Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 72. Menyelamatkan Citra part2


__ADS_3

Bab 72. Menyelamatkan Citra part2


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Anom


Ia yang mendengar suara letusan tembakan sebanyak tiga kali itu, kini berlari tunggang langgang karena khawatir sesuatu menimpa Dewi. Pun dengan Jodhi yang saat ini berlari ke dalam dan diikuti oleh Bastian.


" Dimana Raka dan yang lainnya, Citra?" Gumam Jodhi yang terkejut karena ia disambut oleh anak buah Dewi yang lumayan banyak.


Anom yang kini berada di ambang pintu ruang penyekapan Raka, kini bernapas lega saat melihat Dewi yang rupanya baik-baik saja.


" Syukurlah?" Gumam Anom.


Sejurus kemudian ia sempat melayangkan tatapan ke arah Galuh. Menyiratkan sorot mata untuk percaya kepadanya. Membuat Galuh menarik senyum tipis demi membalas Anom.


" Apa yang kau lakukan?" Tanya Anom kepada Dewi dengan kekhawatiran yang membuncah. Membuat Raka terkejut demi melihat interaksi Anom yang sangat mencemaskan Dewi.


BRAK!!!


Baik Anom, Dewi, Raka maupun Galuh kini saling menatap, demi mendengar suara gaduh di luar. Jelas anak buah mereka kini saling berkelahi dan menghadapi dua penyusup itu.


.


.


Jodhi dan Bastian mendelik manakala ia di kepung oleh anak buah Dewi yang begitu banyaknya. Sama sekali tak mengira jika wanita itu bukan wanita sembarangan.


" Jodhi, kau harus hati-hati. Mereka ada banyak!" Ucap Bastian memperingatkan.


" Sial!" Jodhi mengepalkan tangannya geram.


" Angkat tangan kalian!" Seru salah satu antek Dewi.


Dewi dan Anom tiba-tiba muncul dan kini menatap Jodhi bersama papanya yang terlihat mengangkat tangan. Dewi mengedarkan pandangannya dan melihat Citra sudah tidak ada disana. Mungkin Jimbron telah mengamankan bocah itu. Bagus lah.


Dewi memilih berjalan dan mendekati Jodhi" Kau mau mencoba bermain-main denganku ya, hm?" Dewi meraih dagu Jodhi yang tidak bisa berkutik. Membuat Bastian melirik anaknya.


" Akan ku bun...!"


KLAK KLEK


Anom seketika mengokang senjatanya manakala ia melihat Jodhi yang hendak menyerang wanita yang ia cintai dalam diam itu. Membuat Jodhi mengeraskan rahangnya.


" Bajingan!" Umpatnya menahan geram dan saling melempar tatapan sengit kepada Anom.


" Kalian mau mati bersama disini ya rupanya. Atau...kau merindukanku sayang?" Dewi meraba bibir Jodhi dan langsung membuat Jodhi memalingkan wajahnya kasar. Membuat Dewi tertawa mengerikan.


Oh Shiiit!!!


" Urus mereka semua!" Ucap Dewi memerintahkan anak buahnya untuk turut mengikat Bastian dan Jodhi.


Anom menatap tajam mata Jodhi yang kini melintas di hadapannya seraya mendapat ancaman dari para anak buahnya. Apakah Anom cemburu? Ya, jelas dia cemburu.

__ADS_1


Ia tahu Dewi melakukan hal itu bukan berdasarkan perasaan apalagi hatinya. Dewi melakukan hal itu sebab wanita itu merelakan diri dan tubuhnya untuk menjadi umpan, agar Dewi bisa membalaskan dendamnya dengan mulus. Dan beginilah hasilnya. Sesuai harapan.


Sedikit ironis sebenarnya.


BRUK


Suara tubuh Jodhi yang menabrak beberapa perkakas membuat Raka dan Galuh membulatkan matanya.


" Akan ku bunuh kau setelah ini anjing!" Ucap Jodhi memaki para anak buah Dewi yang mendorongnya secara kasar, dan membuatnya kini terjerembab ke lantai.


" Aku tunggu hal itu terjadi, heh!" Ucap salah satu keroco Dewi yang kini tertawa keras seraya mengejek ke arah Jodhi.


BRAK!!


Suara pintu yang dibanting keras itu sukses membuat Galuh berjingkat. Astaga!


" Mas Jodhi?" Ucap Galuh yang terkejut dengan kedatangan Jodhi dan seorang pria yang tak ia kenal.


" Kalian tahu kalau kita disini?" Tanya Galuh penuh kecemasan.


" Dari ponsel Raka tadi!" Sahut Jodhi yang kini meringis sebab kakinya menabrak balok - balok kayu itu.


Bastian tersenyum saat menatap Galuh meski sebenarnya ia tengah gusar. Ia menatap Raka yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Membuat Galuh terenyuh.


" Kalian tidak apa-apa?" Tanya Bastian kepada Galuh dan Raka. Dua manusia itu seketika mengangguk dengan wajah murung.


Kecanggungan menyeruak, terutama antara Jodhi dan Raka. Kini pria itu tahu, dan Jodhi juga mengerti akan dirinya yang selama ini kurang serius akan perusahaan. Kejadian ini rupanya mampu membawa kebaikan lain dari efek yang tercipta.


" Maafkan aku Jo!" Ucap Raka tulus yang kini tertunduk dan menangis dengan keadaan tak berdaya. Membuat dada Galuh turut sesak.


" Harusnya gue denger ucapan elu... Gue emang bodoh!" Raka kini lagi-lagi menyalahkan dirinya. Pria itu menitikkan air matanya.


" Udah Ka, berhenti nyalahin diri elo. Yang penting kalian enggak apa-apa. Ayah Abi sama Om Wisang dan Om Danan sedang menuju kemari, tadi papah udah infokan ke mereka. Tapi...Diamana Citra? Kenapa...aku tadi enggak ngelihat dia di depan?"


" Kau serius?"


.


.


Dewi benar-benar pusing. Nyaris saja rencananya gagal sebab dua pria itu berhasil mengetahui keberadaannya dan membuat segala persiapannya nyaris berantakan.


Saat Dewi hendak menyulut puntung rokoknya, Anom menyahut benda itu lalu seketika melemparnya. Wanita itu benar-benar stress saat ini.


" Apa yang kau lakukan Anom?" Ucapnya kesal dengan anak buahnya itu. " Beraninya kau!"


Anom tak memperdulikan ocehan Dewi, ia hanya tak suka melihat wanita itu merokok" Tolong jangan melakukan hal yang akan membuatmu rugi. Sebaiknya kita kembali ke dalam!"


Dewi tertegun, ada apa dengan kaki tangannya itu? Kenapa sikapnya aneh sekali akhir-akhir ini.


Namun baru saja ia hendak melangkahkan kakinya, sebuah mobil lain kini datang dan langsung di sambut oleh anak buah Dewi yang sudah menodongkan senjata mereka.


" Sial! Mereka pasti sudah memberitahu Abimanyu. Semua, lindungi kami!" Titah Dewi yang kesal dengan semua yang terjadi.


Anom yang tadi hendak melangkahkan kakinya kedalam , kini seketika Mengehentikan niatnya itu demi melihat tiga pria berkarisma yang kini keluar dari mobil dengan santainya.


" Apakah dia yang bernama Abimanyu?"


Dewi seketika melipat kedua tangannya dengan hati bergemuruh. Pria itu masih sangat terlihat sehat sekali rupanya,sangat berbeda dengan keadaan ibunya yang bahkan kesulitan untuk sekedar bicara. Benar-benar tidak adil.

__ADS_1


" Tak kusangka, kalian masih sangat muda sekali rupanya ya?" Ucap Danan dengan wajah songong. Membuat Dewi makin menggertakkan giginya.


" Hey, santai lah sedikit, kami sedang berbicara dengan bosmu!" Ucap Danan lagi kepada pria bertato yang kini mengintimidasi dirinya.


" Tunggu dulu, dimana Bastian dan Jodhi? Harusnya mereka sudah sampai!" Bisik Wisang kepada Abimanyu. Membuat Danan kini menyuguhkan wajah serius.


Abimanyu menatap lekat Dewi. " Dimana mereka semua?" Ucap Abimanyu yang menebak jika keponakannya yang impulsif itu pasti turut tertangkap.


Dewi tersenyum licik" Masuk!" Jawab Dewi menatap tajam pria yang ia benci setengah mati itu.


"Anom, tambah personel lagi! Dan pastikan mereka tidak membawa polisi!" Titah Dewi berbisik ke arah Anom.l


" Aku tidak membawa polisi!" Sahut Abimanyu dengan cepat. " Cepat bebaskan cucu dan anakku dan ambillah yang kau mau!" Ucap Abimanyu datar mantap Dewi.


" Bahkan kau tidak mengenaliku sama sekali Ayah?" Batin Dewi yang ingin menangis.


Entah mengapa pertahanannya seolah jebol. Membaut Anom melirik Dewi dengan tatapan sendu. Jelas ia paham akan apa yang di alami oleh wanita itu.


" Apa kalian tuli? Masuk dan aku akan memeriksanya dulu!"


.


.


Saat mereka bertiga masuk, mereka di kagetkan dengan kedatangan anak buah Dewi yang sangat banyak sekali. Membuat Dewi bagai merasa di atas angin.


" Sial, Bim mereka ada banyak sekali!" Gumam Wisang kepada Abimanyu.


" Tenang saja, Devan dan Niko tahu tugas mereka!" Jawab Abimanyu santai. Menatap Dewi tak lekang.


Mereka semua masuk dan terlihat berdiri menatap Dewi yang kini duduk dengan sombongnya.


" Dimana cucuku?" Tanya Abimanyu yang tak mendapati Citra ada disana.


Dewi tersenyum licik. " Kau masih tidak sabaran dan sama pemarahnya seperti dulu!" Ucap Dewi yang membuat Abimanyu memicingkan matanya. Pun dengan Danan badan Wisang.


" Hey! Jangan sentuh aku!" Suara Jodhi yang mengamuk terdengar saat ia dan tiga orang lainnya kini diminta keluar dengan tangan yang masih terikat.


Membuat Abimanyu mendelik.


" Kurang ajar, siapa kau sebenarnya?" Tanya Abimanyu berteriak kehadapan Dewi.


" Orang tua dan kemarahan sangat tidak baik untuk jantungmu Ayah!" Ucap Dewi menatap Abimanyu tajam.


" Ayah?" Wisang dan Danan saling menatap. Pun dengan kesemuanya yang ada disana.


Dewi menarik senyuman sombong. " Berikan aku apa yang aku minta kepada mu tadi, jangan coba-coba menipuku karena aku tak segan-segan akan melenyapkan kalian!" teriak Dewi yang membuat Raka bingung.


" Apa ini Pa?" Tanya Raka menatap Abimanyu.


Abimanyu tertunduk. " Wanita itu menginginkan aset dan pengalihan perusahaan untuk dirinya!" Ucap Abimanyu dengan suara tercekat.


" Apa?" Jodhi berteriak tak percaya, pun dengan Bastian.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2