Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 62. Rasa demi rasa


__ADS_3

Bab 62. Rasa demi rasa


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Meskipun Raka pernah berbicara pedas kepadanya, namun semenjak pria itu pernah menolongnya dua kali, ia kini telah menetralkan penilaiannya kepada pria yang selalu harum itu.


" Saya permisi!" Galuh pergi sesaat setelah ia menyajikan wedang jahe hangat itu.


Raka menatap punggung wanita itu dengan tatapan penuh arti. Wanita itu membawa nampan berisikan susu dan nugget ayam goreng untuk camilan anaknya. Seulas senyum terbit dari bibirnya.


" Apa yang terjadi denganku!" Ia mengusap wajahnya kasar seraya menggelengkan kepalanya demi menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang mendadak menyerangnya.


Selama tiga hari ini, Galuh selalu pulang tepat waktu karena Citra sangat kooperatif. Bocah itu selalu tidur tepat waktu ,tiap meneguk segelas susu buatannya setiap malamnya.


Selama itu pula, Galuh di jam delapan malam selalu di jemput oleh taksi online langganannya, sebab ia pulang tanpa berpamitan kepada Raka.


Raka nampak sibuk dan selalu berada di ruangannya tiap malam, membuat Galuh menitipkan pesan kepada Mbak Sulastri, jika dirinya telah pulang.


" Gimana mbak? Lancar?" Tanya Dinda dengan wajah yang sudah penuh masker bengkuang yang mengejutkannya bagai setan.


" Astaga Din, kamu ini ngagetin mbak aja!" Ucap Galuh seraya memegangi dadanya, manakala Dinda berhasil mengejutkannya.


Dinda setengah mati menahan tawanya agar masker yang sudah bertengger kaku di wajahnya itu tidak retak.


" Ya lumayan, kayaknya gampang kerjaannya!' Tukas Galuh yang kini mengoleskan pelembab wajah jelang tidurnya. " Citra anaknya nurut!"


" Baguslah, sekarang ngasuh anaknya dulu, siapa tahu besok ngasuh Bapaknya kan?" Dinda masih berusaha menahan tawanya dan langsung kabur begitu melihat wajah kakaknya yang mulia naik pitam.


" Kabooorr!!"


Galuh menggelengkan kepalanya demi tingkah bar-bar Dinda. Ia kini tertegun. Raka baik, tapi...ah sudahlah. Ia baru saja terluka, dan mendiamkan diri adalah pilihan tepat saat ini.


.


.


Sebulan berlalu dan semua berjalan sebagaimana mestinya. Dinda yang baru pertama menerima gaji sangat kegirangan dan langsung berkirim pesan kepada kakaknya, dan berjanji akan mengajaknya makan-makan bersama Ibu dan Bapaknya.


Pun dengan Galuh yang tak mengira jika upah yang ia terima melebihi gajinya selama menjadi guru di TK itu.


Andhira dan Abimanyu yang mengetahui bila Galuh kini menjadi pengasuh Citra , turut merasakan senang sekaligus tenang. Dhira tak pernah membedakan siapapun yang ada di keluarga mereka. Baginya, yang terpenting cucunya sehat dan di asuh dengan baik.


Sementara Dewi yang mengetahui hal itu benar-benar murka. Ia merasa wanita itu memiliki potensi untuk menggagalkan rencananya. Tak bisa lagi menunda diri untuk berleha-leha.


.


.


Kediaman Raka

__ADS_1


Galuh yang malam ini hendak pulang mendengar jika Raka mual-mual dan badannya panas, seketika mengurungkan niatnya.


" Ayah sakit?" Tanya Citra yang menatap muram Ayahnya yang berwajah pucat dan kini tengah berbaring diatas tempat tidur.


Raka tersenyum membelai kepala anaknya. " Mungkin masuk angin, Ayah enggak apa-apa!"


Galuh tertegun. Pria itu sangat terlihat pucat tapi masih saja berusaha tidak terlihat lemah di depan anaknya.


" Mbak, tolong bawakan segelas air hangat ya!" Pinta Galuh dan langsung di jawab dengan anggukan yang cepat oleh Mbak Las.


" Apa sebaiknya, saya panggilkan dokter Pak?" Tawar Galuh yang sebenarnya juga panik.


Raka menggeleng, " Enggak usah, biasanya saya di kerok juga sembuh!"


" Pak Raka pernah kerokan?" Tanya Galuh menatap Raka dengan hati-hati.


Pria itu pernah di kerok oleh Bu Kartika sewaktu ia SMP dulu, waktu ia latihan voly dan kehujanan.


" Kau bisa?" Tanya Raka kepada Galuh. Perutnya memang sedikit kembung. " Kalau bisa saya minta tolong!" Ucap pria itu menatap Galuh dengan wajah yang terlihat tak sehat.


Galuh mengangguk meski sedikit ragu. " Saya cari minyak kayu putih dulu di kotak P3K!"


Selama Galuh pergi Raka menatap anaknya yang kini merayap naik keatas ranjang Ayahnya. Bocah kecil itu turut panik sewaktu mendengar suara ayahnya yang mual.


Galuh datang bersamaan dengan Mbak Las yang membawa segelas air putih hangat. Pembantu Raka itu kini undur diri sebab masih memiliki pekerjaan lain di dapur.


" Diminum dulu Pak!" Galuh menyerahkan gelas itu kepada Raka. Segala air hangat dipercaya bisa meredakan kembung.


" Terimakasih!" Ucap Raka yang merasa sesuatu hal menelusup ke sanubarinya, tiap Galuh yang dengan tulusnya kini mau memperhatikannya.


Meski canggung, Raka segera membuka pakaiannya. Dan menyisakan sebuah punggung kekar nan liat, yang suhunya kini hangat cenderung panas.


" Ayah mau di apain Bu?" Tanya Citra kepada Galuh yang kini mulai mendudukkan dirinya ke tepi ranjang, dimana Raka berbaring menelungkup.


" Ini namanya di kerok, Ayah lagi masuk angin. Semoga nanti cepet sehat ya?" Galuh membunuh rasa groginya dengan mengajak bicara Citra. Wanita itu benar-benar merasa deg-degan manakala kini meraba punggung Raka dan meratakan cajuput oil yang beraroma segar, ke punggug liat itu.


" Astaga keras sekali punggungnya!" Gumam Galuh menelan ludah.


.


.


Raka


Ia yang sakit malah kini merasa adem panas manakala tangan lembut Galuh, kini merayap dengan sensasi licin diatas punggungnya. Benar-benar mengkhawatirkan.


Sejurus kemudian ia menikmati irama koin yang mencumbu kulitnya dengan tekanan lumayan keras. Sedikit sakit namun enak.


Ia menikmati pijatan koin yang jelas saat ini menciptakan goresan merah namun lumayan sedap dirasa itu, ia meringis sekali waktu, manakala Galuh menekan terlalu kuat.


" Auwww!" Ringis Raka yang merasa kulitnya bagai di sayat.


" Maaf..maaf, saya akan pelan. Saya pikir anda tidak merasakan apapun karena diam, ini...( yang di maksud punggungnya) terkait keras!" Ucap Galuh yang ibu jarinya pegal sebab ia menekan dengan sangat kuat. Ia khawatir Raka tak merasakan apapun.


Raka terkikik dalam hati. " Tadi apa dia bilang? Punggungku keras, astaga!"


Ia hanya diam sembari memejamkan matanya, meski dalam hati tergelak. Wanita itu benar-benar lucu pikirnya. Perutnya yang tadi kembung mendadak berangsur membaik.

__ADS_1


" Bu Galuh, nyayikan lagu dong!" Citra yang mulai merasa ngantuk sebab menunggui dua manusia dewasa yang sibuk kerok mengerok itu, kini memilih merebahkan tubuhnya di samping sang Ayah , yang masih memejamkan matanya seraya menoleh ke sisi kiri.


" Nyanyi lagu apa? Ambilkan Bulan mau?" Jawab Galuh yang kini mengoleskan kembali minyak itu.


" Mau!" Sahut Citra dengan mata yang sudah terpejam.


🎶Ambilkan bulan Bu...


Ambilkan bulan Bu..


Raka sebenarnya mendengar meski matanya terpejam demi merasakan gosokan Galuh yang masih sama kuatnya.


Yang slalu bersinar di langit..


Di langit bulan benderang...


cahayanya sampai ke bintang...


Raka tersenyum. Suara wanita itu merdu sekali. Dia memang pantas menjadi guru TK. Karena selain sabar, wanita itu rupanya memiliki talenta lain.


Ambilkan bulan Bu...


Untuk menerangi


Tidurku yang gelap... di malam gelap..


Galuh menyajikan lagu itu sebanyak tiga kali dan kini Citra benar-benar lelap di buai mimpi. Bersamaan dengan itu, ia kini juga telah selesai mencetak goresan horizontal berwarna merah di sekujur punggung lebar nan kekar itu.


.


.


Galuh


Galuh sejenak tertegun demi melihat anak dan Ayah yang kini bergeming. Mereka tertidur berdempetan itu. Ia melihat jam dan sudah menunjukkan pukul delapan kurang 10 menit.


" Sebaiknya aku enggak usah pamit. Udah malam juga!" Gumamnya dalam hati. Biarlah Citra tidur di dekat Ayahnya.


Galuh yang masih duduk di tepi ranjang itu kini hendak menyelimuti tubuh Citra dari samping tubuh Raka yang bergeming.


Namun tak dinyana sebelumnya oleh Galuh, pria itu mendadak menggeliat membalikkan badannya dan tanpa sengaja wajah mereka bertemu.


CUP


Ya...singkat kata Raka tak sengaja mencium pipi Galuh sewaktu wanita itu hendak menarik selimut untuk Citra.


Membuat keduanya kini sama-sama melebarkan matanya.


Tidak!!!!


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2