
Bab 102. Wajah yang meresahkan
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Yanti
Yanto diminta Yanti untuk mendaftarkan Danu selagi ia mengurus keadaan balita itu.
" Waduh mbak, kita tadi kesini buru-buru, setahu saya namanya Danuja, umur dua tahunan lah, kurang lebihnya saya kurang tahu!" Ucap Yanto yang kini mewakili Yanti mengisi data untuk pendaftaran.
Petugas itu mengerti jika pasien mereka itu merupakan orang kelas menengah kebawah. Membuatnya sedikit bersimpati dengan memberikan kelonggaran akses pendaftaran.
Sementara itu di ruangan lain.
" Bagiamana Pak?" Tanya Yanti yang benar-benar tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Ia kini menatap suster yang membantu membaringkan tubuh Danuja yang sudah tidak kejang lagi, usai dilucuti pakaiannya.
"Kejang demam atau lebih dikenal dengan penyakit step pada anak, terjadi akibat kenaikan suhu tubuh atau demam yang tinggi. Demam tinggi umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Biasanya, kejang demam pada anak dialami ketika bayi berusia 6 bulan hingga anak berusia 5 tahun"
Pria yang mengenakan jubah putih itu tersenyum. " Ini biasa terjadi pada anak yang demamnya terlalu tinggi, barusan kami termo tingginya memang di angka 39 derajat Bu. Namun ini tidak apa-apa!"
" Lain kali kalau kejang, usahakan untuk melepas semua pakaian ya!"
Yanti bernapas lega demi mendengar penuturan dokter muda itu. Ia miskin dan bodoh, tentu tak tahu dengan hal seperti itu. Yang bisa ia upayakan adalah membawa Danuja untuk segera mendapatkan pertolongan.
Jangan sampai sesal tiada berguna di kemudian.
.
.
Lintang
Ia yang lekas siuman itu merasa pusing. Pandangannya yang mulai mengabur itu, kini berangsur- angsur jelas saat ia melihat seraut panik milik wajah Denok yang memberikannya minyak angin.
" Akhirnya sadar juga elu Lin." Ucap Denok sambil meletakkan minyak angin merk seribu satu satu ke meja kropos milik Yanti.
" Anakku mbak? Anakku gimana mbak?" Ucap Lintang resah sambil mencoba mendudukkan dirinya.
__ADS_1
"Anak elu udah dibawa sama si Yanti ke rumah sakit. Gimana elu, udah enakan?" Kedua alis Denok tiada pernah berhenti bertaut kala bertanya.
Mendengar kata rumah sakit, membuat Lintang tersentak. " Kerumah sakit Mbak? Astaga, Bu Yanti pasti enggak bawa uang tadi!" Seraut wajah penuh keresahan itu membuat Denok turut nelangsa.
" Kamu memangnya udah kuat? Kalau udah kita susul. Aku ada uang yang bisa kamu pakai dulu Lin. Gampang deh nanti, yang penting di Danu enggak apa-apa!" Ucap Denok ingin mengurangi beban yang nampak di wajah Lintang.
Sebab kata rumah sakit, koreksinya berbanding lurus dengan uang dan biaya.
Lintang tak sempat menjawab sebab ia terlampau khawatir dan buntu. Ia hanya mengangguk sebagai bentuk persetujuan atas ucapan wanita berambut nyala api itu.
Sebenarnya Lintang tidak enak hati, sebab seringkali merepotkan Denok. Wanita manis itu bahkan masih memiliki pinjaman yang belum sempat terbayarkan kepada Denok.
Tiba di rumah sakit, dua wanita beda usia itu tergopoh-gopoh saat menuju meja resepsionis. " Nganu mbak, mau nemuin bayi yang kejang tadi..." Ucap Denok yang terlihat gupuh.
" Atas nama Danuja?" Tanya petugas berhijab yang memang tahu kasus yang baru saja membuat orang-orang panik sebab Yanti terlihat histeris kala membawa Danuja tadi.
" Ya benar!" Sahut Lintang cepat.
" Ada di poli anak, ruang iman C6 ya Bu!"
Usai mendapat bekal informasi tersebut, mereka berdua langsung melesat menuju ruang yang di ucapkan oleh petugas tadi.
Namun, saat mereka tengah berjalan di koridor, ponsel Denok mendadak bergetar.
Lintang mengangguk. " Aku duluan kalau gitu mbak, nanti mbak nyusul ya!"
" Oke oke!"
Lintang berlari menuju ruang dimana anaknya di rawat, sementara Denok menjawab telepon dari om-om langganannya.
" Iya nanti beres, sekarang kasih aku lima juta. Keponakan aku sakit...iya iya. Udah cepat, nanti aku kasih bonus crooo*oot di dalam!" Denok terkekeh-kekeh manakala menjawab telepon itu.
Dan tanpa di duga, Denok terkejut manakala melihat dua pria yang kini duduk di sebelahnya, menatapnya penuh kecurigaan. Dua pria gagah berjas, yang di waktu petang itu masih saja harum.
" Astaga, kenapa aku tidak sadar kalau duduk di samping mereka?" Batin Denok seraya meringis klejingan.
Denok tersenyum belingsatan seraya beringsut mundur, dan sejurus kemudian ia pergi dengan wajah malu.
" Kenapa aku bodoh sekali dengan tidak melihat jika ada dua pria disana, Astaga!
.
.
__ADS_1
Jodhistira
Selesai menjenguk pegawainya yang cedera tadi, entah mengapa usai melihat wajah bayi tadi, seluruh perasaannya menjadi resah. Hal aneh yang mengganjal dirinya itu, membuatnya untuk mendudukkan dirinya sebentar di kursi yang berada tak jauh dari poli anak tadi.
Siapa tahu bisa melihat wajah balita yang kini mengusik pikirannya itu.
Namun, mendadak terjadi hal aneh manakala melihat seorang wanita nyentrik yang tiba-tiba tanpa dosa duduk di ujung bangku yang ia duduki bersama Jonathan, tengah berbicara hal absurd melalui sambungan telepon, dan berhasil membuatnya mengerutkan kening.
Jonathan bahkan bergidik ngeri kala mendengar kata' croo*oot di dalam', yang di ucapkan oleh wanita bertubuh sexy tadi.
" Ada - ada aja jenis manusia!" Seru Jonathan sambil bergidik saat melihat punggung wanita berkaos ketat yang mulai menjauh dari pandangan mereka.
Benar-benar liar.
Jodhi diam tak menyahut. Meski sebenarnya ia juga merinding, namun pikirannya malah terfokus kepada anak tadi.
Sejenak ia merasa bodoh. Kenapa ia mau tahu dengan orang lain yang belum ia kenal, hanya karena perasaannya yang mendadak seperti peka. Oh ya ampun!
" Kita pulang Jo!" Ucap Jodhi yang merasa telah membuang - buang waktunya disana. Membuat Jonathan melongo.
Dan saat ia bersama Jonathan melewati pintu keluar, dimana posisi mereka dekat dengan meja resepsionis, ia tak sengaja mendengar seorang suara pria yang bertanya kepada petugas itu.
" Ibunya namanya Lintang!"
DEG
Jodhi seketika menghentikan langkahnya demi mendengar nama yang sangat spesial di hatinya itu.
" Maaf Pak, tapi tidak ada reservasi atas nama Lintang. Anda bisa di sebutkan nama anaknya?"
Jodhi menelan ludahnya demi mendengar satu nama terucap. Nama yang begitu sensitif itu membuat tubuh Jodhi menegang. Pun dengan Jonathan yang kini merasa bila bosnya itu mendadak aneh.
Namun, sejurus kemudian Jodhi mengusap wajahnya dengan kasar, demi memangkas kengawuran yang menderanya.
Ini gila, mustahil juga bila hanya ada satu Lintang di dunia ini.
Dari milyaran manusia yang hidup di muka bumi ini, tidak mungkin hanya pujaan hatinya itu saja yang bernama Lintang.
Astaga, kenapa aku menjadi seperti ini!
.
.
__ADS_1
.