Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 115. Ungkapan hati


__ADS_3

Bab 115. Ungkapan hati


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


Perutnya sakit karena lelah tertawa. Wanita unik tadi benar-benar lain dari yang lain, dan sukses membuat Raka melupakan duka lara.


" Jo, jangan galak-galak sama perempuan. Jangan sampai kamu kayak Niko tuh, berantem terus sama Dinda tapi giliran Dinda di dekati sama orang lain, mumet dia!" Ucap Raka masih dengan sisa tawanya.


" Mana mungkin Pak. Pria itu kan punya selera! Lagian, wanita terlalu ekstrim buat saya, dan...."


" Jangan sesumbar. Kita enggak tahu apa yang terjadi besok. Tapi, yang jelas...dia Kayaknya udah memindai kita bertiga tadi!" Raka tergelak kembali demi melihat wajah Jonathan yang besengut.


" Dan yang paling ngeri, dia ngelihatin punya kamu lagi Jo!" Raka tergelak usai mengatakan hal itu.


Ya, Raka dan Jonathan kini tengah menunggu Jodhi yang berbicara serius kepada pegawai rumah sakit itu.


" Ambil beberapa uang dari sini, untuk deposit biaya anak saya. Dan kalau ada yang kembali, siapapun orangnya, bilang sudah di bayar sama Ayahnya!" ucap Jodhi yang kini menatap serius ke arah pegawai yang nampak grogi itu. Jodhi berucap seraya menyerahkan sebuah kartu sakti hitam.


Jelas menegaskan jika pria itu tak main-main soal anaknya.


Raka merasa, Jodhi sangat tegang sekali saat ini. Nyatanya, semua pria akan pusing juga jika berurusan dengan wanita yang menambat hati mereka.


" Baik Pak, maaf saya tidak mengetahui jika bapak..."


" Lupakan. Gimana, apa dokter Novan sudah datang?" Tanya Jodhi yang tahu jika pegawai itu merasa bersalah.


" Sudah Pak, kebetulan saya memang mau menyampaikan hal ini, maaf saya tidak tahu jika anda adalah Pak Jodhistira Mavendra!" Wanita berjilbab putih itu mengangguk sopan. Ia tidak tahu jika Jodhi sudah membuat janji dengan orang penting yang ada di tubuh rumah sakit itu.


Jodhi rupanya sudah mengatur hal yang berkenaan dengan tes DNA antara dirinya dan Danuja. Ia hanya ingin memiliki kekuatan hukum terkait anaknya itu.


" Terus, kita gimana?" Tanya Raka menatap serius ke arah Jodhi yang sepertinya sudah selesai soal urusan pembiayaan.


" Kalian berdua duluan saja. Lagipula, Lintang tidak akan lari jika kau yang menemuinya!"


Raka tertegun saat Jodhi mengucapkan hal itu seraya ngeloyor pergi. Ia tahu, ucapan itu memiliki makna konotasi yang teramat dalam.


" Are you kidding me? Oh common man, aku anakku bahkan sudah mau tiga!" Ucap Raka menatap punggung Jodhi.


Jodhi tak menjawab. Pria itu hanya mengangkat tangannya dengan jari yang membentuk pola πŸ‘Œ. Membuatnya geleng kepala.


Ia membiarkan Jodhi untuk mengurus apa yang menjadi kewajibannya. Lagipula, pria bernama Novan itu sudah pasti merupakan dokter yang bisa dipercaya.


" Jadi, pasien yang bernama Danuja ada di ruang sebelah mana?" Ucapnya kepada petugas wanita yang nampak terkejut, karena aksi mengagumi Jonathan kini terinterupsi olehnya.


.


.


Jonathan


Ia tidak tahu pasti soal rekam jejak kedua bos-nya itu. Namun yang jelas, ia akan tetap menjalankan tugasnya apapun itu.


Definisi dari loyalitas tanpa batas.


" Kau yakin kesini Jo?" Tanya Raka yang kini berjalan di sampingnya dengan begitu santai.


Infonya di ruangan Aggrek dua. Dan..." Jonathan celingak-celinguk membaca marka jalan di lorong-lorong itu.


" Kau benar Jo, itu mereka!" Raka menyahut ucapan Jonathan kala ia melihat wanita berdaster tadi memegang tangan seorang wanita yang ia kenali.


Raka berjalan bersama Jonathan. Dekat dan semakin dekat.


DEG


Hati Raka mendadak merasa nyeri tatkala melihat teman tim voli nya dulu, kini kurus dan berwajah pucat. Rambut lurus wanita itupun juga terlihat sangat tidak terawat.


" Lintang?"


Raka semakin merasa bersalah serta kasihan saat melihat pakaian Lintang yang sangat sederhana.


" Pantas Jodhi benar-benar merasa sangat bersalah!"


Jonathan menelan ludahnya demi melihat penampilan Lintang yang menyedihkan. Pakaian wanita itu selalu kendur. Jeans yang di kenakan pun warnanya juga sudah memudar. Raut wajahnya lelah, dengan sisa air mata yang belum mengering sempurna. Lintang seperti mayat hidup.


" Jadi bener kalau dia budenya Danuja?"


Jonathan melirik Raka yang kini melontarkan pertanyaan dengan nada santai itu. Sangat bertolak belakang dengan raut wajah yang kini di suguhkan oleh wanita bernama Lintang itu. " Kenapa Pak Raka malah mengatakan hal itu?"


" Apa kabar Lin, long time no see?"


.


.


Lintang

__ADS_1


" Raka?" Ucapnya dengan tatapan tak percaya.


Ia kini menatap sesosok pria yang pernah bersemayam di dalam hatinya dulu dengan perasaan yang sangat berbeda. Ia merasa, tak ada lagi bunga bermekaran di hatinya, saat dulu ia masih berharap kepada Raka.


Pria itu masih sama tampannya seperti dulu. Hanya saja, pria itu kini memiliki kumis dan badan yang juga jauh lebih kekar. Fix, Raka pasti masih hidup dengan enaknya. Pikir Lintang.


Raka membalas senyuman Lintang. Walau hatinya nyeri, tapi ia berusaha tidak menunjukkannya.


" U- Untuk apa ka- kau disini?" Ia bahkan sampai terbata-bata kala mengucap pertanyaan itu. Ya, Lintang grogi


Ia malu, minder, tak percaya diri, kerdil dan merasa bukan siapa-siapa. Ia hanya, seorang wanita nestapa.


" Lah, mana malaikat yang satunya? Kenapa cuma ada dua malaikat?" Denok celingak-celinguk resah. Ia tentu tak mau dikatakan pembohong oleh Lintang.


" Jo, bisa kau kondisikan dia!" Raka menaikkan kedua alisnya memberikan kode alam kepada Jonathan, untuk mengamankan Denok. Wanita yang berpotensi akan mengganggu ke khusyukan Raka dalam berbicara serius.


" Hah, apa maksudnya? Kondisi apa?" Denok yang mendengar hal itu seketika merinding. Jelas pria berkumis itu pasti memiliki makna terselubung akan ucapannya.


" Ikut aku!" Jonathan langsung menarik lengan Denok secara impulsif. Ia hanya menjalankan apa yang Raka titahkan. Jonathan tahu, Raka pasti memiliki metode dan cara pendekatan lain.


" Eh!! Mau kemana, main seret aja ini!"


Lintang menatap resah Denok dan berniat mengejar wanita itu, namun kini di hadang oleh Raka. " Aku perlu bicara!"


Membuat Lintang membuang pandangannya.


" Woy gela Lo! Kasar amat sih jadi laki, enggak pernah di goyang apa nih orang!"


Raka kini kembali mencium kepalan tangannya saat mendengar suara Denok yang makin lama makin menjauh dari keberadaan mereka.


Kecanggungan kini menyeruak. Lintang mendadak membeku dan Raka yang juga mendadak tercekat sebab rasa iba yang terlalu.


" Duduk, kau pasti lelah berdiri!" Raka kini mendudukkan tubuhnya dengan santai saat Lintang masih diam terpaku. Benar-benar berusaha menguasai keadaan.


" Kenapa kau disini?" Tanya Lintang yang mulai resah. Wanita itu terlihat tak nyaman dengan kedatangan Raka. Ia mengedarkan pandangannya demi melihat apakah Jodhi ada disana atau tidak.


" Siapa yang kau cari? Jodhi?" Tanya Raka seraya tersenyum memancing saat memperhatikan Lintang yang kini menyapukan pandangannya.


Lintang mengerutkan keningnya. " Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" Intonasi suara Lintang kini sedikit meninggi. Ia kini curiga.


Raka kini menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi panjang itu sesuai menghela napas. Bersiap untuk memulai tugasnya.


" Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku Lintang! Bagaimana kabarmu?" Ucap Raka memberanikan diri menatap Lintang.


Mata Lintang kini mulai memanas. Bibirnya bahkan bergetar. Pria yang selama ini ia sukai kini nyata ada di depannya. Semua yang terkubur di dalam masa lalunya, seolah terbuka kembali. Menghujam relung hati terdalamnya.


" Kau bisa melihat sendiri keadaanku, untuk apa kau bertanya?" Air mata Lintang bahkan kini telah meluncur tanpa seizinnya. Membuat Raka kembali menelan ludahnya dengan hati sedih.


" Katakan kenapa kau kemari, apa si brengsek itu yang memintamu untuk datang ?" Lintang menatap tajam Raka. Sangat tajam bahkan seperti tatapan permusuhan.


Raka kini terlihat membetulkan posisi duduknya. Di sana masih sangat sepi, pintu kamar ruang penangan Danuja juga belum terbuka .


" Istriku titip salam untukmu!"


DEG


" Istri?"


" Ya, aku sudah menikah lagi dan istriku tengah mengandung anak ketiga kami!"


Raka sengaja mengatakan hal itu agar Lintang tahu. Bahwa Raka masihlah teman baiknya seperti dahulu.


" Kau tahu, ada orang suci pernah berkata; "Bisa jadi apa yang kau inginkan itu tak baik untukmu, dan boleh jadi apa yang tidak kau sukai, itu teramat baik untukmu!"


Lintang menitikkan air matanya. Kata-kata itu masih ia ingat sebab saat SMP, ia dan Raka pernah membaca quotes itu bersama-sama.


" Lin, aku sudah tahu jika kau dulu punya perasaan kepadaku!"


DEG


Membuat Lintang kini merasa malu. Dan kenyataanya, Raka di takdirkan hanya untuk menjadi teman baiknya.


" Tapi percayalah. Kita ini teman baik. Dan akan selalu seperti itu. Kau ingat saat kita latihan voli bersama dulu? Kau ingat bocah bengal yang saat ini menjadi adikku itu dulu seperti apa?"


Lintang mulai terdiam. Entah mengapa, ia tak setegang tadi. Percakapan Raka soal masa sekolah mereka dulu membuat hati Lintang menghangat.


" Bocah bengal itu malas masuk sekolah. Kau tahu Jodhi dulu seperti apa? Sangat badung dan bengal!"


"Tapi sejak pertemuannya denganmu, laki-laki itu berubah Lin! Dia bahkan rela menunggu ku latihan voli demi bisa ngelihat kamu main!"


Lintang tertegun. Hal ini malah baru ia ketahui.


" Jujur, aku sedih lihat keadaan kamu kayak gini. Tapi...." Raka kini menatap Lintang lekat-lekat. " Kamu harus denger yang sebenarnya."


" Jadi Jodhi nyuruh kamu kesini hanya untuk ngomongin Danuja? Sory Ka, sampai kapanpun aku enggak akan..."


" Itu kan persepsi kamu!" Membuat keduanya kini terdiam. " Tolong dengar aku dulu, setelah itu kamu putuskan. Aku enggak akan maksa lagi!"


Lintang yang kini menatap Raka seketika menelan ludahnya. Entahlah, mengapa mendadak ia merasa ada sesuatu hal yang tak bisa ia jelaskan.


" Dia marah waktu ngelihat kamu kerja di tempat seperti itu. Dia..."


Raka menceritakan apa yang Jodhi pernah utarakan terhadap dirinya. Semua tanpa tanggung - tanggung. Bahkan, Raka juga menceritakan soal Jodhi yang sakit hati sebab di tolak olehnya.

__ADS_1


Lintang hanya bisa menggigit giginya sendiri, kala mendengar cerita demi cerita yang di utarakan oleh Raka.


" Dan kamu tahu apa yang Jodhi lakukan saat kamu pergi? Dia terpuruk!


Lintang kembali tertegun.


" Bahkan kami para keluarganya tidak bisa membantunya sama sekali. Dan kamu tahu itu artinya apa Lin? Dia benar-benar mencintai kamu. Bahkan ketika ia tahu jika kejadian malam itu membuahkan Danuja, dia sekarang semakin enggak mau kehilangan kamu lagi Lin!"


Lintang makin terdiam. Raka tidak tahu rasanya menjadi dirinya selama ini. Apa mereka tahu rasanya kehilangan?


" Aku tahu kamu pasti bakal bela Jodhi Ka. Tapi apa ibuku bisa kembali jika aku memaafkannya Jodhi?"


Raka membulatkan matanya. " Ibu kamu?"


" Apa Jodhi juga tidak memberitahumu?" Lintang tersenyum sumbang. Teringat akan nasib ibunya yang mengenaskan.


Raka terdiam seraya meneguk ludahnya kaku.


" Kalian memang egois!" Jawab Lintang dengan senyum kecutnya. " Meminta aku untuk mengerti kalian. Tapi kalian?" Lintang menggelengkan kepalanya dengan wajah kecut. " Kalian benar-benar manusia egois yang pernah aku kenal"


" Lalu apa yang bisa Jodhi lakukan agar kau memaafkan dia? Katakan?" Ucap Raka yang kini menjadi resah.


Suasana hening mendadak. Raka menatap wajah lelah Lintang yang kini nanar menatap keramik putih rumah sakit itu.


" Jauhi kami dan jangan pernah ganggu hidup kami lagi. Dan aku akan memaafkan kalian!"


Raka membulatkan matanya kala mendengar jawaban mengejutkan dari Lintang.


Seorang pria yang sedari tadi mendengarkan hal itu kini beringsut ke lantai dengan hati nyeri. Jodhi menitikkan air matanya demi mendengar ucapan yang merobohkan kekuatannya itu.


" Apa kau benar-benar membenciku Lin?"


.


.


Sementara itu, disebuah tempat dia area rumah sakit. Dua manusia berbeda gender terlihat saling adu mulut.


" Sakit sialan!" Denok menarik paksa tangannya dari cekalan Jonathan yang berhasil menyeretnya hingga jauh dari tempat Lintang berada.


Jonathan melipat kedua tangannya ke dada dan mini menatap Denok dengan tatapan penuh intimidasi.


" Kau sendiri yang rewel. Apa kau tidak dengan perkataan bosku tadi, hah?"


Denok kini maju dengan mengangkat dagunya menantang. Membuat Jonathan takut.


" Ngomong apa lo? Hah?"


" Sebenarnya mau kalian apa sih? Sebenarnya yang bapaknya Danuja itu siapa sih. Kok jadi begini?"


Jonathan terlihat agak takut sebab wanita itu kini membusungkan dadanya kala menantangnya. Dua benda kenyal itu bahkan kini menyentuh dada bidangnya. Tentu saja hal itu membuat kuduk Jonathan berdiri.


" Astaga, wanita ini!!"


Merasa ngeri, Jonathan kini memundurkan langkahnya, membuat Denok tersenyum licik. " Tidak semengerikan yang aku kira!"


" Hey, jangan mendekat!" Ucap Jonathan dengan wajah resah, yang punggungnya kini sudah mentok ke dinding rumah sakit itu. Ia bukanlah titisan manusia yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


" Tadi elu kan yang nantang- nantang, ayo sekarang!"


Jonathan bahkan menggigit giginya dengan mata melebar, demi menahan kegeramannya. Ia bukan tipe pria yang bisa kasar terhadap perempuan.


Dan sejurus kemudian.


MEK!!!


" Makanya jangan macam-macam!" Ucap Denok gemas seraya meremas kelelakian Jonathan dengan sekali rematan kencang.


Membuat Jonathan mendelik dengan wajah yang sudah memerah.


Tidaaak!!!!!


.


.


.


.


.


.



Kalau untuk visual Denok kalian sesuaikan saja sendiri yah 😁😁. Takut enggak sesuai imaji jenengan semua nanti.


Buat yang tanya apakah Lintang mau memaafkan Jodhi?


Jawabnya adalah mari kita kawal sampai halal😁😁


Ini episode udah panjang banget yak. Dua ribu kata loh. Mommy mau pindah ke Deo dulu habis ini. Semoga enggak bosan ya. 😘😘🀟

__ADS_1


__ADS_2