
Bab 43. Secuil sedu sedan
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Galuh
Bukan suudzon, tapi kenyataan yang ada makin membuat berjuta pemikiran buruk semakin menyeruak ke permukaan. Mencabik-cabik keteguhan hati, sebagai wanita yang selama ini memegang teguh kesucian pernikahan.
Benarkah jika khianat tiada pernah hadir dalam mahligainya?
" Bang sat!!" Maki Resti yang geram akan mobil lain yang main serong. " Duh kita kehilangan jejak nih Luh!" Resti terlihat begitu panik manakala beberapa mobil makin memperparah kepadatan yang saat ini rupanya telah mengular hingga beberapa meter.
TIN TIN TIN
Resti yang tak sabaran demi mengejar mobil berplat ganda yang cukup ia kenali itu, menekan klakson dengan gencar yang makin membuat huru-hara disana kian mengesalkan.
Ya... rupanya mereka terjebak kemacetan karena di depan tengah terjadi laka tunggal seorang pemotor, yang membuat mereka mau tak mau harus menjalankan kendaraannya dengan padat merayap.
Dalam hati, Galuh mensugesti dirinya untuk tetap berpikir positif. Apa mungkin wanita yang tadi berasa di sebelah suaminya merupakan rekan kerjanya di kantor?
Tapi untuk apa di hari minggu mereka malah berada di jalan begini. Dan urusan apa yang sekiranya membuat dua orang juga bekerja di hari libur? Tanpa memberitahunya pula.
Galuh mengaduk isi tasnya dan mulai mencari ponselnya. Sejurus kemudian dia men-search nomer Adipati, lali men-dial nya. Mencoba mengimplementasikan perintah kerja otaknya yang mendadak buntu.
" Lu ngapain?" Tanya Resti di sela-sela kegiatannya memaki lantaran kesal dengan kemacetan yang tercipta. Terlihat kurang ajar memang.
Galuh tak menjawab, ia terus sibuk menelpon Adipati guna memastikan keberadaan pria itu. Membuat Resti mendecah sebal, sebab pertanyaannya di anggurkan. Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari ujung telepon yang ia gunakan saat ini.
" Halo?"
" Dimana mas?" Ia sempat melirik eskpresi terkejut Resti yang tak tahu jika ia menghubungi mas Adi.
" Kenapa Luh? Aku lagi ada urusan ini sebentar. Tadi aku mau bangunin kamu kasihan, jadi..."
TUT
Ia segera mematikan sambungan teleponnya saat ia menangkap gelombang suara wanita yang berada di dekat mas Adi, tengah mengumpat seperti yang di lakukan Resti.
Cukup. Dari kesemua itu telah membuktikan jika pria yang tadi lewat memang suaminya.
Membuat dadanya gemetar hebat. Benar, mas Adi tengah bersama seorang perempuan. Dalam waktu yang terasa menyudutkan dirinya, Galuh benar-benar serasa terhantam sesuatu yang besar, dan tanpa ampun menghujam kepalanya.
.
__ADS_1
.
Adipati
" Halo?"
" Luh?" Ia sempat melihat ke arah ponselnya guna memastikan jika sambungan telepon itu benar-benar telah terputus.
" May! Kamu ini bisa diam enggak sih. Galuh lagi telpon barusan!" Adi marah sebab istrinya itu benar-benar tak bisa di kasih tahu. Ia mendadak resah begitu Galuh mematikan sambungan telepon mereka.
Mendadak hatinya gusar.
" Kamu ini kenapa sih mas? Marah-marah terus sama aku. Udah macet begini, kamu sih ngeyel. Si suruh lewat jalan selatan enggak mau. Begini kan jadinya?"
Ia menggertakkan giginya demi menahan diri untuk tak emosi. Semenjak hamil, Maya selalunya memang tak bisa mengendalikan emosinya. Dan wanita itu semakin cemburuan.
" Maaf!" Ucap Adipati mengelus tangan istrinya lalu mencium punggung tangannya. Entahlah, pria itu semacam di serang oleh dua perasaan yang aneh secara bersamaan.
Ia tak terima saat melihat Galuh tanpa sengaja di sentuh oleh pria lain, tapi ia juga tak bisa memaafkan dirinya jika melihat Maya bersedih. Oh astaga, lihatlah siapa yang bajingan disini.
" Aku cuma...!"
" Kenapa? Takut kalau mbak Galuh tahu?"
Maya bersidekap seraya menatap tajam dirinya dengan wajah lelah. " Aku enggak peduli mas. Kamu ini milikku, dia yang harusnya ngerti soal ini!"
Dengan napas memburu, Maya melontarkan kalimat yang selama ini memenuhi dadanya yang sesak.
Adi tertegun. Sebelum-sebelumnya, ia sama sekali tak memikirkan ke arah sini. Galuh cantik, tapi kebutuhan biologisnya selalu ia dapatkan bersama Maya yang memang memiliki gairah yang tinggi, namun entah mengapa kilasan ingatannya akan tangan Galuh yang di pegang oleh seorang pria gagah, turut membuat pikirannya terpecah.
Tanpa terasa, mereka kini telah lolos dari kemacetan sembari terus melantunkan perdebatan yang benar-benar menguji kesabaran.
Sebuah rumah bernuansa kolonial modern dengan halaman yang luas, terlihat mereka masuki menyejukkan mata Maya.
Mata Maya yang berbinar seolah menjadi penegas bila rumah itu jelas adalah rumah yang selama ini di janjikan oleh Adipati. pilihan Adipati cukup memuaskan. Maya suka rumah yang besar.
" Mas! Ini enggak salah?" Pancaran cahaya kebahagiaan nampak di dua netra mata yang berkaca-kaca akibat rasa haru.
" Enggak dong...semoga kamu suka, kita turun yuk!" Ucap Adi menatap Maya yang kini sudah tidak ngambul kepadanya lagi.
Maya turun dengan wajah sumringah. Ia makin merasa bahagia saat tangan besar Adi kini melingkar di pinggangnya.
Mereka berdua tidak tahu jika sebuah mobil turut membuntuti mereka. Sebuah mobil yang berisikan dua wanita yang hatinya sudah sangat harap-harap cemas.
.
.
Galuh
__ADS_1
Walau hatinya benar-benar seolah uji nyali, namun ia tetap melantunkan doa-doa penguat. Ia tidak tahu, siapa wanita yang bersama dengan suaminya itu.
Dalam kecepatan maksimal, Resti tekun menginjakkan pedal gasnya, saat dari jarak jauh ia masih bisa menangkap laju mobil mas Adi dengan tatapannya yang lebih tajam dari nyala api.
Resti benar-benar handal dalam hal ini.
Mereka berdua diam. Resti yang terlihat mengeraskan rahangnya, sementara dirinya yang lebih sering menarik napas. Hatinya benar-benar terasa resah.
Namun benar-benar tak pernah ia sangka. Sebuah fakta, sebuah kenyataan, sebuah pemandangan mencengangkan terang menampar kesadaran Galuh akan apa yang ia lihat.
DEG
Tanpa terucap lag, bendungan air matanya telah jebol. Pertahanannya runtuh. Dunianya seakan ambruk, luluh lantak tak menyisakan apapun selain kegetiran.
" Mas Adi?"
Dua netra sendu itu kini mengeluarkan cairan bening yang tidak mau berhenti, manakala ia melihat Mas Adi yang menggandeng tangan seorang wanita dengan perut yang terlihat buncit, lebih parahnya mereka berpelukan tanpa sungkan.
Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Dunianya bagai musnah detik itu juga. Kepingan-kepingan peristiwa yang beberapa waktu lalu terjadi, makin membuat segala sesuatunya terang benderang.
Siako mas Adi yang senyam-senyum sendiri, kepulangannya yang sering terlambat, sikap acuh mas Adi yang selama ini tersuguh, hingga dia yang jarang sekali di sentuh.
Resti yang turut menyaksikan hal itu dari kejauhan, benar-benar tak kuasa membendung air matanya. Biadab!
Resti melirik Galuh yang masih bisa bersikap tenang, meski air mata yang tertumpahkan sudah tidak terkira banyaknya.
" Biar gue yang samper...."
" Res!" Galuh mencekal tangan Resti yang sudah hendak membuat pintu mobil dengan wajah yang berbalut amarah. Membuat Resti mengerutkan keningnya.
" Kita pulang!" Ucap Galuh tercekat. Nyaris tak mampu untuk berucap. Lidahnya kelu. Pun dengan hati yang yang mendadak gelap gulita.
" What?"" Resti tentu saja terkejut dengan seribu pertanyaan.
.
.
.
.
.
.
To be continued....
__ADS_1