bisa-bisanya pria itu tak merasa bersalah sama sekali.
Raka hanya terkekeh usai dikatai ' wong gendeng' oleh Galuh. Sejurus kemudian pria itu terlihat masuk dan entah pergi kemana.
" Astaga orang itu!" Galuh bermonolog dengan wajah kesal. Bisa-bisanya pria itu malah menggodanya. " Udah enggak waras dia, tapi...tadi dia bilang?" Galuh baru ingat, mungkin yang di maksud Raka adalah napas buatan saat ia pingsan dulu.
Astaga!!! Galuh menutup wajahnya detik itu juga karena malu. Bagiamana kini ia bisa menghadapi pria itu sekarang? Oh sial!
Definisi dari ketidaktahuan itu seringkali lebih menenangkan.
Sejurus kemudian Galuh kembali fokus menghubungi supir taksi langganannya namun tak juga membuahkan hasil. Membuatnya makin resah.
TIN TIN
Ia terkejut saat melihat Raka yang sudah berada di dalam mobil. " Astaga, jadi pria itu menuju garasi tadi?"
" Naiklah, aku akan mengantarmu!" Ucap Raka dari dalam ruang kemudi mobilnya.
" Tidak perlu, anda sakit. Sebentar lagi pasti di angkat!" Galuh masih tekun dengan pendiriannya. Lagipula ia masih malu.
Raka menghela nafasnya panjang, " Ini sudah malam, cepatlah! Aku sudah lebih baik"
Galuh masih menatap Raka dengan cuping hidung yang melebar, serta hati yang gondok. Seperti menabuh genderang perang.
__ADS_1
" Cepat, aku tidak bisa lama, takut Citra bangun nanti!"
.
.
Raka
Ia tak mengerti akan apa yang ia rasa, berulang kali terlibat hal intim tanpa sengaja dengan wanita itu, entah mengapa justru membuat Raka senang. Ia bahkan melupakan Dewi untuk beberapa saat.
Ia hanya heran, kenapa wanita sebaik Galuh di selingkuhi?
" Pakai sabuk pengamanmu!" Ucap Raka seraya menahan tawanya demi melihat Galuh yang masih saja monyong. Benar-benar menggemaskan.
Kebisuan masih melanda, tak ada yang berniat untuk memecah kesunyian yang menyeruak. Jam sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam. Ekor mata Raka sempat berkali- kali menangkap Galuh yang menutup mulutnya sewaktu menguap. Jelas wanita itu lelah sekali.
Rumah Raka dan rumah Galuh berjarak 45 menit jika jalan normal. Menggunakan motor dan mengunakan mobil jelas berbeda.
Raka menepikan mobilnya saat ia melihat kepala Galuh yang nengler ke sisi kanan, membuat pria itu kasihan dan berniat membetulkan.
DEG
Jantung Raka mendadak bergetar, saat desiran aneh tiba-tiba muncul sewaktu ia menatap wajah cantik Galuh yang lelap itu. Raka menelan ludahnya dan kini menatap nanar bibir yang pernah ia rasai itu.
" Cantik sekali dia jika begini!"
Menepikan pikiran yang mulai ngawur, ia kini merubah posisi jok mobilnya, dan membuat kursi itu sedikit di rebahkan agar Galuh bisa tidur dengan nyaman. Wanita itu pasti lelah, sebab meski ia kini mengerakkan jok itu, wanita itu sama sekali tak merasa.
Raka kembali menatap wajah wanita nestapa itu. " Apa yang membuat orang sepertimu di tinggalkan oleh suamimu?" Gumamnya dalam hati.
.
.
...🌺🌺🌺...
Dewi
Ia sedang bersama Anom membicarakan sesuatu yang justru menjadi perdebatan antara majikan dan guardnya itu.
" Tolong jangan seperti ini nyonya, anda sudah sangat melenceng dari rencana!" Ucap Anom yang sebenarnya terbakar demi mengingat Dewi yang sudah dua kali bergumul dengan Jodhi.
"Pria itu pria bebas, dan jika berbicara masalah rugi, anda yang di rugi.."
PLAK!!!
Ucaaoan Anom menguap bersamaan dengan sebuah tamparan yang mendarat di wajahnya.
" Jalankan saja perintahku! Jika kau masih ingin bekerja bersamaku. Jika tidak, pergi dari sini, aku akan melakukannya sendiri!" Dengan napas terengah-engah, Dewi yang geram terlihat menegaskan rahangnya sewaktu berbicara kepada abdinya.
Anom yang hatinya bergemuruh karena suatu hal itu, kini membalikkan tubuhnya dengan rasa pipi yang panas.
Sejurus kemudian pria itu melesat pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun karena selalu kalah dan tidak bisa jika Dewi memintanya pergi. Tidak bisa.
.
.
__ADS_1
Anom
Ia tahu jika malaikat penolongnya itu akan melampiaskan dendamnya dalam waktu dekat kepada pria yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu.
" Kau tahu Anom, aku dan ibuku dulu mereka perlakukan bagai sampah. Kau tahu apa itu sampah?"
Ucapan Dewi terus terngiang-ngiang di kepalanya. Wanita itu memiliki dendam kesumat yang sudah ia ketahui selama ini.
" Ibuku bahkan sekarang menjadi menyedihkan juga karena mereka"
" Ibuku lumpuh dan tak bisa berbicara Anom, tidak bisa berbicara!!"
" Mereka hidup bahagia sedangkan aku? Lihat aku Anom!!! Aku hanyalah sampah yang di pungut oleh orang kaya yang mandul!"
" Jika bukan karena ibu angkatku, aku pasti juga sudah mati di makan anjing di pinggir jalan!"
Anom kini berada di kamarnya, menumpukan kedua lengannya diatas wastafel panjang kamar mandi pribadinya, seraya menangis. Ia mencintai Dewi, ia menyukai Dewi, bahkan menyayangi wanita itu setulus hati.
Hatinya bagi tercabik-cabik sewaktu melihat Dewi bermesraan dengan Jodhi, ia juga merasa sakit hati sewaktu melihat wanita itu mengecup mesra pipi Raka. Tapi ia bisa apa?
Pria datar yang irit bicara itu kini menangis seorang diri. Ia tak bisa meninggalkan Dewi. Wanita itu telah begitu berjasa untuknya. Ia tahu bagiamana rasanya memiliki dendam, ia pun sama.
Tapi jika dengan cara seperti ini, sungguh Anom tidak sanggup.
" Kenapa kau harus menyakiti dirimu sendiri?" Lirih Anom menahan sesak di dadanya. Sungguh, ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Dewi.
.
.
Dewi
Ia sebenarnya heran dengan sikap Anom yang seolah enggan untuk ia perintah. Pria itu makin susah diatur saja pikirnya. Membuatnya berniat untuk melancarkan rencananya malam ini.
" Temui aku di tempat biasa!"
Ia telah mengirimkan pesan kepada Jodhi. Bom yang selama ini ia bawa kemanapun, agaknya akan segera ia ledakkan malam ini juga.
Sudah cukup, keluarga Aryasatya harus merasakan apa itu ketidaktenangan.
Ia kini meraih jaket lalu berjalan menuju ruangan tempat dimana ibunya dirawat. Dewi berjalan dengan hati sesak tiap memasuki kamar ibunya.
Dewi mengusap lengan pucat yang kini hanya bisa menjadi bunga kasur itu. " Setelah ini kita bisa hidup dengan tenang Bu!" Dewi mengecup kening Ibu Gwen yang terbaring lemah.
" Biarlah aku ini lacur dimata orang lain, aku tidak peduli!" Dewi menangis sambil terus berbicara kepada ibunya yang kini mulai membuka matanya.
" Mereka harus merasakan apa itu kehancuran!" Dewi tersenyum mengerikan di sela-sela tangisnya. Membuat Gwen yang kini berwajah terkejut menggeleng kepalanya demi mengerti apa maksud anaknya itu.
.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1